Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Setahun Lagi


__ADS_3

Syaquile POV


Aku speechless, benar-benar tidak bisa berbicara apapun saat tak sengaja saling bertatapan dengan pria yang benar-benar mirip dengan kak Arkana.


Apa aku sedang berhalusinasi?


Tapi tadi kata dokter itu dia adalah kekasih kakak, berarti aku tidak berhalusinasi. Yang aku lihat memanglah benar kak Arkana.


Tapi kenapa?


Kata kenapa itulah yang muncul di benakku saat ini. Kenapa kak Qania tidak pernah memberitahukan tentang ini? Apakah ini alasan kakak selama ini tidak mau menerima pria manapun termasuk kak Raka? Jika memang benar, kenapa? Kenapa kakak tidak pernah cerita kalau kak Arkana ternyata masih hidup? Kenapa menyembunyikannya seperti ini?


Tapi rasanya mustahil juga kalau selama tiga tahun kakak menyembunyikan keberadaannya. Untuk apa juga kakak melakukannya sementara mereka adalah suami istri. Kalau memang benar begitu kakak juga tidak mungkin kan menyembunyikan dia dari Arqasa.


Aku meremas rambutku, pusing. Itu yang aku rasakan saat ini. Dua kali terkejut itu yang aku alami malam ini.


Ya, aku akan menanyakan ini kepada kakak. Tapi nanti, menunggu kondisinya pulih. Aku sangat yakin ada alasan untuk ini semua.


Dan nggak mungkin juga kakak memberi harapan pada kak Raka jika memang kak Arkana ada bersamanya. Jelas-jelas kami menguburkannya waktu itu.


Mustahil lah ....


Ya, aku berhalusinasi saja tadi. Mungkin terbawa suasana aja kali sampai-sampai aku melihat kak Arkana tadi.


Oh atau mungkin tadi itu arwahnya saja yang datang melihat keadaan kak Qania, ya.


Tapi dokter itu ....


Arrggghh ...


Hanya kak Qania yang bisa menjelaskan ini semua. Untuk saat ini aku milih diam aja dulu, aku takut ini adalah rahasia kak Qania. Ya, diam kayaknya lebih baik untuk saat ini. Jangan sampai aku membahasnya dan bikin Mama, Papa dan om Setya jadi pusing juga.


Aku menatap pintu ruangan itu terbuka dan dokter yang tadi berbicara denganku keluar dari sana. Aku mendekatinya untuk mengetahui kondisi kakakku saat ini.


"Dok, gimana kakak saya?" Aku bertanya berharap dapat jawaban yang bikin aku lega.


"Pasien sudah baik-baik saja. Tadi dia sempat sadar, namun karena pengaruh obat akhirnya ia tertidur. Besok pagi akan kami pindahkan ke ruang rawat biasa, ya. Permisi."


Huuhhh ...


Lega rasanya saat dokter mengatakannya. Setelah ku ucap kata terima kasih dokternya pun pergi, tak lama sang pujaan hati pun datang dan aku harus mengubah ekspresi ku agar ia tidak curiga lagi.


"Kak," suara imut yang menyapaku itu membuat jantungku ajep-ajep.


"Sini La, duduk," ajakku sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahku.


"Gimana, udah ada kabar dari dokter, Kak?" tanya Lala, aku bisa melihat ia begitu cemas sepertiku.


"Alhamdulillah udah baik, La. Baru saja dokter mengatakannya padaku kalau kakak udah sadar tadi, cuma lagi tidur sekarang. Dan besok bakalan dipindahin di ruang rawat biasa," jawabku yang dalam hati terus bersyukur.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya, Kak."


Sejujurnya aku sangat ingin bertanya kepada Lala tentang kak Arkana yang tadi ku lihat. Lala orang yang paling tahu tentang kakak saat ini karena mereka tinggal serumah. Dan jika memang pria tadi adalah kekasih kakak, Lala pasti tahu lah.


Tapi ...


Bagaimana jika aku yang salah lihat tadi?


Ya sudah lah, nanti tanya kakak saja.


...Syaquile POV end ......


