Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Keresahan Arkana


__ADS_3

Suara kokokan ayam menggantikan suara adzan di masjid membangunkan Qania. Ia kemudian bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah.


“Ya Allah, dua hari terakhir kami berada disini dan tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat dan lusa kami akan meninggalkan dusun ini. Terima kasih atas segala kelancaran yang sudah engkau berikan dan hamba memohon perlindunganmu ya Allah. Aamiin” doa Qania.


Qania melepaskan mukenahnya, dan langsung berjalan ke dapur sambil membawa pakaian kotornya untuk dicuci. Ia berencana akan mengemas barang-barangnya besok, makanya ia memilih untuk mencuci sebelum melaksanakan misi terakhir.


*


*


“Terima kasih sekali lagi kepada rekan-rekan mahasiswa sudah memberikan kenang-kenangan, ini sangat indah” ucap pak Zaenal saat kesepuluh mahasiswa itu membawa maket denah sekolah ke ruang kepala sekolah.


“Sama-sama pak, kalau begitu kami permisi dulu” ucap Abdi sambil menjabat tangan pak Zaenal disusul oleh teman-temannya bergantian.


Setelah meninggalkan area sekolah, Abdi dan Prayoga menuju ke arah barat dan Qania bersama Raka ke arah selatan. Sedangkan Prayoga dan Elin serta Manda dan Banyu, mereka pergi ke desa untuk membeli perlengkapan yang sudah dirincikan oleh mereka yang begadang semalam. Sedangkan Witno dan Ikhlas, mereka diminta untuk mengundang para warga karena besok malam mereka akan mengadakan acara perpisahan dan tak lupa meminta bantuan para warga untuk membantu menyiapkan acara.


Jangan Tanya kenapa Qania bersama Raka, ia sudah meminta Abdi untuk sengaja menyatukannya dengan Raka, Qania ingin memberikan kenang-kenangan berupa kedekatan mereka berdua di hari terakhir KKN, setidaknya meski pun ia tidak bisa membalas perasaan Raka, tetapi ia bisa membuat pria itu bahagia karena Qania tidak menjaga jarak atau pun membencinya.


Qania memulai pendataan dari awal masuk dusun bersama Raka yang memboncengnya, jika ada lorong atau pun jalan setapak mereka akan masuk dan memeriksa batas akhir jalan itu. di atas motor keduanya tidak pernah diam, sesekali berdebat, bercanda bahkan sampai bergosip.


“Lo tahu nggak Qan, si Witno dikejar-kejar anak kelas empat SD” gibah Raka.


“Oh ya?” Tanya Qania kaget.


“Yoi, apa lagi si Banyu wih gaya pacarannya alay banget. Lo sih nggak lihat dan kepoin dia sama Manda sering bermesraan di bawah phon nangka” lanjut Raka.


“Wah kamu raja gossip ya Raka, ck,ck,ck” ucap Qania berdecak sambil bergeleng-geleng kepala.


“Kalau elo apa ya Qan? Gue nggak tahu cerita tentang elo karena elo terlalu sempurna, eaaaa” gombal Raka membuat Qania mencubit pinggangnya.


“Aww ampun Qan, sakit” ringis Raka.


“Sudah, serius sekarang” ucap Qania menyudahi acara gibah Raka yang kalau di ladeni pasti akan panjang kali lebar kali tinggi.


“Gue selalu serius kok Qan, apalagi sama elo” canda Raka membuat Qania mendengus kesal.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah mereka. Juna yang baru saja akan keluar desa melihat kebersamaan Raka dan Qania yang terlihat begitu mesra di atas motor membuatnya mengepalkan tangannya dan jadilah setir mobil sebagai pelampiasannya.


“Kenapa sama dia elo begitu terbuka Qan, sementara sama gue, elo bahkan nggak pernah nganggap gue ada di depan elo” gerutunya.


*


*


Suasana rumah sakit terlihat begitu ramai karena jam istirahat dimana ada banyak pengunjung pasien yang datang. Seorang suster yang bertubuh mungil, berwajah manis dan terlihat imut sedang sibuk melayani seorang pasien yang tengah melakukan protes.


