
Qania tengah bersiap untuk pergi ke kampus, ia berencana untuk berangkat pagi-pagi agar bisa mengurusnya dengan cepat dan bisa segera pulang ke rumah. Setelah semalaman ia sulit untuk tidur karena sesak di dadanya ia pun memutuskan untuk sebisa mungkin menyibukkan dirinya. Di awali dengan menyelesaikan urusannya di kampus, lalu pulang ke rumahnya dan sibuk di pesta Elin.
Ahh ... baru saja Qania yang sedang mengenakan sepatu sambil mengingat sahabatnya yang akan menikah itu, ponselnya berdering dan itu telepon darinya. Qania tersenyum samar, ia sudah yakin akan ada kehebohan dari sahabatnya sejak kecil jika tahu ia sedang tak berada di kota mereka.
"Assalamu'alaikum. Selamat pagi calon pengantin," sapa Qania.
"Wa'alaikum salam. Qan kamu dimana? Kerumah ih. Aku nggak mau tahu ya, lusa aku nikahan dan kamu harus bareng aku terus, titik!"
Dari seberang saluran, sang calon pengantin tengah berbaring malas-malasan di atas tempat tidur dan tentu saja belum mandi. Jika di tempat Qania saat ini waktu menunjukkan pukul delapan maka di tempat Elin saat ini sudah pukul sembilan.
"Iya, aku usahain. Nanti malam nyampe," ucap Qania.
"Kok nanti malam sih? Aku tuh maunya siang ini juga kamu datang ke rumah. Aku tunggu!"
Elin bersikeras, ia sebenarnya sedang dilanda demam panggung, ia begitu gugup karena terus memikirkan pernikahannya yang semakin dekat saja.
"Ya nggak bisa. Aku pulangnya mungkin agak sorean. Paling juga nyampe pas malam."
"Ya ampun Qania, jarak dari rumah Om Setya ke rumah aku berapa jam emang? Nggak sampai satu jam-an kali."
"Emang kata siapa aku lagi di rumah Papa Setya?" tanya Qania, ia ingin sekali membuat Elin penasaran sekaligus kesal.
"Lah, kalau nggak disana kamu dimana lagi?"
Tentu saja Elin langsung curiga. Ia berjalan keluar menuju balkon kamarnya yang menghadap ke jalan raya dan menatap keadaan rumah Qania.
Belum sempat Qania menjawab, pintu kamarnya sudah di ketuk.
"Kak udah bangun, belum?" tanya Syaquile dari luar.
Elin pun tak luput mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinganya itu.
"Iya Dek, udah. Masuk aja," sahut Qania sedikit menjauhkan ponselnya.
"Kamu lagi di rumahmu, Qan? Itu suara Syaquile. Kalau gitu kamu langsung ke rumahku pagi ini juga."
Yang benar saja sih Qania, lagi di rumah yang jaraknya hanya kurang dari semenit langsung sampai ke rumahnya tapi bilangnya nanti malam sampai, pikir Elin.
"Kakak udah siap? Kita sarapan dulu yuk sebelum ke kampus Kakak," ucap Syaquile yang sudah berdiri di dekat pintu masuk yang kini masih terbuka setengah.
"Iya," jawab Qania kemudian berdiri dan masih menempelkan ponselnya di telinganya.
"Wait-wait ... kamu mau ke kampus Qan? Kampus mana ih?"
"Menurut kamu aku kuliahnya di kampus mana, hem?" Qania menahan tawanya sambil berjalan keluar kamar mengikuti Syaquile yang sudah berjalan lebih dulu. Ia menutup pintu kamarnya.
"Qania jangan bilang kamu lagi di ...."
"Yupss ... aku lagi di kota Y. Nih mau ke kampus," jawab Qania melanjutkan ucapan Elin yang terjeda.
"Sumpah demi apa Qan?!"
