
Elin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Ghaisan, ia dari tadi berusaha kuat namun ketika melihat tatapan sendu kakaknya, ia menjadi sangat rapuh dan tidak mampu untuk menahan laju air matanya lagi.
“Kakak, rasanya sangat sakit, hikss” tangis Elin pecah, ia dari tadi menahan sesak di dadanya karena Qanai selalu berhasil membuatnya tertawa.
Ghaisan mengepalkan kedua tangannya yang berada di punggung Elin, ia menengadahkan wajahnya berusaha menahan air matanya yang akan tumpah. Dalam hati ia bersumpah tidak akan membiarkan pria yang sudah menyakiti adiknya itu datang untuk meminta maaf.
Qania menyandarkan kepalanya di dada Arkana, ia kembali menangis mendengar isak tangis Elin, hatinya juga ikut merasakan sesak saat apa yang pernah ia alami kembali terulang pada sahabatnya itu.
“Menangislah sayang, kakak ada disini untukmu. Jangan pura-pura kuat hanya untuk menutupi luka hatimu, kau akan tertekan. Setelah kau menangis dan menumpahkan semua rasa sakitmu maka bangkitlah dan mulailah kehidupan barumu, jangan biarkan lukiamu menghentikan langkahmu. Kakak rasa kau bisa melewati ini, kakak yakin. Fokuslah pada kuliahmu, kau pasti kan lupa dengan sendirinya” nasihat Ghaisan membuat Elin berhenti menangis.
Suasana menjadi hening seketika membuat Qania dan yang lainnya cemas karena tidak ada suara isak dari Elin atau pun pergerakannya.
“Elin?” panggil Qania namun tidak ada sahutan.
“Sayang biarkan Elin tenang dulu” bisik Arkana, ia juga menanti tindakan apa yang akan Elin lakukan.
Elin melepaskan pelukannya dari tubuh Ghaisan membuat Qania bernapas lega karena ia tadi mengira Elin pingsan.
“Syukurlah” gumam Qania.
“Kakak tidakkah kau berpikir bahwa aku menjadi bodoh karena patah hati?” Tanya Elin membuat ketiga orang yang sedang bersamanya tercengang.
“Aku ini adik dari mayor Ghaisan Yudistira, kakakku saja berani melawan musuh Negara masa aku hanya patah hati sudah kalah begini. Sebenarnya bukan aku yang kalah kak, tapi si brengsek itu. dia kalah dan slah karena sudah menyia-nyiakan gadis seperti diriku untuk wanita yang tidak seberapa itu” ucap Elin membuat Qania menyeringai.
Bagaimana tidak, itu adalah kata-kata yang pernah Qania ucapkan saat ia putus dengan Fandy. Qania masih sangat ingat bagaimana dengan angkuhnya dia berkata
“Aku Qania Salsabila Sanjaya, anak ketua Dewan Perwakilan Rakyat, papaku sangat bersahaja dan aku tidak ingin dia malu karena bisa mengurus rakyat tapi tidak bisa mengurus anaknya. Kau lihat saja Lin, bukan aku yang kalah dan salah dalam keadaan ini melainkan Fandy. Dia sudah melepas wanita luar biasa sepertiku demi cewek yang tidak seberapa itu”.
Qania bangga dengan sahabatnya yang tidak ingin terpuruk, ia merasa Elin adalah gadis yang cepat move on sepanjang ia mengenal gadis itu. Tapi ia juga yakin kali ini ia tidak akan bisa cepat move on karena hubungan percintaan Elin kali ini adalah yang terlama dari sebelum-sebelumnya.
“Kau tidak bodoh dek, kau sangat pintar. Kakak senang kau bisa bangkit dari keterpurukanmu” puji Ghaisan dengan memberikan senyuman termanisnya untuk sang adik.
“Semua ini berkat seseorang yang mengingatkan aku kalau dalam situasi ini aku yang menang, bukan kedua orang brengsek itu” ucap Elin sembari melirik Qania.
“Benar Lin, ah ternyata kau masih mengingatnya. Itu membuktikan kau adalah murid yang baik” ucap Qania bangga.
“Murid?” beo mereka bertiga bersamaan.
“Iya, Elin mencontohku berarti dia muridku, ahaha” Qania tertawa namun tidak dengan tiga orang yang menatap datar kepadanya.
“Ya sudah ayo kita pulang” ajak Ghaisan sambil berdiri.
