
Di dapur saat ini tengah terdengar gelak tawa yang begitu ramai padahal jika dilihat hanya ada dua orang disana. Hanya ada Bi Ochi dan menantu rumah ini, Qania. Seperti biasa, keduanya pasti akan mengobrol dan bercanda serta tak lupa Bi Ochi menyelipkan gossip hangat seputar warga kompleks dalam obrolan mereka dan Qania pun ikut saja menimpali padahal ada juga yang tidak dikenalnya dalam pembahasan Bi Ochi.
“Jadi istilahnya kolombus Non,” ucap bi Ochi.
“Apa tuh kolombus Bi?” tanya Qania penasaran.
“Kolombus, kelompok ibu-ibu tukang bungkus, hahaha.”
Qania tertawa sampai mengeluarkan air matanya. Yang sedang mereka bahas adalah istilah baru di pesta dimana kalau ada makanan lebih pasti akan dibungkus oleh para tetangga dan mereka yang membungkus makanan lebih itu mempunyai julukan yaitu kolombus, kelompok ibu-ibu tukang bungkus.
“Ya ampun, ya ampun bi. Dapat istilah darimana sih?” ucap Qania masih terus tertawa.
“Nggak tahu Non, tercetus gitu aja, hehe.” Jawab bi Ochi.
“Haha, ada-ada aja ya,” ucap Qania kemudian ia memindahkan nasi goreng dari wajan ke mangkuk besar. “Hmmm, nasi goreng Bi Ochi sangat-sangat menggugah selera. Ayo makan Bi, panggil Pak Anwar juga,” ucap Qania sambil membawa dengan semangat semangkuk besar nasi goreng.
“Non Qania makan saja dulu, Bibi masih harus bersih-bersih rumah. Pak Anwar juga sedang pergi mengambil barang di kantor tuan, Non,” tolak halus Bi Ochi.
“Hmm, ya udah deh Bi,” ucap Qania kemudian memulai acara makannya seorang diri.
Sambil mengkhayalkan berbagai hal yang tentu saja bukan Tristan Anggara, Qania menghabiskan dua piring nasi goreng pagi ini. Setelah itu ia pun bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi lalu pergi ke rumah orang tuanya untuk menemui Syaquile.
Namanya juga Qania, tentu saja tidak sejalan seperti apa yang tadi ia rencanakan di meja makan untuk langsung mandi. Terbukti saat ini ia malah sedang bermalas-malasan di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Bukan melihat media social, melainkan mengecek nilainya sudah keluar atau belum karena sebentar lagi akan masuk semester ketujuh.
“Pengurusan mulai minggu depan ya? Aku balik atau nanti aja ya?” gumam Qania sambil berpangku dagu dengan satu tangannya yang berada di sadaran sofa.
“Ngomong-ngomong soal semester tujuh, dulu sebelum aku berangkat KKN kan aku sempat ujian proposal dulu ya. Gimana kalau aku minta rekomendasi untuk ujian proposal sebelum magang? Biar satu beban terlewati gitu,” ucapnya lagi kemudian langsung mencari kontak Pak Agus Setiawan, dosen walinya.
Qania masih ragu untuk menghubunginya. Kembali teringat akan istri dari dosen walinya itu membuat Qania mengurungkan niatnya. “Apa yang dimaksud bu Maharani ya? Ada hubungan apa antara dirinya, Tristan dan keluarga Alvindo?” gumam Qania lagi yang teringat akan ucapan Bu Maharani terakhir kali Qania bertemu.
Qania terus berpikir bahkan cukup lama ia berpikir apa yang harus ia lakukan sampai akhirnya ia teringat akan Pak Erlangga. “Telepon Pak Dekan aja deh, dia kan punya misi untukku saat magang. Mungkin saja aku bisa membujuknya untuk menyetujui keinginanku ini. Ya, telepon Pak Erlangga sekarang.”
Qania pun langsung mencari kontak Pak Erlangga yang ia namai Pak Dekan itu. Langsung berbunyi nada sambung namun belum di jawab. Qania mendesah, ia ragu untuk menelepon kedua kalinya namun ponselnya justru berbunyi dan itu dari Pak Dekan alias Pak Erlangga.
“Assalamu’alaikum Pak,” ucap Qania memberi salam.
“Wa’alaikum salam. Ada apa Qania?” tanya Pak Erlangga.
“Maaf mengganggu waktu Bapak, saya hanya sekadar ingin bertanya saja,” ucap Qania canggung.
“Saya tidak sedang sibuk Qania. Ada apa? Katakana saja.”
