Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Menurut Ar Sih Aamiin


__ADS_3

Tristan menatap ponselnya yang terus berdering sedari tadi. Mungkin sudah empat kali panggilan dari nomor tak dikenal itu yang sama sekali tak berniat untuk ia tanggapi. Ia masih begitu lelah dan malas melakukan apapun. Satu hari ini pun tak ada kabar dari Qania. Dunia rasanya berputar begitu lambat dan ada-ada saja yang bisa membuat moodnya rusak hari ini.


“Sebenarnya siapa sih yang dari tadi teleponin gue mulu? Agen asuransi lagi? Atau apa?” gerutu Tristan.


Panggilan ke lima masuk. Tristan yang kesal pun mau tidak mau menjawabnya juga. Kemungkinan jika orang terus


menelepon biasanya ada hal penting yang ingin disampaikan.


“Sia—“


“Assalamu’alaikum, dengan Om Tristan?”


Tristan terdiam. Siapa yang meneleponnya dan juga memanggilnya dengan sebutan Om? Tristan pun tak menyahut hanya mencoba mendengarkan saja suara anak laki-laki itu berbicara.


“Apakah benar ini dengan Om Tristan? Aku nggak salah nomor telepon kan?”


Lagi, bocah itu bertanya dan Tristan yang sama sekali tak mengenali suara itu pun akhirnya menjawab juga. “Iya, ini dengan saya sendiri.”


“Om, ini aku Arqasa.”


Degg …


Arqasa? Pernah dengar nama itu tapi dimana? Batin Tristan.


“Anaknya Mami Qania dan Daddy Arkana.”


Tristan memelototkan matanya. Ia tentu saja terkejut kenapa calon anak sambungnya itu tiba-tiba meneleponnya malam-malam begini.


“Oh kamu Nak, ada apa? Kamu apa kabar?” tanya Tristan penuh perhatian. Arqasa yang sedang berada di kamar


neneknya pun tak kuasa membendung senyumannya karena mendapat pertanyaan seperti sebuah perhatian itu.


“Baik kok Om. Om sendiri gimana kabarnya?”


Sangat baik, Arqasa, batin Tristan.


“Sama sepertimu. Oh ya, ada apa menelepon Om? Mami kamu baik-baik saja kan?” cecar Tristan, bagaimana pun ia memang merasa heran mengapa bocah itu tiba-tiba meneleponnya.


“Mami baik kok Om. Emang harus ada apa-apanya ya kalau mau menelepon?”


Pertanyaan Arqasa sukses membuat Tristan kehabisan kata-kata.


“Om masih mendengarku, kan?”


“I-iya masih kok Nak. Enggak sih, Om cuma heran aja kenapa Arqasa tiba-tiba menelepon Om. Lagi pula kalau kamu mau menelepon kapanpun itu bukan masalah,” ucap Tristan.


Apalagi kalau kamu mau mendukung niat Om buat jadi Daddymu, waah itu adalah hal yang sangat menyenangkan bukan? Lanjut Tristan dalam hati.


“Aku merindukan Om Tristan.”


Suara itu terdengar lirih di telinga Tristan. Ia paham benar bahwa anak ini pasti melihatnya sebagai sosok Ayah-nya karena wajah mereka yang sama.


“Om juga rindu kamu. Kenapa baru sekarang meneleponnya? Om udah nungguin lama lho kabarnya Arqasa,” ucap Tristan menghibur, ia pun merasa sedih mendengar suara lirih itu.


“Om, kapan Om datang ke rumah Ar? Ar ingin mengenalkan Om sama Kakek Zafran, Kakek Setya dan Nenek. Ar menunggu kedatangan Om Tristan lho.”


“Beberapa hari yang lalu Om datang kok, tapi Ar nggak ada,” jawab Tristan, ia merasa mulai akrab dengan


bocah ini.


“Huaaa … kalau tahu Om bakalan datang aku kan nggak ikut sama Kakek Nenek.”


Tristan terkekeh, “Memangnya kalau Om besok datang, Ar mau bantuin ketemu sama Mami?” tanya Tristan


memancing.


“Tentu saja. Om kan calon Daddy-nya Ar. Eh upsss ….”


Bagai diterpa angin segar, Tristan seolah mendapatkan jackpot mendengarkan ucapan Arqasa. Tak ingin menyia-nyiakan keadaan maka Tristan pun memanfaatkan momen ini untuk menanyai bocah itu.

__ADS_1


“Memangnya kamu mau kalau Om jadi Daddy kamu?” tanya Tristan namun tak ada jawaban.


