Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Bu Maharani


__ADS_3

Qania mengerjapkan matanya, suara kumandang adzan membuatnya terbangun dan langsung duduk untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia pun berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian ia keluar dan menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan.


Setelah selesai dengan rutinitas subuhnya, ia kembali duduk di atas tempat tidur. Ia teringat semalam ia seolah bermimpi sedang dalam gendongan Arkana, ia juga ingat betul kalau sebelum tidur Arkana mengucapkan selamat malam dan juga menciumnya.


“Meskipun hanya mimpi tapi aku bersyukur karena Tuhan masih mempertemukan kita, meski dalam mimpi saja.”


Qania pun mengambil ponselnya dan berniat untuk memesan pakaian lewat online shop, agar pagi nanti bisa di antarkan. Setelah memilih, ia pun kembali meletakkan ponsel dan berbaring malas-malasan.


“Aku kan tamu, jadi nggak usah ngapa-ngapain disini. Biar Tristan saja yang melayaniku. Ayolah Qania, bersikap seperti putri raja dulu hari ini, hehehehe ….”


Sementara di sebelah kamar Qania, seorang pria yang tidak lain adalah Tristan Anggara baru saja membuka kedua matanya. Ia langsung saja tersenyum mengingat apa yang ia lakukan semalam.


 


Flash back on …


Pak Yotar terkejut begitu melihat Tristan sedang menggendong Qania di punggungnya, ia pun bergegas membukakan pintu gerbang kemudian membukakan pintu ruamh karena bi Ria sudah tertidur.


Tristan pun menaiki anak tangga dengan perlahan hingga mereka sampai ke kamar yang akan di tempati oleh Qania yang berada di samping kamarnya.


Dengan hati-hati Tristan menurunkan tubuh Qania ke atas tempat tidur. Ia merapihkan rambut Qania yang menutupi wajahnya.


“Cantik, Qania ku sangat cantik.”


“Apapun itu aku akan membuatmu menjadi milikku. Aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk menolakku Qania. Aku akan berusaha untuk merebut hatimu dan aku yakin aku akan memenangkannya. Tidak peduli dengan wajahku yang katamu mirip dengan mendiang suamimu, aku tidak peduli. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sebagai Tristan Anggara, bukan suamimu yang bernama Arkana Wijaya itu. dan akan ku pastikan semua itu akan segera terjadi. Kau tunggulah.”


Tristan tersenyum, matanya terus menatap lekat pada bibir ranum yang dari tadi membuatnya gagal fokus. Ia terus menekan pikirannya untuk tidak mencuri ciuman saat Qania sedang tidak dalam kesadarannya.


“Alah, dia juga nggak tahu kan.”


“Selamat malam Qania, tidur yang nyenyak dan mimpiin aku ya. Ingat, yang dimimpiin itu Tristan Anggara, bukan Arkana Wijaya.”


Tristan membetulkan letak selimut, kemudian ia membelai rambut Qania. Meskipun ragu-ragu, akhirnya Tristan memberanikan diri untuk mengecup kening Qania, turun ke pipi dan akhirnya ia mengecup lama bibir Qania sambil memejamkan matanya.


“Aku harap kamu nggak ingat akan hal ini, Qania. Maaf, tapi aku tidak bisa menahan diriku,” gumam Tristan kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.


 


Flash back off …


Tristan tersenyum sendiri sambil memegang bibirnya, sesekali ia terkekeh begitu mengingat betapa beraninya ia mencium gadis itu.


“Akhirnya aku bisa mencium bibir yang ketika berucap itu selalu menusuk jantungku. Rasanya manis, berbeda dengan ucapan yang selalu menohokku. Hehehe ….”


“Tapi saat aku menciumnya, kenapa aku merasa de javu?”

__ADS_1


“Oh iya, aku bahkan melupakan Marsya jika bersama Qania. Semoga Marsya tidak akan merusak kebersamaanku dengan Qania. Aku bahkan enggan mencium gadis itu padahal kami sudah lama bersama bahkan puluhan tahun sudah kami lalui bersama. Ini aneh, aku seolah merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya saat bersama dengan Qania. Hahh ….” Tristan meramas rambutnya, kembali teringat akan Marsya membuatnya menjadi pusing.


Tristan pun memutuskan untuk mandi saja, kemudian bersiap-siap untuk menemui Qania. Setelah selesai mandi ia langsung memakai pakaian terbaiknya dan menghabiskan waktu berlama-lama di depan cermin hanya untuk memastikan penampilannya.