“Begini Pak, kurang dari dua minggu lagi kan kami akan turun buat magang. Saya berniat ingin menyelesaikan ujian proposal terlebih dahulu sebelum magang. Agar supaya nanti saya sudah melewati tahap ujian awal. Kalau bisa sih Pak,” ucap Qania kemudian menggigit bibir bawahnya.
“Tentu saja. Itu bisa diatur. Kau datanglah ke kampus dan urus berkas untuk mengikuti ujian proposal.”
Ke kampus? Yang benar saja, aku sedang sangat-sangat jauh dari kampus. Batin Qania.
“Baik Pak,” jawab Qania pasrah.
“Kalau saya pikir-pikir benar juga idemu itu untuk ujian terlebih dahulu. Nanti malam saya tunggu di rumah, kita akan membahas magangmu.”
What the hell? Nanti malam? Yang benar saja Pak. Saya sedang berada di daratan yang berbeda dengan pulau anda saat ini. Qania berteriak dalam hati.
“Saya akan usahakan Pak,” ucap Qania lesu.
“Ya sudah, saya tunggu ya. Ada banyak hal yang akan kita bicarakan. Selamat pagi.”
“Selamat pagi Pak.”
Qania langsung bersandar lesu di sofa begitu panggilan berakhir. Beberapa kali ia mengambil napas kemudian menghembuskannya dengan kasar.
“Ini gimana ya? Masa aku harus berangkat hari ini,” gumam Qania sambil menutup mata dan tangannya memijat pelipisnya. “Sebaiknya aku mandi, mungkin setelah menyegarkan badan pikiran juga bisa ikutan segar.”
Qania pun berjalan menuju kamar mandi, ia memutuskan untuk cepat mandi agar bisa cepat berpikir dan mencari cara. Tidak ingin membuang-buang waktu, pikirnya.
. . .
“Arkana,” panggil Raka dan Tristan yang sedang berjalan masuk ke kafenya pun menoleh karena mendengar nama yang sangat tidak asing baginya disebut.
Tristan mengernyit, ia bingung mengapa Raka memanggilnya Arkana. Ia menyimpulkan bahwa memang dirinya lah yang dipanggil oleh Raka karena tidak ada orang lain lagi. “Gue?” tunjuk Tristan pada dirinya sendiri.
“Ya elo lah, emang siapa lagi,” ucap Raka songong sambil berjalan ke arah Tristan.
Tristan tersenyum tipis sebelum kembali membuka suara. “Gue Tristan Anggara yang entah kesialan atau keberuntungan sehingga gue bisa berwajah sama seperti Arkana,” ucap Tristan kemudian terkekeh pelan.
“Gue mau ngomong sama lo,” ucap Raka kini dengan datar tanpa ekspresi lagi di wajahnya.
__ADS_1
“Masuk,” ucap Tristan mengajak Raka masuk ke kafenya.
Keduanya pun langsung masuk ke dalam ruangan Tristan. Sejenak Raka memperhatikan sekelilingnya kemudian duduk di depan Tristan yang dibatasi meja untuk keduanya.
“Jadi, lo mau ngomong apa?” tanya Tristan dengan melipat kedua tangannya di atas meja.
“Gue mau ngomong soal elo. Gue yakin seribu persen kalau elo itu memang adalah Arkana, Arkana Wijaya,” tandas Raka.
Tristan mengangkat sebelah sudut alisnya, kemudian ia terkekeh lagi. “Lo lagi mimpi?” tanya Tristan mengejek Raka.
“Sekarang lo boleh remehin gue, lo boleh cibir atau ketawain gue. Tapi saat ucapan gue bisa dibuktiin, lo yang bakalan diam dan bahkan sujud syukur ke gue,” tandas Raka.
“Apa yang buat lo mikir gitu?” tanya Tristan, kali ini ia memutuskan untuk serius karena melihat ekspresi saingannya ini sangat serius.
“Lo nggak perlu tahu. Yang jelas gue bakalan buktiin kebenaran dari ucapan gue barusan,” ucap Raka sambil mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja.
“Apa itu artinya lo udah nyerah buat dapatin Qania?” tanya Tristan memastikan.
