
Tiga hari berlalu pasca kematian Tosan, Qania semakin sibuk mengejar ujiannya yang tertinggal. Ia bahkan tidak menanggapi Arkana sampai saat ini, semenjak ia tahu fakta tentang kematian Tosan.
"Jangan temui aku dulu untuk waktu yang aku nggak tahu sampai kapan, sebaiknya tinggalkan aku sendiri" itulah ucapan terakhir Qania saat sadar dari pingsannya setelah pemakaman Tosan.
Ucapan tersebut terus terngiang di telinga Arkana, bagaimana Qania sangat marah padanya saat ia menceritakan semua kejadian yang menimpa Tosan. Kalau saja Tosan bukanlah sahabat Qania, mungkin amarahnya tidak akan seperti ini.
Beberapa hari di cuek oleh Qania membuat Arkana menjadi uring-uringan, biasanya ia selalu mengantar jemput dan membuntuti Qania kemanapun.
"Aghh, jujur salah. Nggak jujur lebih parah" Arkana mengacak rambutnya frustasi, ia hanya terus berbaring di kamarnya.
"Qania kenapa sih gini amat. Rindu ini menyiksaaa. Gue emang udah sebucin ini, dan itu semua karena lo Qania. Harusnya lo tanggung jawab, bukan ngebiarin gue kayak gini. Ini nggak boleh jadi, gue harus ketemu sama Qania" Arkana bergegas keluar kamarnya, ia sudah tidak bisa menahan perasaannya.
Saat Arkana akan membuka pintu depan rumahnya, sang papa memanggilnya.
"Kemari nak" panggilnya, ia sedang duduk di sofa ruang tamu, baru saja membaca koran.
Arkana langsung mendekat ke papanya dan ikut duduk bersama, hal yang cukup jarang karena papanya sibuk. Namun karena ancaman beberapa hari yang lalu, Arkana meminta papanya untuk bekerja dari rumah.
"Jadi kapan kita ke rumah Qania? Katanya mau resmiin hubungan, mau tunangan?" tanya papanya sambil merangkul sang anak.
"Qania lagi marah pa" ucap Arkana lesu.
"Kok bisa?" tanya papanya heran.
"Jadi gini pa..."
Flashback on.....
Arkana membaringkan tubuh Qania di atas tempat tidurnya, ia membawa tubuh Qania dari rumah Tosan ke rumahnya karena cukup dekat.
Arkana berusaha membangunkan Qania, ia memberi minyak angin ke dekat hidung Qania beberapa kali hingga Qania perlahan mulai membuka matanya.
"Aku dimana?" tanya Qania.
"Di kamarmu sayang, aku membawamu pulang ke rumahmu. Tadi kamu pingsan, ayo minum dulu" jawab Arkana sambil memberikan segelas air.
Qania langsung menerimanya dan meneguk air itu hampir habis, kemudian ia mengembalikan pada Arkana dan Arkana meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Arkana.
"Nggak, aku cuma kelelahan dan mungkin terlalu syok" jawab Qania sembari tersenyum.
"Syukurlah, aku tinggal dulu ya. Aku mau bantu di rumah duka, kamu nggak usah ke kampus dulu" ucap Arkana kemudian mengecup kening Qania.
Saat Arkana hendak pergi, Qania menarik tangannya sehingga Arkana duduk kembali.
"Ada apa sayang?" tanya Arkana sambil membelai wajah Qania dengan lembut.
"Ceritain" pinta Qania.
"Soal?" tanya Arkana.
"Aku nggak pernah lihat kamu main ke rumah Tosan dan bahkan jalan bareng dia. Yang aku tahu Tosan juga suka balapan dan yang aku dengar tadi Tosan meninggal karena kecelakaan, kamu pasti tahu kejadian sebenarnya, karena kata nenek Tosan kamu lah yang datang memberi kabar" ucap Qania sambil berusaha duduk dan bersandar di ranjangnya.
Arkana terdiam, bagaimana ia akan menjelaskan dan harus mulai dari mana. Sorot mata Qania seakan tidak bersahabat sehingga ia sangat ragu untuk menceritakan kejadian semalam.
