Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Melangsungkan Rencana


__ADS_3

Hamdan mendekati Tristan yang sedang berbincang bersama pak Meldi, sesuai rencana maka ia juga turut andil dalam bermain peran saat ini seperti yang diminta oleh Tristan.


“Permisi pak Tristan, inspektor dua sebentar lagi akan datang,” ucap Hamdan.


Pak Meldi mengernyit. “Inspektor dua? Siap dia? Kenapa dia baru datang setelah pekerjaan ini hampir selesai?”


“Maaf pak Meldi, inspektor dua saya ini sebenarnya hanya mahasiswa yang turun lapangan. Dia meminta tolong kepada saya untuk dimasukkan ke dalam proyek ini guna mendapatkan nilai mata kuliah kerja prakteknya. Dia juga murni hanya untuk belajar, tidak meminta bayaran, hehehe,” jawab Tristan.


“Oh mahasiswa, toh. Dia dari fakultas Teknik?” Selidik pak Meldi.


“Ya, dari fakultas Teknik tapi saya lupa dia dari jurusan apa karena baru dua hari yang lalu dia datang menemui saya untuk meminta bantuan.”


Ada gurat keraguat di wajah pak Meldi, jika sampai yang datang ini mahasiswa yang cerdas maka ia bisa dengan mudah ketahuan apalagi jika datang dari jurusan Teknik Sipil.


“Sebenarnya dia adik saya, dia itu begitu lamban dan sulit memahami pelajaran. Tapi saya bingung kenapa dia memilih masuk ke fakultas Teknik yang begitu sulit. Bahkan tahun ini dia akan terkena drop out saking bodohnya dia, hahh … dan dia itu adalah adik saya,” keluh Tristan, ia sengaja mengatakan itu agar tidak memancing kecurigaan pak Meldi.


Benar saja, pak Meldi langsung menyeringai dan itu tidak luput dari pantauan Tristan. Dalam hati ia bersorak karena ternyata kekhawatirannya tidak berarti.


“Ya sudah, kasihan juga adikmu itu, hehehe.”


“Terima kasih, Pak. Jujur saja saya cukup malu dengannya, hahh ….”


“Tidak apa-apa pak Tristan, saya paham kok,” hibur pak Meldi.


Tristan memasang wajah murung, seolah menyesal karena gagal mendidik sang adik. Pak Meldi pun menepuk bahunya untuk memberi semangat.


Tristan melirik Hamdan yang sedang tersenyum, ia mengangkat sedikit sudut bibirnya. Tak lama kemudian, sebuah motor sport keluaran terbaru berwarna biru hitam berhenti di dekat mereka. Pengendaranya memakai kaos hitam berlengan pendek dengan luaran jaket berwarna biru serta celana jeans panjang dan sepatu berwarna putih.


Baik Tristan, Hamdan dan pak Meldi sama-sama memfokuskan pandangan mereka pada orang tersebut. Jika pak Meldi mengira orang itu adalah adiknya Tristan, beda halnya dengan Tristan dan Hamdan yang kaget karena bukan Qania yang harusnya datang.


Orang tersebut perlahan membuka helmnya, rambut panjangnya langsung beruraian keluar dari helm membuat orang yang menatapnya langsung merasa takjub. Apalagi saat ia meletakkan helmnya dan langsung merapihkan rambutnya kemudian ia ikat asal. Ya, dia Qania. Dan saat ini baik Tristan, Hamdan dan pak Meldi sedang menatapnya tanpa berkedip.


Qania tersenyum meremehkan saat melihat ketiga pria itu masih tercengang menatapnya yang sudah berada di dekat mereka.


“Kak Tristan, maaf aku baru sampai,” ucap Qania membuyarkan lamunan mereka.


“I-ini adiknya?” Tanya pak Meldi tergagap.


“Hah … oh iya, dia adik saya. Perkenalkan, dia Qania,” jawab Tristan yang juga baru tersadar dari keterkagumannya.


‘Cantik, sangat cantik. Oh Qaniaku, kau sangat mempesona. ****! Hei bung kenapa kau tiba-tiba berdiri saja di bawah sana melihat Qania.’


“Hallo Pak, perkenalkan saya Qania. Saya bisa kan Pak turun lapangan disini? Tolong ya, Pak. Saya harus menyelesaikan mata kuliah saya ini?” rayu Qania sambil memperlihatkan wajah memelas.


“Oh bisa, tentu saja bisa,” sahut pak Meldi.


‘Gila, gue nggak nyangka adik Tristan secantik ini. Hah kalau tahu dari awal kenapa nggak dari awal proyek aja sih dia ikut disini. Fix, gue bakalan jadiin pacar.’


“Terima kasih, Pak. Mohon bimbingannya.”