“Saya tidak mau tahu ya sus, saya mau pulang hari ini. Dokter setuju atau tidak saya tetap mau pulang” tegasnya.


“Tapi pak, tekanan darah bapak belum stabil, keadaan bapak juga belum bisa dikatakan sehat dan bapak juga sangat malas makan dan minum obat. Saya tidak bisa membujuk dokter untuk memperbolehkan bapak pulang” ucap suster tersebut.


“Saya tidak mau tahu sus, anda sebaiknya keluar saja dan urus kepulangan saya” bentaknya.


“Terserah bapak saja” jawab suster tersebut seraya meninggalkan pasiennya yang berumur sekitar enam puluh tahunan.


Suster tersebut berjalan gontai ke mejanya, namun seseorang yang tengah duduk sambil memunggunginya itu membuat senyum terbit dari bibirnya.


“Ekhmm” dehemnya.


Pria itu berbalik badan dan tersenyum kepadanya, ia pun membalas.


“Suster Syifa, anda bisa tidak cuti dulu. Minggu depan acara pernikahan kita dan kau masih saja mengurus si kakek arogan itu” ucapnya sambil berkacak pinggang.


“Bukan begitu mayor Yudis, tapi ini adalah pekerjaan saya dan merupakan panggilan jiwa” bantahnya kemudian berjalan dan duduk di kursi sebelah Ghaisan, ya pria itu adalah Ghaisan Yudistira.


“Setidaknya hari ini kau temani lah mamaku untuk pergi membeli gaun pernikahan dan juga mencari cincin pernikahan bersama kami” ucap Ghaisan memelas.


“Iya, aku bakalan ikut. Ayo” turut Syifa membuat Ghaisan bersorak.

__ADS_1


“Gitu dong, supaya lancar semuanya” ucap Ghaisan sembari menggandeng tangan Syifa.


Semenjak Ghaisan masuk rumah sakit dua bulan lalu, suster Syifa lah yang selalu merawatnya dan bahkan dengan suka rela mengorbankan waktunya meski pun sudah waktunya pergantian suster jaga.


Ketulusan dan kelembutan suster Syifa membuat Ghaisan tersentuh dan setelah seminggu dirawat olehnya Ghaisan menyadari dirinya mulai jatuh cinta dan tidak ingin membuang waktu, ia pun menyatakannya dan ternyata perasaannya bersambut.


Selama dua minggu Ghaisan di rawat di rumah sakit dan selalu di damping oleh suster Syifa. Ghaisan yang tidak ingin berlama-lama langsung meminta pendapat kedua orang tuanya alias mama papa Elin untuk melamar Syifa. Kedua orang tuanya sangat bahagia, terlebih mamanya yang sudah lama mengharapkan agar Ghaisan menikah.


Syifa yang merupakan gadis yang hidup sebatang kara setelah dua bulan sebelum pertemuannya dengan Ghaisan neneknya meninggal pun sangat terharu karena keluarga Ghaisan menerimanya dengan baik dan mama Ghaisan sangat menyayanginya.


“Sayang, mama sudah menunggu di butik jadi kita kesana dulu ya” ucap Ghaisan saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Terserah, aku ikut aja” ucap Syifa.


“Calon istri yang baik” puji Ghaisan kemudian melajukan mobilnya.


Sifat penurut Syifa inilah yang membuat Ghaisan sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangan suster imut itu. Syifa bahkan tidak pernah menuntutnya dan tidak protes juga saat Ghaisan harus pergi meninggalkannya saat ada tugas Negara beberapa hari dan mereka harus berjauhan.


Tak lama kemudian mereka sampai di butik dimana mama Ghaisan sudah menunggu mereka. Dengan sangat bersemangat ia mengajak Syifa untuk mencoba beberapa gaun dan Syifa lagi-lagi hanya menurut saja. Ghaisan kadang-kadang merasa kasihan namun ia senang juga karena mamanya sangat menyayangi Syifa sama seperti ia memperlakukan Elin. Ghaisan bersyukur karena ia akan menikah dengan gadis sederhana dan berhati lembut seperti Syifa.


