
Qania tersenyum puas saat jam menunjukkan pukul delapan dan sekarang dia bersama Lala sudah siap meluncur ke hotel tempat mereka akan mengikuti seminar yang akan dibawakan oleh Tristan Anggara si pria sombong menurut Qania itu.
“Kakak nggak ada mata kuliah pagi emang?” tanya Lala yang berada dibelakang karena kali ini Qania lah yang membawa motor.
“Nggak, kakak nanti masuk siang” jawab Qania yang menyetir motor dengan santai.
“Tapi aku ada kak” ucap Lala cengengesan.
“Lah kok nggak bilang sih La?” Qania tiba-tiba menghentikan motornya.
“Hehe itu kak, aku penasaran sama boss Tristan Anggara” kekeh Lala.
Qania menatap datar pada Lala yang sedang cekikikan, kemudian ia kembali melajukan motor tersebut.
Entah sudah direncanakan Tuhan atau pun kesengajaan, saat Qania dan Lala berada di jalan Raka datang dan meminta Qania untuk menghentikan motornya dengan cara menyamakan kendaraan mereka. Hal tersebut membuat Qania syok sekaligus bingung. Di satu sisi dia tidak ingin terlambat tapi disisi lain ia juga sudah merindukan Raka yang tidak bertemu dengannya selama dua minggu karena Raka pergi untuk study tour.
Mau tidak mau Qania menghentikan motornya dan menyapa Raka yang sudah membuka helmnya.
“Ka, aku rindu padamu tapi jangan sekarang ya ngajak ngobrolnya. Aku lagi buru-buru” ucap Qania kemudian kembali menghidupkan mesin motornya dan meninggalkan Raka yang masih terperanjat kaget dengan ucapan Qania yang begitu cepat dan pergi begitu saja tanpa menunggu ia menjawab dan menyapa.
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat Qania pergi, ia tersenyum sangat manis sambil terus menatap lurus ke depan.
“Qan sampai kapanpun gue nggak bakalan berhenti berharap. Gue nggak tahu kapan waktu itu tiba, waktu dimana elo membuka hati lo walau hanya sedikit. Gue nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan itu Qan. Gue janji gue bakalan bahagiain elo dan anak lo. Gue nggak bakalan menyerah dan gue juga nggak akan memaksa, biarkan Tuhan yang mengaturnya karena gue percaya takdir Tuhanlah yang paling indah” gumam Raka kemudian memasang kembali helmnya lalu menghidupkan mesin motornya dan pergi.
*
Setya, Zafran dan Alisha menatap sendu pada balita yang sedang asyik bermain sambil terus menyebut-nyebut kata daddy. Ketiga orang dewasa itu sangat sedih melihat cucu mereka yang sedang asyik bermain namun ucapannya begitu menohok mereka.
“Udah tiga hari loh ini dia selalu menyebut daddynya” ucap Alisha lirih.
“Kok bisa?” tanya Zafran dan Setya bersamaan.
Zafran baru sampai semalam begitupun dengan Setya yang baru saja sampai pagi tadi dan langsung menuju ke kediaman Zafran.
Masih pukul delapan pagi waktu Indonesia bagian tengah, mereka baru saja selesai sarapan dan sekarang sedang berkumpul di ruang keluarga.
“Huaaaa.. mommyyy” tangis Arqasa yang tiba-tiba itu mengejutkan ketiga orang dewasa di dekatnya.
Dengan gerakan refleks mereka langsung menuju ke tempat Arqasa dan Alisha dengan cepat menggendong Arqasa sementara kedua kakeknya sibuk memeriksa tubuh balita itu mencoba mencari tahu apakah ada yang luka atau digigit serangga sehingga ia menangis seperti itu.
“Huuaa.. mommy Aqa Nek..”,.
“Mommy Arqa kenapa nak?” tanya Alisha ikutan gelisah karena cucunya terus memanggil sang ibu.
“Acian mommy Aqa Nek, hikss cian mommy Nek” isaknya.
Alisha, Zafran dan Setya saling berpandangan, berbagai pikiran buruk muncul di benak mereka.
“Cian Aqa, Nek. Cian mommy” ucapnya lagi tersedu-sedu.
__ADS_1
“Kenapa mommy, Nak?” tanya Zafran lembut sambil membelai rambut sang cucu.
