
Setelah teman-temannya pergi, kini di gazebo hanya tersisa Qania, Arkana dan Elin.
“Qan, temenin aku besok ya buat cari kado untuk kak Syifa sama kak Ghaisan” ajak Elin.
“Oh tentu, aku juga mau cariin mereka kado” ujar Qania bersemangat.
“Emang Ghaisan ulang tahun?” Tanya Arkana.
“Nggak sayang, tiga hari lagi dia bakalan nikah. Kamu nggak lihat tuh banyak orang keluar masuk di rumah Elin?” jawab Qania.
“Wah, ini berita heboh. Kok baru kasih tahu sekarang sih? Gue kan bisa bantu” Arkana terlihat antusias.
“Emang kamu mau bantuin juga?” Tanya Elin.
“Tentu saja” jawab Arkana.
“Thanks Ka, kamu bantuin tuh kak Ghaisan dari semalam dia udah gugup dan nggak bisa ngelakuin apa-apa” tukas Elin membuat Arkana terkekeh.
“Ya udah gue ke rumah elo ya” ucap Arkana kemudian bergegas pergi.
“Nggak nyangka gue mereka jadi akrab, padahal dulu kan rival” gumam Elin sambil menatap punggung Arkana yang sudah berjalan masuk ke rumahnya.
“Apalagi gue” celetuk Qania membuat kedua gadis itu tertawa.
Keduanya mengobrol, membahas apa saja yang akan mereka lakukan dan keduanya diminta Ghaisan untuk mendampingi Syifa sementara kedua orang tua Qania yang akan mendampingi Syifa nanti di pelaminan atas usul papa Qania sendiri saat musyawarah dengan para tetangga dan keluarga.
Elin mengetahui hal tersebut dari Ghaisan saat mereka berbincang di bawah pohon nangka di belakang rumah pak kadus waktu itu.
Sesekali Qania melirik kepada Syaquile dan Raka yang tengah cekikan sambil menatap fokus pada layar ponsel mereka.
“Lin, kok aku ngerasa kayak udah kenal lama ya sama si Raka” ucap Qania sambil menatap ke arah Raka.
“Iya Qan, aku juga. Tapi kita kan baru ketemu pas KKN. Aku sering sih dengar namanya disebut-sebut sebagai pria paling tampan di kampus tapi aku nggak pernah ketemu langsung” timpal Elin.
“Gimana kalau kita tanya-tanya dia, mumpung ada waktu senggang” usul Qania.
“Boleh juga tuh” setuju Elin.
Mereka melirik Raka yang tengah berjalan ke arah mereka setelah selesai bermain dengan Syaquile.
“Gue pamit ya” ucap Raka.
“Raka sini deh, kita mau ngomong sesuatu” ajak Qania dengan lembut.
“Mau ngomong apa nih?” Tanya Raka penasaran.
“Makanya lo duduk dulu” ucap Elin.
Raka pun duduk di tengah-tengah kedua gadis itu.
“Jadi mau ngomong apa?” Tanya Raka sambil melirik dua gadis itu secara bergantian.
“Raka, aku sama Elin kok merasa pernah kenal dekat ya sama kamu. Tapi kita nggak tahu itu kapan, kalau kamu?” ucap Qania memulai obrolan.
“Hmm, nggak tahu juga sih tapi waktu awal kita bertemu saat hari pelepasan gue ngerasa kayak pernah lihat kalian” jawab Raka sambil memangku kakinya dan meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
“Apa kita teman sekolah, kamu SMA dimana?” Tanya Qania.
“Gue nggak SMA disini, gue udah lama pindah dari kota ini karena bokap gue dipindah tugaskan. Gue disini bahkan Cuma tiga tahun, Cuma SD doang malah. Dan pas gue lulus SMA gue sama keluarga balik lagi karena tugas bokap gue disini lagi sampai dia pensiun” cerita Raka.
“Terus elo SDnya dimana?” Tanya Elin makin penasaran.
“SD satu, nggak jauh dari sini” jawab Raka.
“SD satu?” beo Qania dan Elin.
Raka mengangguk pasti dan menatap dua gadis yang tengah terkejut.
“Raka, Raka, Raka Saputra, Saputra” Qania mencoba mengingat-ingat nama raka.