“Tidak usah panggil Pak, cukup mas saja. Saya sebaya dengan kakakmu, kok,” ucapnya malu-malu.


“Oh, baik Mas.”


‘Cih, beraninya kau menggoda calon istriku di hadapanku. Kalau saja tidak dalam rencana untuk menjatuhkanmu, aku pastikan kau akan kehilangan matamu karena sudah menatap penuh ***** pada Qania.’


“Oh iya Mas, boleh kan minta tanda tangannya untuk laporanku nanti?” Tanya Qania dengan nada bicara dibuat secentil mungkin.


‘Ya ampun dih gelay gue ngomong kayak gini. Arkana maafkan istrimu ini.’


“Boleh, mana yang harus saya tanda tangani?”


“Ih belum sekarang lah Mas, laporannya lagi di cetak. Nanti siang mungkin.”


“Oh, ya sudah sekalian makan siang bersama kakakmu,” ucap pak Meldi tersenyum genit.


“Boleh, Kak?” Tanya Qania beralih menatap Tristan.


“Iya.”


“Yes, makasih Kak.”


Tristan mengepalkan kedua tangannya saat melihat pak Meldi terus mengajak Qania mengobrol, kecemburuannya kini sudah setingkat nasional. Rasanya ia sangat ingin menghajar pria yang sudah menggoda Qanianya. Hamdan yang melihatnya hanya tersenyum saja.


‘Ternyata dia sedang cemburu. Hahaha, kasihan pak Tristan. Demi menyelesaikan kasus ini dia harus rela melihat orang yang dia sukai di rayu oleh orang lain.’


Waktu menunjukkan pukul sebelas tepat, Qania yang masih terus menemani pak Meldi pun langsung meminta izin padanya untuk kembali.


“Mas, aku balik dulu ya. Aku mau urus laporanku biar nanti bisa langsung Mas tanda tangani. Aku tunggu di kafe ya,” pamit Qania.


“Nggak mau diantar?” Tawar Meldi.

__ADS_1


“Nggak usah Mas, aku bawa motor kan,” tolak Qania.


“Iya deh, lain kali ya. Kamu hati-hati,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh Qania.


Qania pun menghampiri Tristan yang nampak sedang uring-uringan. Rasanya Qania ingin tertawa melihat wajah cemberut Tristan, sangat mirip dengan Arkana ketika sedang cemburu.


“Cemburu, hehh?” Ledek Qania.


“Sudah tahu, masih bertanya,” jawab Tristan ketus.


“Dih marah. Lagi pula kamu itu tidak berhak untuk mencemburuiku,” sindir Qania.


“Aku berhak karena kau adalah calon istriku,” tegas Tristan.


Qania terbengan, ia sangat kaget mendengar ucapan Tristan barusan.


“Cih, calon istri konon. Kau lupa kau itu memiliki tunangan yang bernama Marsya Alvindo? Ingat tuan Tristan, kita disini hanya sebatas rekan kerja, bukan untuk sesuatu yang lain. Permisi,” sarkas Qania membuat Tristan tertohok.


“Qania ….”


“Qania berhenti ….”


“Aku bilang berhenti Qania ….”


Qania hanya menatap tajam pada Tristan kemudian memakai helmnya. Ia segera melajukan motornya meninggalkan Tristan yang masih menatapnya dengan tangan terkepal.


Sepanjang jalan Qania terus saja menangisi ucapannya kepada Tristan, sebagian hatinya terasa sakit saat menyinggung perihal Marsya.


“Kau hanya sedang takut kalau Tristan sampai jatuh cinta padamu dan akan dibuat hancur oleh kedua dosenmu, Qania. Kau tidak benar-benar merasa cemburu pada Marsya. Ingat Qania, dia itu milik orang lain dan kau tidak boleh menjadi pelakor. Apalagi kau menyukainya hanya karena wajahnya saja.”


“Ingat Qania, jangan sampai Tristan jatuh cinta padamu karena dia tidak ikut andil dalam urusan Marsya dan keluarganya. Sebisa mungkin jangan buat Tristan menyukaimu atau kau akan menyakitinya dengan sangat.”


“Hikss … Arkana tolong aku ….”


Qania menepikan motornya kemudian membuka helmnya untuk menghapus air matanya, ia menenangkan diri dulu sebelum mendatangi himpunan mahasiswa Teknik Sipil di dekat kampusnya. Qania pun mengambil ponselnya dari tas salempang yang ia gunakan.


“Hallo Vano, pesanan kakak sudah siap?” Tanya Qania.


“Sudah Kak, semuanya sudah siap,” jawab Vano.


“Oke, kakak sedang dalam perjalanan kesana.”


“Iya, Kak.”


