
Pagi ini himpunan sudah sangat ramai dan berubah menjadi warna hitam, karena lebih dari seratus mahasiswa yang ada di sana semua mengenakan pakaian hitam seperti kesepakatan.
"Bang Emeli udah ngasih kabar kalau di kampus udah rame dan rektor sama dekan juga sudah berada di kampus. Sementara bu Intan belum datang" kata Kasman, junior yang seangkatan dengan Emeli.
"Berarti tinggal nungguin bu Intan baru kita langsung ke kampus" sahut Abdi.
"Eh Qania dimana?" tanya Prayoga yang ikut bergabung.
"Tadi dia dan Rey pamit karena di panggil bu Lira" jawab Baron.
"Nah itu mereka" seru Yani saat melihat Rey dan Qania datang.
Rey dan Qania langsung ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Gimana Qan, bu Lira bilang apa?" tanya Abdi penasaran.
"Enggak, dia cuma minta kita agar hati-hati dan jangan lemah aja. Kita harus lawan ketidakadilan dan mencegah terjadinya nepotisme. Bu Lira sih nggak ada masalah soal jabatannya entah itu bertahan atau tersingkirkan. Dia hanya tidak suka dengan cara seperti ini digunakan, apalagi di dunia pendidikan" jawab Qania sambil mengingat ucapan bu Lira.
"Gue setuju sama bu Lira. Ini cara murahan banget, nggak cocok dan nggak sebanding sama bu Lira dan elo Qan" timpal Rey.
"Gue malah lebih setuju bu Lira yang jadi rektor kita" sahut Risti.
"Gue setuju Ris" ucap Yani.
"Tapi kok gue lebih suka kalau bu Lira jadi prodi kita ya, dia pasti urusin kita dengan baik" ucap Cika dengan nwra sendu.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita siap-siap" lerai Qania.
"Yog gimana sound system?" tanya Abdi.
"Itu bagiannya Baron sama Rey" jawab Prayoga.
"Kalian tenang aja, sound system, bendera, atribut dan perlengkapan buat demo udah rampung. Kita semalam di sini begadang" jawab Baron.
"Oke, kita tinggal tunggu info dari Emeli" sahut Abdi.
"Bang, bu Intan baru saja masuk ke ruangannya" kata Kasman dengan semangat memberi tahu pada Abdi.
"Oke".
Abdi dan yang lainnya langsung membubarkan perkumpulan mereka, karena sebentar lagi aksi mereka akan dimulai.
"Oke saudara-saudaraku, adik-adikku, dan abang-abang serta kakak-kakakku yang saya cintai, ayo kita merapatkan barisan dulu sebelum kita melakukan aksi ini" teriak abdi menggunakan pengeras suara.
Setelah mendengar arahan dari Abdi selaku ketua himpunan, semuanya berbaris di depan ruang himpunan dimana Abdi, Qania dan Prayoga berdiri sejajar di depan. Setelah semua sudah berkumpul, Abdi melanjutkan arahannya.
"Kita akan melakukan aksi demo ke prodi kita sendiri hati ini, dimana hal ini disebabkan oleh adanya tindak diskriminasi dan juga mengarah ke tindakan nepotisme. Saya berharap kita bersatu menyuarakan aspirasi kita nanti, kita harus maju sebagaimana kita adalah ANAK TEKNIK"
"TEKNIK, TEKNIK, TEKNIK, YES" teriak mereka semua.
"Baiklah, kita akan mulai dari sini. Perjalanan kita menuju kampus akan dipimpin langsung oleh saya dan pengurus inti himpunan di belakang saya, kemudian junior tingkat bawah, dan seterusnya sampai pada para senior. Namun di depan saya ada junior kita yang sudah ditugaskan untuk mengambil dokumentasi kita hari ini, hari bersejarah kita. Saat kita akan memasuki area kampus, kita akan bernyanyi mulai dari Mars Teknik, Permisi Anak Teknik Mau Lewat, dan sampai di depan ruang dekan pertama Himne Teknik dan terakhir Rap Teknik, kalian semua siap?"
"SIAAP.."
"Bagus.. Baiklah sebelum kita pergi mari kita berdoa menurut keyakinan kita masing-masing, mulai"
"Selesai"
"Mari kita maju bersama, Kita ANAK TEKNIK"
"TEKNIK, TEKNIK, TEKNIK YES".....
Mereka berjalan ke arah kendaraan mereka masing-masing, Qania di bonceng oleh Abdi dan Baron bersama Rey dimana Baron memegang bendera himpunan di tangannya begitu pun dengan Prayoga yang membonceng Cika. Sementara Risti dibonceng oleh Yani karena mereka hanya membawa atribut demo saja.
Jalanan begitu ramai dan padat dengan kendaraan mereka, setiap mata di sepanjang jalan tertuju pada mereka.