“Oke, Lin bentar malam kita lanjutin apa yang tertunda oke” ucap Qania sambil mengedipkan sebelah matanya lalu pergi bersama Arkana.
*
*
Malam pun tiba, setelah makan malam suara motor Arkana terdengar memasuki pekarangan rumah Qania. Qania yang sudah bersemangat langsung berpamitan pada mama, papa dan adiknya di meja makan dan bergegas berjalan keluar.
Namun Qania harus merasa kesal lagi karena ia yang sudah semangat empat lima menjemput Arkana justru malah dikacangin dan Arkana melewatinya begitu saja. Pemandangan tersebut tak luput dari penglihatan keluarga Qania. Dengan susah payah mama dan papa Qania menahan agar tidak tertawa.
“Arkana Wijaya” panggil Qania dengan suara yang lantang.
“Aku tahu kamu nggak sabar buat jalan bareng aku, tapi sorry sayang aku harus menyapa calon oma dan opa dari anak-anakku dulu dan juga pamannya” ucap Arkana tanpa berbalik membuat Qania mendengus kesal.
Alhasil kedua orang tua Qania memecahkan tawa mereka mendengar ucapan Arkana.
“Hai ma, pa. hai adik ipar” sapa Arkana kemudian mencium tangan kedua orang tua Qania secara bergantian.
“Ini nih calon mantu idaman. Tidak pernah lupa menyapa calon mertua terlebih dahulu sebelum membawa gadisnya” puji Zafran membuat Arkana tersenyum bangga.
“Iya dong pa, calon mantu siapa dulu” seru Arkana dengan bangga.
“Jelaslah calon mantu papa” balas Zafran tak mau kalah.
“Narsis abis” pekik Qania yang masih diam di tempatnya.
“Oke ma, pa karena udah menyapa Arkana izin mau bawa Qania dulu” ucap Arkana.
“Nggak makan dulu sayang?” Tanya Alisha dengan lembut.
“Udah tadi ma” jawab Arkana.
“Makan dimana? Sama siapa?” selidik Zafran, ia tidak ingin Arkana berbohong mengatakan
__ADS_1
sudah makan karena takut membuat Qania kesal karena harus menunggu lagi.
“Sama bapak-bapak yang tiap hari nagih cucu ke aku pa” jawab Arkana dengan menampilkan wajah seolah ia sedang tertekan.
“Buahahaha, Setya bisa saja. Bilang padanya papa juga ada di kubu yang sama dengannya” ujar Zafran membuat Arkana langsung mengacungkan dua jempolnya sementara Qania terbelalak dan Alisha hanya bisa geleng-geleng kepala begitu pun dengan Syaquile yang hanya fokus pada pudingnya.
“Oke ma, pa, adik ipar kami pamit dulu” ucap Arkana kemudian mencium kembali tangan kedua orang tua Qania bergantian.
“Kakak aku nggak diajak?” Tanya Syaquile dengan wajah penuh permohonan.
“Boleh, tapi bawa pasangan kamu agar kamu nggak sendirian” jawab Arkana membuat Syaquile mendengus kesal.
“Mentang-mentang udah ada kak Qania aku udah di lupain” sindir Syaquile membuat Arkana terkekeh.
“Tenang brother, nanti kita akan pergi berkemah minggu depan” ucap Arkana membuat Syaquile langsung bersemangat.
“Oke kakak ipar” sahut Syaquile.
Arkana pun berpamitan kembali dan langsung berjalan sambil memasang senyum sejuta watt pada Qania yang menatap sengit padanya. Tanpa berbicara apapun Qania melangkah keluar diikuti oleh Arkana yang mengikuti gaya jalan Qania dan itu membuat kedua orang tua Qania tertawa.
Di luar Elin ternyata baru saja datang, ia terlihat kesal karena tahu bahwa ada Arkana yang akan ikut dengan mereka.
“Jadi ceritanya gue jadi anti nyamuk kalian nih?” Tanya Elin ketus.
“Ya enggak lah” jawab Qania dan Arkana bersamaan.
“Lah terus?”,.
Pippp….
Pippp…
“Sorry gue telat ya?” Tanya seseorang yang masih memarkirkan motornya.
“Nggk kok, nggak usah dimatiin motornya kita langsung berangkat” seru Qania
Elin yang penasaran dengan sosok pria yang menaiki motor sport yang sama seperti milik Arkana hanya beda warna itu pun tak melepaskan pandangannya sampai sosok itu berbalik lagi ke tempat dimana Qania, Elin dan Arkana dan ia pun melepaskan helmnya.
