Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Cincin


__ADS_3

Rizal dan Fero hanya bisa menahan tangis dan membungkam mulut mereka dengan tangan saat melihat wajah Arkana yang dipenuhi luka dan darah yang mengalir karena bekas pecahan kaca yang tadi di angkat dari wajahnya.


“Apakah dia Arkana?” tanya Fero dongkol.


“Kenapa kau sampai sebodoh ini tidak mengenali sahabatmu hah?” bentak Rizal yang sebenarnya ia tahu kalau Fero sedang berusaha melawan takdir.


“Gue yakin dia bukan Arkana. Tadi kan Arkana nelpon elo bro” sanggah Fero.


Rizal seakan ingin melayangkan satu pukulan ke wajah Fero yang sedang tersenyum kecut namun tubuhnya nampak gemetar. Baru saja Rizal ingin bersuara, ponselnya berdering.


“Om Setya?” gumam Rizal kemudian dengan berat menjawab panggilan tersebut.


“Hallo Zal, maaf om nelpon kamu subuh-subuh gini. Om Cuma mau nanya, Arka sama kalian?”,.


“Ha..halo om, i..iya A.ar.ka bersama kami” jawab Rizal terbata, hatinya saat ini sangat remuk.


“Kau kenapa? Apa anak nakal itu membuat kekacauan. Oh ayolah suruh dia pulang, ini sudah setengah enam pagi dan acaranya akan dimulai pukul sepuluh pagi”,.


“Om Arkana sekarang sedang berada di rumah sakit Pelita Jaya, Rizal harap om segera datang” ucap rizal dengan cepat karena ia tidak mampu lagi berlama-lama menahan sesak di dadanya.


Setya yang mendengar ucapan Rizal sebelum mematikan telepon itu sangat terkejut, jantungnya berdetak tidak karuan, seakan ia sangat kesulitan bernapas karena dadanya terasa sesak. Dengan terburu-buru dan masih mengenakan piyamah Setya langsung turun dan masuk ke dalam mobilnya lalu ia melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Setya memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Rizal.


“Hallo Zal, Arka di ruangan apa?” tanya Setya khawatir.


“Di ruangan….”,.


“Di ruangan apa Zal? Jangan bikin om cemas Zal, cepat katakana” serga Setya.


“Di ruang jenazah om, hiksss” ,.


Rizal menjatuhkan ponselnya begitu pun dengan Setya yang sangat syok. Ia seakan tidak mampu lagi untuk berkata-kata bahkan untuk menggerakkan kakinya keluar dari mobil.


“Nggak mungkin anakku meninggalkanku di hari pernikahannya ini” lirih Setya.


Dengan berusaha tegar Setya keluar dari mobil dan bergegas menuju ke dalam rumah sakit mencari kamar jenazah yang dimaksud Rizal.


Napas Setya seakan tercekat begitu melihat Rizal dan Fero yang sedang menangis sambil menatap jenazah yang terlihat cukup mengenaskan dimana terdapat banyak luka di wajahnya yang membuat wajah itu hancur.


“Om Setya” panggil Fero lirih.


Dengan cepat Fero memapah Setya yang hampir saja terjatuh karena syok melihat keadaan Arkana. Fero membawa Setya mendekat dan akhirnya setelah melihat sang anak semata wayang itu terbaring tanpa napas itu ia pun memecahkan tangisnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas jenazah Arkana. Ia menangis sejadi-jadinya dan terus memeluk tubuh Arkana berusaha membangunkan putranya itu.


“Sabar om, kita semua juga sangat terpukul dan sangat kehilangan Arka om” hibur Rizal sambil mengelus punggung Setya yang terus memeluk tubuh kaku Arkana.


“Bagaimana dengan Qania dan keluarganya, apakah mereka sudah tahu?” tanya Setya yang sudah berdiri dan duduk menyandar di lantai diikuti oleh Rizal dan Fero.


“Belum om” jawab Fero dan Rizal bersamaan.


Setya menghembuskan napas panjang beberapa kali sebelum ia menelepon Zafran.