"Waw.. keren.."
"Mau orasi kali ya"
"Ada yang meninggal?"
"Itu anak teknik mungkin"
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari orang-orang yang melihat mereka.
"Kita memasuki area kampus, Mars Teknik" teriak Qania menggunakan pengeras suara, ia dengan berani berdiri di belakang Abdi.
"TEKNIK, TEKNIK, TEKNIK, YES" aba-aba Qania.
Semua yang di bonceng ikut berdiri kemudian berteriak.
π Mars Teknik
*Bangun pagi tidak biasa
Tidak mandi sudah biasa
Banyak tugas akan biasa
Anak Teknik luar biasa
TEKNIK, TEKNIK, TEKNIK, YES*
Semua mata para mahasiswa dan dosen menjadi terkejut. Ada rasa kagum dan juga ada yang mencela, tapi lebih banyak yang kagum karena mereka sudah tahu bagaimana solidnya anak-anak dari fakultas teknik dan juga prinsip mereka yang mengatakan luka satu luka kami semua.
Semua perhatian kini teralihkan pada pasukan teknik tersebut, apalagi Qania yang begitu terlihat keren di depan bersama Abdi. Mereka baru saja memarkirkan motor mereka sehingga parkiran tersebut menjadi padat. Dengan formasi yang sama, Abdi dan Qania di depan beserta jajaran pengurusnya.
__ADS_1
"Permisi... Permisi... Permisi..." kembali Qania memberi aba-aba.
π Permisi Anak Teknik Mau Lewat
*Permisi permisi permisi
Fakultas teknik mau lewat
Jangan coba halangi
Jangan coba rintangi
Permisi permisi permisi
...Permisi permisi permisi...
...Fakultas teknik mau lewat...
...Jangan di tengah jalan...
...Nanti ta' injak-injak...
...Permisi permisi permisi*...
Lagu tersebut terus mereka ulangi sampai akirnya mereka berada di depan ruang dekan fakultas teknik.
"Di, kamu yakin kita bakalan nyanyiin lagu himne? kayaknya itu nggak cocok buat demo. Gimana kalau nanti sudah selesai demo baru kita tutup dengan himne?" usul Qania dengan berbisik kepada Abdi.
Abdi berpikir sejenak.
"Lo benar juga Qan, kita langsung Rapp saja" kata Abdi menyetujui.
"TEKNIK RAPP...." teriak Qania dengan lantang, ia menghentakkan kakinya dua kali lalu menepuk tangannya ke atas satu kali, kemudian diikuti oleh seluruh mahasiswa teknik sipil yang ikut bersama mereka.
Dung, dung, prokk..
Dung, dung, prok..
Kira-kira seperti itu bunyi yang dihasilkan dari gerakan yang mereka buat
π Teknik Rap
Aku ini anak teknik
Mahasiswa yang energik
Keng kreng itu sarapanku
...Aku bangga jadi anak teknik...
...Karena aku yang terbaik...
...Gayaku, Caraku, Tingkahku...
...Selalu jadi perhatian...
Aku suka senior
Senior suka aku
Itu namanya di bolak balik
Itu namanya di bolak balik
..............
Semua dosen teknik, tanpa terkecuali dekan dan prodi masing-masing sudah berbaris di depan ruangan mereka melihat kedatangan mahasiswa yang begitu banyak. Bahkan yang jarang masuk kampus pun sudah berdiri di sana.
"Kami anak teknik tidak menerima tindakan diskriminasi"
"Kami tidak menerima adanya nepotisme di kampus"
"Berikan kami keadilan"
"Kami tidak akan melangkah selangkah pun sebelum kami di dengarkan"
Sementara di ruangan rektorat sedang terjadi kegaduhan karena tiba-tiba saja ada aksi demo di kampus.
"Bu Lira anda dosen di fakultas teknik, kenapa bisa terjadi demo seperti ini?" tanya pak Bramantio panik dan juga kesal.
"Saya tidak tahu pak. Kalau bapak ingin tahu, kenapa tidak keluar saja" jawab bu Lira santai.
"Kamu yang bertanggung jawab jika mereka merusak fasilitas kampus" ancam pak Bramantio.
"Maka saya pastikan mereka tidak akan merusak apapun" tegas bu Lira, ia kemudian menyeringai melihat raut wajah panik pak Bram.
Sementara di luar..
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba saja melalukan demo?" teriak bu Intan selaku ketua program studi teknik sipil. Ia sangat kesal karena mahasiswanya membuat kegaduhan, dan pastinya ia yang akan disoroti.
"Kami datang menuntut keadilan untuk saudara kamu" teriak mereka.
"Kalian jangan bikin rusuh" teriak pak Haris, dekan fakultas teknik.
"Kami tidak akan bertindak jika kalian tidak memulainya" teriak Prayoga geram.