“Hahaha … gue sudah seperti remaja yang baru jatuh cinta,” ucap Tristan sambil tersenyum menatap pantulannya di cermin.


 


Di kamarnya, Qania sedang bersiap untuk turun. Ia sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tadi dipesannya. Tanpa Tristan ketahui pun tadi Qania sudah keluar untuk mencari warung sekitar hanya untuk membeli perlengkapan mandinya. Ia hanya bertanya pada bi Ria dan menolak saat bi Ria menawarkan diri untuk membelikannya.


Saat Qania keluar dari kamar, bertepatan dengan Tristan yang juga keluar dari kamarnya. Keduanya saling berpandangan setelah menutup pintu kamar masing-masing.


‘Dia begitu cantik. Pakaian yang ia kenakan juga biasa saja namun terlihat semakin menarik saja. Eh tunggu … dia dapat dari mana pakaian itu? Perasaan aku tidak membelikannya apapun? Itu juga bukan pakaian milik bi Ria atau pun Marsya. Marsya kan nggak pernah nginap disini ….”


‘Dia itu begitu mirip dengan Arkanaku, hanya saja dia selalu mengenakan pakaian formal. Coba saja kalau dia mengenakan kaos dan juga celana jeans selutut, pasti akan semakin keren dan sama dengan Arkanaku ….”


Keduanya cukup lama saling menatap dan bermonolog dalam hati, namun akhirnya Qania mendapati kesadarannya lebih dulu.


“Sudah puas mengagumiku, heh?” Sindir Qania.


“Belum.”


Qania terkejut untuk sesaat, kemudian memalingkan wajahnya, ia sangat ingin tertawa saat ini. Ia meninggalkan Tristan yang masih mematung di depan kamarnya. Qania menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menuruni anak tangga.


“Arkanaku juga nggak seperti itu menatapku saat terpesona. Haiihh … dia mungkin sedang terserang virus jatuh cinta.”


Qania pun kembali melangkah menuruni anak tangga, dibelakangnya Tristan sedang memanggil-manggil namanya namun ia cuek saja. Toh akan ketemu di bawah juga, pikirnya.


 


...***...


 


Mobil yang ditumpangi Qania berhenti tepat di depan gerbang rumah yang terlihat cukup megah, kemudian ia turun dari mobil tersebut dan berpesan agar supirnya menunggunya. Kemudian ia langsung menyapa satpam rumah yang sedang tersenyum kepadanya.


“Selamat pagi pak Syahril,” sapa Qania.


“Selamat pagi juga mbak Qania,” balasnya.


“Bapak ada?”


“Oh pak Agus ada di dalam, mbak. Silahkan masuk,” ucapnya seraya membukakan pintu gerbang.


“Terima kasih, Pak.” Qania pun melenggang masuk ke halaman rumah pak Agus Setiawan, dosen walinya.

__ADS_1


Salah satu asisten rumah tangga pak Agus datang menyambut Qania. Mereka sudah tidak asing lagi dengannya karena Qania sudah sering datang ke rumah ini untuk bertemu dengan pak Agus untuk membahas kuliahnya. Ia pun sangat akrab dengan istri pak Agus yang bernama bu Maharani.


“Selamat pagi, Pak, Bu.” Qania menyapa dua orang yang sedang asyik mengobrol di ruang keluarga.


“Eh Qania, selamat pagi. Sini sayang, duduk bareng Ibu,” ajak bu Maharani sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.


Qania tersenyum mengangguk, kemudian ia pun langsung duduk bergabung.


“Jadi kamu minta bantuan bapak untuk jadi pengacara di kasus ini?” tanya pak Agus yang sudah diberitahu oleh Qania sejak kemarin.


“Iya Pak. Jaga-jaga kalau sampai harus masuk jalur hukum,” jawab Qania.


“Ya jelas ini pasti masuk ke dalam kasus hukum, Qania. Namanya juga korupsi. Apalagi yang dikorupsi uang Negara, pasti akan menempuh jalur hukum lah,” ucap pak Agus sedikit geram dengan kasus yang Qania ceritakan kepadanya.


“Saya rencananya ingin membuat ia mengaku dulu, Pak. Dan kalau bersedia mengganti rugi, maka kita atur secara damai hitam di atas putih. Saya tahu ini tindak korupsi dan kasus melanggar hukum, tapi saya bukan siapa-siapa di proyek itu, Pak. Saya juga bukan anggota LSM,” ucap Qania kemudian menghela napas beberapa kali.