Saat ini Zafran yang belum lama sampai di rumah setelah menunaikan ibadah sholat subuh di masjid tengah memperhatikan orang-orang yang sudah sibuk dari subuh untuk mengurus acara akad nikah Qania. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena sang istri juga tengah sibuk menyiapkan sarapan.


“Ma, nggak usah sibuk-sibuk nanti mama kecapean terus nggak bisa dampingin Qania sampai nanti malam di hotel untuk acara resepsinya” tegur Zafran dengan lembut.


“Hah, mama hanya terlalu antusias pa. Mama sangat bersemangat karena sebentar lagi Qania dan Arkana akan resmi menjadi sepasang suami istri dan janjiku dengan mbak Ayu akan terpenuhi” ucap Alisha sambil berjalan mendekati Zafran lalu keduanya naik ke tangga menuju ke kamar mereka.


Bagaimana persiapan Arka dan Setya ya ma. Ah pasti anak itu sedang menghapalkan kalimat ijab qabul sekarang” kekeh Zafran sambil membuka pintu kamarnya.


“Sepertinya iya pa” ucap Alisha menimpali.

__ADS_1


Baru saja keduanya duduk di atas tempat tidur, ponsel Zafran berdering dan menampilkan nama Setya.


“Nah kan ma, baru juga diomongin eh orangnya udah nelpon” kekeh Zafran kemudian menjawab panggilan tersebut.


“Hallo. Assalamu’alaikum Set” sapa Zafran.


“Wa’alaikum salam Zaf. Zaf, to..tolongi gue” lirih Setya.


“He lu napa?” tanya Zafran kaget.


“Anak gue, anak gue Zaf anak gue”,.


“Anak lu? Arkana? Dia kenapa?”,.


“Dia, dia meninggal, hiksss”,.


“Appaaaaa? Lu jangan becanda Set ini masih pagi dan ini hari pernikahan mereka” protes Zafran.


“Gue nggak becanda. Lu tolong datang ke rumah sakit Pelita Jaya sekarang, dan tolong tenangin Qania” ucapnya kemudian mematikan telepon.


Alisha yang sedang membuka gorden jendela melihat ekspresi Zafran seperti orang yang sedang syok pun mendekat.


“Papa ada apa?” tanya Alisha curiga.


“Ar.arkana ma” ucap Zafran terbata.


“Arka kenapa pa?” tanya Alisha gelisah.


“Setya bilang kalau Arkana, dia..”,.


“Dia kenapa?” serga Alisha karena sudah tidak tahan menunggu jawaban dari suaminya.


“Dia kenapa pa? tolong jangan bertele-tele pa” sentak Alisha.


“Arkana meninggal ma” lirih Zafran dengan suara parau.


“APPAAAAAA?”,.


Zafran dan Alisha menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, ternyata Qania sudah berdiri disana sambil menatap mereka. Tadi Qania berniat menemui mamanya untuk menanyakan sarapannya tapi justru saat ia akan masuk ke kamar mama dan papanya yang pintunya terbuka lebar itu ia malah mendengar pernyataan papanya kalau Arkana meninggal.


“Qania” pekik Zafran dan Alisha bersamaan yang langsung berlari ke arah anak mereka yang sudah jatuh terduduk di lantai dengan raut wajah yang sangat syok.


“Nggak, nggak mungkin. Ini pasti masih bagian dari mimpiku. Hahaha aku hanya sedang bermimpi saja” tawa Qania dibarengi air mata.


Mama dan papanya langsung memeluk Qania dan membantunya berdiri lalu membawanya duduk di atas tempat tidur.


Qania terus saja mengatakan bahwa ia sedang bermimpi saja. Hal tersebut membuat Alisha dan Zafran saling berpandangan dengan tatapan penuh maksud. Keduanya sangat takut hal ini akan berdampak besar pada kejiwaan Qania.


“Aku hanya sedang bermimpi saja. Ma, pa, aku mau tidur dulu ya. Aku ingin menyudahi mimpiku ini dan saat aku terbangun tolong bantu aku merias wajahku supaya di acara akad sebentar aku akan terlihat sangat cantik dan Arkana pasti akan terpana melihatku” ucap Qania dengan menampilkan senyuman termanisnya.