__ADS_1
"Memang keadilan apa yang kalian inginkan?" tanya pak Bram yang baru saja datang bersama jajarannya termasuk bu Lira. Tanpa mereka sadari bu Lira tengah tersenyum puas pada mahasiswanya, dan beberapa dari mereka seperti Abdi, Qania, Prayoga dan Cika yang menangkap senyuman itu ikut membalasnya.
"Permainan di mulai" batin bu Lira.
"Saya Qania Salsabila Wijaya dari fakultas teknik program studi teknik sipil konsentrasi struktur datang bersama saudara-saudara saya ingin meminta keadilan dari pihak kampus. Saya menyatakan menerima tindakan diskriminasi yang saya terima" ucap Qania dengan suara lanyang, ia maju ke depan dan berdiri seorang diri membelakangi teman-temannya.
"Kami anak teknik, luka satu adalah luka kami semua" teriak Qania dengan lantang.
Bu Intan yang melihat Qania langsung merasa takut dan juga sangat panik, dia sudah bisa menebak bahwa ini adalah pasti ada hubungannya dengan nilai kosong dari mahasiswa nomor satu di fakultasnya.
Gelagat bu Intan langsung dibaca oleh bu Lira, ia menyeringai kemudian tersenyum mengejek.
Sementara aksi mereka sudah di lihat oleh semua dosen dari fakultas lain dan mahasiswa yang juga ikut berkumpul untuk melihat, ada juga yang menyiarkan secara langsung.
"Tindak diskriminasi apa yang kamu maksud Qania? Bapak mengenal kamu dengan baik karena kamu yang paling berprestasi di angkatanmu dari semua fakultas" ucap pak Bram merasa heran.
"Apa yang terjadi dengan mahasiswa unggulan kampus ini?" pikir pak Bram.
"Saya..."
"Apa kalian tidak merasa malu melakukan aksi demo ini?" potong bu Intan, ia takut kalau sampai rektor tahu.
"Cih.." bu Lira bercih sambil memalingkan wajahnya.
"Bu Intan, tolong jelaskan" pinta pak Bram.
"Dia hanya tidak terima dengan nilainya yang kosong oak. Padahal dia sendiri yang tidak mengumpulkan kertas ujiannya" ucap bu Lira gugup.
"Oh ya?" tanya Qania menantang.
"Tentu saja" jawab bu Intan sangat yakin.
"Baron, Rey, bawakan saya sound system itu" pinta Qania, wajahnya memancarkan aura dingin.
"Baik saudariku" jawab Baron dan Rey serentak.
Setelah menerimanya, Qania langsung memutar audio dari bu Lira di ponselnya dan mendekatkan mic bluetooth ke ponselnya.
"*Siang tanteku yang cantik"
"Ya siang juga sayang"
"Tante habis dari kelas?"
"Iya, tante baru saja ngasih ujian final"
"Tante aku boleh minta tolong?"
"Boleh sayang, kamu mau apa?"
"Aku mau tante kosongin nilai Qania Salsabila Sanjaya"
"Tapi untuk apa?"
"Tante lakuin aja peritah aku, sebagai balasannya aku akan bujuk papa buat jadiin tante wakil rektor"
"Tapi Qania itu unggulan kampus"
"Terserah tante"
"Ya sudah tante setuju, ini kertas ujiannya kamu ambil saja. Supaya nanti tidak ada bukti bahwa dia ikut ujian"
"Hahaha tanteku memang pintar, oke aku pergi"
"Jangan lupa bujuk papamu"
"Pasti tante*"
.............
Pak Bram yang menyadari kalau itu perbuatan putrinya langsung menjambak rambutnya sendiri. Ia menghembuskan napas kasar, ia sudah dibuat malu saat ini.
"Pak, sebaiknya kita undang mereka masuk ke ruang rapat saja. Sepertinya ini akan menjatuhkan harga diri bapak jika terus dilanjutkan di luar ruangan" bisik pak Angga.
"Yah kamu benar, hahh" kata pak Bram pasrah.
Pak Bram menatap tajam pada bu Intan, adiknya.
"Beri kami keadilan"
"Tolak diskriminasi"
"Tolak nepotisme dalam pendidikan"
"Turunkan ketua prodi teknik sipil"
Saat kalimat tersebut terucap, bu Intan langsung tertohok. Ia merasa kesal juga takut disaat yang bersamaan.
"Habislah kamu bu Intan, rasakan akibat dari perbuatanmu. Jangan harap bisa menyingkirkanku" batin bu Lira, ia sangat senang saat ini.
"Kalian semua sekarang masuk ke ruangan rapat, tapi cukup perwakilan saja" ucap pak Bram kemudian pergi lebih dulu.
πKira-kira seperti ini tampilan dari teman-teman Qania.
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1