
“Siapa yang menanyakan saya?”,.
Semua mata tertuju ke arah pintu begitu mendengar suara lantang dari arah sana.
“Jawab, siapa yang menanyakan saya?” bentak Ghaisan.
“Saya” ucap Prayoga tegas dan berani.
“Memang ada urusan apa kau menanyakanku anak muda?” Tanya Ghaisan sambil menatap sengit ke arah Prayoga.
“Tentu saya harus tahu, karena saya adalah calon suami Felin. Jadi kalau ada yang ingin mendekatinya harus bersaing secara sehat dengan saya” ucap Prayoga tak gentar.
“Oh nyalimu lumayan juga. Perkenalkan saya Mayor Ghaisan Yudistira, Tentara Nasional Indonesia angakatan darat” ucap Ghaisan dengan lantang dan sedikit sombong.
“Meski pun kau tentara saya tidak takut” tantang Prayoga.
“Oh jadi kau serius ingin menjadi suami adikku?” Tanya Ghaisan, ia sedikit kagum dengan keberanian Prayoga, diam-diam ia tersenyum tipis bahkan senyumnya hampir tak nampak sama sekali.
“Tentu saja”,.
“Eh apa tadi, adik?” Tanya Prayoga gelagapan.
“Iya dia kakaknya Elin” bisik Qania cekikikan.
Prayoga meringis begitu mengetahui orang yang tengah didebatnya ini adalah kakak dari gadis incarannya, ia menatap sengit kepada Qania yang tengah cekikikan.
“Kau dalam masalah besar bung” ucap Raka sambil menepuk pundak Prayoga.
Elin berusaha keras untuk menahan tawanya melihat ekspresi Prayoga yang menurutnya sangat lucu.
“Mendadak bisu kah?” ejek Ghaisan.
“Hehehe, maaf kakak ipar” Prayoga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ghaisan menatap Prayoga dengan sebelah sudut alisnya terangkat saat Prayoga menyebutnya sebagai kakak
ipar. Sementara Elin memelototkan matanya mendengar penuturan Prayoga, begitu pun dengan Abdi, Raka dan Baron. Lain halnya dengan Qania yang tengah cekikikan, entah mengapa mengerjai Prayoga menjadi hiburannya selama dua bulan ini.
“Jangan menatapku seperti itu kakak ipar, aku tahu aku ini tampan dan percaya diri” seru Prayoga.
Dalam hati Ghaisan tengah menertawakan kekocakan sekaligus kepercayaan diri lelaki di depannya, entah mengapa ia tiba-tiba saja membandingkan Prayoga dengan Fadly.
“Ekhmmm” Ghaisan berdehem cukup keras membuat yang ada di dalam kamar itu menjadi tersentak, terlebih lagi Syifa yang baru saja datang bergabung.
Ghaisan menatap Elin yang tengah menunduk, sebuah seringai muncul di wajahnya saat melihat ekspresi adiknya itu yang sangat nampak kalau ia juga menyukai pria itu.
“Elin, ikut kakak” panggil Ghaisan dengan dingin.
Elin pun segera berjalan mendekati Ghaisan dan lelaki itu membawanya ke belakang rumah pak kadus bersama Syifa. Tidak perlu ditanyakan lagi bagaima Ghaisan mengetahui area disana, karena dusun itu lah tempatnya beberapa bulan yang lalu menjalankan tugas negaranya.
“Dek, perkenalkan ini Syifa, calon kakak iparmu” ucap Ghaisan dengan lembut serta senyum manis di bibirnya saat ketiganya sudah duduk di gazebo di belakang rumah pak kadus di bawah pohon nangka.
“Calon kakak ipar?” pekik Elin.
“Kakak rasa kau belum tuli dek” sindir Ghaisan.
“Wah kau sungguh calon kakak iparku? Betapa malangnya dirimu kak, ck,ck,ck” Elin berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Ghaisan kesal namun Syifa malah tertawa.
“Tenang sayang, dia sedang memujimu” ucap Ghaisan sambil menggeretakkan giginya.
“Aku tahu” sahut Syifa yang masih tertawa.
“Hallo kak, aku Elin, adik satu-satunya kak Ghaisan Yudistira yang paling cantik, manis, dan imut” ucap Elin sambil mengulurkan tangannya.
