
Qania Salsabila POV
Aku memacu motor yang kukendarai meninggalkan bandara dan tak lama kemudian aku menengadahkan kepalaku melihat pesawat yang sudah membawa Tristan pergi bersamanya. Kembali kualihkan pandanganku lurus ke jalan. Aku berharap bisa cepat sampai di rumah dan mengistirahatkan hati, tubuh dan pikiranku. Hari ini terasa begitu berat bagiku.
Tak lama kemudian sampailah aku di depan rumah mewah mertuaku yang rencananya aku akan bermalam disini sampai anakku pulang. Tapi besok sepertinya aku harus kembali ke rumah orang tuaku karena pernikahan Elin tinggal beberapa hari lagi dan dia pasti akan mengamuk jika sampai tidak melihatku disana.
Setelah mandi dan menyegarkan pikiranku ini aku menyempatkan diri menghubungi anakku. Kami bercakap-cakap lewat video call sampai akhirnya Ar menyerah dan pamit untuk tidur lebih dulu. Dengan melihat wajahnya saja aku seakan sedang bersama dengan Arkana. Anak itu benar-benar mewarisi gen Ayahnya.
Aku menatap langit-langit kamar dan kembali teringat dengan apa yang aku lakukan tadi terhadap Tristan.
“Kenapa aku sampai nekad begitu ya?” gumamku sambil menyentuh bibirku dengan jari telunjukku.
Aku merutuki kebodohanku, ide gila darimana itu. Bagaimana bisa aku melakukannya pada Tristan. Dia pasti saat ini semakin bimbang karena tadi aku menolaknya kemudian di waktu yang bersamaan aku menciumnya.
Tapi getaran aneh yang aku rasakan saat bersama Arkana itu juga aku rasakan saat berdekatan dengan Tristan. Tanganku selalu dingin saat dekat dengannya dan jantungku berdebar kencang.
Aku bukan ingin memberi kebingungan padanya. Aku melakukan itu untuk menjawab kebingunganku sendiri. Dan dari situ aku bisa mendapat jawabannya. Aku yakin dia adalah Arkanaku dari rasa yang aku rasakan saat menyentuhnya.
Aku hanya perlu waktu dan usaha untuk membuktikannya. Aku bukan memberikan harapan pada Tristan tapi aku sebenarnya menaruh harapan untuk diriku sendiri. Lebih dari yang Tristan inginkan padaku. Namun belum saatnya aku mengakuinya karena dia masih sebagai Tristan Anggara. Kau tunggu saja nanti saat terbukti dirimu adalah Arkanaku. Aku bahkan yang akan merebutmu langsung dari Marsya tanpa perlu kau memintaku untuk membatalkan pertunanganmu.
Dulu, duniaku bisa dikatakan baik-baik saja sebelum bertemu dengan Tristan. Semuanya terkontrol meskipun aku masih larut dalam kesedihan. Tapi aku tidak kebingungan seperti ini. Aku lebih memilih berada dalam kesedihan daripada kebingungan. Aku tidak bisa mendapatkan jawabanku. Dan karena itu pikiranku terganggu bahkan lelah berpikir mencari jawaban dari kebingungan itu. Aku hanya ingin baik-baik saja. Ingin kuputar waktu namun itu tak mungkin bisa. Berada dalam khayalan hanya membawaku pada kebahagiaan semu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu kamarku membuyarkan lamunanku.
“Siapa?” yanyaku dengan sedikit berteriak.
“Bi Ochi, Non.”
Rupanya Bi Ochi yang mengetuk pintu kamarku. Aku pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu untuk menemui Bi Ochi.
“Ada apa Bi?” tanyaku setelah membuka pintu kamar.
“Non Qania sudah makan?”
“Oh, sudah Bi.”
“Ya ... padahal Bibi sudah masakin makanan kesukaan non Qania.”
Aku bisa melihat gurat kekecewaan di wajah Bi Ochi. Selama ini bi Ochi tidak pernah melewatkan waktu makanku dengan memasakkan apa yang paling aku sukai. Katanya dengan aku berada di rumah ini ia seolah bisa melihat Arkana disini. Ia bahkan sangat bahagia ketika aku pulang kampung. Dan itu pun yang membuatku semakin tak enak jika tidak mencicipi masakan yang dengan sepenuh hati ia buatkan.