Air mata Alisha tak terbendung lagi ketika melihat Qania bergegas keluar dari kamar mereka. Ia dan suaminya pun segera menyusul ke kamar Qania dan mendapati putrinya sedang bersiap untuk tidur kembali. Mereka pun mendekatinya dan duduk di samping Qania di atas ranjang.


“Mama dan papa kenapa nyusulin Qania? Qania mau tidur dulu, nanti Qania udah bangun baru mama datang untuk membantu persiapan Qania” ucapnya bersemangat.


“Sayang hiks, tabahkan hatimu. Sabar nak, sabar” ucap Alisha sambil memeluk Qania yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.


“Haha mama, mama. Qania mau tidur ih, Qania lelah bermimpi seperti ini terus ma. Qania mau tidur terus bangun” ucapnya sambil melepas paksa pelukan mamanya.


Qania berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Kedua orang tuanya bisa melihat bahwa sang putri tengah menangis dari balik selimutnya tanpa suara.


“Qania, terserah kamu ingin tidur dan menganggap ini hanya mimpi, tapi saat ini mama dan papa akan segera ke rumah sakit untuk melihat Arkana” tandas sang papa kemudian berdiri dan menarik lembut tangan Alisha untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Qania yang sedang menangis tanpa suara itu mengibaskan selimutnya dan berlari mengejar mama dan papanya yang mungkin sudah di lantai bawah. Tangisannya menjadi pusat perhatian para kerabatnya dan juga anggota keluarga di rumah itu.


“Mama, tunggu Qania ma. Qania ikut” teriaknya saat melihat mama dan papanya sudah masuk ke dalam mobil.


Qania bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang papanya yang mengemudi dengan cepat menuju ke rumah sakit.


Tak berselang lama mobil milik Zafran sudah terparkir di rumah sakit. Kaki Qania seakan kaku saat hendak keluar dari mobil. Ia mempersilahkan mama dan papanya turun lebih dulu. Dengan hati yang dikuat-kuatkan Qania menapakkan kakinya ke tanah sambil menatap rumah sakit yang sama dengan yang ada di mimpinya. Dadanya terasa sesak, sulit baginya untuk bisa bernapas dengan baik. Ia menengok ke arah parkiran dan melihat motor Fero serta mobil milik papa Arkana terparkir disana dan itu semakin membuatnya meradang.


“Aku harus memastikannya sendiri” ucap Qania kemudian bergegas masuk ke rumah sakit dan mendapati mama dan papanya sedang berjalan menuju ke kamar jenazah semakin pilu rasa hatinya.


Qania melangkahkan kakinya dengan perlahan setelah mama dan papanya lebih dulu masuk dan saat ini sudah terdengar jerit tangis dari mamanya. Qania berusaha menulikan telinganya dan bersikap sesantai mungkin padahal gemuruh dalam dadanya semakin besar.


Qania berjalan dan mendekati jenazah itu, ia menutup mata saat melihat wajah yang dipenuhi luka dan darah yang sudah mengering itu. Qania menghela napas, ia tersenyum getir melihat mayat di depannya yang tidak ingin ia akui sebagai mayat Arkana.


“Dia bukan Arkana” ucap Qania dengan santainya.


“Apa yang kau katakan nak, sadarlah” ucap Zafran yang beralih merangkul Qania.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Arkana?” tanya Zafran menatap Fero dan Rizal yang sedang duduk bersandar di lantai bersama Setya dan Alisha yang baru saja turut bergabung.


“Semalam setelah kita mengadakan pesta di kafe, Arkana pamit pulang lebih dulu sekitar pukul dua dini hari. Kami berpisah di depan kafe dan saya bersama Fero kembali masuk dan berberes di kafe. Saat kami akan pulang, Arkana menelepon saya tapi tidak ada sahutan. Kami hanya mendengar ada seseorang yang berkata lo harus mati Arkana Wijaya. Kami terkejut dan saya sama Fero terus memanggil Arka tapi tidak ada sahutan sampai kami mendengar suara orang-orang berkelahi. Beberapa saat kemudian kami mendengar suara benturan keras lalu disusul oleh suara ledakan dan itu membuat kami semakin terkejut”,.


