
Hari-hari berlalu tanpa terasa sudah seminggu lebih Qania magang di kantor Pak Handoko. Hari-hari yang ia lewati terbilang cukup berat tetapi bukan dari pekerjaannya selama magang seminggu disan. Melainkan ia harus terus waspada karena selalu berhadapan dengan tatapan Pak Handoko yang selalu menatapnya seolah harimau yang sedang melihat daging segar di hadapannya. Lirikannya it uterus saja membuat Qania tak tenang. Ingin ia teriaki karena kesal, kadang juga ingin ia pukul saja wajahnya atau bahkan ingin sekali Qania tarik keluar kedua bola mata pak Handoko. Namun ia hanya bisa memasang senyumannya setiap kali berada di ruangan tersebut, tidak bisa melakukan semua yang ada di dalam benaknya.
Kadang Qania melirik asisten Revan, namun pria kaku itu seolah cuek dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh bossnya. Sudah sering Qania menatap menghiba padanya namun ia malah berpaling muka tak mau melihat Qania. Alhasil Qania hanya bisa melindungi dirinya sendiri. Sudah resiko yang harus ia terima. Seperti saat ini, Qania tengah mengerjakan sebuah laporan dan tiba-tiba pak Handoko masuk ke ruangannya. Qania belum menyadari kedatangannya, ia masih sibuk dengan computer di hadapannya.
Pak Handoko berjalan mendekati Qania hingga membuat Qania tersentak saat Pak Handoko berdehem.
“Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Qania berusaha bersikap tenang.
“Ah ya selamat siang Qania. Saya membutuhkan teman untuk menemui klien nanti malam. Apakah kamu bisa menemani saya?” tanya Pak Handoko dengan tatapan penuh gairah kepada Qania.
“Nanti malam ya Pak? Maaf sepertinya tidak bisa karena nanti malam suami saya akan datang Pak. Ada bisnis yang harus ia urus di kota ini. Sekali lagi saya mohon maaf Pak,” tolak Qania secara halus.
Yang benar saja ingin makan malam dengannya. Jangan mimpi, umpat Qania di dalam hati.
“Oh begitu ya. Ya sudah nanti akan saya cancel saja pertemuannya untuk besok jam makan siang. Saya kerepotan soalnya semenjak tidak ada Clara. Biasanya dia yang menemani saya bertemu klien dan membantu saya menyiapkan segala keperluan rapat,” ucap Pak Handoko tidak kehabisan cara.
Lalu apa gunanya si Revan, huhh?
Ingin rasanya Qania meneriaki bossnya ini namun hanya bisa di dalam hati saja. Dengan memaksakan senyuman Qania mengiyakan permintaan bossnya ini agar pria ini cepat keluar dari ruangannya. “Baik Pak. Besok saya akan membantu bapak menemui kliennya,” ucap Qania.
Senyum terbit di bibir Pak Handoko kemudian ia pergi dari ruangan Qania.
“Tidak bisa malam nanti masih ada besok. Kau terlalu sayang untuk disia-siakan Qania, hahahaha,” Pak Handoko tertawa hingga memasuki ruangannya.
Berbeda dengan Qania yang saat ini tengah kesal di ruangannya. Ia rasanya tidak mampu berlama-lama di kantor ini jika ia tidak memiliki tujuan lain di kantori ini. Dalam kekesalannya, terbesit sebuah ide di benak Qania. Ia pun segera menelepon seseorang.
“Selamat siang Pak,” sapa Qania lewat sambungan telepon kepada pak Erlangga.
“Selamat siang Qania. Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak, bapak mengirim saya ke kandang macan ini, huhh,” keluhnya.
Terdengar kekehan dari seberang saluran.
“Ya, Julius sudah menceritakannya kepada saya. Kamu berhati-hatilah padanya. Jangan sampai kamu terjebak. Kamu tahu, Clara sekretarisnya itu bukanlah cuti melahirkan biasa. Tetapi karena baru saja melahirkan anak bossmu itu.”
Qania membulatkan matanya dengan sempurna. “Appaa?!!”
“Hmm, kamu berhati-hatilah Nak. Jangan sampai kamu menjadi korban selanjutnya. Selalu mawas diri, oke. Julius memang ada disana tapi kalian tidak saling berdekatan. Jaga diri baik-baik. Oh ya ada apa menelepon?”
Qania merasa dirinya semakin terancam berada di kantor ini. Ia masih harus lama magang di tempat ini dan ini baru seminggu ia bahkan sudah ingin menyerah saja.
“Iya Pak, saya akan selalu mawas diri. Jadi tujuan saya menelepon adalah untuk mengatakan saya ingin bernegosiasi dengan Bapak.”
“Bernegosiasi?”
“Hm, jadi jika nanti saya bisa menemukan sesuatu yang menjadi misi saya ini dalam waktu dekat maka setelah itu saya bisa dipindahkan ke kantor Papa saya. Bagaimana Pak?” tanya Qania namun ia berbicara dengan suara yang terdengar dingin.