“Tepon duyu, Kek. Indu Aqa ama mommy kek” ucapnya meminta agar kakeknya menelepon Qania karena dirinya rindu.
Ketiga orang tua itu menghembuskan napas lega karena cucunya ternyata sedang merindukan sang ibu. Zafran tersenyum kemudian berjalan mendekati meja dimana ia meletakkan ponselnya dan langsung menekan panggil pada kontak Qania.
Alisha dan Setya pun ikut duduk bersama Zafran dengan kini Arqasa berada di pangkuan Setya.
Berbeda dengan kedua kakek itu, Alisha masih belum hilang kekhawatirnya karena cucunya itu terus mengatakan kasihan mommynya. Sebagai seorang ibu, tentu saja ada perasaan cemas apalagi saat ini anaknya itu sedang berada jauh dari mereka dan anaknya terus meracau selama beberapa hari ini menyebut mommy dan daddynya.
‘Ya Allah jangan katakana jika cucuku ini menyebut mommy dan daddynya karena Engkau berniat mempertemukan mereka kembali dengan cara mengambil anakku juga.. ya Allah tolong lindungilah putriku dimana pun dia berada. Tolong kasihanilah seorang anak kecil yang sudah menjadi yatim ini. Dia hanya memiliki seorang ibu ya Allah, tolong jaga anakku’ isak Alisha dalam hati yang tanpa ia minta air matanya keluar sendiri dari sarangnya. Dengan cepat ia menghapusnya.
“Sabar Al, semoga Qania baik-baik saja” ucap Setya sambil menepuk bahu Alisha, ia sempat melihat Alisha menitikkan air mata dengan raut wajah begitu terlihat sedang mencemaskan sesuatu.
Alisha mengangguk, ia memberikan senyuman pada Setya sambil berusaha menepis pikiran buruknya.
“Ini sudah panggilan ke tiga tapi Qania belum mengangkat teleponnya” ucap Zafran masih terus mencoba menghubungi Qania.
Perasaan Alisha semakin tidak karuan setelah mendengar ucapan Zafran tersebut. Pikiran buruk yang sedari tadi berusaha ditepisnya kini datang lagi dan memenuhi seluruh benaknya.
“Mungkin sedang ada kuliah” ucap Setya mencoba menenangkan Alisha.
“Iya juga ya, disana kan pasti sudah pukul sembilan” ucap Zafran kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja.
“Sabar ya sayang, mommymu sedang ada kelas. Sebentar kita akan melakukan panggilan video” ucap Setya sambil mengecup puncak kepala Arqasa.
Balita itu menghapus air mata yang masih menggenang di pipinya kemudian mengangguk.
“Aqa sayang mommy ngan daddy” ucapnya kemudian tersenyum manis membuat kakek dan neneknya itu tersenyum juga.
“Sebentar lagi, gue masih pingin main bareng cucu gue” tolak Setya sambil menepuk-tepukkan tangan Arqasa.
“Ya udah terserah lu, gue mau ke atas dulu. Ada yang harus gue kerjakan” pamit Zafran.
Setelah Zafran pergi, giliran Alisha yang pamit pada Setya untuk melihat tanamannya di samping rumah.
Memang seperti itu, mereka akan membiarkan Arqasa bermain bersama Setya jika ia datang berkunjung. Mereka ingin memberikan ruang bebas untuk Setya bersama Arqasa mengingat cucu mereka itu sangatlah mirip dengan Arkana. Jadi sedikit banyak rasa rindu dan kehilangan Arkana pada diri Setya pun bisa terobati.
*
Qania dan Lala tergesah-gesah memasuki aula hotel tersebut namun pintu ruangan itu masih terbuka lebar dan nampak belum ada kegiatan sama sekali, hanya kursi yang sudah hampir terisi penuh.
Qania dan Lala langsung mengambil kursi yang masih kosong di bagian tengah dan kebetulan masih terdapat dua kursi.
“Seminarnya belum dimulai?” tanya Lala pada salah satu lelaki yang sepertinya adalah kenalannya.
“Sepertinya pak Tristan Anggara yang anti telat itu kini terlambat” jawabnya dibarengi kekehan.
Lala ikut terkekeh mendengar jawaban yang sebenarnya adalah ejekan untuk Tristan Anggara.
__ADS_1
Bunyi sepatu yang semakin dekat ke ruang aula tersebut membuat para peserta seminar itu langsung duduk diam di tempat mereka masing-masing.