Alisha berlari menghampiri Syaquile dan Lala yang sedang duduk sambil mengobrol. Air matanya tak kuasa ia bendung sejak mereka sampai. Sementara dibelakang ada Setya yang tengah menggendong Arqasa dan Zafran yang juga sedang berjalan tergesa-gesa.


"Dek, gimana kakakmu?" Tanya Alisha begitu sampai di depan Syaquile.


"Alhamdulillah kakak udah siuman, Ma. Hanya saja karena pengaruh obat kakak tidur lagi. Dan besok akan dipindahkan ke ruang rawat biasa," jawab Syaquile mendekap mamanya.


Alisha menghembuskan napas lega, pikirannya tadi sudah kalut membayangkan kondisi sang anak.


"Gimana kejadiannya, La?" Tanya Setya.


"Aku nggak tahu yang lebih detail, Om. Aku tadi ditelepon sama temannya kak Qania, dia yang melihat kakak waktu kecelakaan, katanya terjadi di depan matanya. Kakak bertabrakan dengan mobil truk, Om. Tapi kata polisi, kak Qania menggunakan motor sport. Tadi polisi datang dan bilang motornya udah diamankan di kantor polisi," terang Lala.


"Motor sport?" Beo Alisha dan Zafran.


Lala pun mengangguk.


"Oh, berarti tadi Qania menarik uang untuk membeli motor itu," gumam Setya yang tahu setiap kali Qania mengeluarkan uang.


"Tapi untuk apa?" Isak Alisha.


Mereka pun terdiam, begitu pun dengan Arqasa yang sudah tertidur sepanjang jalan menuju ke rumah sakit.


"Ma, Pa, om Setya ... Sebaiknya kalian mencari tempat untuk menginap, buar aku yang menjaga kakak disini. Dan kamu La, sebaiknya kamu pulang dulu, kasihan kamu sudah dari tadi disini bahkan sampai lupa makan," ujar Syaquile.


"Ya ampun La, jangan sampai kamu lupa makan juga, Nak. Meskipun kamu panik, jangan lupa harus tetap makan. Nanti kamu jatuh sakit, sayang," ujar Alisha memeluk Lala yang sudah ia anggap anak sendiri.

__ADS_1


"Iya Ma, maaf," cicit Lala.


"Tidak jauh dari sini ada hotel dan penginapan, kalian duluan kesana dan pesankan aku satu, aku akan ke kantor polisi untuk menyelidikinya," ucap Setya.


"Besok aja, Om. Kasihan kalian sudah kecapaian," pinta Syaquile yang melihat raut wajah Setya yang terlihat begitu lelah.


"Iya, besok aja Set. Lagian tadi kamu kan baru pulang dari perjalanan terus lanjut kesini lagi. Kita istirahat dulu," timpal Zafran.


Setya pun mengangguk pasrah, sejujurnya ia memang sangat kelelahan, namun rasa panik dan sayangnya pada Qania membuatnya mengesampingkan semua itu.


"Dek, antar dulu Lala pulang," seru Alisha.


"Iya, Ma. Aku emang mau nganterin Lala, sekalian mau ambil motor kakak di kostan biar gampang kemana-mana," sahut Syaquile.


Jantung Lala berdebar-debar, membayangkan akan berboncengan dengan Syaquile sudah membuat ia merasa gugup.


.... . ....


"La, pegangan dong," pinta Syaquile, saat ini mereka sudah berada di jalan pulang ke kostan.


"I-iya, Kak," ucap Lala gugup.


Lala pun memegangi baju Syaquile, membuatnya tersenyum geli di depan.


"Nggak kayak gitu juga kali, La. Kayak gini, nih ...." Syaquile pun melingkarkan tangan Lala di perutnya.


Pipi Lala bersemu merah, jantungnya berdebar kencang, sementara Syaquile sedang tersenyum pernah kemenangan.


'Semoga kak Syaquile nggak ngerasain detak jantungku yang berdebar kencang ini. Malu kan jadinya, huuuhh ....'


"La, setahun lagi lulus ya kuliahnya," ucap Syaquile dengan santai.


"I-iya, Kak," sahut Lala.


"Kalau gitu setahun lagi kakak bakalan lamar kamu, ya?"


"La-lamar?" Kaget Lala.


"Iya," jawab Syaquile mantap.


