
Di lantai dansa, Marsya terus menyunggingkan senyuman karena baru kali ini ia begitu intim dengan Tristan setelah kejadian beberapa tahun lalu. Tristan pun terus menatap Marsya dengan senyuman tipis hampir tak terlihat. Entah mengapa hatinya dilanda gundah gulana.
Jangan tanyakan pasangan Mario dan Iren, keduanya sudah larut dalam suasana romantis dengan mata mereka saling pandang dan senyuman lebar menghiasi bibir mereka.
Sementara Lala, gadis itu begitu syok saat melihat keberadaan Marsya dan Tristan di lantai dansa. Ia sampai tersedak makanannya saat tak sengaja melirik ke arah lantai dansa.
“Oh ya ampun kenapa pria angkuh itu ada disana? Apakah kak Qania sudah melihatnya? Tapi dari tadi aku dengar kak Qania begitu menghayati lagunya. Ah mungkin dia belum melihatnya” ucap Lala yang masih menatap Tristan dan Marsya kemudian berganti menatap Qania.
Lain halnya dengan sang pianis, sambil ia menyanyikan lagu yang ia iringi dengan piano itu, air matanya terus saja tumpah dan ingatan manis dimana Arkana selalu bernyanyi untuknya berputar bak film di benaknya.
Ingatan manis yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, dimana ada seorang pria yang bernama Arkana Wijaya yang begitu sangat mencintai dan memujanya. Dimana ada seorang pria yang bernama Arkana Wijaya yang sangat melindunginya dan menjaganya dengan baik. Dimana ada seorang pria yang bernama Arkana Wijaya yang tidak berniat merusak harga dirinya dan selalu ada untuknya kapanpun dan dimana pun itu. Pria yang selalu membuatnya kesal dan bahagia di waktu yang bersamaan. Paket komplit yang diberikan sang Pencipta untuknya yang sialnya harus diambil kembali saat dimana ia begitu membutuhkan sosok tersebut.
Lagu pun sudah usai, namun kedua pasangan yang sedang saling menatap itu terperanjat kaget begitu mendengar lagu yang kembali dinyanyikan Qania.
Sedetik pun aku, tak pernah lupakanmu
Karena aku, terlalu sayang kamu
Lihatlah hatiku, terluka dan semakin rapuh
Karena kamu, kini jauh dariku
...Apakah kau disana merindukanku...
...Tuhan tolong diriku, aku tersiksa rindu...
...Biarku bertemu walau dalam mimpi...
...Karena ku tak sanggup lagi...
...Aku tersiksa rindu...
Bukan hanya yang bernyanyi saat ini yang sedang dilanda haru biru, gadis di depan Tristan Anggara pun kini tengah menangis tersedu-sedu. Tristan yang masih kaget dengan lagu romantis yang berubah menjadi lagi mellow tak sadar jika gadisnya kini tengah menangis.
‘Apa-apaan penyanyi itu, bisa-bisanya dia mengiringi kami dengan lagi galau begitu. Tapi, ah suaranya mengapa tidak asing di telingaku?’ batin Tristan.
Setelah tersadar dari lamunannya, ia kembali terkejut melihat tubuh bergetar Marsya yang sedang menangis tersedu-sedu.
“Ya ampun Marsya, kau kenapa?” pekik Tristan yang langsung membawa Marsya ke dalam dekapannya.
“La … lagunya Tris” ucap Marsya sesenggukan.
“Kurang ajar, gadis itu sudah membuatmu menangis. Awas saja dia, kau tunggu disini” geram Tristan melepaskan pelukannya dari Marsya.
“Tris … bukan dia, hei kamu mau kemana?” teriak Marsya namun tidak diindahkan oleh Tristan yang terus berjalan menghampiri Qania.
Qania baru saja menyelesaikan lagunya namun ia masih mengabaikan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia masih terus mengenang Arkananya dengan rasa sesak di dadanya.
“Hei kau …” sentak Tristan di depan Qania yang tengah menunduk.
“Ya …” Qania menjawab seraya mengangkat kepalanya.
“Arkana Wijaya” lirih Qania.
Deg….
Bukan, bukan jantung Qania yang tiba-tiba berdetak, kali ini jantung Tristan yang berdetak kencang mendengar ucapan lirih Qania.
__ADS_1
Namun beberapa saat kemudian Tristan tersadar.
“Kau wanita gila” hardik Tristan.