Pekikan Elin cukup membuat Qania tertawa. "Sumpah demi pernikahan Lo yang akan diadakan dua hari lagi. Ya udah sih, aku juga bakalan pulang hari ini juga. Kemarin tuh aku berangkatnya dadakan karena dosen aku yang minta aku datang ke kampus. Kan aku juga kalang kabut kemarin karena tiba-tiba di suruh ke kampus sedangkan aku lagi di rumah Papa Setya. Nah, daripada buang masa, sekarang aku mau sarapan dulu lalu segera mengurus urusan di kampus dan cepat pulang untuk menemui calon pengantin ini. Doain biar selamat sampai di sana," ucap Qania, ia tak jadi membuat Elin kesal padahal tentu saja sahabatnya itu tengah kesal saat ini. Tak ingin membuat Elin tegang menjelang hari pernikahan, pikir Qania.
"Sumpah ya Qan, kamu udah bikin aku kesal nih pagi-pagi. Kok bisa kamu berangkat dadakan gini nggak ngabarin aku sih? Huhh ... ya sudah kamu segerakan deh urus tuh urusanmu. Aku tunggu dari sekarang, kalau malam nggak nyampe aku mogok ngomong sama kamu, titik!"
Qania yang sedang menunggu lift terbuka cukup dibuat tertawa ringan karena aksi ngambek si Elin.
"Iya-iya. Makanya doain," ucap Qania.
"Iya, aku Aamiinin sekalian nih."
Meskipun kesal, Elin tetap saja tak bisa marah lagi. Dalam hatinya ia berdoa semoga Qania selamat sampai ke kota mereka lagi.
"Ya udah, aku mau sarapan dulu. Selamat pagi calon pengantin ngambekkan. Assalamu'alaikum," ucap Qania di akhiri dengan kekehan.
"Ih rese deh. Wa'alaikum salam."
Qania mematikan dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Ia dan Syaquile pun segera masuk.
"Kak Elin?" tanya Syaquile.
"Iya Dek, lagi ngambek dia," jawab Qania.
"Haha ... jelas aja, dia mau nikahan tapi sahabatnya lagi nggak ada," kekeh Syaquile.
"Iya, makanya hari ini kita harus ngebut buat urus keperluan Kakak," ucap Qania.
"Asal nggak ada drama dari pria itu sih Kak. Semua akan berjalan mulus," ujar Syaquile dan tentu saja Qania tahu siapa pria yang dimaksud oleh adiknya.
Qania mengangguk, kemudian pintu lift terbuka dan kakak beradik itu langsung menuju ke parkiran. Motor Qania sudah tersedia disana karena kemarin Syaquile sempat pergi ke kostan untuk mengambil motor.
__ADS_1
Kemudian mereka pun langsung melesat mencari tempat yang menyediakan makanan enak untuk mengisi perut mereka.
.... . . . ...
Tristan baru saja keluar dari kamar mandi dan ponselnya sudah berdering. Ia cukup malas karena ia sudah tahu siapa yang saat ini sedang meneleponnya. Mengabaikan suara berisik dari benda pipih tersebut, Tristan malah sibuk memilih pakaiannya kemudian ia kenakan. Setelan kemeja berwarna navy yang berlengan panjang serta celana panjang berwarna hitam membalut tubuhnya. Tentu saja ia berdandan rapih untuk menemui Qania.
Mengingat tentang Qania, Tristan akan mencari wanita itu dan meminta kejelasan padanya. Biarlah dia mengalah dulu dan bersiap-siap menjadi actor di hadapan Marsya. Oh, sungguh dia berharap ada yang akan membantunya lolos dari drama hari ini. Siapa pun itu ia pasti akan memberikan imbalan yang cukup besar, harapnya.
Setelah siap, Tristan mengambil ponsel yang berada di atas nakasnya kemudian ia menghubungi Marsya.
“Maaf Sya, tadi hp aku dalam mode silent. Nih aku udah siap mau ke rumah kamu.”
Tristan berjalan sambil menuruni anak tangga dengan ponsel yang menempel di telinganya.
“Iya, aku udah sarapan kok. Paling kalau nggak kena macet setengah jam aku udah sampai. Pesawat tante Bendelina kan sejam lagi. Kalau aku nggak sampai tepat waktu, kalian duluan aja ke bandara biar aku nyusul.”
“Iya.”