“Menyerah? Gue sama sekali nggak nyerah untuk mendapatkan hati Qania. Lebih tepatnya gue mengalah. Gue udah nggak bisa maksain keadaan. Dulu gue selalu berjuang agar terlihat dan tersentuh olehnya. Tapi sampai saat ini tetap saja sama, gue tidak lebih hanyalah sekadar teman biasa. Dulu, gue udah berusaha meluluhkan hatinya. Hampir berhasil. Tapi dia berubah setelah elo masuk ke kehidupannya. Gue nggak ngalah sama lo. Gue ngalah sama Arkana. Cinta Qania buat Arkana itu nggak ada yang bisa nandingin kecuali cinta Arkana ke Qania.” Meskipun dadanya terasa sesak, namun Raka tetap berkata dengan sangat tenang sambil menatap Tristan.
“Tapi dia juga nolak gue, kan? Itu tandanya gue bukan Arkana karena Qania nggak ngerasa gue itu adalah Arkana,” ucap Tristan lesu.
“Lo udah tanyain ke Qania atau ini hanya ucapan yang sekadar lolos dari bibir lo aja? Lo pernah nggak ngerasa Qania begitu baik dan menatap lo penuh cinta? Atau lo pernah nggak sekali aja tanyain hati lo, sesayang apa lo sama Qania?” tanya Raka mencoba memancing perasaan Tristan.
“Gue nggak tahu. Dia memang sih sering mandang gue penuh cinta, tapi gue tahu tatapan itu tertuju pada Arkana. Kalau perasaan gue, lo nggak usah raguin lagi karena gue sangat sayang padanya,” jawab Tristan mantap.
“Kenapa lo bisa sayang sama Qania? Bukannya lo punya calon istri? Dan bukannya dulu lo sering hina Qania?” tanya Raka. Sebenarnya ia begitu sakit mendengar jawaban Tristan tentang tatapan cinta Qania yang tak pernah ia dapatkan. Ia juga merasa sakit mendengar pengakuan cinta dari saingannya untuk wanita yang juga ia cintai. Namun Raka mencoba untuk mendewasai hal ini.
“Itu yang masih jadi tanda tanya besar ke gue. Gue nggak tahu, perasaan itu tiba-tiba muncul gitu aja. Gue nggak tahu. Gue juga bahkan lupa kalau ada Marsya disamping gue. Gue nggak tahu,” ucap Tristan yang juga merasa kesal akan dirinya sendiri.
“Jawabannya hanya satu,” ucap Raka sambil tersenyum kecut.
“Apa?”
“Lo itu Arkana Wijaya,” ucap Raka.
“Lo ngotot banget bilang gue Arkana Wijaya. Kalau seandainya gue adalah dia, kenapa gue nggak ingat sama sekali tentang Qania. Kalaupun gue amnesia, pasti saat ketemu Qania gue bisa sedikit ingat bayang-bayang tentang dia. Atau gue merasa pernah terjadi sesuatu antara gue dan Qania. Tapi ini enggak. Nggak sama sekali. Qania itu terasa asing buat gue, tapi gue gampang banget jatuh cinta ke dia. Perasaan gue terjalin begitu aja tanpa gue duga. Lo salah besar kalau bilang gue adalah Arkana!” ucap Tristan menjabarkan perasaannya.
“Tapi gue bakalan buktiin kalau elo adalah Arkana. Lo nggak pernah tahu mungkin saja dibelakang lo ada konspirasi besar yang nggak pernah lo pikirkan selama ini. Mungkin lo dengar gue ngomong ini bikin lo merasa aneh atau sangat lucu. Lo boleh ngetawain gue. Tapi gue yakin dengan apa yang gue yakini. Sama seperti keyakinan gue ke Tuhan.”
Tanpa menunggu ucapan Tristan, Raka langsung berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Tristan yang sedang terdiam dengan ucapan Raka. Bukan tentang tekad Raka, tetapi ucapannya yang begitu yakin hingga membawa-bawa nama Tuhan. Tristan pun menjadi gusar sendiri memikirkan keyakinan yang tidak main-main dari Raka.
Apa benar gue adalah Arkana? Tapi itu rasanya mustahil. Tapi jika memang seperti itu kebenarannya, maka gue bakalan bantu lo buat nyari jati diri gue. Hanya saja, sejauh ini gue nggak pernah ngerasa menjadi seorang Arkana Wijaya. Gue ya gue, Tristan Anggara.
“Assalamu’alaikum Ma, Pa, anak Mami tersayang,” ucap Qania saat ia baru saja melihat keempat wajah yang sedang ia rindukan lewat sambung video call.
“Wa’alaikum salam sayang,” balas Alisha yang memegang ponsel.
“Ma, arahkan ke wajah Ar,” pinta Qania.
“Halo Mami sayang. Ar rindu Mami,” ucap Arqasa yang tengah memakan ice cream.
“Kalau rindu pulang dong,” ucap Qania merengek.
