Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Hasilnya


__ADS_3

“Kak, sudahlah. Aku ini tidak mau melihat kakak bersedih,” ucap Syaquile membujuk Qania yang masih membuang muka tak ingin menatapnya.


Qania hanya mendengus membuat Syaquile tersenyum lucu. Ia pun mendekati kakaknya dan duduk di atas ranjang.


“Kak, aku punya berita baik dan buruk untuk kakak. Dari kemarin aku ingin mengatakannya tapi karena kakak mengalami insiden ini aku mengurungkan niat untuk mengatakannya,” ucap Syaquile menatap Qania yang akhirnya menoleh.


“Apa?” tanya Qania yang penasaran. Ia yakin akan satu hal karena menurut hitungannya seharusnya hasilnya sudah ada.


“Kak, hasil dari penyidikan mengatakan bahwa mayat itu ....”


Syaquile dengan sengaja menggantung ucapannya karena ia begitu menikmati raut wajah penasaran sang kakak.


“Dek ihh ....”


“Mayat itu bukan kak Arka tapi itu adalah Arjuna Wilanata.”


Qania menutup mulutnya dengan satu tangannya, berita ini benar-benar membuatnya terkejut. Masih ada secercah harapan untuknya. Air mata Qania mengalir dengan deras.


“Kamu nggak bohong kan Dek?” tanya Qania memastikan.


“Enggak Kak. Kak Dennis juga sudah membawa tulang-belulangnya untuk di makamkan di tempat mereka. Kak, tinggal selangkah lagi untuk membuktikan dia itu benar kak Arka atau bukan. Kak, jika seandainya pun dia bukan kak Arka, kakak jangan kecewa. Kita akan mencari keberadaannya. Dengan kekuatan finansial dan Papa dan om Setya, kita pasti bisa Kak,” ucap Syaquile terus menyemangati sang kakak.


“Iya Dek. Setelah ini kakak akan mencari tahu tentang siapa sebenarnya Tristan. Jika terbukti dia memang bukan Arkana, maka Kakak akan mencari keberadaan Arkana dan mengambil sikap terhadap Tristan,” ucap Qania.


Tapi aku sangat yakin dia adalah Arkanaku.


“Kak, jika dia datang maka itu membuktikan bahwa dia memang serius sama Kakak. Jika dia tidak datang maka kakak harus berpikir mau melanjutkan hubungan dengannya atau tidak.”


Qania hanya mengangguk, dalam hati ia berharap Tristan akan datang.


“Aku mau mandi dulu Kak. Kakak beristirahatlah,” imbuh Syaquile.


Selepas kepergian Syaquile ke kamar mandi, Qania menatap ponselnya berharap Tristan menghubunginya namun ia harus menghela  napas kecewa beberapa kali karena yang ia harapkan tidak kunjung memberi kabar.


Aku harap kamu datang.


Di kantor polisi, Papa Setya kini sudah bersama dengan Julius dan Raka. Mereka sudah di bebaskan dan sekarang polisi bersiap untuk menangkap Pak Handoko di rumah sakit.

__ADS_1


“Kalian pulanglah. Saya akan menunggu disini,” ucap Papa Setya.


“Baik Om, terima kasih,” ucap Raka dan Julius hampir bersamaan.


Raka dan Julius pun pulang dengan dijemput oleh salah satu orang suruhan keluarga Pak Erlangga.


Sementara itu, seseorang yang tadi mencuri dengar pembicaraan antara Papa Setya dan polisi itu pun ikut membuntuti rombongan polisi hingga sampai di rumah sakit.


Setibanya di ruang rawat Pak Handoko, ia tak ikut masuk melainkan mengeluarkan kamera dari dalam tasnya serta memotret menggunakan ponselnya dan juga merekam kejadian di dalam.


“Selamat siang Pak Handoko,” sapa salah satu polisi.


“Siang Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Handoko dengan menahan rasa tegangnya.


“Kami datang membawa surat perintah penangkapan untuk Anda dengan tuduhan tindak kekerasan terhadap saudari Qania Salsabila Wijaya serta rencana pelecehan seksual padanya,” jawab polisi tersebut seraya memberikan surat perintah penangkapan.