“Yoga” pekik Elin.
“Ekhmm, kuy jalan. Simpan dulu tuh ekspresi kagum lo” ledek Arkana membuat Elin salah tingkah.
Elin pun naik di atas motor Prayoga dan keempat orang itu pergi ke mall untuk melanjutkan rencana dua gadis mereka yang sempat tertunda karena insiden tadi siang.
Bohong kalau saat ini Elin tidak senang, entah kenapa kali ini rasanya berbeda saat ia dibonceng oleh Prayoga. Entah motornya yang baru atau status Elin sebagai jomblo yang membuat suasana hatinya berbeda. Sepanjang jalan Elin terus tersenyum dan melamunkan senyuman maut Prayoga tadi.
Beda halnya dengan dua pasangan yang tidak suka diam itu, sepanjang jalan mereka terus bergosip dan menceritakan entah itu tentang diri mereka atau pun teman-teman Arkana yang jadi bahan gossip mereka. Mungkin saat ini baik Rizal maupun Fero sedang tersedak akibat ulah Arkana yang membeberkan beberapa aib mereka.
Tak berselang lama dua pasangan itu sudah sampai di mall dan saat ini mereka tengah memilih hadiah untuk Syifa karena hadiah Ghaisan sudah mereka pilihkan lebih dulu.
“Kira-kira kak Syifa mau dikasih apa ya?” gumam Elin sambil memukul-mukul dagunya dengan jari telunjuknya.
“Gue tahu” pekik Arkana membuat Qania kaget.
“Biasa aja dong” sungut Qania.
Arkana tidak mengindahkan ucapan Qania, kemudian ia mengajak ketiga orang yang datang bersamanya itu masuk ke toko pakaian khusus wanita.
“Mbak, ada lingerie nggak?” Tanya Arkana membuat Prayoga tersenyum malu sementara Elin dan Qania yang tidak tahu pakaian jenis itu pun diam saja.
“Oh ada mas, mari silahkan ikut saya akan menunjukkannya” ajak penjaga toko itu.
“Ayo guys” ajak Arkana.
Penjaga toko yang berusia sekitaran dua puluh tujuh tahun itu membawakan beberapa lingerie dan menyibakkannya di atas meja. Melihat pakaian yang kurang bahan dan tipis itu membuat Qania dan Elin sontak berteriak.
“Woah Arkana, kau sangat pandai memilih hadiah” seru Prayoga yang melangkah mendekati pakaian itu sambil mengamatinya dan bergantian melirik kepada Elin seolah ia sedang mencocokkannya di tubuh Elin.
“Ngapain lo lirik gue kayak gitu?” ketus Elin.
“Nggak” kilah Prayoga.
“Mbak, bungkus tiga ya. Warnanya pilihkan saja yang terbaik. Oh ya kalau bisa buat bingkisan yang cantik ya mbak, soalnya ini untuk hadiah pernikahan abang saya” pinta Arkana dan mbak itu langsung mengangguk mengerti.
Mereka berempat kemudian duduk di kursi khusus pembeli di dalam toko itu sambil menunggu pesanan mereka siap.
__ADS_1
“Sayang” panggil Arkana.
“Hmm”,.
“Aku mau beliin kamu satu, kamu coba pakai ya malam ini. Aku mau melihatnya” goda Arkana membuat Qania memelototkan matanya.
“Udah gila kamu ya” geram Qania membuat Arkana cekikikan.
Sementara Prayoga sibuk mengamati Elin yang sedang memandangi sesuatu, karena penasaran Prayoga ikut melihat ke arah pandang Elin. Ia tersenyum menyadari apa yang membuat gadis incarannya itu diam.
“Pakaian yang bagus” ucap Prayoga membuat Elin tersentak.
“Kamu mau itu?” Tanya Prayoga lagi.
“Mau, tapi itu harus dibeli sama pasangannya sementara aku nggak punya pasangan” jawab Elin lesu.
“Lo lupa disini ada gue, biar gue yang ambil punya cowoknya” ucap Prayoga kemudian menarik paksa lengan Elin dan membawanya untuk masuk ke toko yang menjual pakaian itu.
“Eh eh, main pergi aja mereka” gerutu Qania.