“Besok malam kami pulang kok,” ucap Zafran.
“Kalian lagi dimana? Kok rame?” tanya Qania yang memang memperhatikan suasana di layar hpnya tersebut.
“Lagi di kedai ice cream,” jawab Zafran.
“Oh pantas. Oh iya Pa, Qania izin boleh?” tanya Qania ragu-ragu.
“Izin untuk apa?” kali ini Setya yang sedang sibuk dengan ponselnya angkat suara.
“Em itu Pa, tadi Qania dapat telepon dari Dekan fakultas Qania. Katanya hari ini dia nunggu Qania di kampus untuk menguru ujian. Qania akan ujian proposal sebelum magang. Gimana ya Pa?” tanya Qania, ia sebenarnya ragu jika mendapatkan izin mengingat baru beberapa hari pulang ke rumahnya.
“Memangnya harus?” tanya Setya.
“Iya Pa. Katanya ada beberapa hal yang dia ingin bicarakan. Salah aku juga sih nggak ngasih tahu kalau aku udah pulang kampung. Gimana dong Pa?” tanya Qania lagi, ia benar-benar sedang malas berpikir sehingga memakai jurus merengek.
“Ya sudah berangkat saja. Ajak Syaquile bersamamu. Berapa lama sih? Elin mau nikah tuh?” tanya Zafran.
“Besok malam Qania pulang Pa,” jawab Qania.
“Ya sudah. Ajak Syaquile atau tidak sama sekali,” tandas Zafran.
“Baik. Makasih Pa. Qania sayang kalian.”
__ADS_1
“Kami juga menyayangimu.”
Klik.
Panggilan berakhir dan Qania langsung mengecek jadwal penerbangan ke kota Y untuk hari ini. Jadwalnya ternyata pukul dua siang dan saat ini sudah pukul sebelas siang. Qania pun langsung menghubungi Syaquile untuk memberitahukan perihal keberangkatan mereka.
Setelah Syaquile menyetujuinya, Qania pun merasa lega. Ia langsung menelepon Pak Erlangga dan mengatakan bahwa ia tidak bisa datang hari ini sebab sebenarnya ia sedang liburan namun tak memberitahukan dia sedang berada di rumahnya saat ini.
“Baik Pak. In syaa Allah besok pagi saya akan menemui Bapak di kampus.”
“Selamat siang kembali Pak.
Qania menyimpan ponselnya di dalam tas kecilnya kemudian ia turun ke lantai bawah untuk mencari bi Ochi. Namun setelah mencari ke dapur dan ke halaman belakang ternyata bi Ochi tidak ada. Ingin menelepon tapi Qania begitu malas untuk naik ke lantai dua mengambil ponselnya. Akhirnya Qania memutuskan untuk duduk di halaman belakang sambil mencelupkan kakinya ke dalam kolam renang.
“Ahh, bukannya malam ini ada acara pertunangan ya? Bagaimana kalau aku berikan dia kejutan aja ya? Hehehe … sepertinya bukan ide yang buruk untuk hadir di acara bahagianya,” ucap Qania cekikikan.
“Eh … tapi apa dia bahagia dengan pertunangannya? Bukankah dia selalu merengek memintaku untuk membatalkan pertunangannya. Apa aku bantu aja membatalkannya?” gumam Qania sambil terus berpikir.
Tiba-tiba saja ide jahat dan bisikan iblis berkoar-koar di telinga Qania. Ia sesekali tertawa dan juga mengumpat tak jelas saat berencana mengacau di acara pertunangan Tristan dan Marsya.
“Apa aku culik saja calon tunangan prianya? Sepertinya seru,” ucap Qania kemudian ia kembali tertawa.
“Sial! Kalau aku ngelakuin itu yang ada si Tristan malah besar kepala lagi,” ucapnya menyanggah idenya yang pertama.
“Apa aku hubungi dia aja ya? Kasih selamat gitu? Atau tiba-tiba aja datang ke acara pertunangannya dan bawain dia hadiah yang banyak terus kasih ucapan selamat berbahagia dan memperlihatkan tampang kalau gue sangat senang dia bertunangan. Ahh … rasanya gue udah nggak sabar melihat tampang kesalnya.”
Qania terus tertawa tanpa ia sadari dibelakangnya ada bi Ochi yang sedang memperhatikan tingkah anehnya.