“Hallo?”


“Se-sebenarnya aku sangat ingin Om. Tapi aku nggak mau maksa kalau Om nggak mau.”


Tentu saja gue mau, bocah. Ahh, malam kali ini terasa sungguh indah.


“Om sih sangat mau menjadi Daddymu, tapi Mamimu tidak menyukai Om,” ucap Tristan mendramatisir keadaan.


“Akan aku paksa Mami, Om. Yang penting itu Om mau jadi Daddy aku. Kalau masalah Mami itu gampang.”


Tentu, tentu saja Om ini sangat mau dan ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Oh Tuhan, sepertinya sepertiga malamku tadi sudah Engkau kabulkan. Betapa ini sangat menggembirakan, pekik Tristan dalam hati.


“Om sangat berterima kasih kalau kamu bisa membantu Om. Om ini sudah sangat lama menyukai Mamimu. Dan jika kau ingin Om jadi Daddymu, mulai sekarang panggil Om dengan sebutan Daddy.”


“Siap Daddy. Tapi Daddy jangan bilang ke Mami kalau aku nelepon Daddy. Tadi aku minta buat Mami bujukin Daddy biar mau jadi Daddy-nya Ar, tapi Mami nggak jawab-jawab sampai sekarang Dad.”


“Oke. Ini misi kita berdua ya. Daddy harap kita akan segera menjadi sepasang Ayah dan anak. Bagaimana menurutmu?”


“Menurut Ar sih Aamiin Om.”


“Anak pintar. Memang harus diaamiinin ini mah.”


Tristan dan Arqasa terkekeh bersama. Kemudian mereka mengobrol biasa menanyakan kesibukan sehari-hari.


Mereka sangat cepat mengakrabkan diri dan Arqasa, bocah itu sangat bahagia dan begitu bersemangat menceritakan kesehariannya serta menggosipkan Maminya.


“Anak itu sedang mengobrol dengan siapa?”


Alisha yang baru saja masuk ke kamar dibuat heran dengan Arqasa yang sedang asyik mengobrol di telepon. Bahkan cucunya itu sesekali merajuk dan tertawa. Ia ingin menanyakan tapi nanti saja setelah panggilan tersebut berakhir.


Arqasa yang melihat kedatangan Nenek-nya seketika menjadi malas. Ia masih ingin mengobrol banyak tapi sudah ada pengganggu suasana katanya.


“Ya sudah Dad, aku mau ke Mami dulu. Ingat janjinya ya Dad,” bisik Arqasa agar Nenek-nya tidak mendengar.


“Baik sayang. Selamat malam anak kesayangan Daddy.”


“Wa’alaikum salam.”


Alisha mendekati Arqasa yang masih duduk menyandar di ranjang. Ia sangat penasaran dengan siapa tadi cucunya


itu berbicara di telepon.


“Ar teleponan sama siapa Nak?” tanya Alisha dengan lembut, ia ikut duduk di tempat tidur.


“Teman sekolah Nek. Aku kan udah lama absen, pasti Ar ketinggalan banyak. Untung saja Ar sudah bisa membaca


meskipun hanya mengeja,” jawabnya dan sangat pandai berbohong.


“Oh, benar juga. Kamu terlalu banyak liburnya. Untung kamu pintar Nak. Ingat, senin nanti sudah harus masuk sekolah ya,” ucap Alisha.


“Pasti Nek.”


Arqasa pun berpamitan kepada Nenek-nya untuk keluar dan meminta Syaquile untuk mengantarnya ke rumah Elin. Qania sudah lebih dulu berada disana, ia ingin menyibukkan diri mempersiapkan pernikahan Elin besok.


Tadi, saat Qania sedang ikut mempersiapkan makan malam, Arqasa diam-diam mencari nomor kontak Tristan. Awalnya ia kesulitan karena harus mengenal satu per satu huruf di kontan itu. Ia belum pandai membaca, mengeja pun belum begitu lancar. Hingga akhirnya ia meminta bantuan Pak Roni untuk mencarikan nomor ponsel Tristan.


“Pak, tolong carikan nomor telepon temanku yang namanya Tristan di ponsel Mami. Aku ingin menanyakan tentang PRku. Dan tolong pindahkan ke hpku juga ya.”


Seperti itulah tadi Arqasa meminta Pak Roni untuk membantunya, ia begitu pandai bersandiwara hanya untuk


melancarkan aksinya agar bisa mendapatkan Daddy seperti Daddy-nya.