Qania tersadar setelah mendengar suara Tristan dan dengan cepat dan kasar ia menghapus air matanya.
‘Kenapa wanita gila ini menangis?’,.
“Ada urusan apa anda menghampiri saya?” tanya Qania datar.
“Kau masih bertanya? Kau, kenapa kau merusak suasana dansa saya dan calon istri saya dengan lagu galaumu itu?” bentak Tristan.
“Ca ... Calon istri?” Qania tergagap, entah mengapa ada yang tiba-tiba terasa ngilu di tubuhnya.
“Ya, kenapa? Mau mengklaim bahwa saya ini adalah suamimu?” cibir Tristan.
Qania tersenyum kecut sebelum menjawab cibiran Tristan.
“Maaf tuan Tristan Anggara, anda jangan terlalu percaya diri. Lagi pula suami saya itu sangat jauh berbeda dengan anda dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan anda yang tidak seberapa ini. Lagi pula, jika saya tahu anda adalah orang yang numpang dalam momen romantis teman saya, saya tidak akan sudi mengiringi kalian” hardik Qania, ia berhasil membuat Tristan geram.
Tak langsung menjawab, Tristan malah mengambil dompetnya dan mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalamnya yang semuanya merupakan pecahan uang seratus ribu.
Plak …
Tristan dengan kasar melempari uang tersebut ke wajah Qania. Wajah putih Qania berubah menjadi merah padam, ia sudah tersulut emosi. Disaksikan oleh pengunjung restoran tersebut, Qania dengan cepat memunguti uang yang berserakan di atas piano.
“Saya rasa uang segitu cukup untuk membayar keringatmu mengiringi kami berdansa” ucap Tristan menghina Qania.
Mario, Iren, Lala dan Marsya pun tak kalah terkejutnya menyaksikan perlakuan kasar Tristan.
Plak …
Dengan tak kalah kasarnya Qania kembali melempari uang tersebut ke wajah Tristan.
“Kau …” geram Tristan, sebelah tangannya terkepal kuat dan satu tangannya lagi menunjuk ke wajah Qania.
“Simpan kembali uang recehanmu itu, aku tidak membutuhkannya. Kau dengar ini baik-baik tuan Tristan Anggara yang terhormat, saya QANIA SALSABILA WIJAYA, anak dari Zafran Sanjaya yang merupakan seorang bupati sekaligus pengusaha. Dan saya juga merupakan menantu satu-satunya dari pengacara hebat sekaligus pebisnis besar, SETYA WIJAYA SH., LLM. Saya bisa membeli restoran ini detik ini juga jika saya mau. Dan saya pun bisa membeli dirimu jika saya ingin. Jangan pamer recehanmu di depanku tuan Tristan Anggara, jangan sampai kau malu jika tahu uang di rekeningmu hanyalah recehan di rekeningku” teriak Qania dengan menekankan setiap perkataannya agar semakin menusuk Tristan.
“Qania, kau …” bentak Tristan tak sadar mengucapkan nama Qania.
Qania tersenyum kecut, namun tak ada rasa takut sama sekali di wajah Qania.
“Jangan angkuh di depan orang yang tidak kau ketahui tuan, bisa saja justru kau yang akan dipermalukan. Dan jangan coba-coba untuk mengintimidasi saya. Saya adalah calon pengacara dan soal intim-mengintimidasi itu adalah keahlian saya” ucap Qania dengan begitu dingin, sorot matanya bak elang yang siap menerkam mangsanya. Jika saja Lala melihatnya maka gadis itu akan ketakutan karena tidak pernah melihat sisi lain Qania yang seperti ini.
Tristan dibuat tidak bisa berkata-kata dengan ucapan Qania. Ia juga heran mengapa ia bisa sampai kelepasan dengan bersikap kasar kepada seorang perempuan, hal yang tidak pernah ia lakukan bahkan ia tak pernah memikirkan hal tersebut.
Qania tersenyum meremehkan kepada Tristan yang sedang terdiam dalam pikirannya. Ia pun meninggalkan pria yang baru saja ia jatuhkan harga dirinya di depan orang banyak tanpa mempedulikan bisik-bisik para pengunjung restoran.
“Ya ampun, gadis itu berani sekali”,.
“Dia sangat keren”,.
“Aku rasanya ingin bersembunyi di lubang semut jika menjadi pria itu”,.
“Ah bukankah dia Tristan Anggara. Wah ini berita heboh dan gue nggak sempat buat story di sosmed”,.
