Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Undangan di Grup WhatsApp


__ADS_3

Kabar kehamilan Qania sudah tersebar pada kedua keluarga mereka. Papa Setya yang dikabari oleh Arkana tanpa ba-bi-bu langsung meninggalkan kantornya dan segera menuju ke rumah Papa Zafran. Papa Setya lah yang paling antusias karena ia akhirnya bisa menambah anggota keluarganya. Hanya memiliki satu anak menurutnya sangat sunyi.


“Qania, selamat ya Nak. Papa harap setelah kamu melahirkan maka kamu bisa hamil lagi dan lagi. Papa harap bisa memiliki cucu yang bisa dibuat tim sepak bola,” celetuk Papa Setya yang membuatnya mendapat timpukan dari Papa Zafran.


“Eh lu pikir anak gue mesin pencetak anak?! Tega benar ya nyuruh Qania hamil terus menerus,” omel Papa Zafran.


“Ya nggak apa-apa dong. Mereka nggak bakalan hidup susah karena memiliki kakek yang hartanya nggak bakalan habis tujuh turunan. Aku ingin setiap usahaku diwakilian oleh satu per satu cucuku. Wah ini sangat hebat, aku berharap memiliki banyak cucu,” ucap Papa Setya antusias namun yang lain justru melirik horor padanya.


“Ck, kenapa bukan kau saja yang menikah lagi dan memiliki anak. Biar nanti anakmu menikah dan menyumbangkan cucu juga untukmu,” ujar Papa Zafran.


“Yang ada gue udah menyatu dengan tanah baru bisa dapat cucu. Ada-ada saja sih,” ucap Papa Setya.


Mama Alisha, Qania dan Arkana hanya bisa menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan beberapa kali melihat perdebatan kedua kakek tersebut.


“Ya ampun pusing deh sama kalian. Kamu juga Mas, masa iya anakku disuruh hamil sampai dapat tim sepak bola. Kamu kan tahu Mas, pemain inti aja udah sebelas, apalagi ditambah cadangannya,” ucap kesal Mama Alisha.


Ucapan Mama Alisha membuat mereka tertawa. Bisa-bisanya Mama Alisha sampai terpikir hingga cadangan pemain sepak bolanya.


“Ya ampun Ma, ternyata Mama pandai melawak. Aku sampai nggak bisa berhenti tertawa,” ucap Qania mengelap air matanya karena tertawa.


Mama Alisha tersenyum menanggapi ucapan Qania. Ia dalam hati sangat-sangat merasa bersyukur karena kehangatan keluarganya akhirnya kembali lagi. Tawa lepas Qania, mata yang kini terus berbinar. Tidak ada lagi kebahagiaan palsu, senyum terpaksa dan sikap dingin. Mama Alisha begitu terharu dan berusaha agar air matanya tidak keluar.


“Oh ya, menurut kalian cucu kita ini cewek atau cowok?” tanya Papa Setya yang sedari tadi terus bersemangat.


“Harus cewek!”


Ucapan itu membuat semua pandangan beralih ke tangga dimana bocah tampan itu sedang menuruni anak tangga.


“Ar nggak mau tahu, adik harus cewek. Ar sama Daddy kan udah pas sama-sama pria tampan. Jadi Mami harus buat adik cewek biar ada temannya. Sama-sama cewek cantik,” lanjutnya kemudian berlari ke dalam pelukan Maminya.

__ADS_1


“Mama rasa memang anak kamu ini perempuan deh, Qan. Kamu sekarang suka ke salon, suka belanja dan yang paling parah kamu suka dandanin Arkana. Udah kelihatan jelas ini kamu hamil anak perempuan,” ucap Mama Alisha yang membuat Papa Zafran menoleh padanya kemudian berganti melirik Arkana.


“Huhh ... nggak apa-apa deh Ma. Mungkin bawaan bayi. Arka siap kok tiap hari jadi kelinci percobaan Qania. Siap lahir batin lah kalau tiap pagi wajah Arka dipenuhi dengan warna-warni makeup,” ucap Arkana pasrah.


Mata Qania berkaca-kaca. Ia sangat terharu.


“Sayang kok aku pingin nangis ya dengar ucapan kamu. Aku terharu banget lho ini,” ucap Qania mulai sesenggukan.


Arkana tersenyum, ia menarik Qania ke dalam pelukannya sementara Arqasa sudah duduk bersama kakek Setya.