“Putra” pekik Elin dan Qania bersamaan.
“Kok kalian tahu nama kecil gue?” Tanya Raka kaget.
“Masa kamu lupa sama kita sih, ini aku Salsa, sama Felin. Kita kan teman sekelas dan akrab waktu SD” ucap Qania sangat senang.
“Salsa? Felin?” Raka mencoba mengingat-ingat.
“Tosan? Salsa? Felin? Ini kalian?” pekik Raka sambil menatap girang kepada dua gadis itu.
“Yuhuuu kita ketemu lagi geng” teriak Qania senang.
Ketiganya pun berpelukan saking senangnya.
“Qan, gimana sama luka di kaki lo yang waktu itu?” Tanya Raka yang tiba-tiba teringat masa-masa kecil mereka.
“Udah baikan kok” jawab Qania sambil tersenyum hangat.
“Tosan gimana? Dia apa kabar?” Tanya Raka, namun sedetik kemudian wajah kedua gadis itu berubah sendu.
__ADS_1
“Dia udah nggak ada, dia udah ninggalin kita beberapa bulan yang lalu” cerita Elin sedih.
“Appaaaaa? Kenapa bisa?” Tanya Raka sangat terkejut sampai-sampai ia berdiri.
“Kecelakaan, dia berusaha melindungi Arkana yang akan dicelakai orang waktu itu, ternyata Tosan tahu kalau yang mau mencelakai Arkana itu mantanku yang masih sangat terobsesi padaku sehingga Tosan bersikeras untuk ikut balapan demi mencegah nist buruknya. Dan akhirnya saat Arkana ingin dicelakai Tosan lah yang menjadi tameng buat Arkana sehingga kecelakaan yang harusnya merenggut nyawa Arkana malah berbalik ke Tosan” kenang Qania, air matanya kembali menetes membasahi pipinya.
“Sial” umpat Raka, baru saja ia senang bisa kembali bertemu sahabat kecilnya, sekarang ia harus mendengar kabar duka.
“Mantan? Maksud kamu Fandy?” Tanya Elin sangat terkejut.
Mau tidak mau Qania harus membertahu Elin karena ia sudah terlanjur kecoplosan.
“Iya Lin, Tosan meninggal karena dicelakai Fandy. Udah lama Tosan dendam sama Fandy karena terus berusaha mengusik aku. Waktu dia tahu aku pacaran sama Arka dia udah senang banget, tapi dia nggak sengaja dengar rencana Fandy di salah satu kafe untuk mencelakai Arkana makanya dia bersikeras untuk ikut balapan meski pun dia ditolak. Aku baru tahu itu dari Jihan , beberapa hari setelah pemakaman Tosan dia datang dan aku temanin ke tempat peristirahatan terakhir Tosan” cerita Qania yang sudah berderai air mata.
“Kurang ajar, terus Fadly tahu?” Elin sangat geram setelah mengetahui fakta kematian sahabatnya itu.
Qania mengangguk membuat Elin langsung terkulai lemas, sementara Raka hanya menyimak saja.
‘Masih ada banyak hal yang bakalan bikin kamu sesak Lin, tapi aku belum mau kasih tahu ke kamu. Aku mau kamu melihat dengan mata kepala kamu sendiri’ batin Qania, ia sangat sedih melihat Elin yang sudah lemas begitu.
“Boleh ajak gue ke makam Tosan?” Tanya Raka.
“Tentu, ayo” jawab Qania.
“Kamu sebaiknya panggil Arka buat boncengin kamu Qan, biar aku sama Raka” usul Elin.
Baru saja Qania ingin menelepon Arkana, orangnya sudah berjalan sambil cekikian mendekati mereka.
“Sayang kamu kenapa nangis?” Tanya Arkana panic.
“Nggak, tadi kita nggak sengaja teringat Tosan. Sayang anterin ke makam Tosan” serga Qania.
“Iya, ayo”,.
Arkana mengetahui betapa terpukulnya kekasihnya itu, ia juga tahu kenapa Qania cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Qania tidak ingin Arkana dirundung rasa bersalah lagi, makanya Qania langsung bergegas mengajaknya pergi.
