
“Huh masih saja sibuk, sebenarnya siapa sih yang mengambil ponsel kak Qania. Huhh” gerutu Lala setelah mencoba lagi menghubungi nomor Qania namun terus saja sibuk. Bagaimana tidak, nomor yang sedang ia telepon itu sedang berada dalam panggilan lain yaitu antara orang tua Qania dan Tristan Anggara.
“Kak Qania, Lala haus. Lala permisi sebentar yak e kantin rumah sakit. Lala janji nggak bakalan lama” bisik Lala di telinga Qania yang belum siuman itu.
Qania POV
Aku sebenarnya sudah siuman sejak setengah jam yang lalu dan aku mendengar Lala terus menggerutu karena mencoba menelepon nomorku dan ternyata berada dalam panggilan lain. Aku belum sepenuhnya tersadar jadi aku tidak menghiraukan ponselku sama sekali. Namun ketika Lala mengatakan bahwa ponselku itu kemungkinan diambil orang aku langsung syok.
Bukan nomor kontak ataupun berapa harga ponselku yang muncul dibenakku melainkan semua pesan dari Arkana, chatku dengannya, pesan suaranya, dan masih banyak lagi tentang Arkanaku yang ada di ponselku itu. Kalau hanya video dan rekamannya bernyanyi serta foto-foto kami itu sudah ku salin di laptopku, hanya pesan, chat dan pesan suaranya saja yang tidak bisa ku pindahkan ke laptopku.
Aku meradang membayangkan jika akan kehilangan satu-satunya barang yang bisa membuatku mengingat dan merasakan kehadiran Arkana di dekatku.
“Ah tunggu dulu, tadi aku pingsan kenapa ya?”,.
Aku kembali memutar balik ingatanku dimana aku datang ke sebuah hotel untuk seminar, ya aku datang bersama Lala. Namun orang itu ya pria angkuh itu datang terlambat dan aku menemukan banyak panggilan tak terjawab di ponselku dari papaku.
Aku tentu sangat khawatir karena tidak biasanya papaku menelepon sampai sebanyak itu jika tidak ada kepentingan. Berbagai pikiran buruk mulai menggerogoti benakku ditambah lagi bayangan wajah anakku terus melintasi pikiranku.
Aku samar-samar mendengar kalau pengisi seminarnya ya si pria angkuh itu sudah datang namun aku tidak mempedulikan itu toh aku duduk di tengah dan tubuhku mungil, dia pasti kurang memperhatikanku.
Telepon tersambung tapi sepertinya si pria angkuh itu mengetahui aku sedang sibuk dengan ponselku.
Aku lebih mementingkan menelepon papa karena perasaanku sangat tidak karuan. Bodoh amat lah kalau dia mau mengusirku lagi, yang jelas aku hanya ingin tahu keadaan anakku agar hatiku tenang.
Papa belum menjawab panggilanku dan pria angkuh di depan itu terus saja menyindirku. Dengan malas aku pun menatapnya karena ia tidak berhenti mengoceh di depan sana dan aku juga sudah menjadi pusat perhatian. Belum lagi Lala yang semakin gemetar di sampingku, ah anak ini memang sangat penakut baru begini saja sudah sangat gugup.
Aku baru saja ingin menatapnya namun aku mendengar suara papaku yang tandanya panggilanku sudah dijawab oleh papa. Aku mengacuhkannya lagi karena saat ini yang terpenting adalah mendengar suara anakku.
Namun baru saja aku ingin bicara, suaran lantangnya yang menyuruhku keluar membuatku menoleh dan menatapnya.
Dan ya aku ingat dengan jelas sekarang mengapa aku pingsan.
Saat aku menatapnya, jantungku seakan berhenti berdetak. Napasku seolah tercekat ditenggorokan dan dada ini terasa begitu sesak.
Wajahnya, wajahnya adalah wajah milik suamiku. Aku tidak salah melihatnya dan bahkan suaranya yang lantang itu sama persis seperti suara suamiku, Arkana Wijaya. Hanya saja kearoganannya yang membuat sedikit berbeda.
Spontan aku menjatuhkan ponselku dan berdiri menatapnya untuk memastikan apakah benar dia Arkanaku.
