Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ingin Menyusul


__ADS_3

Sudah dari semalam Tristan tidak bisa memejamkan matanya dengan baik, tidurnya pun terus saja terusik karena meskipun ia mencoba untuk terlelap namun lagi-lagi bayangan akan hari pertunangannya itu melintas di benaknya sehingga membuat matanya yang begitu kantuk menjadi terbelalak lagi. Entahlah, ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir jika ia bertunangan dengan gadis yang ia pacari hampir setengah umurnya saat ini.


Saat ini waktu pun sudah menunjukkan pukul dua dini hari namun Tristan tetap tidak bisa terlelap. Selain pasal pertunangannya, ia juga menunggu tanggapan dari Qania yang sedari tadi tidak menggubrisnya setelah ia mengatakan tentang arwah Arkana. Sama sekali tidak ada respon Qania tentang hal tersebut. Padahal ia sudah sangat menunggu dan berharap Qania akan mau mencegah pertunangannya, namun sayang apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.


“Apa aku menyusulnya saja ya kesana?” gumam Tristan.


Setelah mengatakan keinginannya tersebut ia kembali terdiam, sedang menimbang-nimbang apakah keputusan tersebut akan baik untuknya atau tidak. Ia takut salah mengambil keputusan yang akan berakibat tidak enak ujung-ujungnya.


“Tapi jika aku pergi ke sana, apa kata Qania nantinya? Entah mengapa gue sangat takut kalau Qania sampai marah ke gue. Perangainya terkadang sanggup membuat gue merinding. Belum lagi jika tidak sengaja bertemu dengan salah satu keluarganya atau orang yang mengenal Arkana, otomatis gue yang bakalan ribet ngurusnya,” lanjutnya.


Tristan kembali termenung, ia menjadi dilemma sendiri akan keputusannya. Memutuskan untuk bertunangan dengan Marsya sedari dulu tidak pernah ia permasalahkan sama sekali. Namun setelah bertemu dengan Qania, entah mengapa ia terus saja mengabaikan Marsya bahkan perasaannya seolah terkikis begitu saja. Hilang tak berbekas.


“Apa yang terjadi denganku ya? Apa yang sudah gue lakukan dan kenapa takdir gue gini amat? Sebelum ada Qania hidup gue baik-baik saja. Gue menjalani hari dengan bekerja tanpa ada hambatan soal perasaan, hubungan gue dan Marsya yang berjalan semulus jalan tol, nggak ada yang kayak gini-gini. Kenapa wanita itu datang dan dalam sekejap dia mampu memporak-porandakan dunia gue? Apa dia musuh lama dari kehidupan gue sebelumnya yang datang menuntut pembalasan? Ah masa iya sih?”


Karena sibuk dengan pergelutan hati dan pikirannya, ia pun tertidur dengan membawa sejuta masalah di benaknya. Wajahnya yang sedang terlelap itu sesekali mengkerut dan juga terkadang tersenyum. Mungkin ia bermipi bertemu dengan Qania dan wanita itu mengatakan cinta padanya, mungkin.


Waktu pun terus berputar dan saat ini mentari perlahan-lahan menampakkan sinarnya. Sinar yang mengusuik pria yang dari semalam terus bergelut dengan pikirannya. Perlahan-lahan kedua mata Tristan mengerjap, lalu terbuka dengan sempurna. Tak ada yang ia lakukan selain menatap langit-langit kamarnya, mungkin ia sedang mencari inspirasi melalui plafon kamarnya.


“Aku ingin menyusulnya,” gumam Tristan.


Lagi-lagi merindukan wanita yang sudah memutar balik dunianya.


“Dunia gue seakan terbalik saat gue nggak bisa menemukan lo dan melihat wajah lo Qania. Gue udah terbiasa dengan itu semua dan bahkan gue udah terbiasa dengan umpatan lo buat gue. Telinga gue rasanya tidak enak jika tidak mendengar umpatan manismu. Kenapa Qania? Kenapa lo datang mengubah dunia gue yang tadinya baik-baik aja dan lo sama sekali nggak ada niatan buat tanggung jawab akan semua itu? Kenapa Qania?” keluh Tristan.


Ia menghela napas panjang beberapa kali kemudian berusaha mencari ponselnya yang ternyata berada di bawah bantalnya. Raut wajah kecewa ia tampilkan karena sampai saat ini Qania tidak mengiriminya pesan pertanda untuk membatalkan pertunangannya. Ia kembali meletakkan ponselnya. Ingin rasanya ia menelepon Qania namun ia urungkan karena ia juga masih memiliki urat malu. Jika tidak digubris maka ia akan menunggu dulu.


Namun keinginannya untuk menyusul Qania bukankah itu cukup memalukan untuk seorang Tristan Anggara? Entahlah bagaimana ia menilai dirinya sendiri.


Tristan pun memutuskan untuk membersihkan dirinya. Namun  baru saja ia turun dari tempat tidur, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar.


“Siapa?” seru Tristan.