Tristan pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan duduk dengan antengnya menghadap ke meja makan. Disana sudah tersedia sarapannya serta segelas susu putih yang saat ini tengah ia teguk dan tersisa setengah gelas. Dengan santainya ia memakan nasi goreng tersebut sementara bi Ria baru saja kembali ke kamarnya setelah Tristan mulai makan.
Setelah menghabiskan sarapannya, Tristan pun berjalan keluar dan bertemu dengan Pak Yotar yang sedang menyiapkan mobil Tristan. Ia pun masuk ke dalam mobil dan berpamitan dengan Pak Yotar kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.
.... . ....
Seperti yang ia ucapkan tadi, tak cukup setengah jam ia sudah memasuki pekarangan rumah mewah tuan Alvindo. Sebelum turun ia menarik napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan untuk beberapa kali. Ia akan memulai perannya sebagai tunangan dan calon suami yang baik di hadapan keluarga Marsya.
Kembali, ia teringat akan ucapan Raka semalam dan itu membuat ia kena mental. Perkataan Raka begitu menohoknya. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya. Terus saja dalam hati ia mencemooh dirinya sendiri.
“Tunangan dan calon suami yang baik konon. Cih, gue aja sampai jijik sama diri gue sendiri. Gue ini laki lho, masa sih gue selemah ini. Tapi, gue punya alasan yang masuk akal, kan. Gue Cuma ngelindungin harga diri Qania. Nggak lebih. Gue bisa aja nih ninggalin Marsya dan memaksa Qania. Tapi gue yakin Qania nggak bakalan lepas dari gunjingan orang.
“Tapi itu kalau kami menetap di kota ini. Kalau kami menetap di kota Qania, nggak ada yang akan bicarain hubungan kita. Kan mereka bakalan mikir kalau gue ini Arkana. Eh? Arkana ya? Kenapa gue nggak nemu ide ini dari dulu. Gue datang aja sebagai Arkana ya? Biarin aja, cukup Qania yang tahu gue ini Tristan, ah tidak adiknya juga udah tahu dan dua teman Arkana itu. tapi udah terlambat juga sih. Gue tinggal nunggu takdir Tuhan aja deh. Gue harap Tuhan nggak bikin gue nyesek deh.”
Tristan bermonolog, ia sampai tak sadar kalau dari tadi Marsya sudah mengetuk-ketuk kaca mobilnya. Baru saja ia akan membuka pintu mobil, ia dibuat terkejut karena melihat Marsya yang berada di samping pintu mobilnya.
Tristan menurunkan kaca jendelanya, ia tersenyum begitu pandangannya bertemu dengan kedua mata Marsya.
“Ngapain disini Sya? Kan bisa nunggu di dalam?” tanya Tristan berusaha menutupi keterkejutannya.
“Aku tuh udah dari tadi merhatiin kamu dari teras. Mobil udah berhenti tapi kamunya nggak keluar-keluar. Aku ketuk kaca juga kamu nggak ngerespon,” jawab Marsya sedikit cemberut.
“Pantesan. Ya udah masuk yuk ke rumah,” ajak Marsya.
“Iya.”
Tristan pun kembali menutup kaca jendela mobilnya kemudian ia membuka pintu dan turun lalu menutup kembali pintu mobilnya. Ia berjalan di belakang Marsya.
“Tris, kok di belakang sih jalannya?” tegur Marsya manja.
“Aku lagi suka lihat gaya kamu aja saat berjalan. Sangat anggun. Mirip model yang namanya Marsya Alvindo. Tapi sayang dua tahun lalu model cantik itu memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia permodelan sebab sang sahabat udah nggak ada lagi di sampingnya,” ucap Tristan dengan memasang wajah lirih.
Pipi Marsya yang awalnya bersemu kini terlihat sedang diselimuti awan mendung. Ia menghentikan langkahnya tatkala Tristan membuatnya teringat akan sahabatnya yang sudah mengorbankan diri demi menyelamatkannya.
“Maaf, aku nggak maksud buat ngingatin kamu sama dia. Jangan sedih ya,” hibur Tristan sambil mengusap lembut bahu Marsya.
