Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tamu


__ADS_3

“Maaf adik-adik ini yang minggu lalu datang, bukan?” Tanya pak kadus saat sudah ikut bergabung di ruang tamu bersama dua orang pria tadi.


“Iya benar pak, saya Arjuna dan ini rekan saya Denis. Kami hanya ingin mengabarkan bahwa minggu depan proyek kami akan dilaksanakan. Kami tidak enak jika tidak melapor pada aparat setempat, dan kedatangan kami juga ingin bertanya apakah kami bisa menemukan tempat tinggal selama tiga bulan di dusun ini pak?” ucap Arjuna sambil memperhatikan Qania yang datang dari arah dapur membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.


Qania datang dan meletakkan nampan berisi teh tersebut kemudian meletakkan satu per satu di atas meja. Setelah selesai ia buru-buru pergi karena menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


“Oh iya pak, kami juga bukan hanya berdua karena kami membawa pekerja sejumlah sepuluh orang, jadi kira-kira disini ada rumah yang bisa kami sewa atau kami tempati untuk sementara?” lanjut Arjuna kembali menatap pak kadus setelah Qania pergi.


“Oh jadi ramai ya, saya tadinya ingin mengajak tinggal di rumah saya. Tapi kebetulan ada mahasiswa KKN jadi rumah saya penuh. Tapi kalau rumah kosong ada, di ujung kampung ada rumah warga saya yang sudah kosong karena pemiliknya sudah meninggal sekitar dua minggu lalu dan tidak ada kerabat mereka yang menempati rumah itu. Hanya saja biasanya para tentara yang bertugas di perbatasan sering menggunakan rumah itu untuk memarkir kendaraan mereka atau mandi” ucap pak kadus panjang lebar.


“Jadi kami bisa menempatinya pak?” Tanya Denis.


“Tentu saja bisa” jawab pak kadus dengan semangat.


“Bagaimana dengan para tentara itu pak?” Tanya Arjuna lagi.


“Oh itu biar saya yang melapor, mereka memang sering kesana karena akrab dengan pemilik rumah yang bernama ibu Jum dulu. Bahkan bu Jum sendiri yang mengamanatkan rumahnya kepada mereka” jawab pak kadus memperjelas.


“Terima kasih pak, lusa kami berdua sudah harus stay di kampung ini karena material akan dikirim dua hari sebelum masuk hari kerja” ucap Arjuna.


“Baik, saya akan meminta warga untuk membersihkan rumah tersebut dan saya juga akan melapor pada tentara agar mereka tidak kaget saat kalian sudah menempati rumah buk Jum” sahut pak kadus.


“Sekali lagi terima kasih pak” ucap Denis.


“Iya, mari silahkan diminum tehnya” ajak pak kadus sambil mengambil secangkir teh.


“Wah bapak repot sekali, terima kasih banyak pak Jaja” ucap Denis sambil mengambil secangkir teh diikuti oleh Arjuna.


“Lah nggak repot, lagian Cuma teh doang” canda pak kadus.


“Yang tadi ngatar teh itu anak bapak?” Tanya Arjuna setelah menyesap tehnya.


“Oh bukan, itu Qania mahasiswa KKN” jawab pak kadus sambil meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong.


Arjuna tidak berniat menanggapi lagi, ia buru-buru menghabiskan tehnya agar bisa segera pergi dan mempersiapkan keperluan mereka nanti.


Setelah berpamitan dengan pak kadus, mereka pun kembali ke mobil dan saat meninggalkan halaman rumah pak kadus, Arjuna yang sedang menyetir tidak sengaja melihat Qania yang tengah berjalan sendirian menjauhi rumah pak kadus.


Arjuna memelankan kecepatan mobilnya hingga menyamai posisinya dengan Qania.


“Hei Qania” panggil Arjuna setelah menurunkan kaca mobilnya dan menghentikan mobil tersebut.


Karena merasa namanya dipanggil, Qania menoleh ke samping dan benar saja bahwa orang yang berada di dalam mobil itu lah yang memanggilnya.