“Dih narsis” cibir Ghaisan.
“Hallo juga dek, aku Syifa, kamu boleh panggil aku kak Syisi. Aku suster paling imut di rumah sakit” ucapnya sembari membalas uluran tangan Elin.
“Oh Tuhan, kenapa dua gadis ini begitu narsis” teriak Ghaisan frustasi.
__ADS_1
“Itu kenyataannya kak, dank au tidak bisa menolak keimutan kami” tandas Elin membuat Ghaisan mendengus
kesal.
“Tadi di mobil kau dan Qania yang sangat narsis, sekarang kau dan Elin pun sama. Aku baru tahu kau senarsis ini sayang” Ghaisan mendesah frustasi membuat kedua gadis itu menertawakannya.
“Kau saja yang begitu kaku” ejek Syifa.
“That’s right kak Syisi” timpal Elin.
“Dek, kakak mau nanya serius ke kamu” ucap Ghaisan sambil menatap adiknya yang duduk di sebelah kanannya,
posisi duduk mereka saat ini yaitu Ghaisan yang berada di tengah kedua gadis narsis itu.
“Tanya ya Tanya saja kak”,.
“Kau suka sama temanmu tadi itu?” Tanya Ghaisan tanpa basa-basi.
Deggg…
Pertanyaan tersebut sukses membuat Elin terkejut dan juga raut kebimbangan tersirat di wajahnya.
“Jawab saja” ucap Ghaisan sambil membelai rambut panjang Elin yang terikat acak itu.
“Kakak kan tahu aku udah punya pacar” ucap Elin dengan ragu-ragu.
“Kakak tidak menanyakan kau punya pacar atau tidak, yang kakak tanyakan itu apakah kau suka sama temanmu itu, hemm?” ucap Ghaisan dengan penuh kelembutan.
“Aku nggak tahu kak, selama ini yang aku tahu aku selalu dibuatnya kesal tapi aku tidak menampik kalau aku menyukai semua hal yang dilakukannya kepadaku. Dia apa adanya dan selalu membuatku kesal dan tertawa, aku juga tidak bisa berbohong kalau setiap ucapan dan tindakannya membuat hatiku bergetar untuknya. Tapi setelah itu aku kembali tersadar kalau aku sudah memiliki kekasih dan aku harus menjaga hatiku seperti dia yang selalu setia kepadaku”,.
“Apakah aku salah jika menyukai orang lain? Apakah aku gadis gampangan kak? Aku bingung kak, aku selalu menekan perasaanku saat bersama Yoga tapi kadang aku merasa tidak mampu. Semua hal yang dia berikan kepadaku meskipun sangat sederhana itu mampu membuatku melayang dan melambung tinggi. Beda kak, sangat beda saat bersama dengan Fadly yang kesannya aku harus selalu sempurna, bahkan terkadang aku merasa bukan diriku saat bersama dia karena dia itu menjaga image. Sangat berbeda dengan Yoga yang apa adanya dirinya bahkan dia rela bertingkah konyol hanya untuk membuatku tertawa atau pun terkesan padanya” ungkap Elin panjang lebar, ia memang selalu menumpahkan perasaannya dan juga menceritakan isi hatinya kepada tiga orang saja yaitu Ghaisan, Qania dan Tosan yang kini sudah tiada.
Ghaisan tersenyum dengan penuturan adiknya itu, ia kemudian membawanya kedalam dekapannya sambil mengecup puncak kepala adik satu-satunya itu.
“Adikku rupanya sudah besar sekarang” lirih Ghaisan.
“Kak, sebesar atau setua apa pun aku, aku tetap ingin jadi adik kecil kakak” isak Elin membuat Syifa berpindah duduk ke samping Elin dan mengelus punggung calon adik iparnya itu.
“Kakak yang terbaik” puji Elin sambil menyeka air matanya.
“Gimana menurut kamu sayang?” Tanya Ghaisan kepada Syifa.