“Setya Wijaya SH., LLM, kenapa nama itu begitu familiar di telingaku”,.
Dan masih banyak lagi bisik-bisik para pengunjung restoran sambil menatap Qania bergantian dengan menatap Tristan.
Qania melewati Marsya yang sedang menatap penuh amarah kepadanya namun Qania hanya memberinya senyum meremehkan dan itu membuat Marsya semakin geram.
Qania melangkah mendekati Mario dan Iren yang masih di lantai dansa berdekatan dengan Marsya.
__ADS_1
“Qania Lo …” Mario tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia masih dalam mode kaget dan juga takjub dengan sikap Qania tadi.
Sementara Iren, ia menatap tak percaya kepada Qania yang baru tadi dikenalnya dan menurutnya Qania adalah gadis yang lemah lembut namun berbeda dengan apa yang baru saja ia saksikan.
“Aku pamit dulu ya, makasih untuk traktirannya. Dan selamat untuk kalian berdua, aku tunggu undangannya” ucap Qania ramah dan lembut sambil menepuk bahu Mario dan Iren bergantian.
“Ya” hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Mario dan Iren.
Ingin rasanya Qania tertawa melihat wajah pasangan serasi itu, namun ia tidak enak hati. Ia pun memutuskan untuk menemui Lala dan mengajak adik angkatnya itu untuk pulang.
Qania tersenyum melihat ekspresi Lala yang masih syok dengan apa yang tadi ia lakukan.
“Haih, jika kau masih ingin disini terserah. Yang jelas kakak ingin pulang” ucap Qania dan sukses membuat Lala tersadar.
“Kakak kau …”,.
“Kau masih ingin disini atau …” Qania berusaha mengancam Lala namun ia hanya berniat mengerjainya saja.
“Pulang, pulang kak” dengan cepat Lala menyambar ucapan Qania.
Qania terkekeh, kemudian ia menggandeng tangan Lala untuk keluar menuju ke parkiran mall karena disana mereka memarkirkan motornya.
Setelah Qania pergi, Marsya langsung menghampiri Tristan yang masih berdiri di depan piano. Ia mengumpati Qania yang sudah merusak suasana romantisnya.
“Sialan Lo Qania, karena Lo gue gagal dilamar Tristan. Awas saja Lo, berani sekali Lo permaluin calon suami gue”,.
Marsya menyentuh punggung Tristan dan hal tersebut membuatnya tersadar dari lamunan.
“Tris, apa kau baik-baik saja?” tanya Marsya.
“Ya, aku baik-baik saja” jawab Tristan seraya berbalik menghadap ke Marsya.
“Wanita gila itu sudah mempermalukan dirimu Tris, aku akan membuat perhitungan dengannya” gerak Marsya.
“Biar aku saja dan jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau menyentuh mangsaku, Marsya” ucap Tristan dengan menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Marsya diam dan menyetujui saja ucapan Tristan, ia tidak ingin menambah masalah.
“Oh ya Tris, bagaimana dengan rencana perni …”,.
“Kau pulanglah bersama papamu, Marsya. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang” ucap Tristan seraya meninggalkan Marsya yang masih terkejut dengan ucapan Tristan yang memotong pembicaraannya.
“Tapi Tris …” Marsya bergegas mengejar Tristan yang melangkah begitu cepat.
“Tris tungguin aku” teriak Marsya.
“Marsya kau dengar aku tidak!” bentak Tristan setelah menghentikan langkahnya.
Langkah Marsya terhenti, lagi-lagi ia dibuat terkejut. Namun kali ini air matanya mengalir dengan sendirinya setelah mendapat teriakan dari Tristan, selama ini ia tidak pernah dikasari bahkan dibentak oleh Tristan. Maka dari itu ia begitu sakit saat Tristan meneriakinya.
“Aku sedang tidak ingin diganggu Marsya, maaf” ucap Tristan tanpa berbalik, ia pun bergegas meninggalkan restoran tersebut.
“Semua karena Qania, wanita gila itu sudah merusak dan menghancurkan momen romantis ku bersama Tristan. Awas saja kau Qania” Marsya mengepalkan kedua tangannya sambil menatap punggung Tristan yang semakin menjauh darinya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
Berteman yuk:
IG: Vvillya
FB: Vicka Villya Ramahani
__ADS_1
WA: 0823 5054 5747