Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Racun Cinta


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, sudah sebulan lebih Tristan terus mencari keberadaan Qania namun sampai saat ini ia tidak bisa menemukannya semenjak pertemuan mereka yang terakhir dimana Qania mengembalikan uang ganti rugi untuk bahan yang Tristan berikan untuk kegiatan KKN. Sampai saat ini pun Tristan belum putus harapan dan akan terus mencari Qania.


Berulang kali ia mendatangi lokasi KKN Qania, namun hasilnya tetap sama.


"Maaf Tristan, tapi semenjak kecelakaan Qania sudah tidak lagi kembali ke lokasi KKN. Dan kami pun tidak mengetahui dia dimana karena kau tau sendiri lah waktu kecelakaan ponselnya hancur dilindas ban mobil. Kami belum berkomunikasi sampai saat ini."


Begitulah jawaban Zakih ketika Tristan datang menemuinya.


Dan si penyebab kekacauan di hati Tristan hanya berdiam diri di dalam kamar mendengar Zakih membohongi Tristan.


Ya, dia meminta Zakih dan teman-temannya untuk tidak memberitahukan keberadaannya karena ia tidak ingin lagi bertemu dengan Tristan. Ia cukup sadar untuk tidak merusak suatu hubungan yang sudah terjalin sebab ia juga adalah seorang wanita.


Dan akhirnya Tristan pun pergi dengan membawa kesedihan. Qania pun sama, menangis dalam diam karena tidak ingin membuat khawatir teman-temannya.


Dua hari yang lalu Tristan kembali lagi dan yang menemuinya adalah Lina. Gadis itu keukeuh mengatakan bahwa Qania tidak bersama mereka.


"Gue tahu Lo sayang sama Qania, tapi dia nggak ada. Lo nggak percayaan banget sih jadi orang. Kita semua juga kangen dan khawatir sama keadaan Qania. Lo coba deh cari Qania di lokasi KKN lain. Mungkin saja dia ngikut ke gelombang umum," ucap Lina membuat Tristan mendesah lemah.


"Thanks," ucap Tristan kemudian berjalan gontai ke mobilnya.


"Qania, kamu dimana," lirih Tristan di dalam mobilnya kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan desa X, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatap nanar kepadanya.


"Maaf, maafkan aku Tristan," lirih Qania.


Teman-teman Qania hanya bisa menghibur Qania. Mereka mengerti dengan alasan Qania. Wanita mana sih yang mau hubungannya diganggu oleh wanita lain, itulah alasan Qania yang membuat teman-temannya menyetujui keinginan Qania untuk bersembunyi dari Tristan.


.... . ....


Tristan POV


"Kamu dimana Qania?" Lagi, kata itu yang terus terucap dari bibir gue saat sedang sendirian maupun sedang rapat.


Kesana-kemari gue nyari tapi nggak ketemu. Bahkan gue ke kampus, sampai nekad ke lokasi KKN Lala tapi sama sekali gue nggak nemuin dia.


Apakah gue harus ke rumah Qania di Sulawesi untuk menemukannya? Haruskah aku nekad kesana? Tapi apa yang harus gue katakan saat bertemu dengan orang-orang yang bakalan salah paham begitu melihat gue nanti?


Ah, lagi. Gue mandangi foto Qania yang sempat gue curi diam-diam dan itu satu-satunya penyemangat gue.



Wajah teduh nan cantik itu membuat gue yang tadinya ingin berhenti mendadak setelah menatapnya lagi lewat layar ponsel membuat gue semangat 45 buat nyari dia. Ke ujung dunia pun gue rela deh.


Tapi lagi, gue nggak bisa menemukannya.


"Entah dimana kamu saat ini, sayang. I miss you so much, dear," lirih Tristan sambil memandangi foto Qania di ponselnya. Air matanya jatuh menetes di atas foto tersebut.


Entahlah, kenapa gue jadi secengeng ini? Qania benar-benar sudah memberi racun cinta yang menggerogoti jiwa dan pikiran gue. Gue seolah akan mati jika tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


Lebay? Ya, gue emang lebay dan gue mengakui itu. Emang kenapa kalau gue seperti ini karena cinta? Lo boleh bilang gue cemen atau apalah itu terserah Lo, tapi yang harus Lo tahu ini itu hak gue. Hak gue, Man.


Kira-kira apa yang membuat Qania menjauh dan menghindari gue? Pasti, gue yakin pasti ada alasan dibalik ini semua. Nggak mungkin Qania mendadak berubah kayak gini.


Atau emang dia udah kayak gini? Gue dari dulu juga nggak pernah ngerti dan menebak jalan pikiran si cerdas itu.


"Arrgghhhh ... Qania, Lo dimana sih?" Gue hanya bisa berteriak.


Tristan menghapus air matanya, kemudian ia menyimpan ponselnya ke dalam saku lalu ia keluar dari ruangannya. Ia meninggalkan kafenya dan menaiki motornya untuk pulang ke rumahnya.


Semenjak ia tidak bisa menemukan Qania, ia pindah tidur di kamar yang ditempati oleh Qania, berharap bisa menemukannya ketika membuka mata.