__ADS_1


“Iya, ada apa?” Tanya Qania datar.


Arjuna membuka pintu mobilnya dan melangkah mendekati Qania sementara Denis hanya menggeleng karena sudah hapal dengan sifat playboy sahabatnya itu.


“Dasar Juna, nggak bisa lihat yang bening dikit” cibir Denis yang tentu saja tidak di dengar oleh Arjuna.


Qania menatap datar pada pria yang tengah memasang senyum sejuta watt di depannya ini sambil menunggu pria itu berbicara.


“Kamu Qania kan?” Tanya Arjuna dongkol.


“Iya saya” jawab Qania datar dan singkat.


“Hai, gue Arjuna panggil aja Juna” ucap Arjuna memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


Qania menatap datar uluran tangan tersebut tanpa berniat menyambutnya, lalu ia menatap datar namun penuh selidik pada mata Juna.


“Oh hai Juna” sapa Qania datar membuat Juna mengepalkan tangan yang ia ulurkan tadi lalu menariknya kembali.


Di dalam mobil Denis tertawa melihat raut wajah Juna yang salah tinggah sekaligus kesal karena uluran tangannya tidak mendapat sambutan.


“Oh iya Qania, salam kenal ya. Maaf mengganggu” ucap Juna canggung.


“Iya, permisi” Qania berlalu pergi meninggalkan Juna yang masih menatapnya.


Juna kini sudah duduk di belakang kemudi kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Sebelum ia menginjak gas, ia merasa Denis tengah memperhatikannya, ia pun menoleh.


“Ada apa?” Tanya Juna dengan tatapan sinis.


“Buahahahaha, ada yang dicuekin” ucap Denis sambil tertawa.


“Sialan lo” umpat Juna kemudian menginjak gas dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi saat ia sudah tidak melihat Qania lagi di jalan.


*


*


Qania menatap Elin dan Manda yang sudah terlelap dan berpetualang di alam mimpi mereka sementara ia masih setia mendengarkan rekaman suara Arkana yang tengah bernyanyi lagu-lagu romantis dan juga lagu-lagu yang menceritakan tentang hubungan jarak jauh dan juga kerinduan.


“Hallo sayangnya Arkana Wijaya, gimana nih kabarnya disana? Udah makan? Udah mandi? Udah rindu aku belum? Kalau belum lakuin sekarang ya, kamu makan sambil bayangin wajahku yang tampan ini, kamu mandi juga ingat wajahku yang imut ini dan kalau kamu rindu aku tinggal putar video ini dan aku jamin rindu kamu terobati meski hanya satu persen dari seratus persen. Jangan tertawa, oke. Aku yakin banget kamu pasti tertawa sekarang saat aku memuji ketampananku yang paripurna ini dan keimutanku yang melegenda ini”,.


Qania menjeda video tersebut sambil tertawa tanpa suara. Setelah ia menyeka air mata harunya ia kembali melanjutkan video tersebut.


“Jangan bilang tadi kamu pause hanya untuk menertawakanku, iya aku tahu aku emang narsis abis tapi kamu suka kan? Kamu sayangkan? Dan yang pasti aku tidak perlu Tanya lagi, kamu pasti cinta aku. Jangan tertawa atau jangan terharu, sebenarnya aku Cuma bisa buat video seperti ini untuk membantumu melepas sedikit rindumu padaku”,.

__ADS_1


“Hahh, aku sangat merindukanmu sayang. Tapi apa boleh buat aku harus tetap bersabar, aku pasti bisa, doain ya sayangnya aku. Ih gue kok lebay banget sih, hahahaha”,.


Terlihat di video itu Arkana tertawa lepas membuat Qania ikut tertawa.


“Sayang, jaga kesehatan ya. Aku selalu merindukan dan mendoakanmu dari sini agar kamu selalu baik-baik saja. Aku juga mulai membantu papa untuk serius mengelola hotel buat modal nikah, hehe. Jaga hati, mata dan telingamu untukku”,.


