Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Bertemu Mario


__ADS_3

Qania senyam-senyum sendiri setelah mengingat kejadian dimana tadi ia membuat Marsya kesal.


“Ah rasanya sangat menyenangkan membuat orang kesal. Apa ini yang dirasakan Arkana setiap kali berhasil membuatku kesal. Hahh, aku jadi merindukan priaku itu” gumam Qania sembari tersenyum saat bayangan Arkana melintas di benaknya.


Tokk…tok..tok…


Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Qania, ia pun bangun dan berjalan untuk membukakan pintu.


“Iya La, ada apa?” tanya Qania saat pintu telah terbuka.


“Kak emang benar lusa kakak bakalan berangkat KKN?” tanya Lala.


“Iya La, eh kamu udah pulang kok kakak nggak tahu sih?” tanya Qania sambil berjalan menuju ke kursi di ruang tamu.


“Aku baru sampai kak dan langsung bertanya ke kakak karena aku mendengar kabar kalau kelas kakak bakalan melaksanakan KKN mandiri” jawab Lala yang ikutan duduk di sofa kemudian melepaskan tas ranselnya.


“Dekan meminta kami untuk segera melakukan KKN biar bisa cepat magang. Lagian benar juga La, kalau ada waktu senggang mengapa tidak langsung digunakan saja” imbuh Qania.


“Lala bakalan sendirian dong di kostan kak” ucap Lala cemberut.


“Emang KKN universitas kapan La?” tanya Qania.


“Dua minggu lagi kak” jawab Lala lesu.


“Cuma dua minggu doang kok kamu sendirian. Oh ya, kamu KKNnya di desa mana La?”,.


“Belum tahu kak, katanya nanti pembekalan baru akan diumumkan” jawab Lala.


“Kalau kakak?” tanya Lala.


“Kakak Cuma tahu nama tempatnya kakak nggak tahu itu di daerah mana” jawab Qania terkekeh.


“Tapi teman kakak si Zakih itu anak MTMA loh kak, dia pasti tahu lah” timpal Lala.


“Benar juga sih, dia juga ketuanya” sahut Qania.


“Hmm, ya udah kak aku mau bersih-bersih dulu. Udah lengket nih badan” ucap Lala seraya berdiri.


“Pantesan dari tadi kecium bau kecut-kecut gitu” ledek Qania.


“Ih kakak, udah dua tahun ini tingkat menyebalkannya semakin meningkat” gerutu Lala sambil berjalan ke kamarnya dengan kesal.


“Hahahaha” hanya tawa yang menjadi jawaban atas keluhan Lala.


Qania menatap ponsel yang sedari kamar masih ia pegang, ia tersenyum pada gambar sang suami.


“Rasanya semenyenangkan gini ya Ka. Aku merindukanmu” lirih Qania kemudian mendekap ponselnya.


Lala keluar dari kamarnya dan melihat Qania tengah mendekap ponselnya dengan kedua matanya tertutup. Lala hanya bisa menghela napas panjang karena ia tahu apa penyebab Qania melakukan hal tersebut.


“Pasti kak Qania merindukan mendiang suaminya” gumam Lala kemudian berjalan ke kamar mandi.


Tak berselang lama Qania pun masuk ke kamarnya dan ketika ia keluar dengan peralatan mandinya ia saat itu Lala juga keluar dari kamar mandi.


“La, kita ke mall yuk. Kakak mau bersantai sambil cuci mata malam ini. Kamu bersiap deh, setelah magrib kita berangkat” ucap Qania yang tanpa menunggu jawaban dari Lala langsung bergegas ke kamar mandi.


Lala menghembuskan napas dengan kasar.


“Haih kak Qania selalu saja mengajak secara mendadak. Tapi kali ini aku bakalan belanja pakai uangku karena aku nggak mau ngerepotin kak Qania” ucap Lala masih menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu.


“Aku dengar loh La apa yang barusan kamu bilang. Pokoknya kakak yang bakalan traktir kamu” teriak Qania dari dalam kamar mandi.


Sementara Lala, gadis itu hanya bisa mendesah pasrah setelah mendengar ucapan Qania yang mutlak tak terbantahkan itu. Ia pun berjalan masuk ke kamarnya untuk bersiap.


Di dalam kamar mandi, Qania yang sedang menggosok giginya itu teringat bahwa tadi ia baru saja dari mall bersama Mae.


“Kenapa bisa pelupa gini sih” ucap Qania setelah menepuk jidatnya.


Qania kembali teringat pertemuannya dengan Tristan dan Marsya.