“Ayo Lin” ajak Raka yang sudah siap di atas motor.
“Dia juga ikut?” Tanya Arkana berbisik.
“Nanti aku ceritain” jawab Qania sambil memeluk erat pinggang Arkana dan yang dipeluk tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
*
*
“Seandainya gue ingat dulu kita pernah bersama, pasti gue bakalan temui kalian dan menjalin kembali persahabatan kita yang dulu pernah terpisahkan. Bro, semoga elo tenang disana, gue bakalan gantiin tugas lo buat jagain dua gadis yang dari kecil selalu kita lindungi ini” isak Raka, ia kembali teringat bayang-bayang masa kecil dulu.
Flash back on…..
Tiga anak berseragam merah putih tengah duduk di kantin sambil menikmati nasi kuning mereka. Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang dan ikut duduk di sebelah anak laki-laki yang satunya.
“Kamu siapa?” Tanya mereka.
“Namaku Raka Saputra, panggil aja Putra. Aku murid baru disini” ucapnya memperkenalkan diri.
“Oh aku Tosan”,.
“Felin”,.
“Qania Salsabila, tapi panggil aja Salsa” ucapnya dengan gaya songongnya.
“Bukannya biasa dipanggil Qania ya, dari kecil juga kita manggilnya Qania” ucap Tosan dengan polosnya.
“Ih gimana sih kalian, kan biar lebih imut” Qania menaik turunkan alisnya.
“Gaya lo bocah, selangit eyy” cibir Tosan.
“Kita ini masih kelas satu SD tapi gaya kita udah kayak anak abg aja ya” celetuk Elin sambil menyendok nasi ke mulutnya.
“Benar tuh Lin, biar bocah asal pikirannya dewasa” sambar Raka.
Saat mereka tengah menikmati makanan mereka dan juga tengah bercanda, empat orang anak laki-laki berbadan besar dan juga ada yang kurus lansung menggebrak meja mereka membuat mereka tersentak. Elin bahkan sampai terbatuk-batuk karena tersedak makanannya, dan hal itu membuat Tosan marah.
“Mau apa kalian?” Tanya Tosan geram.
“Mana uang jajan kalian, serahkan” pinta murid lak-laki yang berbadan besar dengan kasar.
“Kalau kita nggak mau, lo mau apa?” tantang Raka.
“Masih kelas satu udah ngelawan kelas enam ya, bagus. Hajar mereka” teriaknya lagi.
Tosan yang sudah masuk ke kelas karate sejak TK langsung menangkis serangan random dari bocah-bocah kakak kelas mereka itu. salah satu dari mereka ada yang menarik lengan Qania dan untung saja Raka melihatnya dan langsung menendang tangan kakak kelasnya itu dengan kuat hingga genggamannya terlepas.
__ADS_1
“Kamu nggak apa-apa Salsa?” Tanya Raka.
“Aku aman Put, makasih” ucap Qania sembari tersenyum manis.
“Felin awas” teriak Raka yang melihat salah satu dari kakak kelas mereka hendak menarik rambut Elin.
Bughhh….
Wajah murid laki-laki itu langsung lebam karena mendapat bogeman mentah dari Tosan. Salah satu dari kakak kelas itu ada yang berhasil lolos dan berlari cepat ke ruang guru. Tak lama kemudian dua orang guru yang satu laki-laki dan yang satu perempuan datang melerai pertengkaran tersebut.
“Kalian semua ikut ibu sama bapak ke kantor” panggil pak Bambang.
Semuanya pun menurut dan langsung berjalan di belakang pak Bambang dan bu Dila berjalan di belakang mereka.
“Ada apa ini hah?” Tanya kepala sekolah.
“Kami dipukuli pak” jawab kakak kelas yang bertubuh besar.
“Mereka duluan yang mulai pak” sanggah Tosan.
“Bohong pak, bapak tidak lihat kami semua babak beluk begini” elak salah satu dari kakak kelas itu.
“Mereka memalak kami pak, kami sedang makan di kantin dan mereka datang meminta uang jajan kami. Karena kami menolak mereka marah dan langsung menyerang kami, tapi untungnya Tosan dan Putra bisa melawan pak” cerita Qania panjang lebar.