 


*


*


 


Arkana mondar-mandir di kafenya, membuat Fero, Rizal dan Gea yang tengah duduk di sofa khusus mereka itu menjadi kebingungan. Dari tadi Arkana hanya duduk sebentar lalu berdiri dan berjalan bolak-balik tapi tidak mengatakan sepatah kata pun. Beberapa kali terdengar helaan napas yang mana membuat ketiga sahabatnya itu menjadi resah.


“Woi Ka, elo kenapa sih dari tadi gue perhatiin mondar-mandir, mondar-mandir. Lo ada masalah atau ada beban pikiran sih?” Tanya Rizal yang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi ia tahan.


Arkana meliriknya, hanya sekedar melirik ia kembali menghela napas dan berjalan gontai ke arah ruangannya. Arkana lebih memilih diam di ruangannya, mencoba menjernihkan pikirannya.


“Dia kenapa sih?” Tanya Gea.


 “Nggak tahu, tapi biasanya kalau Arkana sudah kayak gini tuh dia lagi ada masalah atau gelisah” jawab Rizal.


“Sepertinya dia galau aja nih, kan malam minggu nggak ada Qania. Dia juga nggak bisa datang karena tadi harus ikut rapat penting dengan papanya. Kasihan dia, semenjak hari papanya diculik dia langsung ikut turun tangan dan super sibuk, bahkan bulan depan kita semua wisudah dia belum tahu bisa datang atau tidak mengingat jadwal kerjanya yang padat” ujar Rizal sambil memperhatikan ruangan yang sudah tertutup itu.


“Tapi kita tetap harus ajak dia bicara, dia bisa stress kalau mendam sendirian” serga Gea.


“Gue setuju Ge, haih gue nggak mau lihat Arkana ngamuk karena stress, kapok gue” ucap Fero.


Akhirnya setelah berunding mereka pun memutuskan untuk masuk ke ruangan Arkana, entah mendapat sambutan baik atau tidak yang jelas mereka tetap akan mencoba masuk dan mengajak Arkana bicara.


Tok..


Tok..


Tok..


“Masuk aja wahai para kepongers” seru Arkana dari dalam membuat tiga orang itu mendengus kesal.


Rizal membuka pintu dan masuk diikuti oleh Fero dan Gea. Ketiganya ikut duduk di sofa di ruangan Arkana tersebut sambil memperhatikan Arkana yang tengah menatap mereka satu per satu dari kursinya.


“Hmm, ada apa?” Tanya Arkana.


“Harusnya kita yang nanya ada apa itu ke elo” sahut Fero.


“Gue? Gue emangnya kenapa?” elak Arkana.


“Sudahlah bro, nggak usah ditutup-tutupin kali” ujar Gea membuat Arkana tersenyum kecut.


“Ya gue galau aja malam minggu kelabu” jawab Arkana seadanya.


“Lebih dari itu kalau yang gue lihat dari muka lo” tandas Rizal.

__ADS_1


“Emang lo nggak nelepon si Qania?” Tanya Fero.


“Boro-boro nelepon Ro, sms aja nggak bisa. Lo mah enak si Cika lokasinya ada sinyal, nah Qania sama sekali nggak ada kecuali harus pergi beberapa ratus meter dan itu letaknya di ujung kampung dan juga merupakan perbatasan kabupaten” tukas Arkana sambil memperlihatkan wajah lemasnya.


“Oh gitu ya, hehe” kekeh Fero.


“Ka, gue tahu elo pasti lagi ada beban pikiran. Coba lo cerita, siapa tahu kita bisa bantu” pinta Rizal.


“Hm, gue lagi mikirin Qania, entah mengapa perasaan gue nggak enak” ucap Arkana sembari memijat pelipisnya.


“Emang elo ngerasainnya kayak gimana?” Tanya Gea.


“Ya gue juga nggak bisa jelasin kayak gimananya perasaan gue, yang jelas gue resah dan sangat gelisah saat ini, seolah perasaan gue mengatakan kalau Qania aka nada dalam bahaya” desah Arkana sambil terus berusaha mengusir pikirannya yang membuatnya resah itu.