"Ta-tapi kita kan nggak ada hubungan apa-apa, Kak," cicit Lala.


"Ya makanya kita adain."


"Emang kak Syaquile suka sama aku?" lirihnya.


"Seumur hidup aku nggak pernah suka ke gadis manapun sampai aku ngira kalau aku nih nggak normal. Tapi begitu aku kenal kamu, perasaan aneh yang bikin bahagia dan galau itu datang, La. Aku emang nggak seromantis kak Arkana yang bikin kak Qania melayang-layang dengan ucapannya, aku nggak pernah bersikap romantis pada siapapun, La. Aku nggak berpengalaman soal itu. Tapi aku akan berusaha untuk melakukannya demi kamu, kalau kamu ...."


"Udah Kak, cukup!" Potong Lala. "Aku bakalan nungguin kakak setahun lagi," ucap Lala malu-malu.


Senyum manis mengembang di bibir Syaquile, ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat ini dan seperti yang ia harapkan.


"Makasih La, I love you," ucap Syaquile kemudian mengambil tangan Lala dan ia kecup.


.... . ....


Tristan kalang kabut saat tidak mendapati Qania di ruang ICU. Bayangan akan ucapan Qania yang bilang mereka tidak akan bertemu lagi membuatnya semakin kalut.


"Sus, pasien di ruangan itu atas nama Qania Salsabila kemana, Sus?" Tanya Tristan panik.


"Oh, dia sudah dipindahkan ke ruang VIP nomor delapan, permisi," jawanya ramah.


Tristan menghembuskan napas lega, ia mengira Qania sudah tidak berada di rumah sakit ini mengingat semalam ia mendengar kalau keluarga Qania akan datang.


Sudah sedari pagi tadi ia gelisah memikirkan Qania, namun pekerjaannya menghalanginya untuk menemui pujaan hatinya. Akhirnya siang hari ia baru bisa datang.


Sampai di depan ruang rawat Qania, Tristan menjadi semakin gugup karena terdengar suara yang sangat ramai dari dalam. Ia pun sedikit menjauh untuk mencari ide.


Di dalam kamar Qania, teman-teman sekelasnya sedang menjenguknya. Mereka datang jauh-jauh dari lokasi KKN untuk memastikan kondisi Qania.


"Qan ini anak Lo?" Tanya Lina yang sedang duduk memangku Arqasa.


"Iya," jawab Qania dengan tersenyum.


"Cakep banget, Qan. Boleh minjam nggak?"


"Dih, Lo pikir itu mainan yang bisa Lo pinjam-meminjam?" Sungut Mae.


Mereka pun tertawa, sementara Arqasa hanya memperhatikan interaksi maminya dengan teman-temannya dengan menampilkan wajah cool.


"Kalau cowok yang duduk disana?" Tanya Mae menunjuk ke arah sofa.


Teman-teman Qania yang perempuan pun mengangguk ikut menanyakan hal yang sama



"Adik aku, Syaquile," jawab Qania.

__ADS_1


"Huaa ... cakep banget. Lo kenapa nggak ngomong kalau punya adik cakep kayak gitu, Qan," pekik Lala.


"Iya, dih disimpan sendiri," sambung yang lainnya.


Sementara Yusuf, ia menatap jengah kepada Mae yang menurutnya kecentilan.


"Mae jaga sikap," tegur Yusuf.


"Ciee ... cemburu," ledek Qania.


Wajah Yusuf memerah malu dan teman-temannya pun mengalihkan pandangan kepadanya.


"Apa sih," gerutu Yusuf.


"Tenang aja Suf, adik aku tuh udah ada calon istrinya. Jadi posisi kamu aman," lanjut Qania.


Yusuf tersenyum, namun ia tidak sadar kalau semua temannya memperhatikan gelagatnya.


"Cie, jadian nih setelah ini," goda Lina.


Sementara teman-teman yang lainnya menghela napas kecewa karena tahu adik Qania sudah memiliki calon istri.


"Ya udah, kita pamit dulu ya. Biar nggak malam sampainya di desa X. Kamu cepat sembuh ya, Qan," ucap Zakih.


"Iya," sahut Qania.