“Ya nggak apa-apa dong Bi. Aku masih lapar juga, ayo kita makan,” ajakku yang langsung menggandeng tangan Bu Ochi, hal yang paling Bi Ochi sukai dariku, tak ragu menggandeng tangan pembantu. Ya apa juga masalahnya, bagiku Bi Ochi adalah keluargaku. Tak ada masalah jika harus menggandeng tangannya.
Sesampainya di meja makan, Bi Ochi langsung mengambilkan ku nasi dan kami makan bersama sambil berbincang-bincang seputar keseharian ku selama berada disana dan Bi Ochi mendengarkannya sesekali menimpali ucapanku.
.... . . ....
Sekarang aku kembali lagi ke kamar ini, sendiri sepi dan sedih. Aku memang membangun duniaku bersama kenangannya, namun tetap saja rasa sedih dan sepi itu menyelimutiku. Kehilangan pria yang setiap hari mewarnai duniaku itu seperti kehilangan duniaku sendiri. Aku rasanya ingin ikut mati bersamanya jika tak ingat kami memiliki hal istimewa yang tak terduga, Arqasa.
Arqasa sumber kekuatanku selain kenangan cinta dari Arkana. Senyumannya adalah semangatku, bagai bara yang membakar kayu hingga menjadi api yang berkobar. Jika tak ada dirinya mungkin saja saat ini aku sudah kehilangan kehidupanku yang normal. Jujur saja, hidup dengan sisa kenangannya itu sangat menyakitkan. Berkhayal tentang seseorang yang tak mungkin lagi ada di hadapanku itu sangat menyakitkan.
Tak ada yang manis dari sekadar bayangan yang hadir, karena ia tak mampu berbicara bahkan disentuh pun tak bisa. Bagaimana bisa menghapus segala rindu jika dipeluk saja tak bisa? Namun aku membentuk pikiranku seperti itu, membayangkan wajah dan senyumannya akan membuatku merasakan ketenangan, ketenangan yang bahkan sering membuatku sesak napas karena memaksakan diri untuk tenang. Memperlihatkan pada semuanya bahwa aku baik-baik saja padahal aku setiap kali berada di tahap sekarat saat memaksakan diriku tersenyum dengan membayangkannya.
Aku sebenarnya ingin bangkit dan melupakan, ah tidak bukan melupakan melainkan melepas sejenak pikiranku dari kenangan itu. Aku juga ingin hidup normal dan bisa membuka diriku untuk orang lain. Namun aku tak mampu, entah aku yang keras kepala karena selalu mendahului keinginan pikiranku daripada hatiku atau cinta Arkana yang begitu luar biasa untukku sehingga aku tak mampu berpaling.
“Arkana, kenapa hidup dan matimu tetap saja membuatku kesal? Apa kau sudah mematenkan hal itu, hem? Ada dan tak ada dirimu pun tetap saja aku kesal hanya dengan berpikir tentangmu. Aku juga butuh ketenangan yang sesungguhnya, ketenangan yang nyata bukan kepura-puraan seperti ini. Bukan ini yang aku harapkan tapi aku terus memprovokasi diriku untuk seperti ini. Kenapa kau terlalu dalam menancapkan panah cintamu di hatiku?” teriakku dengan mata terpejam menahan gejolak amarah di dadaku. Untung saja kamar ini sudah ku kedapkan suaranya sehingga meskipun aku berteriak menggila tak ada yang mendengarnya selain aku.
“Aku benar-benar tertancap panah cintamu, hatiku lumpuh tak mampu merasai cinta yang lain selain cintamu. Puas kau dengan semua ini, hah? Setelah membuatku jatuh cinta sedalam ini padamu lalu meninggalkanku begitu saja? Enak sekali dirimu tuan Arkana Wijaya, dengan mudahnya kau membuatku jatuh cinta dan sebegitu mudahnya pun kau menghancurkan cintaku. Aku tahu kau tidak berselingkuh dan menduakan cintaku, tapi kau meninggalkanku! Kau meninggalkanku dalam sebuah derita. Derita yang sampai kapanpun tidak aka nada obatnya kecuali kau bangkit dan hidup lagi untukku.”
