Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Makam Yang Hilang


__ADS_3

Arkana dan Qania akhirnya mengetahui bagaimana kisahnya hingga Arkana bisa sampai ke kota ini. Bagi mereka tidak mungkin Arkana hanyut terbawa arus hingga ke pulau berbeda.


"Marsya, semoga dia mendapatkan kebahagiaan," gumam Qania.


Arkana sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak berpikir kearah sana melainkan memikirkan nasib bisnis keluarga Marsya ke depan jika ia pulang ke tempat ia berasal.


"Sayang, kita ke rumahku dulu. Aku mau pamitan sama Bi Ria dan Pak Yotar," ucap Arkana dan Qania pun hanya mengangguk.


Sesampainya di rumah, Pak Yotar dan Bi Ria menyambut mereka dengan senang. Disana ada anak mereka dan Arkana pun menceritakan tentang identitasnya yang sesungguhnya dan memperkenalkan Qania sebagai istrinya.


"Kami turut bahagia mendengarnya. Semoga pernikahannya awet sampai maut memisahkan," ucap Bi Ria.


"Aamiin," ucap Qania dan Arkana bersamaan.


"Oh iya Bi, Pak, rumah ini saya hadiahkan untuk kalian. Dan kamu Wan, tolong kamu urus kafe saya yang ada di depan kampus G itu. Semua saya serahkan padamu, mulai hati ini kamulah yang akan mengurusnya. Tidak perlu memberikan saya apa-apa, saya hanya ingin kamu menjaganya dan membuat kafe itu tetap maju," ucap Arkana kemudian ia menepuk bahu Wawan hingga adik angkatnya itu tak bisa berkata-kata.


"Ya Allah, semoga semua kebaikan Den Arkana dibalas beribu kali lipat kebaikan," ucap Pak Yotar dan diaamiini lagi oleh mereka semua.


Arkana hanya mengemasi beberapa dokumen penting tanpa berniat membawa pakaiannya. Semua ia amanatkan kepada Wawan. Mo il, motor dan rumah semua untuk mereka.


Qania tak mempermasalahkan itu semua, mengingat di rumah pun semua barang Arkana masih ia simpan dengan rapih dan Papa Setya yang kaya raya pasti Arkana bisa membeli lagi ini semua.


"Sayang kita ke kafe sekalian makan disana sebelum kita ke bandara," ucap Arkana.


"Ya."


Qania menurut saja, mereka pun keluar dari kamar Arkana dan langsung berpamitan pada keluarga Pak Yotar. Bi Ria menangis haru melepas kepergian Arkana dan Qania.


"Bi, aku juga bakalan balik lagi kok. Qania kan nanti mau wisuda juga. Aku pasti akan datang mengunjungi kalian. Bagaimanapun aku sudah menganggap kalian adalah orang tuaku," ucap Arkana lirih diakhir kalimatnya.


Dengan menaiki mobil Arkana yang disopiri oleh Wawan, mereka menuju ke kafe. Arkana mengatakan kepada Wawan hari ini ia akan memperkenalkan Wawan sebagai penggantinya. Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai.


Arkana meminta managernya untuk mengajak Wawan berkeliling dan sedikit memberi edukasi tentang kafe ini sedangkan Arkana dan Qania duduk di dalam ruangannya sambil menunggu makanan mereka.


"Kurang dari dua jam kita akan balik lagi ke kampung halaman," ucap Qania.


"Aku tidak sabar sayang, aku merindukan semua terutama anak dan Papaku," timpal Arkana.


Baru saja Qania akan bersuara, ponselnya berdering dan ada panggilan dari Papa Setya. Qania mengisyaratkan agar Arkana diam dulu dan jangan mengganggunya selama berbicara di telepon.


"Assalamu'alaikum Pa," sapa Qania.


"Wa'alaikum salam Nak. Kamu nggak balik hari ini?" tanya Papa Setya.


"Aku sebenarnya mau balik Pa, apalagi nanti malam Papa ulang tahun, kan. Tapi aku nggak bisa pulang, masih ada yang harus aku kerjakan disini," ucap Qania dengan nada penuh rasa bersalah.


Papa Setya menghela napas kemudian ia melirik ke arah dua besannya yang sedang menunggu giliran untuk berbicara dengan Qania.


"Qania sayang, ini Mama, Nak. Emang kamu ada urusan apa lagi? Anakmu udah nanyain kamu dari semalam karena kakek Setya sudah di rumah sementara kamu nggak ada," ucap Mama Alisha.


"Oh Papa Setya lagi sama Mama dan Papa?" tanya Qania.


"Iya, kami disini dan anakmu sedang merajuk di kamar. Pulanglah dulu Nak," bujuk Papa Zafran.

__ADS_1


Mendengar perkataan Qania yang mengatakan mertua dan Papanya sedang bersama membuat Arkana mendapat sebuah ide. Bertepatan pula dengan datangnya pelayan mengantarkan makanan mereka.


"Ekhmm. Sayang lagi teleponan sama siapa sih? Makan dulu, teleponannya bisa nanti. Aku nggak mau kamu sakit, oke."