Marsya tersenyum tipis, sangat nampak senyuman itu karena dipaksakan. Ia pun melanjutkan kembali langkahnya diikuti oleh Tristan yang kini sudah berjalan di sampingnya. Mereka masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang keluarga. Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis, tengah berbincang ria membuat Tristan tersenyum kecut.
“Selamat pagi semua,” sapa Tristan.
“Pagi,” balas mereka dengan ramah.
“Yuk gabung Tris,” ajak tuan Alvindo.
Tristan dan Marsya pun duduk bersebelahan. Ikut bergabung dengan pembicaraan mereka yang rupanya sedang membahas tentang bisnis.
“Oh ya, kapan kalian akan berangkat ke LN?” tanya tuan Alvindo.
“Tiga hari lagi Pa,” jawab Marsya.
“Kenapa nggak ikut kami aja sih Kak? Kan kalau disana Kakak bisa tinggal di rumah sama aku,” tanya Julia.
“Karena nggak disana jadwalnya Julia,” jawab Marsya terkekeh.
“Lain kali minta jadwal di Negara kami Kak,” ucap polos Julia.
“Iya,” jawab Marsya dengan cukup mengiyakan saja pikirnya.
Mereka pun kembali berbincang-bincang tentang rencana pernikahan yang kadang membuat Tristan tersedak ludahnya sendiri dan juga ledekan-ledekan yang membuat Tristan merasa muak.
__ADS_1
Tuan Alvindo menjauh sedikit karena mendapat telepon. Tak lama kemudian ia pun kembali bergabung.
“Tris, boleh nggak Om minta tolong nih?” tanya tuan Alvindo.
“Tentu saja Om,” jawab Tristan.
“Tadi Gita telepon katanya Pak Handoko ingin pertemuannya di percepat pagi ini pukul sepuluh karena ia akan berangkat ke luar kota siang ini juga. Bisa bantuin Om, tolong kamu saja yang menemuinya mewakili Om. Tadi juga Om udah bilang nggak bisa karena ada urusan keluarga, jadi Om minta kamu yang wakili. Kamu tahu sendiri kan kalau Pak Handoko adalah salah satu rekan bisnis kita yang terbaik,” ucap tuan Alvindo.
Sumpah demi cintanya pada Qania, Tristan sangat ingin mencium tangan pria bernama Handoko itu karena sudah membantunya terbebas dari dosa-dosa yang akan dengan sengaja ia lakukan karena berbohong kepada Marsya.
“Oh gitu ya Om? Gimana Sya?” Tristan menatap Marsya yang terlihat cemberut, bahkan wajahnya sudah ditekuk.
“Papa gimana sih?” keluh Marsya.
“Maaf sayang. Tapi ini juga tugas Tristan karena sebentar lagi dia yang akan menggantikan tugas Papa mengelola perusahaan dan bisnis-bisnis Papa yang lainnya,” ucap tuan Alvindo dengan lembut namun terdengar penuh ketegasan.
Biasanya juga gue tuh yang selalu menghandle pekerjaannya. Bukan sebentar lagi, tapi udah dari dulu kali, gerutu Tristan dalam hati.
“Iya-iya. Ya udah kamu pergi aja Tris. Kamu hati-hati,” ucap Marsya mengalah karena dalam hatinya pun ia membenarkan ucapan Papan-nya.
“Kalau begitu saya pamit dulu. Maaf ya Om, Tante, Julia, saya nggak bisa ikutan anterin ke bandara,” ucap Tristan.
“Nggak apa-apa. Kamu kan juga ada urusan yang nggak bisa ditinggal. Lagian yang nyuruh kamu juga Kak Alvin, calon mertua kamu. Kami ngerti kok. Kamu hati-hati ya,” ucap Om Ricko mewakili mereka.
“Iya. Pamit dulu ya, Assalamu’alaikum.” Tristan berdiri dan mencegah Marsya yang ingin mengantarnya keluar. Marsya pun menurut dengan bibir yang dimanyun-manyunkan.
Di dalam mobil Tristan tak henti-hentinya bersenandung, ia begitu bahagia karena Pak Handoko benar-benar membantunya kali ini. Ia melirik sekilas pesan yang berupa kiriman lokasi pertemuannya dengan Pak Handoko yang dikirim oleh Gita, sekretaris tuan Alvindo.