__ADS_1


“Hah malas banget jika harus bertemu mereka lagi. Meskipun aku akuin aku merindukan wajah si pria arogan itu. Kenapa Tuhan menciptakan wajah pria itu seperti wajah Arkanaku. Sangat tidak cocok dengan wataknya. Eh tapi wajahnya emang arogan sih, apa Arkana ya yang nggak cocok berwajah itu dengan sikap manisnya” celoteh Qania sambil menatap cermin di depannya.


“Hahaha mungkin Arkana itu pria berwajah angkuh namun berhati hello kitty” Qania terkekeh setelah mengatakannya.


“Ah mall nggak hanya ada satu kan, sebentar aku ajak Lala ke mall yang lain deh” ucap Qania kemudian melanjutkan menyikat giginya.


.................


...


Menjelang magrib pekerjaan perbaikan jalan pun diistirahatkan, begitu pun dengan peralatan yang kembali di simpan di tempatnya yang sudah di sediakan. Kontrakror dan para pekerja bertegur sapa sebelum pulang ke rumah mereka masing-masing.


“Pak Tristan, pekerjaan kita bisa dipastikan akan selesai tepat waktu” ucap kontraktor.


“Kerja bagus, terima kasih” ucap Tristan Anggara.


“Kalau begitu saya permisi dulu Pak” pamitnya yang diangguki saja oleh Tristan.


Setelah kepergian kontraktor tadi, Tristan akhirnya bernapas lega sebab ia sangat khawatir proyek jalan ini tidak akan selesai seperti waktu yang sudah di targetkan. Ini adalah pengalaman pertamanya mengurusi pekerjaan konstruksi.


“Hahh, bertahun-tahun gue menggeluti dunia bisnis tapi kali ini gue bagai orang nggak tahu apa-apa. Ya jelas emang gue nggak tahu apa-apa karena ini bisnis konstruksi dan itu bukan bidang gue” ucap Tristan sambil berjalan menuju ke mobilnya.


Baru saja ia masuk dan duduk di kursi kemudi, ponselnya berdering dan menampilkan nama pemanggil yang membuat kening Tristan mengerut.


“Om Alvindo kenapa tiba-tiba menelepon?” tanyanya pada diri sendiri.


Tristan pun menjawab panggilan tersebut.


“Hallo om” sapa Tristan.


“Tris, kamu lagi sibuk sekarang?” tanya tuan Alvindo sambil menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.


“Baru mau pulang om dari proyek jalan” jawab Tristan.


“Oh ya, nanti jam tujuh saya tunggu di restoran biasa ya. Jangan sampai tidak datang, ini penting” ucapnya.


“Tentu om, kapan saya menolak panggilan om” jawab Tristan.


Tristan meletakkan ponselnya di kursi sebelahnya kemudian menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai menjalankannya.


“Ada apa ya? Kenapa papanya Marsya meminta untuk bertemu? Apa ada masalah bisnis atau ada yang lain?” tanya Tristan pada dirinya sendiri.


Meskipun diliputi banyak pertanyaan dalam benaknya, Tristan tetap melajukan mobilnya dengan penuh konsentrasi.


Tak lama kemudian Tristan sampai di rumahnya yang hanya dijaga oleh satu orang satpam dan istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Pak Yotar, nama satpam itu pun membuka pintu gerbang dan menyapa Tristan.


Tristan turun dari mobilnya dan langsung disambut oleh bi Ria yang membukakan pintu rumah.


“Selamat sore menjelang malam den Tristan” sapa bi Ria.


“Iya bi. Oh ya, bibi nggak usah nyiapin makan malam buat aku karena aku akan keluar untuk makan malam” ucap Tristan kemudian berlalu meninggalkan bi Ria yang menganggukkan kepalanya.


Tristan masuk ke kamarnya dan segera melepas pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tadinya ia ingin berendam untuk merilekskan badannya yang terasa begitu letih. Namun panggilan dari tuan Alvindo tidak bisa ditolaknya begitu saja. Dan hasilnya Tristan hanya bisa pasrah dan mandi dengan cepat karena setengah jam lagi ia harus segera sampai di restoran yang dikatakan oleh tuan Alvindo.


Tristan yang biasanya memerlukan setengah jam lebih waktu untuk berpakaian dan merapikan dirinya kini hanya kurang dari lima belas menit karena terus mengingat waktu pertemuannya. Untung saja jarak dari rumahnya ke restoran kurang dari sepuluh menit jika ditempuh dengan menggunakan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.


Pak Yotar hanya bisa mendesah lirih melihat majikannya yang baru saja sampai kini harus pergi lagi.


Terlalu sibuk, itu yang ada dalam benak pak Yotar yang baru saja menutup kembali gerbang setelah mobil Tristan meninggalkan halaman rumahnya.