“Kalau aku ada di posisi Elin, aku lebih memilih pria yang mau menerima aku apa adanya diriku dalam artian seurakan apapun aku atau seperti apa pun tingkahku, entah itu kampungan atau sangat konyol atau pun aku arogan, dia mencintaiku karena diriku yang seperti itu. aku tidak suka dengan orang yang terlalu menjunjung tinggi
imagenya hingga terkesan tak mudah tersentuh. Elin, kadang wanita itu lebih menyukai pria yang mampu membuatnya terus tertawa, karena pada dasarnya wanita moodnya selalu berubah-ubah hanya karena masalah sedikit. Dan ketika kau memiliki pria yang mampu bertingkah konyol hanya untuk mengubah noodmu, kau pasti akan sangat bahagia. Menjadi wanita perfect dimata orang lain itu menurut kakak sangat menyiksa, dimana kita harus terus berada di atas dan tidak bisa melakukan kesalahan sedikit pun” ucap Syifa sembari tersenyum kepada Elin yang tengah memperhatikan setiap kata yang ia ucapkan.
“Aku rasa kakak benar, menjadi wanita yang sempurna untuk pasangannya itu memang sangat susah dan menyiksa. Aku harus menjadi orang lain saat bersamanya, aku ingin pria yang menerimaku apa adanya diriku” ujar Elin seraya menghamburkan diri memeluk Syifa dan Syifa pun membalas pelukan tersebut.
“Kakak rasa dia boleh jadi kandidat calon adik ipar” ledek Ghaisan memecahkan suasana haru itu.
“Ish kakak ini, ingat aku masih punya kekasih” serga Elin kemudian melepaskan pelukannya dari Syifa.
“Tapi kau sudah selingkuh” sindir Ghaisan.
“Mana ada aku selingkuh” sanggah Elin.
“Statusmu memang setia, tapi hatimu mendua” ledek Ghaisan.
“Dih udah bisa ya buat kata-kata kayak gitu” cibir Elin.
“Yoi girl” kekeh Ghaisan.
“Kak, aku baru tahu loh kalau kakak punya sifat seperti ini” ucap Elin menatap Ghaisan sambil memicingkan matanya.
“Kakak emang kayak gini kalau udah jatuh cinta” ujarnya.
“Kak Syisi?” Elin berbalik menatap Syifa dengan maksud tatapan menanyakan tentang sikap Ghaisan.
“Kau tahu dek, dia itu tentara yang sangat narsis yang pernah kakak temui. Kadar kepedeannya diatas rata-rata” ungkap Syifa membuat Elin menganga.
__ADS_1
“Seperti yang tadi kalian bahas, cinta membuat seseorang rela melakukan apapun untuk pasangannya termasuk bersikap konyol sekali pun” ucap Ghaisan bijak.
“Eeeaaaa” seru Elin dan Syifa bersamaan.
“Jadi kau putuskan pilihanmu dan mantapkan hatimu. Jika pacarmu itu jodohmu pasti kalian akan bersatu, tapi jika dia bukan jodohmu maka kakak bersyukur” kekeh Ghaisan membuat Elin mencubit pinggangnya.
“Ih sakit dek” ringis Ghaisan.
“Makanya jangan usil” ketus Elin.
“Hmm, oh iya kapan kalian pulang?” Tanya Ghaisan mengganti topik pembicaraan.
“Besok kak” jawab Elin sambil menggandeng tangan Syifa dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, saat ini Elin tengah bersikap manja kepada calon kakak iparnya itu namun Syifa justru menyukainya.
Sebagai seorang anak tunggal dan juga sudah menjadi yatim piatu semenjak satu tahun yang lalu membuat Syifa merindukan kehangatan keluarga. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan kehangat keluarga yang membuatnya merasa begitu nyaman. Namun sayang saat ia duduk di kelas dua SMP ayahnya yang bekerja sebagai pegawai
keluarahan harus meninggalkan ia dan ibunya untuk selama-lamanya karena penyakit jantung. Ia dan ibunya hidup dari uang pensiun ayahnya hingga setahun yang lalu ibunya menyusul ayahnya karena kecelakaan saat terjadi tawuran di jalan dan kebetulan ibunya sedang berada di dalam angkot.
Syifa yang baru bekerja selama dua bulan di rumah sakit pun harus tinggal seorang diri dan terus menyibukkan dirinya di rumah sakit hingga saat ia bertugas untuk mengurus seorang tentara yang belum sadar selama dua minggu, ia tidak mau pulang meski pun jam kerjanya sudah habis. Ia lebih memilih menemani Ghaisan yang tengah tak sadarkan diri sambil membacakan buku cerita atau pun curhat dengan pria yang tidak bisa mendengar ceritanya itu.