“Ya sudah, bapak setuju saja. Tinggal tunggu kabar darimu saja, tapi yang jelas bapak rasa kasus ini tetap akan menempuh jalur hukum. Oh iya, kan menantunya Setya Wijaya SH., LLM, kenapa tidak meminta bantuannya saja?” goda pak Agus.


“Tidak, Pak. Papa Setya terlalu jauh, hehehe.”


“Ibu mau tanya sayang, kamu ini membantu Tristan murni atau karena dia mirip dengan suamimu? Secara kalian kan dua orang yang saling membenci, dulunya,” ucap bu Maharani dengan lembut.


Qania mengangguk. “Mungkin bisa dikatakan simbiosis mutualisme, Bu. Dia mendapatkan ilmu dan bantuan saya dan saya bisa melepas rindu serta mengenang kembali masa-masa bersama Arkana, Bu. Dan satu lagi, saya ingin membalas perlakuan angkuhnya kepada saya. Dia sudah sangat menghinakan saya, bahkan di depan umum dan juga bukan hanya sekali saja. Saya ingin membawa dia terbang tinggi lalu setelah itu akan saya hempaskan hingga ia hancur sehancur-hancurnya. Saya menantu Setya Wijaya, tidak ada orang yang boleh merendahkan ataupun menghina saya.” Terlihat aura gelap saat Qania mengucapkan semua itu.


Bu Maharani sampai merinding melihat wajah Qania, namun kemudian ia menyeringai.


“Ibu akan mendukungmu, Qania. Lagi pula keluarga Alvindo itu sudah membuat kami kehilangan salah satu anggota keluarga kami dan sayangnya kami tidak bisa melakukan apapun untuk menghukum mereka. Buat Tristan jatuh kepelukanmu dan mari kita lihat putri kesayangan Alvindo akan menangis darah saat tahu kekasihnya mencampakkannya,” ucap bu Maharani dingin.


Qania mengangguk kemudian tersenyum devil. Namun ada satu hal yang sampai saat ini tidak ia ketahui, anggota keluarga mana yang dimaksud bu Maharani selama ini. Mereka sering membahas tentang keluarga Marsya namun ia sama sekali tidak tahu siapa orang yang sudah dibuat celaka hingga meninggal oleh mereka.


“Ya sudah Bu, Pak, saya pamit dulu. Mau ke lokasi proyek dan memancing mangsanya agar lebih erat masuk ke dalam pelukan saya biar pisau yang saya tancap bisa semakin dalam menembus perutnya,” pamit Qania seraya berdiri.


“Nggak mau makan dulu?” Tanya bu Maharani yang sudah kembali menormalkan ekspresinya. Wanita cantik yang berumur sekitar lima puluh tahun itu dengan mudahnya merubah ekspresinya dan kadang Qania sampai bergidik ngeri melihatnya.


“Sudah tadi, Bu. Makan di rumah calon suami, hihihi ….”


“Hahahaha … ya sudah jalan sana. Hati-hati ya sayang,” ucap bu Maharani kemudian memeluk Qania.


“Kamu hati-hati Qania,” ucap pak Agus.


Qania mengangguk, kemudian ia segera keluar rumah. Setelah berpamitan dengan pak Syahril, ia kemudian masuk ke taksi yang sedari tadi menunggunya.


‘Aku sebenarnya tidak ikut bermain, Bu. Maaf. Tapi aku tidak memiliki dendam pada Tristan meskipun ia beberapa kali membuatku  malu di depan umum. Aku hanya ingin membantu kalian saja. Aku juga penasaran dengan kasus yang selalu kalian bahas bersama pak Erlangga. Entah mengapa aku merasa kasus ini yang akan menjadi misiku yang selalu disebutkan oleh pak Erlangga. Maaf Tristan, aku tidak bermaksud menyakitimu. Perasaanku padamu murni untuk membantu, bukan karena ingin menjebakmu. Aku tidak sekeji itu, dan bahkan aku tidak mampu membunuh nyamuk pun. Hahh ... bagaimana bisa aku masuk ke dalam permainan ini, Arkana tolong aku. Ku mohon bantu aku, aku hanya ingin segera menyelesaikan kuliahku dan pulang ke rumah kita. Hanya dengan menyelesaikan misi ini maka aku akan segera menyelesaikan studiku. Tristan, aku minta maaf, ku mohon kau jangan sampai menyukaiku. Marsya, maafkan aku tapi jika memang keluargamu memiliki kejahatan hingga merenggut nyawa seseorang maka aku akan maju untuk membantu dan akan ku pastikan keluargamu mendapatkan hukuman dan keluarga bu Maharani akan mendapatkan keadilan.’


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2