"Kenapa diam?" tanya Qania sambil mengangkat sebelah alisnya dan kedua tangannya ia lipat di atas dadanya.
"Tergantung" jawab Qania.
"Kok gitu?" tanya Arkana bingung.
"Ya tergantung gimana caranya kamu jelasin ke akunya" jawab Qania.
"Jadi semalam ada orang yang entah siapa namanya dan bagaimana rupanya ngajak balapan tapi dia cuma mau ngajak aku. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja Tosan maksain buat ikutan, aku sih nggak masalah karena kami berteman cukup baik walaupun nggak akrab. Saat balapan baru mulai posisi kita masih samaan sampai aku berada di posisi depan, orang itu nendang motor Tosan, yang sebenarnya sasaran dia itu aku. Aku nggak tahu kenapa Tosan ngelindungin aku, dia bahkan nggak ngasih tahu apa-apa. Sampai saat ini kami masih cari siapa orang itu, tidak ada yang mengenalinya sama sekali. Dia sepertinya punya dendam ke aku, makanya dia ngelakuin itu dan sayangnya dia salah sasaran" cerita Arkana.
"Oh jadi ikut balapan lagi?" itulah kata yang terucap dari mulut Qania setelah Arkana bercerita panjang lebar.
"Hmmm" Arkana hanya bisa menjawab seperti itu.
"Bagus ya, bagus banget kamu. Aku nggak suka ngelarang orang tapi aku juga nggak mau orang yang aku sayangi kenapa-kenapa. Aku sudah kehilangan Tosan, dan aku nggak mau kehilangan kamu" ucap Qania, ia terlihat begitu kesal sekaligus sedih.
"Maaf" lirih Arkana.
"Akibat salah sasaran sahabat aku jadi korban, aku benci kalian" bentak Qania.
__ADS_1
"Aku akan cari orang itu dan bawa ke hadapan makam Tosan, aku janji" ucap Arkana mencoba membujuk Qania.
"Nggak guna, Tosan udah nggak ada" bentak Qania lagi.
Arkana tidak dapat berkata lagi, karena memang benar meskipun dia membunuh orang itu, Tosan tidak akan kembali lagi.
"Jangan temui aku dulu untuk waktu yang aku nggak tahu sampai kapan, sebaiknya tinggalkan aku sendiri" ucap Qania sambil membuang muka.
"Tapi sayang.." Arkana mencoba menolak.
"Pergilah, aku ingin istirahat. Kejadian ini membuatku lelah dan menguras tenagaku" usir Qania.
Arkana ingin menyentuk kepala Qania namun ia menarik kembali tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Qania yang samar-samar ia dengar kembali menangis.
Flashback off....
"Berikan dia waktu, dia membutuhkannya untuk menenangkan diri. Jangan ganggu dia sampai dia siap berbicara denganmu" saran papanya.
"Sampai kapan pa? Aku merindukannya" lirih Arkana.
"Sampai dia siap" jawab papanya menepuk bahu Arkana. "Tapi kira-kira siapa dalang dibalik kejadian ini?" pikir papanya.
"Entahlah pa, dia sangat pandai bersembunyi, sepertinya ini sudah di rencanakan" jawab Arkana sambil memikirkan sesuatu.
"Selesaikan dulu masalah ini, baru selesaikan masalahmu dengan Qania. Papa yakin dia tidak akan berlama-lama marah padamu" ucap sang papa memberi dukungan.
"Semoga saja pa, papa doakan juga supaya masalah ini secepat mungkin menemukan titik terangnya" pinta Arkana.
"Tentu saja" jawab sang papa sambil tersenyum.
"Kalau gitu Arkana pamit ya pa, mau ke kafe. Sekalian bahas masalah ini sama Rizal dan yang lainnya" pamit Arkana.
"Kamu hati-hati ya" pinta papanya.
Setelah mencium tangan papanya, Arkana bergegas keluar. Ia menaiki motornya, awalnya ia berniat menemui Qania, namun setelah mendapat nasihat dari papanya ia memutuskan untuk mendahulukan masalah yang lebih besar yaitu tentang pembalap misterius itu.
.......
__ADS_1