Syaquile nampak bingung melihat Arqasa yang terus tersenyum. Ia merasa bocah ini seperti sedang jatuh cinta


namun mana mungkin anak seusianya jatuh cinta. Syaquile pun mengabaikannya dan langsung mengantarkan Arqasa ke dalam rumah Elin. Ia kembali ke luar untuk membantu para tetangga yang sedang sibuk mengurus persiapan acara besok.


Sementara itu, di rumahnya Tristan tengah melompat kesenangan karena sudah mendapat pendukung garis keras, anak dari wanita pilihannya. Tak henti-hentinya ia tersenyum dan tertawa saking bahagianya ia malam hari ini.

__ADS_1


“Restu anak sudah ditangan. Tinggal menaklukkan Mami-nya lagi. Hah, aku akan berjuang bersama Arqasa untuk membujuk Mami-nya. Entah mengapa begitu mudah mengakrabkan diri dengan bocah itu. Apalagi saat dia manggil gue Daddy, rasanya ada yang bergetar di dalam sini. Kau tunggu saja Qania, bagaimana dua pria ini akan membuatmu tak bisa menyuarakan kata tidak. Tidak ada pilihan untuk menolakku lagi,” ucap Tristan sambil terus


tersenyum.


“Nanti, ketika aku jadi Daddy-nya maka tidak akan ada yang tahu kalau aku adalah Daddy sambungnya mengingat wajah kami begitu mirip. Ah, aku seperti melihat potret diriku versi bocah di wajah anak itu. Aku jadi rindu lagi ingin mengobrol dengannya. Apa aku telepon lagi ya? Tapi baru saja lima menit yang lalu kami berbicara. Apa katanya nanti. Sebaiknya aku turun dan makan dulu, lalu mengganggu Qania. Sepertinya itu akan sangat menyenangkan, hehe.”


Tristan pun memutuskan untuk makan malam, ia dengan wajah berseri-seri menuruni anak tangga membuat bi Ria


yang sedang menata makan malam pun jadi ikut tersenyum melihat ekspresi wajah Tristan.


“Selamat malam Den,” sapa bi Ria.


“Malam Bi. Oh ya, panggil Pak Yotar kemari. Kita akan makan malam bersama. Aku sedang sangat bahagia malam


ini. Aku ingin kalian juga turut merasakannya bersamaku,” ucap Tristan kemudian duduk di kursinya.


Meskipun tak sepenuhnya paham, tapi Bi Ria langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Tristan. Tak lama


kemudian suami istri itu datang dan mendapati Tristan belum juga makan.


“Mari kita makan malam bersama. Aku ingin merayakan malam special ini bersama keluarga terdekatku. Jangan sungkan-sungkan, oke,” ucap Tristan kemudian mulai menyendokkan nasi ke dalam piringnya beserta lauk-pauknya.


Pak Yotar dan Bi Ria pun langsung ikut duduk. Mereka menikmati makan malam tanpa berbicara satu kata pun. Tentu saja keduanya menunggu Tristan yang akan mengutarakannya. Seusai mereka makan malam


bersama, Tristan tak beranjak dari sana. Ia meletakkan tangannya saling menindih di atas meja kemudian memasang senyuman manisnya sambil menatap Bi Ria dan Pak Yotar bergantian.


“Besok aku akan berangkat mengejar wanita yang aku pilih Bi, Pak. Doakan saya, semoga usaha saya tidak sia-sia.


Kalian satu-satunya keluarga saya yang saya jadikan tempat untuk membagi perasaan. Saya paham benar hanya kalianlah yang paling mengerti perasaan dan keadaan saya.”


Tristan berucap dengan penuh kelembutan membuat Bi Ria tak kuasa membendung air matanya. “Apakah Den Tristan ingin pergi mengejar cinta Non Qania?” tanyanya dengan suara serak menahan tangis.


Tristan mengangguk, “Benar Bi. Saya akan mengejarnya. Selama ini saya tidak merasakan perasaan seperti ini terhadap Marsya. Perasaan menggebu-gebu saat mendengar namanya. Saya ingin mengejarnya dan menjadikannya milikku Bi. Tolong doakan saya. Dan tolong doakan juga agar saya bisa secepatnya terlepas dari belenggu Marsya. Saya tidak akan sanggup menjalani ini semua Bi, Pak. Saya hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama orang yang saya cintai, saya lelah dalam kepura-puraan ini. Saya ingin bebas meraih apa yang ingin saya raih.” Tristan mengeluarkan isi hatinya, ia terlihat begitu rapuh tatkala mengatakan ingin bebas dan juga lelah dalam menjalani sandirwara cintanya bersama Marsya.