“Bibi, Den. Anu, di luar ada non Marsya,” jawab bi Ria.


“Mau apa dia sepagi ini?” gumam Tristan sambil melirik jam dinding besar di kamarnya yang menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh.

__ADS_1


“Oh iya Bi. Bilang aku sedang mandi,” sahut Tristan.


“Baik Den, saya permisi dulu,” ucap bi Ria kemudian segera menemui Marsya di ruang nonton yang terlihat sedang membuka-buka album foto yang ada di pangkuannya.


“Tristannya mana Bi?” tanya Marsya.


“Sedang mandi Non. Non Marsya ingin dibuatkan apa?” tanya bi Ria.


“Nggak usah Bi, makasih. Aku akan sarapan di luar bersama Tristan sekalian mengurus gaun pertunangan,” jawab Marsya.


“Pertunangan Non?” kaget bi Ria.


“Iya Bi. Jadi Tristan nggak ngasih tahu ke Bibi kalau besok malam kami bakalan bertunangan?” tanya Marsya juga terkejut karena bi Ria tidak tahu perihal pertunangan mereka.


“Oh mungkin karena sibuk jadi Den Tristan lupa ngabarin Non,” kilah bi Ria.


Lalu kalau Den Tristan sama non Marsya, non Qania gimana? Padahal Bibi sangat suka melihat mereka berdua, terlihat sangat serasi, batin bi Ria.


“Oh gitu ya Bi, mungkin sih. Bibi sama pak Yotar jangan lupa datang ya,” ucap Marsya dan bi Ria pun mengangguk.


“Ada apa Sya?” tanya Tristan yang duduk di seberang Marsya.


“Aku ingin mengajakmu sarapan di luar sekalian kita nyari gaun,” jawab Marsya dengan senyuman yang menghiasi bibir indahnya.


“Tapi aku ada kerjaan di luar kota hari ini Sya,” ucap Tristan dengan tiba-tiba.


“Di luar kota?” ulang Marsya.


“Ya, aku ada jadwal penerbangan siang nanti,” ucap Tristan.


“Tapi besok malam kita bertunangan lho,” ucap Marsya mengingatkan. “Kamu nggak berniat kabur kan Tris?” tanya Marsya dengan perasaan tak karuan.


“Hahaha … kamu ngomong apa sih Sya. Aku nggak bakalan kabur kok. Tenang aja, paling cepat aku tuh baliknya malam ini juga dan paling lambat besok pagi,” jawab Tristan.


Marsya menghembuskan napas lega. “Aku pikir untuk beberapa hari,” ucap Marsya.

__ADS_1


“Enggak Sya, aku hanya akan melakukan kesepakatan saja disana,” ujar Tristan. Dan gue harap gue bisa mendapatkan persetujuan dari klien keras kepala tapi sangat gue cinta itu, lanjut Tristan dalam hati.


“Ya udah yuk kita cari sarapan. Jangan buang masa, kita masih harus mencari gaun,” ajak Marsya.


“Kenapa tidak gaun-gaun cantik yang ada di butikmu saja sih Sya? Memangnya gaun di butikmu itu tidak ada yang menarik?” tanya Tristan.


“Oh ya ampun Tris untung kamu ingatkan. Bukankah kita sudah pernah merancang gaun pertunangan beberapa tahun yang lalu? Aku sudah menyiapkannya dan sudah ku simpan di kantorku,” ucap Marsya menepuk jidatnya.


“Hmm, bagus ya kamu Sya. Hal sepenting itu bisa kamu lupain gitu aja,” kesal Tristan namun hanya di mulut saja agar Marsya tidak mencurigainya.


“Hehe, maaf,” kekeh Marsya.


“Ya udah yuk kita sarapan dulu terus aku temanin ke butik. Dan kalau bisa aku numpang mobil kamu aja ke bandara, bisa?”


“Tentu bisa dong Tris. Ayo lah,” ucap Marsya kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada Tristan.


Keduanya pun melangkah keluar dari rumah dan langsung menuju ke mobil. Tristan dan Marsya pun menuju ke salah satu restoran yang letaknya dekat dengan butik Marsya. Setelah sarapan mereka langsung ke butik dan mencoba pakaian mereka masing-masing.


“Gimana?” tanya Marsya saat ia mengenakan gaun putihnya.


“Cantik,” jawab Tristan yang membuat Marsya tersipu.


“Oh ya Sya, dua puluh menit lagi jadwal penerbanganku. Tolong antarkan aku ke bandara,” ucap Tristan yang sudah memesan tiket online.


“Oh baiklah,” ucap Marsya dengan malasnya kemudian masuk ke ruang ganti.


Tunggu saja Qania, aku akn memberikanmu kejutan. Bersiap-siaplah menyambut kedatangan calon imammu ini Qania Salsabila, batin Tristan bersorak.


 


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Maaf ya baru Up dan cuma seepisode aja. Lanjutannya besok ya In Sya Allah lebih dari dua episode.


Makasih udah setia membaca 🤎🤎🤎

__ADS_1


__ADS_2