
Namanya Ghaisan Yudistira, namun orang-orang memanggilnya dengan sebutan Yudis, seorang mayor di angkatan darat. Postur tubuh sangat ideal dengan tinggi seratu delapan puluh lima centimeter, berat badan enam puluh kilogram, kulitnya yang putih namun tidak lagi nampak begitu putih, mungkin karena pekerjaan yang menuntutnya berada di luar ruangan. Usianya yang masih muda, yaitu dua puluh delapan tahun sudah memiliki pangkat tersebut. Wajahnya sangat tampan, namun tatapannya dingin membuat orang-orang enggan mendekatinya. Bahkan para wanita menjadi hilang nyali saat ingin mendekatinya atau sekedar menyapanya. Hanya dengan mengangkat sebelah alisnya saat bertatapan sudah membuat jantung berdetak kencang bagai sedang lari maraton.
Ia menatap dari teras lantai dua rumah Elin, entah mengapa saat melihat adegan romantis di depan rumah itu hatinya seolah sakit. Ya siapa lagi yang ia lihat kalau bukan Qania dan Arkana yang sedang berpelukan.
"Perasaan seperti apa ini?" gumamnya.
Ia terus menatap kedua remaja yang tengah kasmaran itu, mulai dari Arkana datang hingga keduanya pergi bersamaan menaiki mobil dan hilang dari pandangannya.
"Kenapa kak?" tanya Elin dari belakang membuat Ghaisan tersadar.
Ghaisan menoleh kebelakang, melihat Elin yang datang dengan membawa nampan berisi dua buah cangkir dan dua buah toples cemilan. Elin duduk di sebelah kakak sepupunya itu.
"Apa yang di lihatin kak?" tanya Elin lagi.
"Nggak ada" jawabnya kembali menatap lurus.
"Dia Qania, sahabat aku" ucap Elin membuat Ghaisan langsung menoleh ke arahnya.
"Qania siapa?" tanya Ghaisan berpura-pura bingung.
"Tuh yang dilihatin dari tadi. Aku tahu kok kak, nggak perlu ditutupi" jawab Elin kemudian memasukkan cemilan kedalam mulutnya.
"Oh emang kelihatan ya?" tanya Ghaisan canggung.
__ADS_1
"Banget, kakak suka sama dia?" tanya Elin to the point.
"Nggak lah, baru aja kenal langsung suka. Kan nggak mungkin" sanggah Ghaisan.
"Suka di awal perkenalan atau pertemuan itu mungkin kak, ya sayang dan cinta aja yang datangnya nyusul. Kalau dari awal udah suka, pasti buntutnya bisa jadi cinta" lanjut Elin.
"Wah wah wah, adik aku ini pikirannya udah kayak motivator ya" ucap Ghaisan sambil mengacak rambut Elin.
"Ih kakak, aku beneran loh ini ngomongnya. Awas aja kalau kakak sampai jatuh cinta beneran sama Qania, aku bakalan ledekin kakak dan aku juga akan dukung kakak sih" ucap Elin antusias.
"Jangan deh, dia sudah punya pacar" tolak Ghaisan, sebenarnya ia merasa senang jika dibantu Elin untuk mendekati gadis yang dalam waktu singkat mampu menyentuh hatinya, namun ia juga tidak ingin masuk ke hubungan orang lain, apalagi sampai merusak hubungan yang sudah lama terjalin.
"Hmm, sepertinya ada yang mundur sebelum berperang nih. Kebalik sama pekerjaannya yang pantang mundur sebelum berperang" ledek Elin membuat Ghaisan tertawa terbahak-bahak.
"Udah pintar membalikkan situasi ya kamu" ucap Ghaisan di sela tawanya.
Setelahnya keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sambil menikmati sore hari bersana teh dab cemilan.
Ghaisan menerawang jauh mengingat awal pertemuannya dengan Qania, tingkah konyol Qania, dan kepolosannya. Hatinya terasa geli saat mengingat Qania, baginya itu kesan pertama yang sangan menarik dibumbui drama, mulai dari godaan bapak-bapak, jatuh dari bus, di rampok sampai Qania menangis di pelukannya dan juga drama suami istri. Semua itu tidak lepas dari ingatannya.
"Ah jaketku, dimana aku meletakkannya? Disana ada bekas pelukan gadis itu" tiba-tiba saja Ghaisan teringat akan Qania yang menangis dipelukannya.
"Lin kakak ke kamar duluan ya" ucapnya lalu pergi terburu-buru.
__ADS_1
"Hei dia kenapa?" tanya Elin yang heran melihat tingkah kakaknya.
Dengan cepat Ghaisan membuka pintu kamarnya dan mencari jaketnya. Ia mencari ke seluruh tempat di kamarnya namun tidak menemukan jaketnya.
"Kakak cari apa?" tanya Elin diambang pintu.
"Jaket kakak tadi, nggak ada" jawabnya masih terus mencari.
"Oh mungkin dibawa bibi, tadi sebelum aku menemui kakak di teras, aku lihat bibi dari kamar kakak bawa keranjang pakaian kotor" kata Elin mengingat-ingat.
"Gawat" Ghaisan segera berlari, menuju tempat bibi mencuci pakaian.
Saat sampai disana ia melihat bibi akan memasukkan jaketnya ke dalam mesin cuci.
"Jangaaaan.." teriak Ghaisan membuat bibi terkejut.
Ghaisan segera berlari menghampiri bibi yang masih terkejut akibat teriakan Ghaisan.
"Jangan di cuci bi" ucap Ghaisan yang masih mengatur napasnya.
"Loh den ini kotor loh, nyonya tadi nyuruh bibi buat nyuci jaket ini. Kata nyonya ini kotor" jawab bibi sambil membolak-balikkan jaket yang memang kotor itu.
"Nggak perlu di cuci bi, ini nggak kotor kok" ucap Ghaisan kemudian mengambil jaketnya dari tangan bibi lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Tapi saya lihat kotor kok" gumam bibi kemudian meneruskan pekerjaannya.
"Huh hampir saja" ucap Ghaisan bernapas lega sambil memeluk jaketnya.