“Tapi apakah menurut kalian saya bersalah dalam hal ini? Saya sudah mempermainkan Marsya saat ini. Apakah semua tindakanku ini salah?” tanya Tristan, ia memukul dadanya yang terasa begitu sesak. “Secara sadar saya tahu ini semua salah dengan mempermainkan hatinya. Tapi ini diluar kendaliku Bi, saya tidak bisa mengontrol dan memerintahkan perasaan ini. Semua mengalir dan bahkan berjalan diluar kendaliku,” isak Tristan.


“Tidak salah Den, tidak salah. Aden hanya ingin memperjuangkan perasaan Aden. Tidak ada yang bisa mengendalikan keinginan hati ini. Itu semua kuasa sang Maha Membolak-balikkan hati manusia, Den. Kejar Den, kejar cinta non Qania. Bibi bisa melihat kebahagiaan dari kebersamaan kalian. Bibi sangat mendukung dan akan berdiri di barisan terdepan untuk mendukung cinta kalian. Jangan ragu, lepaskan saja semua ini dan hiduplah dengan damai dan bahagia. Jangan menyiksa diri Aden sampai sejauh ini.” Tangis Bi Ria pecah, ia begitu menyayangi Tristan dan bisa melihat betapa tersiksanya majikannya itu setelah bertunangan dengan Marsya sementara hatinya sudah


menemukan pemiliknya.


“Bapak juga mendukung keputusan Den Tristan. Janganlah menyiksa diri dengan terus berpura-pura. Jangan terlalu jauh membawa sandiwara ini Den. Bukan hanya Aden yang akan terluka, tapi non Marsya dan non Qania juga. Ikuti kata hati Aden,” timpal Pak Yotar.


Tristan menghapus air matanya, ia tersenyum lega karena kedua orang yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri ini sangat mendukungnya.


“Baiklah Pak, Bi, setelah kami kembali dari luar negeri saya akan mengatakan yang sebenarnya kepada Marsya. Entah seperti apa nanti reaksinya, yang terpenting saya sudah berkata jujur padanya. Kejujuran haruslah diungkapkan meskipun akan memberikan kepahitan. Tapi dengan jujur kita pun juga mendapat kelegaan. Terima kasih Bi, Pak. Oh ya, besok saya akan menyusul Qania ke rumahnya. Saya akan menemui keluarganya dan akan memintanya dengan baik-baik. Saya tidak akan pulang jika tidak mendapatkan kata setuju dari mereka," ucap Tristan dengan begitu bersemangat. Bahkan seringainya cukup membuat Pak Yotar dan Bi Ria merinding.


“Bibi dan Bapak pasti akan mendoakan semua yang terbaik untuk Aden. Pokoknya Aden harus berjuang untuk


membawa non Qania pulang ke rumah ini,” timpal bi Ria.


“Terima kasih Bi. Saya pastikan Qania akan segera datang dan menjadi nyonya di rumah ini. Saya permisi dulu,


saya harus mempersiapkan diri untuk membujuk wanita keras kepala itu besok,” ucap Tristan kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamarnya.


Bi Ria dan Pak Yotar saling berpandangan. Mereka saling menggenggam tangan mereka dengan tatapan yang hanya mereka berdualah yang memahami artinya.


“Pak, Ibu sangat menanti hari itu tiba. Ternyata mereka memanglah berjodoh Pak. Tuhan memang memiliki rencana


yang unik kepada mereka berdua. Ibu jadi sangat terharu,” lirih bi Ria.


“Ibu pikir Bapak tidak menantikan hari itu tiba. Jika saja itu tidak menyiksanya maka sudah lama Bapak akan


berbicara pada Den Tristan tentang yang sebenarnya,” ucap Pak Yotar dengan tatapan penuh rasa bersalah.


“Kita hanya perlu menjaganya Pak. Bagaimana pun dia yang sudah memberikan kita kehidupan baru dan menyekolahkan Wawan hingga ke perguruan tinggi,” ucap Bi Ria.


“Kita juga berhutang banyak kepada mereka Bu. Jangan lupa jika bukan mereka maka ibu sudah pasti akan


kehilangan Bapak dan Wawan,” ujar Pak Yotar.

__ADS_1


“Benar Pak. Kita hanya bisa pasrah dan membiarkan Tuhan yang memandu cinta mereka,” timpal Bi Ria kemudian ia berdiri dan membereskan sisa makanan dan peralatan makan yang tadi mereka gunakan.


......................


__ADS_2