“Lokasinya nggak jauh dari kostan Qania nih, sangat kebetulan bukan? Hahaha, setelah ini aku akan menemuimu wahai wanita yang menjadi pemilik hati dan pikiranku,” ucap Tristan. Ia tak lagi mempedulikan macetnya jalanan karena ia begitu senang kali ini.
.... . ....
“Kemarin memang ada Mas, tapi cuma datang buat ambil motor doang. Nggak nginap,” jawab Bapak pemilik kostan Qania.
Tristan mendesah kecewa. Tadi ia begitu bersemangat ingin menemui Qania. Bahkan meeting bersama Pak Handoko ia iya-iyakan saja karena saking semangatnya. Namun saat sampai di tempat ini ia harus kembali menelan pil pahit. Wanitanya tidak berada di tempat ini.
Dia dimana? Batin Tristan.
“Nggak bilang gitu Pak mereka nginap dimana?” tanya Tristan berharap si Bapak tahu.
“Nggak Mas. Saya juga nggak nanya sih,” jawab Bapak pemilik kostan dan itu lagi-lagi membuat Tristan mendesah kecewa.
“Ya sudah Pak, saya permisi dulu,” ucap Tristan lemas.
“Iya.”
Tristan berjalan lunglai ke mobilnya. Ia beberapa kali memukul setir mobilnya untuk melampiaskan kekecewaannya.
“Qania, lo dimana sih? Jangan bikin gue stress gini Qan. Udah cukup semalam lo bikin gue mendadak serangan jantung dengan bawain cincin pertunangan itu. Gue mohon Qan, jangan giniin gue amat lah,” keluh Tristan.
Tristan pun memutuskan untuk kembali ke kafenya sendiri. Ia sudah begitu lelah, padahal tadi tidak terasa sama sekali. Mungkin perasaan kecewa langsung menguras seluruh tenaganya.
Tak berselang lama, ia pun sampai di kafenya. Turun dari mobil ia pun tak sengaja memalingkan pandangannya ke area kampus.
“Eh tunggu dulu. Qania kan nggak mungkin datang ke kota ini kalau cuma buat nyaksiin drama pertunangan gue. Pasti katanya kurang kerjaan sekali jauh-jauh datang cuma buat lihat gue tunangan. Apa Qania ada urusan kampus ya?” gumam Tristan dengan pandangannya masih melihat ke area kampus yang nampak sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang telihat keluar masuk dari gerbang itu.
“Ck … gue ini udah dibuat bego ya sama Qania. Gue kan punya ponsel, punya pulsa dan tentu punya nomor telepon Qania. Kenapa nggak nelepon dari semalam sih gue?” umpat Tristan saat menyadari kebodohannya.
Dengan cepat Tristan menghubungi Qania. Ia kembali mengumpat karena wanita itu sama sekali tidak menjawab panggilannya. Sudah banyak kata umpatan yang begitu manis keluar dari mulutnya karena sampai panggilan ke lima Qania sama sekali tidak merespon panggilannya.
“Hahh … mending gue masuk aja deh. Dari pada gue nungguin disini mending nelepon di dalam. Ngadem dulu di ruangan sambil mikirin gimana dan dimana gue bisa nemuin tuh wanita ajaib gue,” ucap Tristan kemudian melenggang masuk ke dalam kafenya.
Sambil mengumpat pelan Tristan memasuki kafenya, ia bahkan mengabaikan tatapan wanita cantik yang sedang terkekeh melihat tingkahnya yang seperti orang gila karena berbicara sendiri.
“Tristan Anggara rupanya jadi tidak waras setelah bertunangan.”
Deggg …
Tristan terdiam, langkahnya terhenti. Suara itu, suara yang sangat ia kenali. Tristan pun menoleh ke arah dimana suara tersebut berasal.
Deggg …
“Qania!!”
.... . . . . ....
Bab selanjutnya sedang dalam pengetikan, wkwkwk. Tungguin ya, akan segera Up 😄😄😄
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍂🍂🍂🍂🍃🍃🍃🍃...