
Arkana menghentikan motornya di depan rumah Qania, ia menengok ke arah kamar Qania yang masih gelap itu. Wajar saja, saat ini masih subuh dan tidak ada satu pun orang yang sedang melintas disana. Udara dingin menusuk hingga ke pori-pori Arkana. Ia menelan ludahnya kala membayangkan bagaimana reaksi Qania saat mengetahui tetangganya meninggal akibat kecelakaan balapan yang ia juga menjadi salah satu pesertanya.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Arkana berbalik arah karena rumah nenek Tosan sudah lewat, yaitu dua rumah sebelum rumah Qania. Arkana menghentikan motornya lagi di depan sebuah rumah sederhana bergaya klasik, dengan cat tembok berwarna gold itu. Perlahan ia mememcet bel, sehingga satpam penjaga rumah itu keluar dari posnya yang berada di dalam pagar.
"Maaf ada keperluan apa adik kemari sesubuh ini?" tanya satpam itu yang terlihat agak mengantuk.
"Maaf pak, apa benar ini rumah Tosan?" tanya Arkana hati-hati.
"Iya dik, adik temannya den Tosan?" tanya satpam itu bernapas lega setelah mengetahui bahwa orang di depannya ini bukanlah penjahat.
"Iya pak, dan saya kemari ingin menemui nenek. Maaf sudah mengganggu sesubuh ini" ucap Arkana.
Satpam tersebut membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan Arkana masuk.
"Nenek biasanya sudah bangun jam segini karena ia terbiasa shalat tahajjud lalu tidak tidur lagi sampai waktu subuh. Saya akan memanggilnya, adik silahkan duduk dulu" ucap satpam tersebut mempersilahkan Arkana duduk di kursi teras.
Arkana mengangguk, satpam tersebut masuk untuk memanggil nyonya rumah. Sementara Arkana sibuk merangkai kata untuk mengatakan perihal Tosan. Berbagai kata berulang kali ia rangkai namun rasanya kurang pas. Sampai si nenek bersama satpam tersebut keluar.
Arkana berdiri memberi salam sambil mencium tangan si nenek, kemudian keduanya duduk kembali sementara satpam kembali lagi ke posnya.
"Ada apa nak?" tanya nenek.
"Begini nek, saya juga bingung harus mulai darimana" ucap Arkana begitu kaku, ia menghela napas panjang. "Perihal Tosan, dia.. dia.." Arkana begitu ragu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Tosan baru saja pergi, tadi dia baru saja menemui nenek. Katanya dia akan pergi, dia pamit pada nenek, entah kenapa dia memeluk nenek dengan erat. Anak itu suka pergi dan datang sesukanya tanpa pamit, tapi tadi dia pamit sambil memeluk nenek. Kamu sepertinya lambat datangnya nak, baru sekitar sepuluh menit yang lalu Tosan pergi" cerita nenek pada Arkana, membuat Arkana dengan susah payah menelan ludahnya.
"Tapi nek, saya kemari untuk mengatakan bahwa Tosan kecelakaan dan meninggal sekitar setengah jam yang lalu" ucap Arkana, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Arkana tidak sanggup melihat wajah si nenek.
Bagai disambar petir hati si nenek, ia yang tadi begitu bersemangat menceritakan cucunya itu kini harus mendengar kabar yang tidak terduga.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa? Tosan baru saja menemui nenek dan pamitan. Kamu jangan bercanda nak" ucap nenek tidak mempercayai Arkana.
"Saya berkata yang sebenarnya nek, saya bersamanya sejak malam dan saya pula yang membawanya saat ia kecelakaan. Nenek tolong tabahkan hati, saya akan membantu nenek mengurus persiapan di rumah, dan di rumah sakit ada teman-teman yang lain sedang mengurus jenazah Tosan agar secepatnya di bawa pulang" jelas Arkana.
Nenek langsung menangis sejadi-jadinya, Arkana dengan sigap memeluk si nenek dan turut merasakan kepiluannya. Sementara pak satpam yang mendengar hal tersebut juga sama sedihnya. Selama ini Tosan menganggapnya sebagai teman sekaligus paman, bukan sebagai pekerja di rumah sang nenek.
Arkana di bantu satpam masuk membawa nenek ke ruang tamu, kemudian pak satpam membangunkan dua asisten rumah tangga di dapur untuk membantu Arkana mempersiapkan segala kebutuhan untuk pelayat dan pemakaman nanti
Setengah jam setelahnya, suara ambulans dan beberapa motor terdengar mendekat ke kediaman mereka. Dengan tangis pilu, nenek dan anggota keluarganya menyambut kedatangan jenazah Tosan.
"Tante masuk dulu ya" ucapnya pada Arkana.
Arkana tersenyum tipis seraya mengangguk, pikirannya kembali membayangkan reaksi Qania.
Sementara di rumah, Qania tersentak saat mendengar kabar bahwa Tosan meninggal, Elin yang sudah bangun lebih awal langsung berlari ke rumah Qania dan saat ini ia tengah mengetuk pintu kamar Qania. Saat Qania membuka pintu, terlihat Elin begitu tegang dan ngos-ngosan.
"Tenang dulu Lin" ucap Qania kemudain memapah Elin untuk duduk di kasurnya.
__ADS_1
"Tosan Qan, dia meninggal" ucap Elin sambil memeluk Qania.
"Aku juga kaget Lin, yuk kita kesana. Dia adalah sahabat kita dari kecil, meskipun sekarang kita udah jarang ngumpul bareng" ajak Qania.
Keduanya berpelukan sambil menangis, kemudian Qania bergegas mengganti pakaiannya sementara Elin sudah siap sebelum ke rumah Qania.
___
Qania dan Elin berlari masuk ke rumah Tosan dengan air mata yang berlinangan air mata, bahkan ia tidak melihat keberadaan Arkana.
"Mengapa Qania sangat sedih dan menangis seperti itu?" gumam Arkana.
Arkana mengikuti Qania masuk ke dalam rumah Tosan.
"Tos, bangun Tos masa kamu ninggalin aku sama Elin secepat ini. Kita sahabatan dari kecil, kamu bahkan udah janji bakalan datang ke wisudah kita dan kamu juga udah janji jadi orang nomor satu yang paling sibuk mengurus acara pernikahan aku dan Elin kalau kita sudah akan menikah. Kita bahkan sudah buat janji untuk liburan bulan depan, sambil mengenang masa-masa kecil kita bertiga. Tos bangun, hiksss" tangis Qania di depan mayat Tosan.
"Iya Tos, bagaimana mungkin kamu ninggalin kita berdua dengan rencana-rencana yang sudah kamu susun dengan sempurna, bangun Tos" tangis Elin.
"Ada hubungan apa Qania dan Tosan, sehingga tangisnya begitu pilu?" pikir Arkana.
Suasana haru menyelimuti kediaman tersebut, rencana pemakaman akan dilaksanakan pukul sepuluh pagi tanpa menunggu kedua orang tua Tosan.
Arkana datang dan memegangi bahu Qania, membuat Qania menoleh ke atas melihat siapa yang menyentuhnya.
__ADS_1
"Ar.ka.na" ucap Qania sesenggukan.
Qania langsung berdiri dan memeluk Arkana menumpahkan tangisnya dalam dekapan sang kekasih, tanpa memikirkan beberapa orang melihat adegan mereka.