“Lo bilang disana ada tiga teman-teman sejurusan Qania yang jagain dia” ucap Fero.


“Iya, tapi bukan itu yang gue pikirkan. Gue takut Qania diapa-apain sama Arjuna” ungkap Arkana.


“Arjuna? Arjuna siapa?” Tanya Gea.


“Arjuna Wilanata sepupu dari Daren Wilanata yang masuk penjara karena udah nyulik bokap gue. Lo tahu nggak waktu gue ke sana bulan lalu, dia juga ada disana ternyata dan sudah hampir sebulan terus mengejar Qania dan parahnya bro, dia nembak Qania di depan gue” cerita Arkana dengan geram.


“What?” pekik ketiganya.


“Hmm, gue udah kenal dan cari tahu gimana orangnya. Dia itu bukan tipe orang yang mudah menyerah dan ambisius, gue takut dia bakalan celakain Qania atau berbuat sesuatu yang bisa menghancurkan Qania. Gue ingin kesana tapi nggak bisa karena besok gue harus pergi ke daerah Y untuk mengurus pekerjaan, makanya gue dari tadi gelisah” tukasnya.


“Terus kita bisa bantu apa buat elo Ka?” Tanya Gea yang jadi ikutan khawatir.


“Doain aja yang baik-baik buat Qania” ucap Arkana sembari tersenyum manis kepada Gea.


“Atau kita kesana aja gimana?” usul Fero.


“Bilang aja elo mau ketemu Cika” sindir Rizal.


“Kan sekalian”ucap Fero cekikikan.


“Ya udah kita bakalan kesana gantiin elo dan ngawasin Qania” ucap Gea bersemangat.


“Terima kasih tapi lebih baik jangan, cukup gue yang punya urusan sama Arjuna dan kalian jangan. Gue nggak mau mengancam keselamatan kalian jika berurusan dengan dia” pinta Arkana.


“Terus gimana sama Qania, apa dia juga suka atau ada ketertarikan sama Arjuna itu?” Tanya Gea kepo.


“Ya enggak lah, mana mungkin Qania berpaling dari gue yang merupakan stok pria tampan limited edition” pekik Arkana sambil memuji dirinya sendiri.


“Dasar narsis, PD abis lo” cibir Rizal.


“Ya iyalah mana mungkin Qania berpaling dari dia secara dia itu cemburuannya akut, tingkat kebucinannya udah selangit, over protektif, dan juga nekad” celetuk Fero membuat Arkana malah tertawa.


“Dan jangan lupa, gue romantis” tambah Arkana kemudian tertawa kembali.


Keempat orang itu kemudian tertawa lepas, Rizal sangat bersyukur karena sahabatnya itu sudah mau terbuka dann tertawa lepas meski pun sebagian dari tawanya itu hanya alibi untuk menutupi kecemasannya. Tapi bagi Rizal setidaknya ia sudah lega karena tahu apa permasalahan yang dialami oleh sahabatnya itu.


*


*


 


“Ahh akhrinya selesai juga, waktunya bobo cantik nih” ucap Qania sambil menatap hasil karya mereka.


“Kamu tidur gih sana, udah jam empat subuh nih” pinta Abdi.


“Oke, beresin ya sisanya” ucap Qania kemudian berdiri dan berjalan masuk meninggalkan Abdi, Baron dan Prayoga.


Semalam yang lainnya menyerah karena tidak terbiasa begadang dengan tugas berat, bahkan Raka yang ngakunya gamers sejati pun tumbang juga pukul dua dini hari tadi. Dan akhirnya hanya keempat mahasiswa teknik itu yang menyelesaikannya, bagi mereka begadang dengan tugas hanyalah hal biasa, apalagi ini hanya menggambar saja, tidak ada rumus, tidak ada kalkulator dan yang jelas tidak ada beban dan gaya yang harus dikontrol hingga hasilnya nol.


Setelah peta dusun itu mereka lapis dengan bingkai dan plastik yang tebal, barulah ketiga pria itu masuk ke kamar dan menuju ke alam mimpi mereka.

__ADS_1


 


...***...


__ADS_2