“Akhir kata, Qania Salsabila Wijaya calon istri dari Arkana Wijaya, aku sayang kamu, aku cinta kamu, I love you, wo ai ni, aku padamu. Dan I miss you so much, my girl. Miss you so much”,.


Video tersebut hanya sampai disitu dan Qania bisa menebak bahwa setelah mengungkapkan perasaannya dengan lirih itu ia langsung menghentikan merekam video karena ia tidak ingin Qania ikutan sedih.


“I love you too, aku cinta kamu juga, aku juga sayang kamu dan wo ai ni. Aku sangat banyak merindukanmu” gumam Qania lirih sambil membiarkan air mata menetes di pipinya.


Setelah menonton video dari Arkana itu, Qania kembali memutar lagu-lagu yang sengaja Arkana rekam dengan ia sendiri yang menyanyi untuk pengantar tidur Qania.


Bingkisan yang dimaksud Arkana pada malam itu adalah rekaman suaranya menyanyi dan beberapa video ungkapan persaannya yang sudah dua malan ini selalu Qania dengan dan nonton sebelum tidur.


‘Aku merindukanmuuuuu, sangat banyak merindukanmuuuuuuu’ jerit Qania dalam hati.


Suara merdu Arkana akhirnya bisa mengantar Qania masuk ke alam mimpinya sambil memeluk ponselnya itu.


 


Sementara di tempat berbeda seorang pria yang tengah berbaring di salah satu kamar hotel tengah memainkan gitar sambil bernyanyi dengan ponsel berada di depannya untuk merekam aktivitasnya itu di temani oleh rintik hujan. Ia adalah Arkana, ia tengah bernyanyi untuk mengirimkan videonya lagi pada Qania.


Setelah bernyanyi, ia melepaskan gitarnya kemudian tersenyum kearah kamera dan mulai berceloteh seolah Qania berada di depannya mendengarkan ia berbicara dan menanggapi ocehan-ocehannya itu.


“Hai sayang, aku rindu lagi nih. Sebenarnya bukan rindu lagi sih, lebih tepatnya selalu rindu kamu. Hahh aku rindu kamu my girl, rindunya sangat banyak. Kamu pasti mau ngebantah dan bilang aku yang rindunya sangat amat dan teramat sangat merindukanmu, iyakan? Aku mah sudah hapal sama kelakuanmu yang selalu tidak mau kalah kalau soal perasaan” Arkana menjeda ucapannya kemudian tertawa.


“Sayang, rasanya hari-hariku tidak lengkap tanpa membuatmu kesal seperti biasanya. Hahh aku bisa gila karena tidak bisa melakukan ritual kesenanganku setiap pagi untuk membuatmu kesal. Apa lagi udah malam gini, aku belum juga tahu kabarmu aku jadi galau sendiri. Tapi aku harap kamu baik-baik saja ya, aku harap begitu”,.


“Sayang aku nggak bisa bercerita panjang lebar, karena aku udah rangkum semua dan aku udah buat makalahnya biar nanti kita presentasikan bersama saat bertemu nanti ya. Oh iya sayang aku rindu my candy, emmmm hehehehe” Arkana teringat akan ciumannya dengan Qania setelah mengatakan bahwa ia merindukan my candy yang tidak lain ciuman Qania.


“Ya udah sayang, selamat beraktivitas ya jangan capek-capek karena disana tidak ada aku yang mengobati lelahmu dan jangan coba-coba mencari bahu lain untuk bersandar, ingat itu” ucap Arkana posesif.


“I love you sayang, I miss you so much” ucap Arkana kemudian menghentikan rekaman video tersebut lalu mengirimkannya pada Qania.


“Hahh entah kapan dia akan membuka pesan videoku itu, secara disana nggak ada signal” gumam Arkana lalu berjalan ke tempat tidurnya dan bergegas menghamburkan diri ke atas ranjang yang empuk dan nyaman.


“Lima puluh delapan hari lagi” racaunya, saat ini Arkana sudah tertidur dan dalam tidurnya dia terus menyebut lima puluh delapan hari lagi berulang kali.


 


...****...

__ADS_1


__ADS_2