
Suasana pemakaman Tosan berlangsung penuh haru, sang nenek tak hentinya menangis di pusara cucu yang selama ini hidup bersamanya dan yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Sementara Elin dan Qania saling merangkul menguatkan hati ditinggal oleh sahabat sedari kecil mereka. Arkana menatap Qania lekat, ia ingin mencari tahu kedekatan antara Qania dan Tosan setelah ini.
Satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman, tersisa Arkana dan Rizal disana. Qania pulang bersama Elin, sebab ia tidak melihat Arkana di area pemakaman itu. Arkana duduk berjongkok di samping makam Tosan yang kini dipenuhi dengan taburan kembang khas kuburan, air matanya terjatuh saat mulai memegangi nisan yang bertuliskan nama temannya itu.
"Dia tidak akan hidup tenang karena sudah merenggut nyawamu. Gue yang bakalan cari dia sampai ke lubang semut sekali pun" ucap Arkana bersumpah di depan pusara Tosan.
"Terima kasih telah mengorbankan nyawa lo buat ngelindungin gue meski pun tanpa lo sadari. Gue nggak bakalan lepasin orang itu sampai dia mendapat balasan dari perbuatannya, atau bahkan sampai dia berada di dalam tanah sama seperti lo saat ini" lanjut Arkana sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kita pasti bakalan nemuin siapa orang yang sudah menyebabkan lo terbaring disini. Beristirahatlah dengan tenang kawan, gue dan yang lainnya bakalan nyari orang itu dan bawa dia kesini untuk berlutut di makam lo dan meminta maaf, gue janji" ucap Rizal sambil memegangi nisan Tosan.
"Istirahat yang tenang bro, lo baik-baik saja disana. Gue bakalan balasin ini semua, gue pamit ya bro" ucap Arkana, air matanya menetes kala berpamitan di makam Tosan.
____
Rizal dan Arkana kembali ke rumah nenek Tosan untuk membantu persiapan nanti malam, sembari menghibur nenek yang kini hanya tinggal seorang diri itu. Mereka saling membagi tugas tanpa mengantuk dan lelah, mereka mengerjakan semuanya dengan semangat dan juga duka di dalam hati yang mendalam.
"Nek kamar Tosan dimana ya?" tanya Arkana pada nenek Tosan yang sedang duduk di sofa sambil memeluk foto cucunya itu.
"Kamu berjalan lurus saja, kamarnya ada disebelah ruang keluarga" jawab nenek sesenggukan.
Arkana mengangguk, ia langsung menuju ke kamar Tosan. Saat akan membuka pintu, samar-samar ia mendengar suara seorang wanita menangis, suara yang sangat familiar di telinganya. Perlahan Arkana membuka pintu kamar itu, benar saja kekasihnya lah yang sedang menangis disana. Tanda tanya besar menggantung di benaknya, ada hubungan apakah kekasihnya itu dengan temannya.
Arkana berjalan menghampiri Qania yang tengah duduk sambil menangis memeluk sebuah bingkai foto besar.
"Sayang" panggil Arkana, Qania langsung menoleh.
__ADS_1
"Kamu disini?" tanya Qania dengan wajah yang di penuhi air mata itu.
Arkana duduk di samping Qania, lalu Qania menyandarkan kepalanya di bahu Arkana.
"Apa yang membuatmu sesedih ini hmm?" tanya Arkana mencari tahu.
Qania tidak langsung menjawab, ia hanya memberikan bingkai foto yang tadi ia peluk kepada Arkana.
Di foto tersebut terdapat beberapa foto yang di gabungkan seperti album, disana ada potret tiga anak kecil berusia sekitar lima tahun dengan anak lelaki yang diapit oleh dua anak perempuan. Ada juga potret anak berseragam SD, SMP sampai SMA dengan posisi yang sama.
"Kita berteman bahkan dari kita balita, dulu kita kemana-mana selalu bertiga. Hanya saja beberapa bulan belakangan ini kami memiliki kesibukan masing-masing hingga jarang berkumpul. Minggu lalu kita masih duduk disini bertiga sambil bercanda dan menyusun rencana liburan bertiga di taman dekat sini, kita akan berkemah seperti masa kanak-kanak dulu. Tapi dia begitu tega meninggalkan aku dan Elin setelah merencanakan itu semua" cerita Qania sambil berderai air mata.
"Dia bahkan sudah merencanakan pernikahanku dan Elin, dia yang akan menjadi pengurus acara kami dan juga dia akan hadir di wisudah kami. Dia yang selalu menjaga kami sejak kecil, tidak pernah membiarkan orang lain menyakiti kami. Tanpa pamit dia meninggalkan kami seperti ini, dia begitu kejam, hikkssss" tangis Qania semakin pecah, ia memeluk tubuh Arkana begitu erat.
"Jadi mereka adalah sahabat dari kecil, bagaimana mungkin gue nggak tahu hal ini. Jadi yang dulu sering Qania maksud sahabat itu adalah Tosan. Bagaimana jika dia tahu penyebab kematian sahabatnya itu? Apakah dia akan membenciku?" pikir Arkana.
"Jihan?" tanya Arkana.
"Iya, dia pacar Tosan sejak SMA" jawab Qania.
Untung saja ponsel lama milik Qania masih menyimpan nomor teman-temannya. Sehingga ia dengan mudah bisa menghubungi Jihan.
"Ada apa Qan, tumben nelepon? Apakah si Petasan itu membuat ulah lagi?" tanya Jihan dari seberang saluran, petasan adalah panggilannya pada Tosan.
"Jihan, hikksss" Qania menangis, membuat Jihan menjadi panik.
__ADS_1
"Hei kenapa?" tanya Jihan penasaran.
"Dia.. dia sudah tiada, hikksss".
"Dia siapa Qan, jangan buat aku bingung" ucap Jihan panik.
"Tosan, dia meninggalkan kita untuk selamanya" jawab Qania masih menangis.
"Jangan bercanda Qan, ini nggak lucu" ucap Jihan yang mulai gelisah.
"Aku nggak bercanda, dia sudah tiada. Tanpa pamit dia udah ninggalin kita semua dan dia.." sebuah bunyi seperti benda terjatuh berdenging di telinga Qania.
"Jihan.."
"Halloo..."
"Jihan kamu mendengarku?..."
Qania terus memanggil sahabatnya itu namun tidak terdengar apapun. Disana Jihan sudah jatuh terkulai lemas di lantai, air matanya mengalir dengan derasnya. Ia masih mendengar suara Qania memanggilnya, namun ia seakan tidak memiliki tenaga lagi bahkan untuk bicara.
"Tosaaaaaaaaan....." teriak Jihan.
Qania yang mengaktifkan speaker di ponselnya terkejut mendengar teriakan Jihan, begitu pun dengan Arkana. Hal itu membuat tangis Qania semakin menjadi-jadi, ia juga menjadi khawatir dengan keadaan Jihan disana tanpa keluarga dan sahabat dekatnya.
Tanpa Arkana sadar, ternyata Qania sudah jatuh pingsan karena syok dengan kejadian ini. Arkana membawa tubuh Qania untuk kembali ke rumah Qania, dan menenangkannya disana.
__ADS_1
......