“Selamat pagi semua” sapa seorang pria yang baru saja masuk.
“Pagi” jawab mereka semua.
“Kak, emang itu si Tristan Anggara? Kok terlihat udah kayak pria berumur empat puluhan dan nggak tampan seperti yang dibicarakan orang ya?” bisik Lala pada Qania.
Qania yang juga sependapat dengan Lala pun mengangguk. Apa iya semua gossip tentang ketampanan dan kesuksesannya diusia dua puluha itu hanya hoax, pikir Qania.
“Maaf saudara-saudara semua, sepertinya pak Tristan Anggara akan sedikit terlambat karena beliau sedang ada urusan sebentra. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi ia akan sampai” ucap pria yang tadi masuk itu.
“Oh rupanya bukan Tristan Anggara kak” kekeh Lala.
“Ya kali kak Marsya yang cantik itu pacaran sama om-om” imbuhnya.
Qania hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Lala yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin ia sampai berpikir bahwa Marsya Alvindo anak pengusaha kaya itu menjalin hubungan asmara dengan om-om.
‘Kali ini dia yang terlambat. Apa aku skakmat aja ya dia dengan nyuruh dia keluar karena terlambat? Hahaha, yang ada aku yang mereka suruh keluar. Mana ada pemberi seminar yang diusir dari acaranya sendiri. Dasar Qania’ kekeh Qania dalam hati.
Qania merasa geli sendiri membayangkan bagaimana reaksi Tristan Anggara begitu masuk ke ruang aula dan langsung ia usir. Dan bagaimana pula reaksi perserta seminar terlebih lagi reaksi Lala yang selalu terkejut itu.
Qania pun memutuskan untuk melanjutkan membaca novel dari ponselnya untuk mengusir rasa bosannya. Qania mengambil ponselnya dari dalam tas ransel kecilnya. Ia begitu terkejut saat mendapati ada lima panggilan tak terjawab dari papanya.
Qania merasa bahwa papanya meneleponnya sampai sebanyak itu kemungkinan ada hal yang sangat penting sehingga ia tidak menghiraukan keadaan di dalam ruang tersebut karena perasaannya menjadi sangat khawatir ketika wajah anaknya melintas di benaknya.
Qania bahkan tidak tahu ketika moderator sudah kembali masuk dan mengatakan bahwa seminar akan segera dimulai karena Tristan Anggara sudah datang.
“Maaf saudara-saudara sekalian, hari ini saya datangnya terlambat karena ada urusan mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan. Dan ya..” ucapannya terhenti ketika melihat dibangku tengah ada salah satu peserta seminar yang malah asyik dengan ponselnya.
“Ekhhmm” ia berdehem dengan cukup keras berharap peserta itu yang tidak lain adalah Qania mengerti maksunya, namun Qania sama sekali tidak menghiraukan tegurannya justru malah menempelkan ponselnya ke telinganya.
“Saya paling tidak suka saat saya akan memberi seminar ada yang tidak memperhatikan. Bukankah sudah diberitahukan kalau tidak boleh ada yang menggunakan ponsel selama saya memberikan materi seminar. Saya membuang waktu yang sangat berharga hanya untuk melihat ada orang yang tidak menghargai waktu yang sudah saya berikan kepada kalian” ucapnya dengan suara lantang namun bak angin lalu bagi Qania yang justru pikirannya melayang jauh pada putranya.
Lala yang berada disebelah Qania sudah gemetar ketakutan karena Qania justru seperti mengabaikan peringatan Tristan Anggara. Ia yang tadinya sangat terpesona melihat penampilan pria itu pun berubah menjadi ketakutan saat ternyata orang yang disinggungnya itu adalah Qania.
Ingin rasanya Lala menegur Qania namun ia juga takut.
Panggilan terhubung, namun baru saja Qania akan menyapa papanya, sebuah teguran keras membuatnya menjatuhkan ponselnya.
“Kamu yang bermain ponsel, KELUAR”,.
Qania tersentak kemudian menoleh pada asal suara dan…
Deg…..
Qania memegang dadanya yang tiba-tiba seolah jantungnya berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan mata penegurnya itu yang tidak lain adalah Tristan Anggara.
“Ka..kam..mu.. A..Ar..”,.
Belum sempat Qania meneruskan ucapannya ia langsung terjatuh karena tak sadarkan diri.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