“Tentu saja. Bahkan jika kau ingin berhenti magang hari itu juga akan saya nyatakan kau dan Julius telah selesai magang.”
“Mengapa tidak mengatakannya sejak awal sih Pak, huhh.”
__ADS_1
“Agar kau tidak terburu-buru, hahaha. Nanti kalian dicurigai.”
“Benar juga. Ya sudah Pak, saya harus bekerja dulu dan sekaligus mencari tahu informasi itu. Selamat siang Pak,” ucap Qania.
“Selamat siang dan ingat hati-hati.”
“Iya Pak, terima kasih.”
Panggilan pun berakhir dan kini otak cerdas Qania sedang bekerja untuk memikirkan mulai darimana pencariannya kali ini.
“Sepertinya aku harus pergi ke gudang untuk mencari berkas lama,” ucap Qania.
Melihat pekerjaannya sudah selesai, maka Qania dengan berat hati melangkah menuju ke ruangan pak Handoko. Ia mengetuk pintu dan asisten Revan pun membukakannya. Qania sedikit bernapas lega karena ia tidak berdua saja dengan boss mesumnya itu.
“Selamat siang Pak, selamat siang Pak Revan,” sapa Qania di ambang pintu.
Pak Handoko yang sedang serius menatap laptopnya pun mengalihkan perhatian. “Ah Qania, silahkan masuk.”
Qania pun masuk dan berdiri saja di dekat meja kerja Pak Handoko.
“Kenapa berdiri? Duduk dulu,” pinta Pak Handoko.
“Tidak perlu Pak. Sebenarnya saya kemari ingin bertanya saja jika boleh,” ucap Qania bersikap ragu-ragu agar Pak Handoko tidak curiga padanya.
“Ya, tanya lah,” ucap Pak Handoko.
“Begini Pak, karena pekerjaan saya disini kan tidak begitu banyak maka saya memutuskan sambil bekerja juga sambil mengerjakan tugas akhir. Jika boleh, bisa kah saya mendapat beberapa berkas lama disini untuk referensi saya menyusun tugas akhir?” tanya Qania.
“Judul? Ah ya, saya bahkan belum menentukan judulnya, hehe,” jawab Qania.
“Ya ampun Qania, Qania. Masa mau cari referensi tapi judul saja belum ada,” ledek Pak Handoko sementara Revan hanya diam namun sedikit menaruh rasa curiga kepada Qania.
“Ya makanya itu Pak saya butuh referensi. Atau konsultasi saja dengan bapak dan pak Revan ya mengenai judul, siapa tahu kalian ada ide untuk saya. Eh tapi kan kalian bukan dosen pembimbing saya,” ucap Qania bersikap polos dan lugu namun dalam hati ia terus saja mengumpat kesal karena terlalu banyak bersikap manis seperti ini.
“Maaf saya sibuk tidak bisa membantu,” jawab Pak Revan datar.
Qania mendengus, kini ia kembali menatap penuh permohonan kepada pak Handoko hingga pria berusia sebaya dengan Papa Zafran itu pun terkekeh.
“Besok kau pergilah ke bagian gudang penyimpanan berkas lama. Cari saja disana beberapa kasus yang membuatmu tertarik. Jika belum ada yang menarik hati nanti saya akan membatu,” ucap pak Handoko.
“Yes! terima kasih Pak. Sebenarnya saya bisa mencari saja di internet beberapa referensi, namun disini kan ada ahli hukum yang merupakan pengacara hebat. Tidak boleh disia-siakan, hehe,” gurau Qania. Ini ia lakukan tentu saja karena tidak ingin dicuriga. Sedari tadi dengan ekor matanya ia bisa menangkap raut penuh rasa curiga asisten Revan terhadapnya.
“Haha, sangat pandai mengambil kesempatan,” ucap Pak Handoko sambil tertawa.
Anda memang benar saya sangat pandai mengambil kesempatan untuk segera mendapatkan tujuan saya, batin Qania.
“Baiklah besok ya, kamu silahkan pergi ke gudang. Disana ada banyak contoh kasus yang bisa kau pelajari,” ucap Pak Handoko.
“Baik Pak, terima kasih,” ucap Qania kemudian ia berpamitan. “Saya permisi kembali ke ruangan Pak.”
“Ya.”
__ADS_1
Begitu di luar ruangan Qania langsung menghembuskan napas panjang karena sedari tadi ia menahan diri untuk tidak kesal pada bossnya. Ia pun langsung masuk ke ruangannya dan mulai memikirkan ide esok hari.
Karena sudah tidak ada lagi kesibukan maka ia sibuk saja berpikir untuk mendapatkan berkas yang ia inginkan dengan hanya membawa bekal satu nama saja. Ia juga harus memberitahukan rencana ini kepada Julius, agar supaya jika nanti sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka ada Julius yang akan membantunya.