Ya benar dia Arkanaku, aku ingin memanggilnya namun entah mengapa aku seperti kehabisan pasokan oksigen sehingga aku kesulitan bernapas dan penglihatanku menjadi kabur. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi.
Dan sekarang aku disini, di rumah sakit ini dan aku tidak tahu dimana ponselku. Terlebih lagi pria yang berwajah sama dengan suamiku itu tidak ada disini juga untuk sekedar peduli dengan keadaanku.
__ADS_1
Haruskah aku senang karena rengekan dan protesku pada Tuhan kini terkabulkan?
Tapi tunggu dulu, dia itu adalah Tristan Anggara bukan Arkana Wijaya. Hahh, entah permainan takdir seperti apa yang sedang Tuhan rencanakan kepadaku.
Qania POV End..
Lala baru saja kembali dari kantin, dia juga membawa sebuah plastik berisi roti dan air mineral untuk Qania jika ia sudah siuman ia bisa memakannya karena sekarang sudha masuk jam makan siang.
Lala memicingkan mata saat melihat ada pria yang juga sedang berjalan kearah yang sama dengannya dan berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Qania.
“Tunggu, bukannya dia itu pak Tristan Anggara?” tanya Lala bermonolog.
“Ah benar dia. Apakah dia ingin melihat kak Qania? Kalau iya, biar dia masuk duluan saja lah” ucap Lala lagi masih terus memperhatikan pria yang terlihat ragu-ragu untuk membuka pintu.
Beberapa kali Tristan Anggara menghela napas yang entah mengapa ia begitu gugup untuk melihat pasien di dalam kamar tersebut.
Setelah merasa enakan, ia pun langsung mendorong pintu ruang rawat inap itu dengan perlahan dan mulai berjalan.
Sementara itu, Qania yang masih setia memejamkan matanya dan menangis dalam hati itu pun dibuat terusik dengan langkah kaki yang jelas nyata itu bukan suara langkah kaki Lala dan juga suara cempreng Lala tidak terdengar olehnya.
Tristan ragu-ragu untuk duduk, namun melihat sepertinya pasien ini belum juga sadar ia pun memberanikan diri untuk duduk dan menatap wajah Qania.
Tangannya bergerak pelan mengelus pipi Qania yang sangat mulus itu. Qania yang sudah siuman namun enggan membuka matanya itu merasa hangat, namun sesaat kemudian ia tersadar kalau ini tidak mungkin Lala. Ia pun membuka matanya dengan cepat membuat Tristan terkejut dan dengan cepat menarik tangannya yang dengan kurang ajarnya menyentuh pipi seorang gadis yang tidak ia kenal dan juga mengenalnya.
Tristan terus merutuki kebodohannya yang tidak tahu malu langsung main pegang-pegang orang sembarangan, namun hanya di dalam hatinya saja ia mengomel.
Begitu pun dengan Qania, ia tidak kalah terkejutnya bahkan sangat-sangat terkejut karena melihat wajah di depannya ini. Matanya masih melotot dan mulutnya terbuka lebar begitu melihat dari jarak yang sangat dekat.
“Apakah Tuhan sudah mengabulkan doaku?” lirih Qania diiringi air mata yang membuat Tristan bingung.
“Ma..maaf saya tidak bermaksud menyentuhmu” cicit Tristan gugup.
“Hikss, Arkana kau kah ini? Benarkah ini dirimu?” isak Qania sambil membelai wajah Tristan.
Untuk sesaat Tristan merasa tersentuh dan menghiba pada gadis di depannya ini. Ia membiarkan Qania menyentuh wajahnya.
“Hikss terima kasih ya Allah karena Engkau sudah mengirimkannya kembali” tangis Qania namun masih membelai lembut wajah Tristan.
Bak dihipnotis, Tristan diam saja dengan perlakuan Qania terhadapnya.
Qania duduk dan menggenggam tangan Tristan, sontak hal tersebut menyadarkan pria itu dan menarik kembali tangannya yang digenggam oleh Qania.
