Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Jangan bangunkan Singa yang sedang tidur


__ADS_3

Qania membayar air mineral yang dibelinya di mini market kemudian berjalan keluar. Saat ia keluar, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang yang tidak lain adalah Susan.


Susan membawa Qania ke samping gedung mini market yang memang sunyi.


"Tinggalin Arkana" tegas Susan.


Dengan kasar Qania menghempaskan tangannya yang dipegang oleh Susan.


"Lo tuli atau bisu hah, gue bilang tinggalin Arkana" bentak Susan dengan nada tinggi.


"Kalau gue nggak mau gimana?" tanya Qania sedikit kasar karena sejujurnya ia sudah geram bersikap baik dengan orang seperti Susan sehingga kata "gue" yang menurutnya agak kasar keluar dari mulutnya.


"Dasar wanita tidak tahu malu, gue lagi ngandung anaknya dan lo ngambil bapaknya" maki Susan dengan geramnya.


"Yang tidak tahu malu itu siapa, emang lo nggak malu waktu ngelakuin itu sama Arkana hah. Lo yang nggak tahu malu" tandas Qania sambil tersenyum menghina.


Tangan Susan bergerak akan menampar Qania namun dengan sigap Qania menangkisnya dan memegang erat tangan Susan.


"Gue bukan cewek lugu yang bisa lo tipu. Gue juga bukan cewek bodoh yang bisa percaya begitu saja dengan omongan lo tadi. Gue pergi bukan berarti gue kemakan sama omongan lo tadi. Dan lo harus ingat, sampai kapanpun gue nggak bakalan tinggalin Arkana" tegas Qania kemudian menghempaskan tangan Susan dengan kasar.


"Aww" ringis Susan.


"Gue bahkan bisa lebih sadis dari yang lo pikirin" ancam Qania.


"Lo pikir gue takut sama lo. Lo hanya wanita yang berpura-pura tegar, gue tahu lo sebenarnya lagi hancur banget saat tahu fakta tentang kekasih lo" cibir Susan yang tanpa ia duga Qania memberinya hadiah sebuah tamparan yang amat keras.


"Sialan" maki Susan kemudian hendak membalas namun lagi-lagi Qania menangkisnya.


"Jangan sekali-sekali lo bangunin singa yang lagi tidur".

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat tersebut Qania langsung meninggalkan Susan yang tengah meringis karena rasa sakit di pipinya akibat tamparan dari Qania, sekaligus amarah yang sangat besar dalam dadanya.


Qania berjalan lemas menuju ke rumahnya yang masih lumayan jauh, untung saja masih pukul sembilan malam sehingga jalanan masih cukup ramai.


"Aku capek dengan semua ini, baru saja aku memaafkanmu, masalah datang lagi" gumam Qania sambil terus berjalan dengan menendang kaleng bekas minuman soda.


"Apa aku harus terus ngalamin kesedihan dalam kisah cintaku?" tanya Qania pada dirinya sendiri.


"Tidak bisakah aku bahagia saat menjalin hubungan dengan orang yang aku cintai?"...


Suara klakson motor membuat Qania berhenti mengeluh dan berbalik untuk melihat kebelakang.


"Qaniaaa.." teriak Baron sambil mendorong motornya agar sejajar dengan Qania.


"Baron, kamu disini?" tanya Qania sambil melempar senyum tipis.


"Yuk naik, ini masih lumayan jauh" ajak Baron.


"Hehehe, oke" Baron tertawa melihat Qania yang seperti biasanya, apapun masalahnya lebih berat baginya adalah masalah perut.


Mereka berhenti di warung tenda yang tak jauh dari rumah Qania. Qania memesan sate lontong begitupun dengan Baron. Keduanya terlihat sangat lahap mungkin karena keduanya memang sangat lapar sehingga mereka dua kali menambah lontong dengan masing-masing dari mereka memakan dua puluh tusuk sate.


"Alhamdulillah kenyang" syukur Qania sambil memegangi perutnya.


"Yuk balik" ajak Baron.


"Ya ampun, makanan belum sampai di perut kamu udah ajak balik" keluh Qania membuat Baron tertawa.


"Ya sudah, kita duduk dulu di bangku depan warung, ada taman kecil disana" ajak Baron yang sebenarnya berniat ingin mengajak Qania ngobrol.

__ADS_1


"Oke, aku bayar dulu" ucap Qania.


"Gue aja" serga Baron kemudian berdiri dan pergi membayar makanan mereka. Qania tersenyum senang karena ia tahu pasti Baron akan tetap membayarkan makanan mereka seperti biasanya, karena Baron juga merupakan sepupu Qania namun sudah lumayan jauh.


Mereka duduk di bangku taman kecil tersebut, tanpa bicara dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Aku bingung" gumam Qania.


"Bingung kenapa?" tanya Baron.


"Hatiku percaya namun pikiranku masih belum bisa menerima" tutur Qania.


"Ikuti kata hati lo" saran Baron.


"Kalau nanti akunya tersakiti?" tanya Qania.


"Jadikan pelajaran hidup" ucap Baron.


"Aku masih harus memikirkannya"..


"Pikirkan dan temukan jawabannya"..


"Apakah kamu mendukung keputusanku nanti?" tanya Qania sambil menoleh ke arah Baron dengan menatap mata temannya itu mencoba mencari dukungan.


"Pasti, tapi jangan marah jika suatu saat gue ngelarang lo jika itu membuat lo sakit. Kita semua adalah keluarga, kita anak teknik adalah keluarga. Kita berhak melarang dan menasihati sesama demi kebaikan" ucap Baron sambil mengacak rambut Qania.


"Terima kasih, aku sayang kalian" ucap Qania dengan tersenyum lebar.


"Pulang yuk, sekalian gue mau ke himpunan buat ngabarin mereka kalau lo baik-baik aja" ajak Baron yang sudah berdiri lebih dulu.

__ADS_1


"Oke deh" ucap Qania kemudian mengukuti Baron dengan perasaan lega.


..........


__ADS_2