“Non Qania kenapa tertawa sendirian ya?” gumam bi Ochi kemudian ia berjalan mendekat. Dipikirannya ia mengira Qania sedang kesurupan karena dari tadi terus tertawa kemudian mengumpat dan tertawa lagi padahal ia hanya seorang diri. Qania pun tidak sedang memegang ponsel jadi tidak ada yang dilihat atau di dengarnya saat ini.
“Non Qania,” panggil bi Ochi.
Qania yang sedang cekikikan terhenti dan menoleh ke belakang. “Eh bi Ochi. Darimana Bi? Saya nyariin lho dari tadi,” ucap Qania sambil menatap bi Ochi.
“Itu Non, Bibi dari warung. Non Qania ngapain disini? Kan panas Non,” ucap bi Ochi.
“Lagi ngilangin rasa bosan aja kok Bi,” ucap Qania kemudian menarik kakinya dari dalam kolam. Ia berdiri dan berjalan mendahului bi Ochi.
Syukurlah non Qania baik-baik aja, batin bi Ochi.
Keduanya pun kini sudah berada di dapur. Qania membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin. ia meneguknya setengah kemudian menatap bi Ochi yang sedang memperhatikan gelagatnya.
“Ada apa Bi?” tanya Qania. Ahh, apa tadi bi Ochi lihat kelakuan anehku yang tertawa sambil memaki Tristan? Hahaha, kerjain aja kali ya bi Ochi-nya, pikir Qania.
“Ti-tidak ada apa-apa Non,” jawab bi Ochi. Ia menjadi gugup karena ketahuan sedang memperhatikan nyonya mudanya.
“Bi, tadi aku nggak tahu. Emm aduh gimana ya cara ngomongnya. Tadi aku tuh lihat ada orang lagi berenang di kolam. Tapi waktu aku ke kolam kok tiba-tiba orangnya ngilang ya? Eh aku abis itu udah nggak sadar kalau aku udah duduk di pinggir kolam. Tadinya aku mau ke kebun anggur milik Papa. Kok bisa di kolam sih? Aneh kan Bi?” cerita Qania. Ia menahan tawa saat melihat wajah bi Ochi yang terlihat tegang sekaligus ketakutan.
“Yang benar Non?” tanya bi Ochi gemetar.
“Benar Bi? Emang ada ya orang yang suka datang buat mandi di kolam belakang?” tanya Qania, ia sangat ingin tertawa sekarang.
“A-ada sih Non. Emang yang Non lihat cirri-cirinya seperti apa?” tanya bi Ochi semakin gemetar.
“Bukan bocah juga sih Bi, kira-kira usianya empat sampai enam belas tahunan gitu. Laki-laki Bi,” ucap Qania mengarang bebas.
Hal yang tidak Qania duga pun terjadi. Bi Ochi hampir pingsan kalau saja ia tidak berpegang pada lemari.
“Eh Bibi kenapa?” tanya Qania panic, ia langsung mendekat dan menuntuk bi Ochi menuju ke kursi ruang nonton.
Bi Ochi langsung duduk bersandar sambil mengatur napasnya. Qania berlari ke dapur dan mengambilkan segelas air untuk bi Ochi. Bi Ochi pun langsung meneguk habis air tersebut lalu kembali mengatur napasnya.
“Bibi kenapa?” tanya Qania sambil menatap khawatir pada asisten rumah tangganya itu.
“I-itu beneran non Qania lihat anak itu?” tanya bi Ochi memastikan.
Kening Qania mengerut, ia diam saja tak ingin menjawab. Ia hanya butuh jawaban dari bi Ochi sekarang.
“Na-namany Badrun Non. A-anak itu memang suka bermain di kolam. Anak tetangga sebelah. Ta-tapi seminggu yang lalu anaknya udah meninggal Non,” cerita bi Ochi dengan bibir bergetar.
Deggg ….
Kali ini gatian Qania yang merasa seperti terkena serangan jantung. Tak di sangka leluconnya justru adalah sebuah kebenaran. Tiba-tiba saja ia merasa bulu kuduknya merinding. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkan ataupun mengatakan bahwa tadi ia hanya bercanda saja.
Sial! Kenapa jadi aku yang merasa takut sekarang. Niatnya ingin mengerjai jadinya aku yang mengerjai diriku sendiri, umpat Qania dalam hati.
Merasa seperti sedang di awasi, Qania memberanikan diri mengedarkan pandangannya.
Duaarrr …
Jantung Qania seolah akan melompat keluar saat melihat ada bayangan bocah yang sedang berdiri di pintu samping yang mengarah ke kolam renang sambil tersenyum padanya. Karena tidak kuat dengan apa yang ia lihat akhirnya Qania pun jatuh pingsan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...