Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Mustahil


__ADS_3

Qania memacu kecepatan motornya dengan pelan begitu ia keluar dari area kampus, kemudian ia membelokkan motornya memasuki kafe yang berada di dekat kampus itu yang biasa ia datangi bersama Lala kalau sedang libur kuliah. Qania memarkirkan motornya dan kemudian ia turun dan masuk ke dalam kafe.


“Hahh menyebalkan, hari ini sungguh menyebalkan” gerutu Qania kemudian tanpa bertanya ataupun permisi ia segera duduk di bangku piano dan membuka piano tersebut.


Trengggg


Qania menekan kuat piano tersebut untuk melampiaskan kekesalannya.


Sementara itu, di dalam ruangan pemilik kafe yang tengah memeriksa laporan keuangan langsung kaget dan geram karena lagi-lagi ada yang menyentuh piano kesayangannya itu.


“Ridwan haruskah saya yang turun tangan untuk mengusir orang yang berani menyentuh piano saya” ucapnya dengan kesal ketika Ridwan mengangkat telepon yang berada di atas meja di dalam ruangannya.


“Maaf pak, saya sungguh tidak tahu kalau ada pengunjung yang menyentuh piano anda Pak” ucap Ridwan gugup.


“Jangan hanya minta maaf, jika saya sampai turun tangan sendiri maka kau tidak berguna lagi bekerja disini” ancamnya.


Ridwan yang berumur sekitar dua puluh lima tahun itu mengerti betul dengan kata tidak berguna itu menjurus pada kata pemecatan sehingga dengan cepat ia keluar dari ruangannya mencari orang yang dengan lancang memainkan piano kesayangan bossnya itu.


Meski dirimu bukan milikku


Nam…


“Tolong nona berhenti memainkan piano ini”,.


Baru saja Qania bernyanyi, ia sudah dihentikan oleh seorang pria yang terlihat ketakutan sedang berjalan mendekatinya.


“Ada apa ya?” tanya Qania berbalik badan.


“Maaf nona tapi pemilik kafe ini melarang keras siapapun menyentuh piano ini” jawab Ridwan.


“Haha lalu untuk apa piano ini berada disini? Sebagai pajangan? Atau untuk menarik perhatian pengunjung?” Qania terkekeh mendengar jawaban dari Ridwan.


“Maaf nona sekali lagi saya mohon maaf dan tolong anda jangan menyentuh piano itu karena pekerjaan saya dipertaruhkan nona” ucap Ridwan meminta belas kasihan.


“Ya sudah saya jadi tidak berminat lagi, hanya menyentuh piano saja tidak boleh. Dasar pelit” gerutu Qania seraya berdiri meninggalkan Ridwan yang akhirnya bernapas lega.


Qania berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya, ia yang tadinya ingin menghilangkan rasa kesal justru semakin dibuat kesal. Akhirnya Qania memutuskan untuk mencari warung pinggir jalan untuk mencari menu favoritenya yaitu ayam bakar.


 


Qania memarkirkan mototnya di pinggir warung tenda yang sepi, hanya ada bapak penjual yang sedang duduk menunggu pembeli. Qania begegas masuk ke warung tenda tersebut setelah memesan dua porsi ayam bakar dan langsung duduk lesehan menunggu makanannya dimasak.


Qania merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan video pada nomor kontak mamanya.


“Assalamu’alaikum ma” sapa Qania begitu melihat wajah mamanya.


“Wa’alaikum salam nak, apa kabar? Kamu lagi dimana ini?” tanya mamanya yang terlihat sedang duduk memangku Arqasa.


“Kabar Qania baik ma, aku lagi di warung tenda ini mau makan siang”,.


“Hallo anak mommy, udah besar ya nak. Nggak kangen sama mommy?” tanya Qania pada Arqasa yang terlihat makin gembul, Qania berusaha menahan air matanya yang ingin tumpah.


“Arqasa kangen banget sama mommy, makanya mommy belajar yang rajin biar kuliahnya bisa cepat selesai dan pulang ke rumah main sama Arqasa” sahut mamanya menirukan suara anak kecil.