“Benar begitu?” Tanya kepala sekolah.
“Benar pak”,,
“Tidak pak”,.
“Kalau begitu kalian semua dihukum hormat bendera sampai pulang” ucap kepala sekolah kemudian menyuruh anak-anak itu keluar di damping oleh pak Bambang.
Mereka dengan patuh pun kini tengah menghormati bendera yang sedang melambai-lambai karena diterpa angin. Tak ada suara, mereka fokus saja menjalani hukuman, toh sebentar lagi murid kelas satu akan pulang dan mereka terbebas dari hukuman.
Benar saja, baru beberapa menit mereka dihukum, bel pulang untuk kelas satu dan dua sudah berbunyi. Mereka melirik kakak kelas mereka itu sembari mengejek kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke kelas untuk mengambil tas.
“Tenang aja, mulai sekarang kita bakalan jagain kalian berdua” ucap Tosan saat masuk ke kelas.
“Benar, kita akan melindungi kalian berdua” tambah Raka.
“Makasih” ucap Elin dan Qania sambil memeluk kedua sahabat mereka itu.
*
*
Arkana dan Qania kini tengah menikmati angin sore di bibir pantai dengan posisi Qania duduk di depan dan Arkana duduk dibelakangnya sambil memeluk Qania.
“Jadi Raka itu teman kecil kamu?” Tanya Arkana.
“Iya sayang, hanya saja dia Cuma sampai kelas tiga terus pindah” jawab Qania sambil menatap lurus ke laut.
“Kok kalian baru tahu sekarang, kan udah dua bulan KKN?” Tanya Arkana lagi.
“Wajahnya beda sayang, mungkin dia oplas kali, hehehe” kekeh Qania membuat Arkana ikut tertawa.
Arkana semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Qania, sementara Qania menikmati kehangatan yang disalurkan oleh Arkana. Keduanya menikmati angin sepoi-sepoi di pantai sambil menunggu matahari terbenam.
“Sayang, tadi ketemu sama kak Ghaisan ngomong apa aja?” Tanya Qania.
“Itu, si Ghaisan katanya dia gugup banget menjelang hari pernikahannya. Katanya nggak pernah segugup ini, padahal kalau menurut aku itu biasa aja sih, nggak perlu gugup kayak gitu” ledek Arkana, ia teringat dengan Ghaisan yang mengatakan ia kehilangan konsentrasi dari kemarin dan selalu merasa gugup.
“Tau deh yang udah pernah nikah, eh maksudnya hampir nikah” ejek Qania membuat Arkana semakin mengeratkan pelukannya.
“Bicara kayak gitu sekali lagi aku ambil jatah disini sekarang juga” ancam Arkana membuat Qania tertawa.
“Dih ngancem, orang aku bilangnya fakta kok” Qania cekikikan tanpa Arkana ketahui.
“Arghh sayang jangan salahkan aku kalau aku mengambil jatahku sekarang”geram Arkana sekaligus gemas dengan kekasihnya itu.
“Sayang kau menyakitiku” ringis Qania membuat Arkana langsung melepaskan pelukannya.
“Tapi bohong” teriak Qania kemudian berlari.
Arkana menyeringai kemudian berdiri dan mengejar kekasihnya itu dan akhirnya ia mendapatkan Qania dan menggendongnya ala bridal style. Mereka menikmati tenggelamnya matahari sambil berlarian di pantai dengan Arkana yang menggendong Qania di punggungnya.
Hal sederhana dari gaya pacaran mereka itu justru membuat keduanya semakin mesra dan nampak sangat romantis karena selalu diiringi dengan gelak tawa.
‘Ya Allah, tolong biarkan aku terus bersamanya menikmati kebahagiaan ini, ku mohoooooon’ batin Qania.
‘Gue nggak tahu kisah kita akan seperti apa kedepannya, tapi satu hal yang perlu elo tahu Qania gue Arkana Wijaya bakalan mencintai elo selamanya dan selamanya Cuma elo yang ada di hati gue. Gue nggak bisa janjikan apa-apa ke elo, tapi gue berusaha untuk terus membuat lo bahagia bersama gue’ batin Arkana.
__ADS_1
... ☘☘☘☘☘☘☘☘☘...