Sejak Calviend mengenalkannya sebagai senior, para mahasiswa Teknik Sipil pun langsung akrab dengan Qania, tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama dan juga Qania yang membantu mereka mengerjakan tugas.


Tadi, sebelum Qania berangkat ke lokasi proyek dia sempat meminta Vano untuk mencetak laporan Kerja Praktek sebagai formalitas, namun tidak semuanya. Hanya beberapa lembar bagian awal dan akhir saja, sisanya hanya tulisan yang entah apa. Hasil dari mengcopy paste dari mesin pencari. Tak lupa juga menyelipkan surat teguran dari pihak konsultan agar nanti saat pak Meldi menandatanganinya ia tidak akan sadar kalau sudah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Qania.


“Ini, Kak. Sesuai permintaan,” ucap Vano menyerahkan laporan yang cukup tebal dan sudah dijilid.


“Terima kasih banyak. Kakak buru-buru jadi nggak sempat berbincang dengan kalian ….” Ucap Qania terjeda, ia merogoh tasnya mengambil uang.


“Buat jajan, makasih sekali lagi. Kakak pamit ya,” ucap Qania seraya memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada Vano.


“Wah makasih, Kak,” sorak Vano.


“Yey … makan-makan kita.” Sahut yang lainnya.


Qania tersenyum kemudian melambaikan tangannya dan langsung keluar ditemani oleh Vano.


“Hati-hati, Kak. Semoga sukses rencananya,” teriak Vano begitu Qania memutar motornya dan Qania menjawab dengan bunyi klaksonnya.


 


***


 


Motor Qania berhenti di depan kafe bersamaan dengan mobil Tristan dan pak Meldi yang juga berhenti di depan kafe. Qania tersenyum saat pak Meldi senyum padanya namun menatap datar pada Tristan yang juga sedang tersenyum padanya. Tristan hanya bisa mendesah pasrah, ia tahu saat ini Qania pasti masih marah padanya perihal di lokasi proyek tadi.


Dan disinilah mereka, duduk berempat bersama Hamdan yang tadi menumpang di mobil Tristan, dengan makanan yang sudah habis mereka santap.


Qania yang memang sudah membawa laporan tersebut langsung mengambilnya di bangku yang kosong di sebelahnya.


“Mas, ini laporan Qania. Mas baca dulu, barangkali ada yang salah dan Mas bisa langsung mengoreksinya sebelum di tanda tangan,” ucap Qania menyodorkan laporannya.


“Memangnya kamu merasa ada yang salah disini?” Tanya pak Meldi dengan senyuman genitnya.


“Kalau aku sih, aku yakin nggak ada yang salah,” jawab Qania mantap.


“Ya sudah, aku langsung tanda tangan. Dimana saja yang memerlukan tanda tanganku?” Tanya pak Meldi namun tidak melepas pandangannya dari Qania.

__ADS_1


Tristan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, ia benar-benar marah melihat cara pak Meldi menatap Qania.


Qania membukakan laporannya, kemudian ia memberikan pulpen yang langsung disambut oleh pak Meldi. Ada beberapa lembar yang sengaja Qania atur untuk ditanda tangani oleh pak Meldi. Qania menarik napas lega begitu pak Meldi dengan santainya menandatangani surat teguran yang ia selipkan itu.


“Nah sudah,” ucap pak Meldi kemudian menyerahkan pulpennya pada Qania.


Qania menyeringai puas, kemudian ia menatap lamat-lamat pada pak Meldi.


“Terima kasih, pak Meldi,” ucap Qania dengan suara yang cukup membuat orang bergidik ngeri mendengarnya.


Tatapan mata Qania kini bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya, membuat senyum di bibir pak Meldi memudar.


“Kau kenapa, Qania?” Tanya pak Meldi heran.


“Aku kenapa? Aku sedang senang dan juga geram. Bagaimana bisa perusahaan memasukkan tikus kotor sepertimu Meldi Hamzah,” ucap Qania dingin.


“Apa maksud kamu Qania?” Bentak pak Meldi.


“Kau … hahaha, bagaimana bisa kau berpikir melakukan mark up pada pekerjaan jalan dan proyek milik Negara, Meldi? Sudah bosan menikmati udara terbuka kau rupanya, ingin segera masuk ke dalam jeruji besi?” Tawa Qania terdengar begitu mengerikan.


Pak Meldi terdiam, ia sedang berusaha memikirkan cara untuk menjawab ucapan Qania barusan.


“Kau menjebakku?” Tuduh pak Meldi.


“Sudah tahu kenapa masih bertanya,” cibir Qania, ia sama sekali tidak takut dengan kemarahan Meldi yang sudah begitu nampak.


“Kurang ajar, kau sebenarnya siapa?” Geram pak Meldi.