Tidak perlu mencari-cari keberadaan tuan Alvindo, Tristan langsung saja masuk ke ruang VIP dan benar saja disana sudah ada tuan Alvindo dan putrinya Marsya Alvindo yang terlihat sedang bersenda gurau.


“Eh Tris kamu udah datang rupanya, sini gabung” ajak Marsya dengan senyuman yang begitu manis tersungging di bibirnya.


Tristan mengangguk kemudian ikut bergabung dengan ayah dan anak yang sudah menunggunya itu.


“Maaf saya terlambat” ucap Tristan setelah duduk di dekat Marsya.


“Nggak kok Tris, emang kita yang kecepatan datangnya” tukas Marsya.

__ADS_1


“Sudah sudah, mending sekarang pesan makanan dulu” lerai tuan Alvindo.


.....................


Qania dan Lala sudah cukup lama memutari mall dengan beberapa paper bag di tangan keduanya. Mereka tengah asyik berbincang hingga tanpa sengaja Qania menabrak seseorang dan membuat belanjaannya tersebut berserakan di lantai.


“Maaf” ucap pria yang menabrak Qania.


Qania tersenyum mengangguk, kemudian ia lansung berjongkok untuk memunguti belanjaannya. Sebuah tangan terulur saat Qania hendak berdiri dan ia langsung mendongak.


“Mario”,.


“Qania”,.


Qania menyambut uluran tangan tersebut dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya begitu pun dengan Mario.


“Lama tak jumpa Qania” ucap Mario setelah membantu Qania berdiri.


“Ya, dua tahun kita tidak bertemu dan sekarang kau terlihat sangat keren. Kalau ku tebak kau pasti sudah tidak menjadi penyanyi kafe dan restoran lagi kan?” ucap Qania diakhiri kekehan.


“Hahaha … jangan salah, meskipun sekarang aku udah kerja di salah satu perusahaan tapi menyanyi adalah hobiku dan aku biasa menyempatkan diri saat waktu libur” ucap Mario kemudian ia mengamati Qania yang juga tengah menatapnya.


“Jangan ditatap-tatap, aku nggak mau bertanggung jawab kalau sampai kamu jatuh cinta padaku” ujar Qania diakhiri tawa.


“Idih kePDan jadi orang, hehehe. Lagian aku nih udah punya calon istri” sahut Mario.


“Oh ya? Wah selamat buat kamu Mario. Oh iya, ini adikku namanya Lala. La kenalin ini Mario temanku” ucap Qania memperkenalkan.


“Lala”,.


“Mario”,.


“Oh ya, kita pamit dulu ya Rio. Jangan lupa undangannya nanti” ucap Qania berpamitan.


“Eits, mending ikut aku ke resto di depan mall. Aku sebenarnya udah ada janji sama Iren di sana dan aku mau lamar dia malam ini. Tadi aku beli sesuatu di mall dan akhirnya kita ketemu. Sekalian aja yuk aku traktir kalian” ajak Mario.


“Meluncur kita” sorak Qania, sementara Lala hanya tersenyum mengikuti Qania dan Mario.


Qania, Lala dan Mario kini sudah berada di restoran, Mario melambai pada seorang gadis cantik yang usianya sebaya dengan Qania. Ia nampak cantik dengan dress selutut berwarna peach dengan rambut yang dibiarkan terurai sebahu itu.


“Maaf sayang, lama ya nungguinnya” ucap Mario setelah mendudukkan dirinya di kursi di depan Iren.


“Nggak, baru kok sayang. Mereka?” tanya Iren sambil melirik Qania dan Lala yang masih berdiri.


“Oh hei kenapa kalian hanya berdiri saja, ayo cepat duduk” ucap Mario dan langsung dituruti oleh Qania dan Lala.


“Perkenalkan sayang, ini temanku namanya Qania dan itu adiknya Lala. Qania, Lala, kenalin ini Iren yang tadi aku ceritain” ucap Mario memperkenalkan dengan begitu antusias.


Iren tersenyum kepada Qania dan Lala begitupun keduanya membalas senyuman Iren.


“Calon istrimu cantik sekali, Rio” puji Qania yang membuat pipi Iren merona.


“Kamu bisa aja Qania, kamu juga cantik kok” puji Iren tulus.


“Iya benar kak, kak Iren cantik” timpal Lala.


“Terima kasih La, kau sangat manis” balas Iren.


“Ya sudah dari pada kalian hanya saling memuji sebaiknya kita pesan makanan saja” sambar Mario.


Ketiganya pun tertawa mendengar penuturan Mario dan akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


Berteman yuk:


IG: Vvillya

__ADS_1


FB: Vicka Villya Ramahani


WA: 0823 5054 5747


__ADS_2