Qania meringis dengan wajah memerah menatap Arkana yang kini tengah menatapnya dengan polos seolah tidak memiliki kesalahan.


"Qania, kamu sedang bersama siapa Nak?" tanya Papa Setya dengan mimik wajah kebingungan.


"Pa, maaf Qania sedang sibuk. Nanti kita sambung lagi. Assalamu'alaikum."


Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Qania langsung memutus panggilannya. Ia menatap penuh rasa kesal pada Arkana yang sedang menatap penuh cinta padanya.


"ARKANA!!"


"Iya sayang, ada apa?"


"Urghhh, dasar brengsek!" umpat Qania dan Arkana hanya tertawa menanggapinya.


Di kediaman Papa Zafran, ketiga orang tua itu saling berpandangan. Papa Setya masih terkejut mendengar suara pria yang menurutnya suara itu cukup familiar namun bukan itu yang jadi masalah di pikirannya.


Apa tadi itu kekasih Qania? Apa dia menahan Qania untuk pulang? Dan apa ini alasan Qania tidak jadi pulang? batin Papa Setya.


Papa Zafran menyadari perubahan raut wajah Papa Setya. Ia ingin berterus terang namun ia masih memilih dan memilah kata yang tepat untuk mengatakannya agar Papa Setya tidak tersinggung.


"Set, aku ingin nanya sama kamu," ucap Papa Zafran mengakhiri lamunan Papa Setya. Papa Setya sadar jika Papa Zafran sudah berbicara seperti itu, itu menandakan sebuah keseriusan.


"Ya tanya aja, mumpun gue disini," jawab enteng Papa Setya namun sebenarnya ia sedang menutupi kegelisahannya.


"Apa kamu marah atau keberatan kalau Qania punya calon suami baru?" tanya Papa Zafran pelan.


"Memangnya Qania sudah punya calon? Apa pria tadi? Apa kamu sudah tahu?" cecar Papa Setya.


"Ya aku belum tahu. Aku hanya bertanya padamu saja," jawab Papa Zafran.


"Kalau memang iya, aku tidak akan marah. Paling hanya sedikit bersedih karena menantuku akan diambil orang dan akan menjadi menantu orang lain. Aku juga tidak melarang jika Qania ingin membuka lembaran baru, dia itu masih sangat muda. Hanya saja, aku berharap bukan dalam waktu dekat ini dan aku juga berharap Qania dulu yang mengatakannya padaku. Berharap dia meminta izin dan menanyakan restu dariku. Jujur aku takut kehilangan dia karena bagiku, Qania adalah anakku sendiri. Dia menggantikan posisi Arkana dan aku belum siap untuk kehilangan dia," tutur Papa Setya yang membuat Papa Zafran merasa iba begitupun dengan Mama Alisha.


"Tapi kamu jangan marah dulu. Sebenarnya aku pernah menaruh curiga pada Qania beberapa waktu yang lalu. Aku meminta anak buahku untuk membuntuti Qania ke hotel kamu. Dan dari yang mereka dapat, Qania bersama pria disana namun tidak bisa mendapatkan informasi siapa pria itu. Hanya namanya saja, Tristan. Aku tidak mengenali pria itu, tapi perawakannya sangat familiar. Maaf Set, aku menyembunyikannya darimu karena belum yakin dengan berita yang aku dapatkan," cerita Papa Zafran yang mana semakin membuat sedih hati Papa Setya.


"Tidak apa, aku maklum. Qania masih sangat muda dan dia butuh pendamping juga. Aku akan merestuinya jika dia memintanya," ujar Papa Setya berusaha legowo.


Mama Alisha bisa menangkap raut wajah kesedihan dari Papa Setya namun ia diam saja karena tak ingin menambah kesedihan besannya itu. Papa Zafran pun sama, namun ia pun memilih diam.


Tak berapa lama dering telepon Papa Setya berbunyi menampilkan nama penelepon dan Papa Setya pun pamit untuk menjawabnya.


"Al, Zaf, aku balik dulu. Ada urusan penting. Nanti aku balik lagi kesini kalau udah kelar," ucap Papa sekembalinya dari menjawab panggilan tadi.


"Iya, kamu hati-hati. Jangan terlalu gila kerja," ucap Papa Zafran.


Mereka pun mengantar Papa Setya hingga ke mobilnya. Ia disambut oleh Pak Anwar dan mereka pun langsung pergi.


Sebenarnya tidak ada urusan penting, hanya saja semakin lama berada disana ia semakin merasa sedih.


Qania, maafin Papa kalau Papa egois. Papa hanya belum siap kehilangan anak lagi. Papa hanya takut kamu akan melupakan Papa dan Arkana. Papa juga takut kamu mengesampingkan Arqasa jika kamu menikah lagi. Ternyata harta pun tidak bisa untuk membahagiakan jika kita tidak memiliki keluarga yang utuh. Qania, maafin Papa untuk saat ini belum bisa bersikap bijaksana. Papa hanya belum siap aja kembali kehilangan.

__ADS_1


"Anwar kita ke pemakaman. Sudah sangat lama saya tidak mengunjungi Arka," ucap Papa Setya dengan suara lirih.