“Jangan nangis sayang, ini udah seharusnya aku lakuin buat kamu. Apalagi kamu kayak gini karena bawaan bayi kita. Aku ikhlas,” ucap Arkana kemudian mencium puncak kepala Qania.


Papa Zafran entah harus tertawa atau iba dengan nasib Arkana. Ia yakin ini akan berlangsung cukup lama. Berbeda dengan Papa Setya, ia malah tertawa terbahak-bahak meledek nasib anak tampannya itu. Ia sudah pernah melihat bagaimana penampilan Arkana saat wajahnya dirias oleh Qania.


“Kenapa lu ketawa sampai segitunya?” tanya Papa Zafran.


Wajah Papa Zafran menerah menahan rasa ingin tertawa melihat foto Arkana yang terlihat sangat aneh dengan wajah dipenuhi warna-warni alat makeup.


Papa Zafran terbatuk. Ia mencoba untuk tidak tertawa namun air matanya sudah keluar karena terus tertawa dalam hati. Ia sampai menggelengkan kepalanya berusaha menormalkan perasaannya.


. . .


Qania terbangun tengah malam karena merasa haus. Kini usia kandungannya sudah memasuki lima bulan. Tubuh Qania sudah mulai terlihat berisi dan perutnya pun sudah terlihat membesar. Ia melirik Arkana yang sedang terlelap tidur sambil memeluknya. Qania tersenyum lalu membelai rambut Arkana penuh kasih. Qania pun perlahan menyingkirkan tangan Arkana yang berada di perutnya kemudian ia turun untuk mengambil air.


Setelah membasahi kerongkongannya, Qania kembali berbaring namun ia tak kunjung mengantuk. Qania mengambil ponselnya lalu melirik dan sekarang sudah pukul satu dini hari.


Qania iseng membuka grup WhatsApp dan mendapati grup KKN mereka begitu ramai.


Tumben ada banyak chat di grup ini. Padahal udah lama grup ini sepi, batin Qania.

__ADS_1


Qania membaca chat itu dan terbelalak kaget mendapat gambar berupa undangan pernikahan. Dan yang lebih mengejutkan lagi yang menikah adalah Raka dan calon pengantin wanitanya adalah Marsya Alvindo dua hari lagi.


Qania menepuk pipinya beberapa kali. Ia berusaha menyadarkan dirinya, mungkin saja ia sedang berhalusinasi atau salah membaca nama.


Setelah merasa cukup sadar, Qania kembali membaca undangan itu dan benar saja, tidak ada yang berubah dan benar disana tertulis nama Marsya Alvindo.


“Bagaimana bisa?” gumam Qania.


Qania pun mencoba mencari tahu lewat story Raka dan mendapati salah satu foto berupa undangan yang sama, ada foto ia dan juga Marsya.


Qania membungkam mulutnya dengan tangannya.


“Kenapa? Kenapa Raka bisa menikah dengan Marsya? Bukannya Marsya menetap di Prancis? Kenapa mendadak akan menikah dengan Raka. Dan ini pestanya di gelar di alamat Raka. Itu artinya Marsya dan Raka akan menikah di kota ini.


“Aku harus bertanya sama Raka. Semoga dia belum tidur karena dia seorang gamer,” ucap Qania kemudian ia langsung menelpon Raka.


Tak cukup waktu lama, Raka sudah menjawab telepon dari Qania.


“Hallo Qan, ada apa? Kenapa Lo nelepon gue tengah malam gini?” tanya Raka.


“Iya Raka, maaf ya. Aku cuma mau tanya, itu undangan kamu benar bakalan nikah? Sama Marsya? Marsya tunangan Tristan?” tanya Qania.


Raka menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Qania.


“Itu benar, Qan. Ceritanya panjang. Nggak bakalan habis kalau gue ceritain malam ini. Nanti kita bertemu saja. Ajak Arkana bersamamu dan gue akan datang bersama Marsya. Sebenarnya gue udah lama pengen cerita sama kalian. Marsya juga pingin ketemu sama kalian hanya saja dia malu. Jadi, Lo mau nggak nanti kita ketemuan?”


“Tentu saja. Hari ini di kafe Arkana yang ada di dekat taman kota. Aku bakalan nunggu kalian datang,” ucap Qania.


Raka pun mengiyakan dan Qania berpamitan karena ia sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2