Qania terkekeh, ia terus mengajak anaknya berbicara lewat panggilan video sampai akhirnya dua porsi ayam bakarnya datang dan ia memutuskan untuk mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


“Oke sayang, mommy mau makan dulu ya. Nanti kalau sudah sampai di kost mommy akan telepon lagi” ucap Qania mengakhiri panggilannya.


“Oke mommy, bye”,.


Setelah mengucapkan salam Qania kembali menyimpan ponselnya di dalam tasnya kemudian menatap makanan di depannya. Qania tidak mengira air matanya menetes begitu saja melihat menu makan siangnya kali ini.


“Aku merindukanmu sayang, sungguh aku merindukanmu. Aku berharap Tuhan mengembalikanmu padaku. Aku tahu aku gila, aku tidak waras, tapi aku tetap saja menuntut Tuhan mengembalikanmu padaku sehingga kita bisa makan ayam bakar bersama lagi” lirih Qania kemudian mengusap air matanya dan langsung melahap makanannya.


Bapak penjual ayam bakar itu merasa kasihan melihat Qania yang tengah bersedih sambil memakan makanannya, ia tidak sengaja mendengar percakapan Qania di telepon dan dari situ ia tahu bahwa Qania adalah seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya dan memiliki satu orang anak yang sedang berada jauh darinya.


Setelah hampir setengah jam, Qania akhirnya menghabiskan dua porsi ayam bakar itu dan mengucap syukur pada sang Pencipta.


“Makasih pak, kembaliannya buat bapak saja karena ayam bakarnya sangat enak” ucap Qania seraya menyerahkan satu lembar uang seratus ribu.


“Wah makasih banyak mbak. Oh iya mbak orang baru ya disini?” tanya bapak itu sambil menyimpan uang di dalam tas pinggangnya.


“Oh iya pak, saya orang baru disini dan ngekost di rumah nek Nilam. Oh ya, bapak setiap hari jualan disini?” tanya Qania balik.


“Iya mbak, dari jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam” jawabnya.


“Wah kalau begitu nanti saya balik lagi ya pak. Saya pamit dulu” ucap Qania senang begitu pun dengan si penjual.


“Terima kasih mbak, hati-hati” serunya yang dijawab anggukan oleh Qania.


 


*


*


 


Qania tersenyum melihat sang mama sedang duduk di ruang keluarga hanya berdua dengan papanya.


“Arqasa mana ma?” tanya Qania.


“Udah bobo dia, tadi sore diajak kedua kakeknya jalan-jalan” jawab mamanya.


“Pa, katanya mau datang tapi kok nggak datang-datang sih?” tanya Qania dengan menampilkan wajah cemberut.


“Masih belum ada waktu libur nak, apalagi sekarang memasuki akhir masa jabatan papa. Mana papa mau mencalonkan jadi bupati juga, papa sibuk nak maaf” jawab papanya sedih.


“Iya deh pa, yang penting kita masih bisa komunikasi” ujar Qania menghela napas panjang.


“Oh iya sayang, sebenarnya ada yang ingin papa tanyakan tapi papa selalu lupa” ucap papanya menatap serius pada layar ponsel.


“Apa pa?”,.


“Itu di kampus emang nggak ada cowok yang naksir kamu” ucap papanya kemudian terkekeh.


“Hm kirain apa” ketus Qania.


“Jawab dong sayang” pinta papanya menahan tawa.


“Ya ada sih pa, bahkan aku udah nolak lebih dari sepuluh cowok pa” jawab Qania lesu.

__ADS_1


“Kamu masih belum bisa membuka hatimu nak?” tanya mamanya lirih.


“Ma, Arkana itu belum genap dua tahun ninggalin Qania Ma. Mana mungkin Qania bisa melupakannya dan membuka hati secepat ini dan bahkan Qania sudah memutuskan untuk tidak membuka hati Qania untuk siapapun” tegas Qania.


“Mama tahu sayang, tapi kamu masih sangat muda dan kamu juga butuh pendamping nak, jangan berhenti karena Arkana sudah tiada, karena duniamu masih terus berputar dan berjalan. Jangan terpuruk dalam kesedihanmu nak” nasihat mamanya.