"Baik Pak."


Pak Anwar pun membawa majikannya menuju ke pemakaman. Suasana nampak sepi apalagi sekarang sudah pukul dua belas. Ia bahkan tak sempat untuk membawa bunga atau air. Semua mendadak karena perasaan sedihnya dan ia yakin Arkana pun akan sedih mendengarnya.


Papa Setya melangkah gontai menuju ke arah makam Arkana. Ia kebingungan karena makam itu tak kunjung ia dapatkan. Ia awalnya merasa salah makam karena sudah lama tak datang namun setelah ia cari-cari lagi, ia hanya menemukan tanah makam bekas galian di makam yang ia yakini adalah makam Arkana.


Tanpa pikir panjang Papa Setya segera kembali ke mobil. Ia meminta Pak Anwar untuk mengantarnya ke kantor polisi sementara ia menghubungi Zafran agar turut datang.


"Ya ampun Set, baru juga keluar udah nelepon aja," ucap Papa Zafran.


"Udah nggak usah basa-basi, Lo sekarang ke kantor polisi. Gue sedang dalam perjalanan kesana," serga Papa Setya.


"Heh, ada apa lagi? Ada masalah apa? Kenapa bawa-bawa polisi?" cecar Papa Zafran yang membuat Mama Alisha mengerutkan keningnya.


"Cepat datang!"


Panggilan diputus membuat Papa Zafran mendengus sementara Mama Alisha menjadi kebingungan.


"Setya menyuruh Papa ke kantor polisi, Ma. Entah ada masalah apa, tapi sepertinya sangat penting. Papa kesana dulu, Mama di rumah aja jagain Ar," ucap Papa Zafran dan Mama Alisha pun menurut namun masih merasa bingung dan gelisah.


Sepuluh menit Papa Setya sudah sampai dan hanya menunggu lima menit pun Papa Zafran juga sampai.


"Ada apa?" tanya Papa Zafran begitu ia menghampiri Papa Setya.


"Masuk dulu," ajak Papa Setya dan mereka pun masuk.


Keduanya mengambil tempat duduk di depan polisi yang sedang bertugas. Polisi itu cukup terkejut dengan hadirnya dua orang yang disegani dan sangat berpengaruh di kota ini.


"Selamat siang Pak Zafran Sanjaya, Selamat siang Pak Setya Wijaya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi itu dengan ramah.


"Begini Pak, saya ingin melapor bahwa ada yang membongkar makam anak saya tanpa sepengetahuan saya," ucap Papa Setya yang mana Papa Zafran langsung terkejut.


"Beneran Set?" tanya Papa Zafran dan Papa Setya pun mengangguk pasti.


"Maksudnya makam Arkana Wijaya?" tanya polisi itu.


"Benar Pak. Kenapa Anda bisa tahu?" tanya Papa Setya.


Polisi itu menjadi bingung sendiri, ia pikir mereka tahu akan hal ini. Ia khawatir kalau saja ia kecolongan dengan ada yang berniat menipunya.


"Emm begini Pak, tempo hari ada yang datang kepada saya. Apa Anda mengenal saudari Qania Salsabila dan Syaquile Sanjaya?" tanya polisi itu hati-hati.


"Tentu saja, mereka itu anak-anak saya dan Qania anak sulung saya itu menantu Pak Setya," jawab Papa Zafran, ia mulai penasaran mengapa nama kedua anaknya dibawa-bawa.


Polisi itu bernapas lega. "Syukurlah, saya kira mereka berbohong. Jadi begini Pak, Qania mengajukan permintaannya untuk melakukan penelitian forensik pada tulang-belulang mayat yang ada di makam Arkana itu. Katanya sudah seizini Bapak Setya Wijaya. Makanya kami mengizinkan dan mungkin mereka belum menyampaikan bahwa yang ada di makam itu memang bukan Arkana Wijaya melainkan Arjuna Wilanata," papar polisi itu membuat Papa Setya dan Papa Zafran terbengang.


"Maksudnya Pak?" tanya Papa Setya gemetar. Ia berharap apa yang ia dengar adalah salah.


"Maksud saya, mayat yang ada di dalam makam itu bukanlah Arkana Wijaya anak Anda melainkan Arjuna Wilanata. Karena terbukti itu adalah mayat milik Arjuna Wilanata maka pihak keluarganya meminta izin untuk memindahkan makamnya. Jadi ada dua kemungkinan Pak. Yang pertama adalah ada kemungkinan anak Anda Arkana Wijaya masih hidup namun entah dimana. Dan yang kedua kemungkinan anak Anda sudah meninggal namun entah siapa yang sudah menemukan jasadnya pada waktu itu," ucap polisi itu menjelaskan dengan detail.


Entah Papa Setya harus senang ataupun sedih. Di hari ulang tahunnya ini, ia mendapat dua kado spesial yang tidak bisa ia tafsirkan baik dan buruknya hadiah ini.

__ADS_1


Ya Tuhan, semoga di hari bertambah usianya hamba ini, ada hal baik yang sedang Engkau persiapkan untukku..


__ADS_2