__ADS_1
Entah berapa banyak kata makian, umpatan, keluhan dan juga rintihan yang aku keluarkan untuk menenangkan hatiku. Aku sangat kacau saat aku sedang sendiri begini. Tak ada yang tahu jika aku sering memisahkan diri dari keramaian hanya untuk mengeluarkan semua amarahku.
Selama ini aku kerap kali mengunjungi tempat sepi hanya untuk menyalurkan duka laraku. Berteriak di tepi danau, menangis di pantai yang sunyi, duduk di taman sendiri sambil memejamkan mata untuk mencari ketenangan. Berdiam diri di perpustakaan kampus hanya untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku. Aku melakukan semua itu di belakang semua orang agar mereka tak perlu tahu deritaku. Aku benci tatkala melihat tatapan iba dan juga kata ‘kasihan’ yang orang-orang ucapkan untukku. Aku membencinya.
Aku tetap pada diriku yang dulu, Qania Salsabila yang tangguh dan tak cemen. Qania yang mempu melawan semua kesedihan dan juga kejahatan terhadap diriku tanpa perlu bantuan siapapun dan tak mau mendengarkan kata iba dari siapapun.
Kadang aku sangat ingin mengunjungi psikiater hanya untuk mengecek kejiwaanku, namun aku urungkan karena aku merasa aku tak gila. Aku bukan penderita kelainan jiwa ataupun aku tidak mengalami depresi akut. Aku masih mampu mengontrol diriku namun tak bisa menghilangkan rasa cinta itu. Yang ada pasti nantinya aku hanya akan diberi obat penenang. Mau sampai kapan bergantung pada obat? Tak akan ada gunanya, hanya ketenangan semu.
Tringg …
Aku melirik ponselku yang berdering notifikasi ada pesan masuk.
Aku sudah sampai Qania.
Apakah kau sudah tidur?
Rupanya pesan dari Tristan. “Sudah berapa lama aku dalam mode ini sampai-sampai Tristan sudah sampai di rumahnya dan aku tidak sadar akan hal itu?”
Aku bingung sendiri, ternyata marah-marah dan mengeluarkan isi hati itu bisa sampai berjam-jam seperti ini. Ingin kubalas pesan itu namun aku ragu. Aku takut. Apa yang aku takutkan? Tentu saja aku takut menjadikannya pelampiasan dari amarahku saat ini.
Qania aku merindukanmu☹️
Balas dong, please ….😔😔
Aku rasanya ingin tertawa melihat pesannya. Sama persis seperti Arkanaku saat sedang merengek padaku.
Aku yakin kau belum tidur
Aku telepon ya, harus di angkat!!😠😠
Aku tertawa, benar-benar mirip dengan pria pemaksaku. “Apakah benar ini kamu Ka? Tolong beri aku petunjuk,” harapku sambil menatap layar ponselku yang sudah menampilkan panggilan masuk dari Tristan.
“Ada apa?” jawabku ketus dan aku yakin saat ini ia sedang kesal karena aku mendengarnya mendengus. Jujur saja itu adalah hiburan tersendiri untukku. Aku telah belajar banyak dari Arkana bahwa membuat orang kesal itu adalah hiburan gratis yang sangat menyenangkan.
Ih, apa-apaan ucapannya itu, sangat menjijikan!
“Qania, kau dengar aku tidak?”
Suara Tristan terdengar kesal dan aku hanya bisa menggigit bibirku agar tak tertawa.
“Dengar,” jawabku singkat padat jelas dan aku yakin dia pasti tengah menahan kesal lagi.
“Aku sudah sampai.”
“Aku tahu.”
Aku yakin dia pasti saat ini tengah mengumpat, sangat yakin. Aku tak mendengar suaranya maupun deru napasnya. Sepertinya memang dia sedang mengumpat dengan menjauhkan ponselnya.
“Besok aku tunangan lho.”
Lagi-lagi dia mengucapkan kalimat itu, entah tak terhitung berapa kali ia mengulangnya. Aku sampai bosan mendengarnya, juga sakit hati.
“Aku tahu.”
”Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Bisa tidak cari jawaban lain, aku bosan mendengarnya. Benar-benar tidak kreatif.”