“Mereka tahu kita butuh waktu berudaan” sahut Arkana membuat Qania memutar bola matanya jengah kemudian kembali menatap Elin dan Prayoga.
“Wah mereka beli baju soulmate, kita nggak boleh kalah nih sayang” pekik Arkana membuat Qania menutup telinganya.
“Nggak usah ikut-ikutan deh” ketus Qania, padahal dalam hati ia sangat ingin memakai pakaian soulmate bersama Arkana nanti.
Arkana tersenyum mengetahui kalau tunangannya itu sebenarnya sangat ingin tapi karena masih kesal padanya makanya ia menolak mentah-mentah.
“Mas ini sudah siap” ucap pramuniaga itu.
“Oh iya mbak, totalnya berapa ya?” Tanya Arkana sambil mengeluarkan dompetnya.
Mbak itu membawa Arkana ke meja kasir dan Arkana membayar dengan menggunakan kartu kreditnya kemudian membawa Qania pergi dari tempat itu. Mereka lalu menghampiri Elin dan Prayoga yang baru saja keluar dari toko tadi.
“Titip ya, nanti lo simpan di rumah Qania saja. Gu sama Qania mau jalan berdua dan kalian silahkan jalan berdua juga” ucap Arkana seraya menyerahkan bingkisan itu pada Prayoga.
Prayoga mengangguk senang sementara elin semakin degdegan karena kali ini ia hanya kan berdua dengan Prayoga.
‘Gue kok ngerasa kayak nggak mengalami putus cinta ya? Apa gue yang memang udah move on atau Prayoga datang di waktu yang tepat? Atau emang gue yang nggak sadar kalau dari dulu gue emang udah suka sama dia?’,.
Elin berusaha mengontrol debaran jantungnya begitu Arkana dan Qania pamit pergi dan Prayoga yang menggenggam tangannya sambil berjalan-jalan di mall.
“Sayang bukannya kamu nyuruh Yoga buat jauhin Elin dulu?” Tanya Qania saat mereka sedang menunggu pesanan ayam bakar mereka di warung tenda langganan mereka.
Tadinya Arkana ingin mengajak Qania mencari pakaian soulmate untuk dipakai di pesta, namun ia ingat kalau Qania masih merajuk padanya dan ia paling tahu cara untuk membujuk Qania yaitu dengan mengajak gadisnya makan apalagi itu makanan kesukaannya yang tidak lain adalah ayam bakar.
“Oh itu, tadinya aku pikir Elin akan galau seperti kamu tapi yang aku lihat tidak seperti apa yang aku pikirkan. Elin itu sebenarnya sudah suka sama Yoga tanpa ia sadari, jadi tidak ada alasan Yoga menjadi pelariannya karena ia murni menyukai bahkan mungkin cinta pada Yoga” cetus Arkana.
“Oh ya?”,.
“Hm, kalau yang aku lihat dari gelagatnya dari waktu kalian KKN memang diam-diam Elin menyukai Prayoga ditambah lagi Ghaisan juga tahu soal itu. Aku bukannya tidak tahu tadi siang Ghaisan memperhatikan Prayoga, aku hanya ingin dia menilai sendiri saja seperti apa calon adik iparnya” lanjut Arkana.
“Silahkan mbak, mas” ucap bapak pemilik warung tenda yang datang membawa dua porsi ayam bakar.
“Makasih pak” ucap Qania dan Arkana bersamaan.
“Elin emang gitu sayang, dia mudah tertarik pada orang yang memberikannya perhatian lebih” ucap Qania kemudian mencuci tangannya di Loyang yang disediakan lalu mulai mencicipi ayam bakar itu.
“Oh pantas saja kalau begitu. Oh iya sayang kata Ghaisan ada hal yang kamu belum ceritain ke aku, apa?” Tanya Arkana membuat Qania langsung tersedak.
Uhukk..
Uhukk..
“Sayang makannya pelan-pelan dong” ucap Arkana khawatir sambil member segelas air putih.
“Makanya kalau aku lagi makan jangan ajak bicara, kamu nggak tahu kan aku udah kangen banget sama ayam bakar” ucap Qania berpura-pura kesal.
“Maaf, lanjutin gih makannya” ucap Arkana sambil membelai rambut Qania.
‘Sikap Qania membuatku semakin curiga, pasti terjadi sesuatu padanya yang tidak aku ketahui. Aku akan membuatnya bicara nanti’,.
***************
__ADS_1