Istri pak Handoko, asisten Revan serta pak Handoko sendiri terkesiap mendengar ucapan dokter tersebut. Dengan gemetar pak Handoko menerima surat tersebut.


“Mana mungkin suami saya melakukan hal tersebut Pak polisi,” sanggah istri pak Handoko.


“Bukti yang ada pada kami tidak bisa lagi dibantah Nyonya. Rekaman kejadian dimana Pak Handoko menganiaya saudari Qania Salsabila Wijaya serta percobaan pelecehan itu ada pada kami. Jadi kami mohon kerja samanya,” ucap polisi tersebut dengan tegas.


“Maaf nyonya, sebaiknya kita bahas itu di kantor nanti. Dan untuk wanita itu, kami sudah mendapat laporan bahwa kemarin ia sempat dinyatakan meninggal dunia setelah apa yang terjadi padanya. Apakah menurut Anda itu hanyalah sebuah jebakan untuk bunuh diri. Anak dari pengacara hebat serta pengusaha sukses sekelas Setya Wijaya terlalu gila untuk melakukan percobaan bunuh diri bukan?” ucap polisi tersebut dengan senyum tipis yang meremehkan Nyonya Handoko yang kini terhuyung ke belakang dan untung saja ada asisten Revan yang sigap menahannya.


“Bawa dia!” lanjut pak polisi tersebut memerintah bawahannya untuk meringkus pak Handoko.


Tanpa bisa berkata apa-apa lagi Pak Handoko menurut meninggalkan istrinya yang sedang meraung-raung. Sedangkan asisten Revan terdiam sambil menelaah apa yang sebenarnya terjadi dan apa motif dibalik kejadian ini. Ia kemudian segera menyusul ke kantor polisi.


Sementara itu, pria yang sebenarnya adalah seorang jurnalis itu melenggang dengan senyuman penuh kebahagiaan setelah mendapatkan berita besar.


“Bonus besar nih,” gumamnya kemudian segera mengendarai motornya menuju ke tempat kerjanya.


Di tempat berbeda, seorang pria yang sedang gelisah itu tak berhenti menggerutu dalam hati karena waktu begitu lambat berlalu. Ia sangat ingin segera pulang dan menemui pujaan hatinya. Ia bersandar di dinding di depan ruang rawat Marsya agar keluarga Marsya tidak curiga dengan sikapnya. Di tengah kegundahannya, tuan Alvindo keluar ruangan dan langsung menghampiri Tristan. Wajahnya tak kalah kusutnya.


“Tris, boleh Om minta tolong?” tanya tuan Alvindo.


Tristan menoleh, ia bisa melihat sebuah kegelisahan disana. Lebih dari kegelisahannya saat tadi melihat kondisi Marsya.

__ADS_1


“Bisa Om. Ada apa?” tanya Tristan, sedikit was-was jika saja keinginan tuan Alvindo ini menyangkut hubungannya dengan Marsya.


“Begini, Om ingin pagi ini juga kau pulanglah ke negara kita. Disini ada kami yang akan menjaga Marsya. Keadaan disana lebih mengkhawatirkan. Om bergantung padamu. Ditambah lagi Pak Handoko masuk rumah sakit dan belum lagi ia terkena masalah besar yang Om rasa akan berdampak pada perusahaan dan juga bisnis kita. Om minta tolong padamu untuk segera kembali. Kau tidak perlu mencemaskan Marsya karena ada kami disini. Bisa kan Tris?”


Ucapan tuan Alvindo seperti nyanyian surgawi yang terdengar di telinga Tristan. Ia hampir tidak bisa mengontrol dirinya. Untung saja ia masih sadar dan bisa menahan rasa bahagianya.


“Baik Om. Saya akan kembali pagi nanti. Kalau boleh tahu ada apa dengan Pak Handoko?” tanya Tristan sedikit penasaran karena yang ia tahu Pak Handoko adalah orang yang biasa menyelesaikan masalah, bukan yang tertimpa masalah mengingat kemampuannya salah bidang hukum.