Aku hampir tak bisa lagi menahan tawaku, aku menutup wajahku dengan bantal takut terdengar olehnya. Aku yakin saat ini wajahku sudah memerah. Ah, bagaimana bisa membuatnya kesal membuatku merasa sesenang ini. Lebih senang dibandingkan mendapat nilai A pada mata kuliah Struktur Beton dulu.
“Sekarang kau pura-pura tidur atau hanya menganggapku nyamuk yang sedang mendengung di telingamu sehingga kau tak lagi bersuara? Atau sedang mencari jawaban lain supaya lebih kreatif, heh?”
“Hahahaha ….” Akhirnya tawaku pecah tak mampu lagi ku tahan dengan menutup wajahku dengan bantal, biarkan saja Tristan mendengarnya.
__ADS_1
“Sekarang tertawa, heh? Kau gila karena aku akan bertunangan besok atau kau sedang kerasukan Qania?”
“Hahaha … kau sangat konyol Tristan,” jawabku tak berhenti tertawa.
“Coba katakana kau merindukanku.”
“Lalu?”
“Maka aku akan datang saat ini juga untuk menemuimu.”
“Kau gila!”
“Memang. Aku harus menjadi gila untuk membuatmu tertawa lepas tanpa beban.”
Hatiku bergetar dan rasanya hangat. Dia bertingkah konyol hanya untuk membuatku tertawa.
“Thanks,” ucapku singkat, tak ingin berlebihan takut membuatnya keGRan.
“Huuhh, baru juga terdengar ramah eh sudah balik lagi mode ketus bin jutek bin cueknya.”
Biarlah dia mengeluh, aku sangat terhibur dengan keluhannya itu.
“Qania Salsabila ….”
“Ya.”
“Besok aku ak—“
“Tunangan ya tunangan saja, tak perlu terus mengatakannya padaku. Aku bosan mendengarnya.” Aku memotong ucapannya karena kau yakin itu yang akan ia ucapkan lagi
“Ishhh … tapi aku mencintaimu.”
“Diam dan terima saja takdirmu seperti itu. Dan juga, tolong kurangi kata-kata cintamu padaku, aku muak mendengarnya.” Aku tapi tak sungguh-sungguh mengatakannya bahkan dalam hati aku tak ingin itu terjadi.
“Biar saja, sampai kau pingsan pun aku tak akan berhenti mengatakannya. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.”
Siapa yang tidak meleleh jika mendapat ucapan cinta bertubi-tubi seperti itu. Aku mengakui kalau aku sedikit ah banyak terbuai dengan ucapannya itu. Aku kembali merasakan jantungku berdebar kencang dan tanganku berkeringat dingin. Arkana, aku merasakan perasaan itu pada Tristan, Ka. Apakah dia itu kamu, atau kamu itu adalah dia? Jangan terus membuatku bingung!
“Tristan, aku mengantuk. Di tempatku saat ini sudah larut malam. Bisakah aku beristirahat?” tanyaku dengan sopan, tak ingin judes karena aku tidak ingin ia kesal di akhir percakapan kami.
“Ya sudah, selamat tidur kesayanganku. Mimpi indah, aku mencintaimu .”
Blusshhh ….
Aku merasakan pipiku menghangat dan aku tahu juga warnanya pasti sudah memerah. Dan aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, aku rasanya ingin menjerit sekaligus mengumpat. Aku tak suka juga suka saat Tristan membuatku baper begini.
“Iya,” jawabku singkat kemudian memutus sambungan telepon tersebut lalu menyimpan ponselku di atas bantal sebelah kanan, tempat untuk Arkanaku.
Perlahan-lahan aku memejamkan mataku sambil terus berusaha untuk masuk ke alam mimpi.
Tristan, jika saja kau adalah Arkana. Aku masih ragu jika tak punya bukti yang jelas tentang siapa yang ada di makam itu. Tunggulah Tristan, tunggu aku mendapatkan semua faktanya maka aku akan bisa menentukan sikap. Jika kau adalah Arkana maka aku yang akan membawamu pulang. Namun jika kau bukan dirinya maka mungkin saja kau bisa mengubah hatiku. Bujuklah Tuhan untuk membantumu mengubah prinsip dan perasaanku padamu. Aku ingin jika hari itu tiba aku melihatmu sebagai Tristan Anggara bukan Arkana Wijaya meskipun kalian begitu sama, batin Qania.
.... . . . . . ....
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1