
Setelah puas tertawa di dalam kamar itu, Arkana mengajak Qania untuk bermain di pantai. Ia tidak ingin mengurung kekasihnya itu di kamar saja mengingat ia ingin memberikan momen romantic sebelum keduanya berpisah selama dua bulan lamanya.
“Sayang udah sore, ke pantai yuk” ajak Arkana.
Qania yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Arkana langsung mengangguk setuju. Keduanya pun berdiri, bergandengan tangan dengan sebelah tangan Arkana membawa gitar.
“Bawa gitar?” Tanya Qania sambil melirik gitar di tangan kiri Arkana.
“Iya, sambil nunggu sunset” jawab Arkana sembari tersenyum hangat.
Qania hanya tersenyum mendapat jawaban dari Arkana, salah satu yang paling ia sukai dari tunangannya itu adalah kelihaiannya memainkan gitar dan suaranya yang merdu. Setiap ada kesempatan Qania pasti meminta Arkana untuk menyanyikannya lagu dan tak ia tak pernah mendapatkan penolakan.
“Sayang kamu kok nggak jadi penyanyi aja sih? Aku rasa kamu lebih berbakat menjadi musisi daripada pembalap” Tanya Qania saat keduanya sudah berada di luar penginapan dan tengah berjalan kearah pantai.
“Aku memang penyanyi di kafe dulu sayang, bahkan sampai sekarang kalau aku ada waktu untuk menyanyi pasti aku menyanyi. Hanya saja kadang aku malas dan meminta Rizal mencari penyanyi kafe yang lain” jawab Arkana.
“Oh.. aku sangat suka saat kamu bernyanyi untukku, sangat romantis” ucap Qania memuji Arkana.
Dipuji seperti itu oleh Qania membuat Arkana melambung, pipinya merona dan senyum manis terbit di bibirnya.
“Aku akan selalu menyanyikan lagu untukmu sayang” ucap Arkana sambil mendaratkan bokongnya bersamaan dengan Qania di atas pasir.
Air laut berjarak sekitar lima meter dari posisi mereka duduk saat ini, Arkana pun mulai mengutik gitarnya sambil memandang lurus kearah laut, begitu pun dengan Qania.
“Sayang nyanyi dong” pinta Qania.
“Kamu yang nyanyi aku yang iringi” ucap Arkana membuat Qania mengerucutkan bibirnya.
Cup…
“Gemesein” ucap Arkana setelah mengecup kilat bibir Qania.
Qania terdiam setelah mendapat serangan mendadak dari Arkana, pipinya memerah.
“Lain kali jangan main nyosor, nggak tahu apa disini ramai” kesal Qania.
“Habisnya kamu yang ngundang aku” celetuk Arkana.
Qania mendesah frustasi, ia pasrah saja karena tidak akan habisnya jika berdebat dengan kekasihnya itu.
“Ya udah nyanyi” ucap Qania dengan ketus.
“Iya, iya” ucap Arkana sambil cekikikan.
Arkana mulai mengutik gitarnya, Qania yang akan bernyanyi.
“Lagu apa sayang?” Tanya Arkana menghentikan petikan gitarnya.
“Lagu pop lah, aku mana bisa dangdut” jawab Qania ketus.
__ADS_1
“Hahaha, maksud aku judulnya apa sayang?” ucap Arkana terkekeh.
“Makanya kalau ngomong itu di kasih jelas dong” sengit Qania.
“Wihh, lagi marah nih ceritanya” ledek Arkana.
“Tau ah gelap” ketus Qania.
“Sayang kamu buta atau rabun atau gimana sih? Orang ini terang banget” ledek Arkana, ia semakin gemas mendengar kata-kata ketus dari mulut Qania.
“Kamu nyumpahin aku, iya?” sentak Qania kesal.
‘Kan salah lagi. Tapi nggak apa-apa, dia terlihat sangat menggemaskan dan aku suka itu’ Arkana membatin.
“Nggak sama sekali sayang, Cuma kan tadi kamu bilangnya gelap. Lah ini terang banget” ceplos Arkana yang membuatnya mendapatkan tatapan sengit dari Qania.
“Ngomong sama kamu nggak bakalan nemu ujungnya” ucap Qania kesal dan juga ingin menghentikan perdebatan mereka.
Arkana menahan tawanya karena melihat Qania diam dan menatap lurus ke pantai. Warna langit mulai berubah jingga dan sebentar lagi matahari akan terbenam.
Melihat Qania yang terus diam akhirnya Arkana memutuskan untuk memainkan gitar dan bernyanyi sendiri. Ia yakin meskipun Qania mendiamkannya, tapi ia tetap mendengarkan nyanyian Arkana.
*Tak pernah ku sangka, aku bisa merasakan cinta sejati
Dan tak pernah benar-benar, mencintai manusia di bumi ini
Hingga apapun akan ku beri, untuk kamu, kamu, kamu
Tuhan pun tahu, jikalau aku mencintai dirimu tak musnah oleh waktu
Hingga maut datang menjemputku
Ku tetap menunggu, kamu di lain waktu*
Benar saja, saat Arkana menyanyikan lagu cinta yang berjudul immortal love song dari grup band mahadewa itu, Qania langsung menoleh kearahnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Arkana, ia terus bernyanyi sambil memainkan gitar. Arkana terus menatap Qania yang juga menatapnya dengan perasaan penuh kasih sayang, tak lupa juga senyuman manis sersungging di wajahnya.