“Perkenalkan, Qania Salsabila Wijaya Sarjana Teknik Sipil,” jawab Qania dengan santainya, tak lupa senyuman mengejek ia berikan pada pak Meldi.


“Appaa? Bagaimana bisa?” lirih pak Meldi.


“Terima kasih sudah bersedia menandatangani surat teguran ini, Meldi. Kau sekarang ingin jujur dan mengganti rugi uang yang sudah kau curi atau bersiap masuk ke dalam penjara?” Tanya Qania dengan begitu dingin.


Hamdan berkali-kali dibuat syok dengan sikap Qania, ia tidak menyangka gadis kecil nan cantik itu mempunyai keberanian yang begitu besar. Bahkan ia tidak berkedip sama sekali melihat bagaimana ucapan Qania mampu menjatuhkan lawannya. Ucapan yang begitu menusuk baginya.


“Su-surat teguran?” Gagap Meldi.


“Ya ….” Qania mengambil satu lembar kertas yang sudah ia selipkan di dalam laporannya. “Bagaimana, aku sangat pandai bukan? Makanya kalau aku suruh baca tadi, ya dibaca agar tidak kaget nantinya. Kan sudah kecolongan. Mana ada orang baru datang kerja sudah punya laporan, dasar,” olok Qania, ia bahkan dengan santainya mengatakan itu semua pada pak Meldi.


“Kalian menjebakku,” teriak pak Meldi, untung saja kafe itu sengaja dibuat sunyi.


“Lalu?” Tantang Qania.


“Aku akan membalas perbuatan kalian,” ancamnya.


“Lakukan saja. Tapi sebaiknya kau berpikir dua kali sebelum melakukan pembalasanmu itu. lebih baik kau kembalikan saja uang yang sudah kau curi. Haiihhh … bagaimana bisa sih kau berpikir untuk melakukan mark up pada proyek jalan? Kau kan tahu proses pemeliharaannya membutuhkan waktu lima belas sampai dua puluh tahun baru anggarannya dikeluarkan lagi. Buntutnya juga kau pasti akan dikejar-kejar KPK walaupun aku tidak menjebakmu,” ucap Qania panjang lebar dan Tristan serta Hamdan tak henti-hentinya berdecak kagum untuknya.


“Tidak usah mengguruiku, bangsat.” Pak Meldi menggebrak meja dengan keras, kemudian melenggang pergi dengan membawa sejuta amarah.


Qania menghembuskan napas lega, ia tahu ia baru saja menanam benih permusuhan pada orang lain dan itu artinya ia harus siap suatu saat nanti akan mendapatkan bahaya dari apa yang terjadi hari ini. Ia juga sekalian belajar bagaimana caranya menajdi pengacara yang baik dengan berlatih lebih awal agar nanti tidak terkejut saat sudah menjalani profesinya.


“Ck, kau yang terbaik Qania. Benar yang kau katakana, soal intim-mengintimidasi kau lah ahlinya. Aku sangat mengagumimu, tolong bagi sedikit ilmu untukku,” ucap Tristan menyatakan kekagumannya.


“Benar Qania, kau sangat hebat. Aku sangat kagum padamu,” ucap Hamdan.


Tristan menatap penuh permusuhan kepada Hamdan, Qania yang melihatnya hanya bisa mencebikkan bibirnya.


“Tunggu, hal ini juga bisa bikin kalian semakin kagum denganku,” ucap Qania kemudian ia berdiri mendekati meja di sebelah mereka. Ia mengambil sesuatu dari vas bunga yang diletakkan di atas meja tersebut, kemudian kembali duduk bersama Tristan dan Hamdan dan menyerahkan kameranya.


“Wow, jadi kau merekam semuanya Qania. Ck,ck,ck … kau sangat amazing” teriak heboh Hamdan.


“Kau memang terbaik Qania. Hah … aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi,” ucap Tristan.


“Kau bagaimana bisa melakukan semua ini?” Tanya Hamdan penasaran.


“Tadi sebelum ke lokasi proyek aku pergi membeli motor itu, lalu membeli kamera ini dan meletakkannya disana. Karena Tristan sudah mengatakan akan mengosongkan kafe ini maka aku langsung saja mengatur ini semua,” cerita Qania.


“Hebat,” puji Hamdan.


‘Fix Qania, gue jatuh cinta dan benar-benar akan berusaha untuk menjadikan dirimu milikku.’


“Karena ini sudah beres, jangan lupa ada harga yang harus kau bayar untuk ini semua Tristan Anggara,” singgung Qania.


“Ya sudah, ayo kita beli material untuk kebutuhan KKN kalian,” ajak Tristan.


“Ayo.”


“Hamdan, kau bawa saja mobilku ke lokasi proyek. Aku akan naik motor bersama Qania,” ucap Tristan yang disetujui oleh Hamdan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2