Teman-teman Qania pun satu persatu memberi doa kepada Qania dan berpamitan pulang kepada Syaquile dan kedua orang tua Qania. Lina dengan berat hati mengembalikan Arqasa pada neneknya membuat Alisha tertawa.


.... . . ...


Pukul satu siang Setya datang setelah mengurus kasus kecelakaan Qania. Begitubia ingin masuk, bertepatan dengan seorang pria berprofesi sebagai ojek online pun juga datang dan ingin masuk ke kamar Qania.


"Anda siapa ya?" Tanya Setya merasa curiga.


"Saya hanya diminta untuk mengantar makanan dari pak Tristan untuk Qania Sal ...." Nampak ia sedang berpikir mengingat nama seseorang.


"Qania Salsabila?" Tanya Setya.


"Ah, iya Pak," jawabnya.


Setya mengajak pria itu masuk dan di dalam kamar itu sudah ada Raka bersama Syaquile dan kedua orang tua Qania yang sedang menidurkan Arqasa.


Tatapan mereka beralih pada supir ojek online yang mengenakan topi hitam serta masker di wajahnya.


"Siapa Set?" Tanya Zafran.


"Ini, katanya mau nganterin pesanan dari pak Tristan untuk Qania," jawab Setya ikut duduk di sofa.


Raka dan Qania terbelalak kaget saat mendengar nama itu disebut oleh Setya. Terlebih Raka yang kini tiba-tiba merasa cemburu. Sementara Qania, ia begitu gugup akan ketahuan siapa Tristan itu oleh kedua orang tuanya.


"Tristan siapa, Nak?" Tanya Alisha.


"Bu-bukan siapa-siapa kok, Ma," jawab Qania cepat kemudian ia menggigit bibir bawahnya.


'Ngapain sih tuh orang pakai nyuruh ojek online. Kenapa juga dia bisa tahu aku disini?'


"Ya udah Pak, makanannya taruh di meja saja," ujar Alisha.


"Tapi kata pak Tristan harus kasih langsung ke nona Qania," tolaknya.


"Duh, kayaknya si Tristan itu bukan teman biasa ya," goda Zafran.


Qania mendengus, ia dalam hati mengumpati pria yang bernama Tristan itu. Sementara Raka, ia sudah mengepalkan tangannya. Bayangan akan Qania yang akan direbut oleh pria berwajah sama dengan Arkana membuatnya marah. Syaquile pun diam-diam memperhatikan raut wajah Raka. Dalam hati ia merasa kasihan.


Pria itu pun mendekati Qania dengan membawa plastik makanan. Karena posisi membelakangi semua orang, ia segera membuka maskernya di hadapan Qania.


"Kamu," Qania kaget bukan main karena ternyata itu adalah Tristan, namun ia tidak bisa bersuara keras karena takut keluarganya akan curiga.


Tristan tersenyum manis pada Qania dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Qania mendengus.


"Cepat sembuh, kesayanganku, maaf sudah membuatmu seperti ini," ucap Tristan lirih dan hanya didengar oleh Qania.


Hati Qania menghangat, sejenak ia lupa tentang kejadian kemarin dan tanpa sadar ia mengangguk membuat Tristan kembali tersenyum. Ingin rasanya Tristan mengecup kening Qania namun ia urungkan.


Tristan kembali memakai maskernya, kemudian ia berpamitan pada keluarga Qania.


"Maaf nona Qania, kata pak Tristan makanannya harus dihabiskan. Cepat sembuh, katanya juga dia sayang dan cinta. Permisi," ucap Tristan dengan suara lantang dan terdengar oleh semua yang ada di ruangan tersebut.


Kemudian ia keluar sambil bersiul. Ia juga tertawa saat teringat Qania yang terkejut saat ia dengan lantang mengatakan pesannya tadi. Sementara para orang tua tertawa mendengar ucapannya itu. Ia juga bisa melihat raut wajah kesal dari Raka.


"Menggemaskan."


"Tidak sia-sia juga gue nyewa jaket ini," kekehnya.


Qania mendengus kesal begitu Tristan pergi dari ruangan tersebut, namun ada juga senyum tipis yang terbit di bibirnya. Sementara Raka, pria itu hanya bisa menelan pil pahit karena merasa kurang cepat merebut hati keluarga Qania.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗😊🤗


__ADS_2