“Hmm, dia terlibat kasus dengan salah satu pengacara hebat. Om sendiri tidak tahu ada masalah apa diantara mereka. Yang pasti ia dijebak dan salah satu dokumen pentingnya dicuri oleh menantu pengacara tersebut,” jawab tuan Alvindo yang tidak mungkin menceritakan hal sebenarnya. Bisa bahaya tentu saja untuk dirinya sendiri.


“Kalau seperti itu Pak Handoko memang benar-benar dalam masalah besar. Tapi ini pertama kalinya saya mendengar pengacara sekelas pak Handoko bisa tersaingi. Saya jadi penasaran pengacara mana yang mampu menantang pak Handoko,” gumam Tristan yang masih didengar oleh tuan Alvindo.


“Hehe, jangan kaget. Di atas langit masih ada langit. Dia salah satu pengacara hebat dan juga pengusaha sukses dari daerahnya. Bahkan jika dibandingkan dengan Pak Handoko, beliau masih jauh diatas pak Handoko. Hanya saja dia tidak melebarkan sayapnya ke pulau Jawa. Dia pengacara hebat dari Sulawesi,” ucap tuan Alvindo yang mana membuat Tristan segera menoleh. Ia merasa degdegan dan juga sudah menerka satu nama di benaknya. Hal itu semakin membuatnya gelisah.


“Su-sulawesi?” tanya Tristan.


“Ya. Tak banyak masyarakat di tempat kita mengenalnya. Tapi para pengacara dan juga ahli hukum sangat tak asing dengannya. Dia adalah Setya Wijaya. Ya sudah Om, masuk dulu ya, kau istirahat saja sebelum melakukan penerbangan nanti,” jawab tuan Alvindo kemudian masuk ke dalam ruangan.


Begitu tuan Alvindo masuk, tubuh Tristan luruh ke lantai. Apa yang ia pikirkan ternyata benar. Dan dalang dari kejadian yang hampir merenggut nyawa Qania adalah Pak Handoko. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Qania mencuri berkas dan menjebak Pak Handoko? Tujuannya apa? Pikir Tristan.


“Ini nggak boleh jadi, gue harus pulang.”


Dengan memikirkan kejadian demi kejadian membuat Tristan tak merasakan kini waktu telah berlalu dan jadwal penerbangannya tinggal setengah jam lagi.


Dengan cepat ia berpamitan kepada keluarga Marsya dan juga pada Marsya yang baru sadar sejam yang lalu. Meskipun berat tapi Marsya harus merelakan Tristan pulang. Papanya sudah menjelaskan alasan mengapa Tristan diminta untuk segera pulang.


“Hati-hati. Kabari jika sudah sampai,” ucap Marsya dengan terisak.


Tristan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Ia pun berpamitan lalu bergegas menuju ke bandara dengan menaiki mobil yang menjadi transportasi tuan Alvindo selama nanti ia berada di negara tersebut.


Begitu Tristan melangkah di bandara, sebuah notif masuk di ponselnya. Ia berhenti sejenak dan melihat jika itu adalah pesan dari anak buahnya.


“PENGACARA SUKSES TUAN HANDOKO DITANGKAP POLISI ATAS TUDUHAN PENGANIAYAAN DAN PERCOBAAN PEMERKOSAAN TERHADAP MENANTU PENGACARA SEKALIGUS PENGUSAHA SUKSES ASAL SULAWESI TUAN SETYA WIJAYA”


“KABARNYA MENANTU TUAN SETYA WIJAYA SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL DUNIA AKIBAT PENGANIAYAAN YANG IA TERIMA DAN SAAT INI MASIH DI RAWAT DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA Y”


Hampir saja Tristan menjatuhkan ponselnya setelah membaca berita tersebut. Dadanya terasa sesak membayangkan hal apa yang menimpa Qania.

__ADS_1


“Qan maafin gue. Gue nggak bisa jagain elo dan gue nggak guna. Lo hampir aja pergi ninggalin gue selama-lamanya,” isak Tristan. “Dan untuk Lo, gue pastiin Lo bakalan membusuk di penjara,” geram Tristan.


 


__ADS_2