Qania sudah mendapatkan idenya. Ide yang menurutnya sangat berbahaya namun ini juga akan bisa membantunya.
“Biarlah berkorban sedikit untuk mendapatkan hasil yang banyak. Sekaligus ini uji mentalku apakah sakit itu sudah sembuh atau belum,” gumam Qania. Ia pun meraih ponselnya dan langsung menelepon Julius.
Qania meminta untuk Julius menunggunya pulang karena ada hal penting yang ingin ia bahas. Sementara sore ini juga Julius ada janji ingin menjemput Gueena di kampus. Julius menawarkan agar mereka pulang bersama sekaligu Julius ingin agar Qania bertemu dengan Gueena dan Qania menyetujuinya.
“Bentar lagi ya Qan, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan ini juga masih setengah jam lagi jam pulang kantor.”
“Iya Jul. Kamu bersibuklah dulu. Aku udah nggak ada kerjaan jadi aku nanti akan tunggu kamu di parkiran,” ucap Qania.
Panggilan pun berakhir, Julius kembali sibuk dengan pekerjaannya sementara Qania kembali membaca agendanya besok yang memang benar ada janji temu makan siang bersama klien.
“Pak Muluk Atmadja? Tapi ini besok. Tidak ada jadwal makan malam untuk hari ini. Dasar! Dia pikir bisa menipuku,” geram Qania.
Qania kembali terdiam, tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan. Bahkan ia melupakan Tristan yang juga memang tiada menghubunginya hari ini. Jika dulu itu terjadi pada Arkana maka Qania akan dirasuki pikiran buruk, tapi kali ini ia benar-benar tidaklah seperti dulu. Bahkan tidak terlintas sedikitpun di benaknya untuk menghubungi Tristan.
Di tempat berbeda, Tristan saat ini sedang berdebat dengan Marsya karena ia baru tahu ternyata kerjaan Marsya sudah selesai dua hari yang lalu. Tristan begitu kesal karena kebohongan Marsya ia tak bisa segera pulang untuk bertemu dengan Qania. Marsya tidak tahu saja kalau rasa rindu yang Tristan rasakan itu sudah tidak bisa dibendung lagi.
“Maaf Tris, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu saja. Jika kita sudah kembali ke Negara kita maka kau akan sibuk dan mengabaikanku lagi. Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin mendapatkan waktu lebih banyak denganmu saja,” ucap Marsya dibarengi isak tangis.
“Ini tidak bisa dijadikan alasan Sya. Kau jelas-jelas tahu kalau aku itu memang sangat sibuk. Jika kau ingin aku punya banyak waktu maka mintalah Papamu untuk mengurusi semua bisnisnya sendiri. Dan aku akan mengurus bisnisku sendiri maka aku pasti akan memiliki banyak waktu luang,” ucap Tristan kesal.
Marsya terdiam. Ia lupa jika kesibukan Tristan ini berasal dari orang tuanya sendiri yang membebani Tristan untuk mengurus berbagai macam bisnisnya sementara ia bersantai saja dan hanya memberi perintah.
Jika tidak ingat bahwa keluarga Marsya lah yang dulunya menopang hidupnya hingga bisa membuka usahanya sendiri maka ia sudah lama berhenti mengurus bisnis tuan Alvindo. Yang ia lakukan saat ini hanyalah sekadar balas budi saja.
Dulu yang ia tahu ia dan Marsya adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun seiring dengan berjalannya waktu ia berjumpa dengan Qania maka ia mulai meyakini bahwa rasa itu tak pernah ada dan hanya sebagai rasa terima kasih saja karena sudah membantunya.
“Maaf Tris, maaf. Baiklah besok kita akan pulang,” ucap Marsya yang mulai takut melihat aura gelap Tristan.
“Bukan besok, malam ini juga kita akan pulang,” tandas Tristan.
“Tidak bisa Tris, malam nanti aku ada janji dengan Madam Elle dan juga Monica,” tolak Marsya.
“Ya sudah kita berangkat setelah pertemuanmu. Ada jadwal penerbangan nanti malam pukul sembilan. Dan setelah acaramu selesai maka kita akan berangkat,” ucap Tristan sambil melihat-lihat jadwal penerbangan di ponselnya.
“Tris, itu janji temuku bersama Monica. Please besok saja ya,” ucap Marsya memohon.
“Baik, aku akan pulang sendiri,” ucap Tristan tak ingin dibantah.
“Katakan padaku apa yang membuatmu ingin segera pulang? Apakah ada yang menunggumu disana? Coba katakan!” teriak Marsya.
Tentu saja ada.
“Apa kau lupa ada berapa banyak pekerjaan yang aku harus kerjakan sendiri? Apa harus aku beritahu lagi siapa yang memintaku untuk mengerjakan semua itu? Aku nggak bisa lebih lama lagi Sya, mereka membutuhkanku,” ucap Tristan setengah frustasi.
Dan aku sangat membutuhkan untuk melihat wajah Qania.
__ADS_1