“Kami langsung mencari keberadaan Arkana tapi tidak menemukannya sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Akhirnya kami memutuskan untuk berbalik arah, saat kami akan melintasi jembatan, kami melihat kerumunan warga menjelang sholat subuh. Dan kami bertanya pada salah satu warga. Setelah mendapat keterangan kami mendekat dan langsung mengenali mobil itu milik Arkana, seorang polisi mengatakan bahwa jenazah sudah dibawa ke rumah sakit. Lo tahu Qan gimana perasaan gue saat polisi menyebut Arkana sebagai jenazah? Kita bergegas kemari dan menemukan ini. Kita awalnya nggak bisa percaya tapi melihat cincin di jarinya itu membuat kami yakin dia Arkana Qan, dia Arkana” cerita Rizal dengan deraian air mata.


Qania yang berada dalam pelukan papanya yang juga berada di samping mayat Arkana dengan cepat memeriksakan jari mayat itu. Qania terhuyung kebelakang dan hampir jatuh jika papanya tidak segara menangkap tubuhnya.


“Hiks Arkana pa, Arkana ninggalin Qania lagi, hiks” akhirnya tangis yang dari tadi Qania simpan itu pecah juga dalam pelukan sang papa.


“Arkana jahat pa, dia ninggalin aku di hari pernikahan kita. Dia jahat pa, Qania benci Arkana, hikss”,.


Qania terus mengeluh dalam dekapan papanya sambil menangis histeris membuat yang berada di ruangan itu tidak lagi bisa membendung air mata mereka termasuk petugas rumah sakit yang mengurus jenazah Arkana.


*


*


Suasana haru dan awan mendung mengiringi rombongan yang mengantar Arkana ke tempat peristirahatan terakhirnya itu. tangis pilu terus terdengar dari Qania yang saat ini berjalan dipapah oleh adiknya yang turut menangis menyaksikan pemakaman Arkana. Kumandang adzan di liang lahat semakin menghancurkan hati Qania terlebih saat tubuh yang sudah dibalut kain putih itu perlahan mulai tertutup oleh tanah, semakin remuk hati Qania.


Setya yang saat ini tengah menangis di samping makam yang bertuliskan Arkana Wijaya itu sambil memeluk pusaranya.


“Arka kenapa ninggalin papa sendiri nak? Papa tinggal seorang diri nak, papa sebatang kara di dunia ini, hikss” tangis Setya sambil memeluk erat nisan Arkana.


Di sisi kiri dan kanan makam Arkana kini tersisa kedua orang tua Qania yang sedang merangkul Setya, dibelakang mereka ada bi Ochi dan pak Anwar. Di depan mereka ada Qania yang di rangkul oleh adiknya dan Winda serta Elin. Di belakang mereka ada Fero dan Rizal bersama Gea yang terus menangis sambil mengusap rambut Qania.


Semua terkejut melihat Setya yang tiba-tiba saja pingsan di atas makam Arkana. Zafran di bantu pak Anwar serta Rizal dan Fero langsung mengangkat tubuh Setya dan membawanya ke mobil.


Setelah itu semuanya berpamitan pulang dan tinggallah Qania, Syaquile, Rizal, Fero dan Gea di makam. Mereka sangat enggan meninggalkan Arkana di sana , terlebih lagi Qania yang terus memeluk nisan Arkana dengan deraian air mata.


“Qan, sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kita pulang” ajak Gea dengan lembut yang masih sesenggukan.


“Kalian pulanglah duluan, biar aku disini” sahut Qania yang enggan beranjak dari nisan Arkana.


“Tapi..”,.


“Kalian pulanglah, biar aku yang jagain kakak” ucap Syaquile menyela ucapan Gea.


Dengan berat hati mereka semua meninggalkan area pemakaman dan tinggallah Qania dan Syaquile yang menemani makam Arkana yang masih baru itu.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2