Tapi anehnya setelah beberapa hari Ghaisan siuman, ia sangat mengingat jelas semua cerita dan curhatan Syifa. Dari situ lah kedekatan mereka mulai terjalin dengan Syifa yang sangat telaten merawat Ghaisan hingga benih-benih cinta itu pun hadir dan bersemi.
“Sebenarnya mama dan papa sudah meminta kami menikah dari minggu lalu, hanya saja kakak tidak ingin dimusuhi oleh adik kakak yang manja ini sehingga kakak memilih menunggu kepulangannya baru setelah itu kami melangsungkan pernikahan” ucap Ghaisan sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Elin.
“Kakaaak, kakak yang terbaik” Elin beralih memeluk Ghaisan.
“Mana boleh aku ketinggalan hari bahagia kakakku, mama dan papa ada-ada saja. Aku akan menjadi seksi paling sibuk di acara kakak” ucapnya bersemangat.
“Makasih adikku yang manis” ucap Ghaisan, kemudian Elin melepaskan pelukannya.
“Makanya kau cepatlah memilih calon suami. Eh lupa, kan tadi calon suaminya sudah bersuara” ledek Ghaisan membuat Elin menatap jengah kepadanya.
“Emang menurut kakak dia gimana?” Tanya Elin penasaran.
“Baik, lumayan, berani dan tidak lebih tampan dari kakak” jawab Ghaisan sambil memangku kakinya dan jari telunjuknya ia letakkan di atas dagunya.
“Dih narsis. Tapi nggak kakak, nggak Qania, nggak Arkana kok kalian semua malah milih si Yoga sih?” Tanya Elin bingung.
“Ya karena manusia limited edition kayak kami lah yang paling tahu mana barang bagus dan limited edition dan mana barang KW dan pasaran” kata Ghaisan sambil menyeringai.
“Wow boleh minjam tu kata-kata?” ledek ELin.
“Boleh boleh aja” balas Ghaisan.
Ketiganya pun tertawa, kemudian mereka mengobrol santai sambil membahas awal pertemuan Syifa dan Ghaisan sampai mereka pacaran dan berencana menikah.
Saat Ghaisan, Elin dan Syifa tengah asyik mengobrol di belakang rumah pak kadus, lain halnya dengan Prayoga yang tengah mengomel pada Qania yang sudah menjebaknya dan mengerjainya tadi.
“Gimana dong Qan, gue bisa-bisa nggak dapat restu gara-gara elo” rengek Prayoga.
“Tenang aja, Ghai orangnya baik kok. Dan aku sengaja melatih mentalmu agar kau berani sebab kakak Elin itu seorang tentara dan tentu saja dia menginginkan adiknya mendapatkan pasangan pemberani yang bisa melindungi adiknya. Ini baru aku loh, kau akan mendapatkan syok terapi lebih dari ini dari calon kakak iparmu itu” tukas Qania
sambil menatap serius kepada Prayoga.
“Lo benar juga Qan” ucap Prayoga.
“Qania emang selalu benarnya” ucapnya bangga membuat teman-temannya memutar bola matanya jengah kecuali Raka yang berdiri sambil menatap Qania dengan senyuman manisnya.
‘Fix gue galon, gagal move on’,.
“Yuk kita keluar, nggak enak sama yang lain pada sibuk sementara kita asyik bergosip ria di dalam kamar. Dan lo Qan, lo di kamar aja. Anggap saja ini hukuman buat elo karena lo udah keluar tanpa didampingin oleh kita” ucap Abdi seraya berdiri dan keluar dari kamar tersebut.
“Oke, aku tahu aku salah, aku minta maaf ya” cicit Qania.
“Iya” sahut Abdi.
“Yuk keluar guys, hari ini adalah hari terakhir kita disini jadi buat semuanya berkesan” ajak Raka.
Setelah keempat pria itu keluar, Qania merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memakai headset lalu memutar video kiriman Arkana yang mempertontonkan dirinya yang tengah bernyanyi sambil bermain gitar.
__ADS_1
*****************************