Pak Yotar dan bi Ria pun hanya bisa pasrah dan bersedih melihat keadaan majikan mereka yang penampilannya saat ini sudah acak-acakan. Kumis yang dibiarkan tumbuh bersama janggut. Wajah kusam dan rambut yang gondrong. Mereka pun tahu itu semua terjadi karena tuannya merindukan seseorang yang bernama Qania Salsabila.


Tristan masuk ke kamar itu, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hampir dua bulan lalu di tempati oleh Qania. Ia memejamkan matanya, kemudian mengambil ponselnya yang sedang berdering.


"Ada apa, Sya?" tanyaku begitu menjawab telepon dari Marsya.


"Kamu dimana, Tris? Aku nyari kamu ke kafe tapi kamu nggak ada."


"Aku sedang di rumah, Sya. Aku tadi sangat lelah jadi langsung pulang," jawabku. Sebenarnya begitu malas untuk menjawab telepon dari Marsya.


Marsya?


Argghh ...


Gue mengumpati diri sendiri hingga tidak sadar bahwa gue masih tersambung dengan Marsya.


"Siapa yang bodoh, Tris?"


Kan, Marya dengar apa yang gue bilang.


Hufffttt ...


"Nggak kok Sya, aku tadi keingat sama rekan bisnisku yang ditipu padahal aku udah ingatin dia kalau


"Oh gitu, aku kirain kamu lagi kenapa."


Hufftt.


Syukurlah, Marsya percaya sama gue.


"Udah dulu ya Sya, aku mau mandi dulu. Badan aku udah lengket banget. Aku juga baru sampai di rumah."


Rasanya membosankan berbicara dalam waktu yang lama bersama Marsya. Tapi jika itu Qania, gue bisa nggak tidur semalaman hanya untuk mendengarkan dia berbicara. Ada saja hal yang menarik yang bisa jadi perbincangan bersamanya. Ah Qania, kau dimana.


"Hmmm ... ya udah. Gih kamu mandi."

__ADS_1


Aku bisa mendengar suaranya yang kecewa, ada sedikit rasa sesal karena sudah melupakannya. Gadis yang selama ini selalu berdiri di sisiku.


Aku meletakkan kembali ponselku setelah Marsya mengakhiri panggilannya dengan membawa kekecewaan tentunya.


Maaf, Sya. Aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Apa aku sudah sangat menyakitimu? Ya, pasti sangat menyakitimu hingga kau akan sangat marah atau bahkan membenciku.


Marsya, gadis yang selama ini mendampingi diriku di kala susah maupun senang. Dia yang selalu menyemangati dan menghiburku. Masa iya aku melupakannya seperti ini? Mencampakkannya hanya karena mendapat sesuatu yang baru.


Apakah ada yang keliru disini? Apakah aku hanya tergoda sesaat atau aku merasa tidak mencintai Marsya lagi?


Tapi tidak seperti itu rasanya. Cintaku ke Marsya tidak mungkin luntur secepat itu. Tapi apa yang aku rasakan pada Qania itu berbeda dengan yang aku rasakan terhadap Marsya.


Haahhhh ...


"Pusing, gue pusing. Gimana bisa gue jatuh di dua hati kayak gini, sih? Tristan Lo bodoh banget sih. Lo nggak bisa lurusin hati Lo dan menentukan siapa yang sebenarnya Lo cinta. Lo pilih Qania atau Marsya sih sebenarnya?"


Tapi setelah gue berpikir, Marsya mungkin adalah pilihan. Tapi Qania, aahh -- dia bukanlah sebuah opsi, melainkan dia yang mampu memilih.


Meskipun gue milih dia, belum tentu dia bakal milih gue. Sedangkan Marsya, nggak gue pilih pun dia bakalan menambatkan hatinya ke gue.


Hahhh ...


Gue bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar ini menuju ke kamar gue buat mandi. Hari sudah malam dan gue masih belum menemukan Qania.


Gue sebaiknya mandi dan lanjut lagi mencarinya. Akan ku kelilingi seluruh tempat ini sampai ke tempat yang sulit dijangkau, bahkan ke lubang semut pun akan ku cari jika memang kau bersembunyi disana, Qania.


...Tristan POV End...


.... . . . . . . . . . ....


Maaf ya, mungkin aku nggak up banyak dan mungkin sehari hanya bisa satu bagian saja. Aku lagi kejar target di RL, aku lagi sibuk.


Doain aku sehat dan punya kesempatan terus ya buat Up.


Jujur aku tuh meskipun nggak banyak yang minat karyaku, tapi sehari nggak up rasanya nggak enak.


Aku tuh mikir gini, 'Gimana ya kalau ada yang nungguin aku posting? Kasihan lah, aku gantungin mereka baca. Aku aja nggak suka kalau bacanya kegantung, pasti mereka juga sama donh' tapi mau gimana lagi, tuntutan di Real Life pun harus dipenuhi.


Terima kasih ya sudah membaca karyaku. Kalian sumber semangatku buat up terus meskipun aku kadang ngilang.


...😊 😊 🌷 🌷 😊 😊 🌹 🌹 😊 😊...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


.... . . . . . . . . ....


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2