Arkana menyanyikan lagu tersebut dengan sangat baik, bahkan beberapa orang yang berada di sekitar mereka turut mendengarkan dan memujinya. Hal tersebut sangat membuat Qania tersanjung dan bangga karena dirinya lah pemilik laki-laki yang tengah bernyanyi dengan sangat romantis ini sambil terus menatapnya.
“Dia sangat romantis”,.
“Wah suaranya merdu”,.
“Aku mau dong dinyanyiin juga”,.
“Wah dia selain tampan, suaranya sangat bagus. Siapa dia ya?”,.
Dan masih banyak lagi pujian yang tak luput dari indera pendengaran Qania. Ia tersenyum bangga kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Arkana yang baru saja selesai menyanyikan lagu tersebut.
__ADS_1
Arkana melepas gitar dan meletakkannya di atas pasir tepat di sampingnya, kemudian ia mengelus rambut Qania dengan sayang dan mencium puncak kepala Qania. Sepertinya itu sudah menjadi salah satu tempat favorite kecupan Arkana.
‘Ada nggak sih yang bisa mengabadikan momen ini? Boleh nggak aku berteriak bahwa aku adalah kekasih lelaki ini? Hei kalian semua, dia kekasihku yang sangat romantis, tampan dan menawan. Aku rasanya ingin mengenalkan kepada seluruh dunia, berteriak bangga karena aku memiliki dia di dalam hidupku” teriak batin Qania.
‘Semakin lama aku semakin takut kehilangannya, kenapa dia menjerat hatiku sampai seperti ini. Aku bahkan sangat kesulitan bergerak dan tidak mampu melepaskan jeratannya’,.
‘Bolehkah aku egois? Aku ingin memilikinya seumur hidupku bahkan sampai aku mati dan hidup kembali aku ingin terus bersamanya. Aku ingin jika dikehidupan keduaku jika ada aku ingin tetap dial ah yang menjadi teman hidupku’ pinta hati Qania.
Saking terharunya dan saking bangganya Qania tanpa sadar meneteskan air matanya.
‘Eh basah? Dia menangis atau?’ Arkana bertanya dalam hatinya karena merasakan bahunya basah.
“Sayang kamu nangis?” Tanya Arkana yang menundukkan kepalanya dan menoleh pada Qania.
Qania menyeka air matanya yang dengan tidak tahu malunya menetes dan membasahi bahu kekasihnya.
“Sayang hei, kamu kenapa?” Tanya Arkana mulai resah karena Qania hanya diam saja sambil menyeka air mata yang terus saja lolos dari kedua matanya.
Bukannya menjawab, Qania malah langsung memeluk Arkana dari samping. Ia meloloskan tangis yang dari tadi ia tahan. Bukan cengeng, ia hanya tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk mengekspresikan perasaannya saat ini.
Arkana membalas pelukan Qania, membawanya masuk ke dalam dekapannya. Qania menghirup dalam-dalam aroma tubuh kekasihnya dan ingin menghapalkan baunya, agar jika ia sangat merindukan kekasihnya itu ia tinggal mengingat aroma tubuh ini.
“Aku cinta kamu” ucap Qania hampir tak terdengar oleh Arkana.
“Aku juga cinta kamu, sangat cinta kamu, banyak cinta kamu dan paling cinta kamu” ucap Arkana tanpa menjeda ucapannya karena teringat perdebatannya tadi bersama Qania tentang siapa yang paling besar rasa cintanya.
“Nggak ngasih kesmpatan buat aku ngebantah yah” ucap Qania tertawa.
“Hahaha, pintar” Arkana mengacak-acak rambut Qania.
“Sayang aku mau lihat sunset ini, udah peluknya” ucap Qania meminta Arkana melepaskan pelukannya.
“Loh bukannya sayang ya yang masih meluk aku? Lihat nih tangan aku lagi megang rambut kamu” ucap Arkana menahan tawanya.
“Eh iya, hehe” Qania merasa malu karena ketidaksadarannya.
Setelah melepaskan pelukannya, Qania dan Arkana langsung menikmati matahari yang mulai terbenam itu sambil saling melingkarkan tangan mereka dari arah samping.
“I love you Qania Salsabila” ucap Arkana sangat pelan.
“I love you more Arkana Wijaya” balas Qania.
Keduanya berpelukan, kemudian Arkana menempelkan dahi mereka dan perlahan keduanya pun berciuman saat matahari tersebut telah benar-benar terbenam dan suasana di pantai sudah terlihat gelap.
‘Aku sayang kamu Qania, aku cinta kamu. Selamanya cinta kamu’ batin Arkana.
‘Aku selamanya cinta kamu Ka, aku selalu akan begitu dan akan terus mencintai kamu hingga kita mati dan hidup kembali di kehidupan selanjutnya’ isak batin Qania.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...