“Ma, Qania udah bilang kalau Qania nggak mau menikah lagi ma. Arkana aja cinta sama Qania sampai mati, masa Qania tega mengkhianatinya” sanggah Qania.


“Nak itu beda lah posisi Arka dengan posisimu, jangan membuat keputusan yang akan kau sesali suatu saat nanti” tandas papanya.


“Qania udah yakin Pa, Ma. Kalau kalian hanya akan membahas ini sebaiknya kita sudahi saja pembicaraan kita karena Qania tetap pada keputusan Qania Ma, Pa. Maafkan Qania, Assalamu’alaikum”,.


Karena kesal, Qania langsung memutus panggilan video itu dan melempar ponselnya ke bantal di sebelahnya.


Qania POV


 


Hatiku sakit saat mama dan papaku memintaku seperti tadi. Aku sebenarnya tahu mereka menyayangiku dan mengkhawatirkan masa depanku. Tapi aku tidak bisa menahan amarahku karena aku saja masih belum bisa melupakan Arkana dan aku diminta untuk mencari penggantinya.


Aku  juga baru sadar kalau perkataan kedua orang tuaku sama seperti ucapan Julius tadi siang, aku sebenarnya memang membenarkan ucapan mereka tapi sungguh hatiku menolak semua itu.


Apakah aku salah sudah bersikap seperti ini karena aku ingin setia pada suamiku?


Apakah aku egois pada kedua orang tuaku dan pada pria-pria yang sudah ku tolak?


Tapi sekali lagi maaf, sungguh hatiku menolak semua ini. Aku sama sekali tidak bisa menerima perasaan orang lain masuk ke dalam hatiku. Terlebih lagi pada Julius yang aku tahu bagaimana dirinya begitu peduli padaku.


Mustahil bagiku membagi perasaanku dan mengubah duniaku yang saat ini sedang ku bentuk dengan hanya ada aku , anakku dan Arkana di dalamnya. Aku enggan berpaling karena perasaan ini terlalu dalam untuknya hingga aku tidak bisa melihat dan merasakan kasih sayang dari orang lain.


Aku bukannya menginginkan harta Arkana jatuh ke tanganku sendiri, ataupun mengamankan masa depan anakku. Papaku punya perusahaan dan aku sudah memiliki gelar sarjana, tidak sulit bagiku mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi anakku dan diriku.


Ini murni karena aku tidak bias membuka hatiku. Aku takut, aku sangat takut membuka hatiku dan merasakan kekecewaan lagi. Aku juga tidak ingin mengubah mereka seperti Arkanaku karena itu sama saja menyakiti mereka karena aku mencintai mereka hanya karena aku melihat sosok suamiku di diri mereka.


Aku takut menikah lagi karena aku tidak ingin kasih sayangku pada anakku akan terbagi jika aku memiliki anak nanti dan tentu saja suamiku kelak akan lebih mencintai anak kandungnya dan aku akan melihat putraku tersisihkan, aku tidak ingin hal itu terjadi.


Aku hanya ingin hidup berdua dengan anakku dan kenangan Arkana di hidup kami. Aku tidak ingin anakku menjadi korban ketidakadilan jika aku menikah dan aku dituntut untuk mencintai anak keduaku nanti dan mengesampingkan anakku bersama Arkana jika itu permintaan suamiku kelak. Karena tidak menutup kemungkinan jika nanti aku menikah suamiku tidak menyangi anakku seperti awal kami saling mengenal.


Okelah dia menyayangi anakku, tapi pasti berbeda dengan kasih sayang yang akan ia berikan pada anak kandungnya sendiri dan aku menjamin hal itu akan terjadi.


Dan satu lagi yang menjadi ketakutanku menikah lagi, aku takut membagi tubuhku pada orang lain. Aku hanya ingin disentuh oleh Arkana dan hanya satu orang saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika ada pria berbeda menyentuh tubuhku, menjamah setiap inci di tubuhku. Aku tidak rela dan aku tidak ingin membiarkan tubuhku dimiliki orang lain.


Ya mungkin ini lah yang membuatku enggan menerima setiap lelaki yang mencoba mendekatiku.


 


Qania POV End.


 


Lama Qania larut dalam lamunannya hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan rasa kantukknya.


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...

__ADS_1


__ADS_2