__ADS_1
“Maaf nona, bukankah tidak sopan sembarangan menyentuh seseorang. Tadi saya sudah meminta maaf karena tidak sengaja menyentuh anda tapi tolong jangan menyentuh saya seperti ini. Saya tidak nyaman” ucap Tristan pelan namun begitu menohok di hati Qania.
“Arkanaa” panggil Qania lirih.
“Arkana?” Tristan memundurkan kepalanya dan menautkan kedua alisnya karena bingung siapa yang dipanggil oleh wanita di depannya ini.
“Kau Arkanaku hikss” tangis Qania berusaha untuk memeluknya namun dengan cepat Tristan menghindar.
“Maaf nona anda salah orang, saya Tristan Anggara bukan Arkana” sentak Tristan.
“Tidak mungkin, kau adalah Arkana, Arkanaku, suamiku” sanggah Qania yang mulai histeris, ia tidak senang saat mendapat penolakan dari Tristan.
“Suami?” beo Tristan.
“Arkana ini aku Qania, istrimu. Mengapa kau meninggalkanku dan Arqasa?” tanya Qania menatap sendu kepada Tristan yang terus dibuat terkejut oleh Qania.
“Arqasa? Siapa lagi Arqasa itu?” tanya Tristan mulai frustasi.
“Anak kita, dia sudah besar dan hampir dua tahun. Kau tahu waktu kau meninggalkanku aku sedang hamil dua bulan. Aku tidak percaya kau yang meninggal pada kecelakaan waktu itu dan memang benar kau masih hidup. Lalu mayat siapa yang kami kuburkan waktu itu?” cerita Qania antusias dengan wajahnya yang terlihat mulai berseri.
Tristan menghembuskan napas kasar, dalam hati ia merutuki keputusannya untuk masuk ke kamar ini. Ia dibuat semakin frustasi dengan cerita wanita yang ternyata sudah menikah dan memiliki anak ini. Ia justru terjebak bersama wanita yang menurutnya sudah tidak waras. Ia pun berdiri untuk menjaga jarak dengan Qania.
“Maaf nona anda sepertinya salah orang. Saya tegaskan sekali lagi, saya ini Tristan Anggara dan saya belum menikah apalagi dengan wanita gila seperti anda. Saya punya tunangan dan dia sangat cantik dan cerdas, tidak seperti anda yang jelek dan juga tidak waras” sarkasnya membuat Qania tersentak.
“Hahaha benar, kamu memang benar. Kamu bukan Arkanaku, karena dia tidak akan sampai hati berbicara sekasar itu kepadaku. Sana kamu, pergi dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku”,.
Qania mengusir Tristan, ia tertawa getir saking ngilunya rasa dihatinya mendapat penghinaan seperti itu oleh seorang pria yang sangat mirip dengan suaminya hanya saja sikap mereka begitu berbeda.
“Tanpa anda suruh saya juga akan pergi, saya kemari hanya untuk mengembalikan ponselmu. Dan ya, saya sudah membayar tagihan rumah sakit ini dank au tidak perlu repot-repot untuk menggantinya karena mungkin kau tidak akan mampu” ejeknya kemudian meletakkan ponsel Qania di atas nakas.
“Haha orang kaya sombong” cibir Qania kemudian berbalik arah memunggungi Tristan.
‘Ini bukan halusinasi aku saja, ternyata dia nyata dan wajahnya itu sangat mirip dengan Arkanaku. Aku akan mencari tahu, ya akan kucari tahu siapa sebenarnya dia. Kalau pun ternyata hanya wajah mereka saja yang sama maka aku akan mundur karena dia hanya berwajah sama tapi bukan orang yang sama’,.
Tristan pun langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi kepada Qania. Dengan langkah tergesah-gesah ia berjalan keluar dan menabrak seseorang.
“Aww” pekik Lala yang jatuh terduduk di lantai.
Namun Tristan bukannya meminta maaf, ia malah langsung pergi berlalu begitu saja tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Lala yang sedang terbengang menatap punggung Tristan yang terus menjauh.
“Sombong amat sih jadi orang, semoga saja suatu saat nanti dia bakalan kena hukuman dari Tuhan” ketus Lala kemudian memunguti belanjaannya, lalu ia berdiri dan bergegas untuk masuk ke kamar rawat Qania.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗🤗