Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Piano Kesepian


__ADS_3

“Kamu keren banget Qan? Kenapa kamu bisa tahu lagu itu?” tanya Lala saat mereka sedang berjalan ke kantin.


“Nanti aku ceritain di rumah” jawab Qania kemudian keduanya mendaratkan bokongnya ke tempat duduk.


“Oke deh, tapi kita ngapain ke kantin?” tanya Lala, ia sebenarnya tahu tujuan ke kantin apa namun ia tidak memiliki uang lebih untuk membeli makanan.


“Mau baca buku, ya makan lah” jawab Qania kemudian memanggil penjaga kantin.


“Tapii…”,.


“Tenang kamu makan aja sepuasnya biar sultan yang bayar” kekeh Qania mengangkuhkan dirinya.


“Hore, senangnya punya teman sultan” sorak Lala.


Keduanya pun memesan makanan mereka setelah penjaga kantin datang menghampiri mereka.


 


Tak lama setelah mereka makan, pengumuman yang menandakan mereka harus berkumpul kembali di ruang aula pun membuat Qania dan Lala berpisah karena harus ke Fakultas masing-masing.


Qania melangkah dengan santai masuk ke ruangannya dan duduk di barisan tengah, kebiasaannya bersama Rey dan Yani dulu dengan alasan kalau bergossip tidak akan terlihat.


Qania menyimak apa-apa saja yang diucapkan oleh senior mereka entah itu berfaedah atau tidak, ia berusaha menjadi junior yang baik saja sebagai formalitas. Toh hanya tiga hari saja, pikirnya.


“Hei kamu, yang tadi permaluin senior dari Teknik sekarang kamu maju dan perkenalkan diri kamu” teriak senior laki-laki yang wajahnya cukup tampan namun memasang tampang sangar.


Qania berjalan ke depan dan langsung menghapan ke senior yang memanggilnya.


“Perkenalkan dirimu, nama, asal sekolah, asal kota, usia” ucapnya.


Qania membalikkan badannya menghadap ke peserta ORMIK.


“Assalamu’alaikum, dan selamat siang”,.


“Wa’alaikum salam”,.


“Selamat siang”,.


“Perkenalkan nama saya Qania Salsabila Sanjaya Wijaya, saya dari SMA Negeri satu kabupaten T, dari kota T juga dan usia saya dua puluh satu tahun jalan dua puluh dua” ucap Qania dengan lantang.


“Apa nggak mungkin dia dua puluhan tahun, wajahnya saja seperti anak SMP”,.


“Wah itu kota asalnya dimana ya?”,.


“Dia sangat cantik tapi sayang sudah dua puluhan tahun”,.


“Statuss”,.


“Iya statuss”,.


Sorakan-sorakan dari para peserta ORMIK itu membuat senior yang tadi memanggil Qania langsung mendapat ide.


“Status hubungan di KTP” ucapnya menahan senyum.


‘Cantik meskipun tua setahun dari gue, aah bakalan jadi calon gue nih’ soraknya dalam hati.


“Saya sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia satu tahun” jawab Qania tanpa malu.


“Yah dia sudah menikah?”,.


“Tapi kayaknya dia bercanda deh, wajahnya nggak nunjukin dia udah nikah”,.


“Patah hati deh gue”,.


Dan masih banyak lagi sahut-sahutan dari kursi peserta ORMIK yang membuat Qania hanya menatap datar ke arah mereka.


‘Appaaa? Dia sudah menikah? Apa harus nih gue bilang gue patah hati sebelum berjuang?’,.


Setelah berkenalan Qania pun kembali ke tempat duduknya untuk bersiap menerima materi ORMIK.


 


*


 


Lala sudah menunggu Qania di dalam kamar karena selama ORMIK tiga hari yang lalu mereka jarang bertegur sapa karena kelelahan. Dan hari ini mereka berencana untuk berjalan-jalan ke kafe tempat dimana Lala bekerja namun sayang ia sudah tidak bekerja lagi karena Qania melarangnya dan menjanjikan akan membantu keuangan Lala karena ia sudah menganggap Lala sebagai adiknya.


Niat baik Qania itu tentu saja mendapat sambutan sangat baik dari Lala, ia bahkan tidak berhenti megucapkan terima kasih kepada Qania.


“Qan, yuk buruan” ajak Lala.


“Ayo. Ajak nek Nilam juga nih?” goda Qania.


“Ya enggak lah, masa kita mau ajak orang lanjut usia buat jalan-jalan ke kafe” tolak Lala membuat Qania tertawa.


“Ya sudah sekarang udah waktunya makan malam dan kita akan memesankan makanan buat nek Nilam nanti petugas kafe akan antar kesini” ucap Qania kemudian merangkul Lala keluar dari kamarnya.


“Lah pada mau kemana?” tanya nek Nilam saat mereka tanpa sengaja berpapasan di ruang tamu.


“Mau ke kafe nek. Oh iya nenek nggak usah masak makan malam, nanti ada yang bakalan anterin nenek makanan. Kami pamit dulu ya, Assalamu’alaikum” ucap Qania langsung mencium punggung tangan nek Nilam dan lekas berlari sebelum mendengar penolakan dari nek Nilam begitu pun dengan Lala.


Qania dan Lala kini sudah memasuki kafe dan mereka memilih duduk di dekat sofa khusus pemilik kafe sama persis seperti di kafe milik mertua Qania. Setelah memesan makanan mereka dan juga makanan nek Nilam yang akan diantarkan, Lala langsung berniat bertanya pada Qania.


“Jadi Qania, emang benar kamu usianya dua puluh satu tahun jalan dua dua?” tanya Lala yang sudah sangat penasaran.


Qania tersenyum, kemudian ia mengeluarkan KTPnya dari dalam dompet yang berada di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Lala. Dengan cepat Lala menyambar KTP tersebut.


“APPAA? Ka..kau sudah menikah?” pekik Lala kemudian menutup mulutnya dengan tangannya saking terkejutnya.


“Ya begitu lah bahkan aku punya seorang anak usianya satu tahun. Dan satu hal lagi, kenapa tadi aku bisa bernyanyi seperti itu karena aku ini seorang sarjana Teknik Sipil. Dan tadi senior yang bernama Calvien itu adalah juniorku dulu di kampus ini karena aku pernah studi banding di kampus kita sekarang ini tiga tahun yang lalu dan tinggal di rumah nek Nilam juga. Makanya dia menyuruhku untuk bernyanyi, hanya untuk sekedar menyapaku saja” cerita Qania dan lagi-lagi Lala membelalakkan matanya karena terkejut.


“Jadi aku nggak bisa manggil Qania doang dong, harus pakai mbak Qania” ucap Lala yang masih dalam mode terkejut.


“Kakak aja, aku bukan berasal dari Jawa” kekeh Qania.


“Baik kak. Tapi kakak sudah sarjana mengapa kuliah lagi?” tanya Lala sudah kembali dari keterkejutannya.


“Itu karena usaha milik mertuaku tidak sejalan dengan gelarku. Dia seorang pengacara sukses di kotaku sekaligus seorang pengusaha beberapa kafe dan juga beberapa hotel di kotaku dan juga di luar kota. Kamu pasti akan bertanya kenapa aku yang harus kuliah, itu karena aku dan anakku lah yang menjadi pewarisnya sebab suamiku sudah meninggal saat usia pernikahan kami dua bulan dan kandunganku juga memasuki usia dua bulan” cerita Qania.

__ADS_1


“Jadi kakak sudah jadi single parent? Hmm, pantas saja kakak harus kuliah lagi. Maaf kak sudah membuat kakak sedih bertanya tentang diri kakak, kakak pasti sedih karena teringat suami kakak, maaf ya kak” lirih Lala.


“Nggak apa-apa, lagian aku sangat suka menceritakan tentang suamiku. Kau tahu, suamiku itu lelaki terbaik yang pernah aku dapatkan dan dia itu paket komplit yang selalu bisa buat aku kesal dan bahagia di saat yang bersamaan. Hmm, dia sangat sempurna makanya aku tidak akan bosan menceritakan semua tentangnya. Kau akan bosan jika bertanya tentangnya karena aku tidak akan berhenti bercerita, hahah” Qania tertawa bahagia, ia selalu saja bahagia setiap kali mengenang Arkananya.


Lala tersenyum lega dan juga merasa simpatik kepada Qania, namun ia tidak ingin bertanya lagi karena mungkin saja lain di mulut lain dihati. Ia berpikir kalau Qania saat ini sedang memendam kesedihan namun berusaha terlihat bahagia di depannya.


Tak lama kemudian makanan mereka datang dan keduanya pun langsung menyantapnya dalam diam. Setelah makanan itu habis, keduanya pun bersiap untuk pulang. Namun saat hendak berdiri, Qania tak sengaja melihat piano berwarna puti di dekat sofa khusus itu, ia pun tersenyum.


“La, disini ada yang biasa bernyanyi untuk menghibur pengunjung kafe?” tanya Qania tak melepas pandangannya dari piano itu.


“Nggak ada sih, katanya pemilik kafe ini itu meskipun seorang pengusaha muda yang sukses dia gemar bernyanyi di kafe. Makanya dia membangun kafenya sendiri dan menjadi penyanyi di kafe ini juga. Tapi sayang, dia sangat jarang datang ke kafe ini, aku saja bekerja di sini belum pernah melihat sosoknya hanya mendengar dari pekerja yang sudah lama bekerja di kafe ini” cerita Lala panjang lebar.


“Terus piano itu?” tanya Qanua.


“Katanya nggak ada yang memainkannya selain pemilik kafe ini. Dan rumornya baru sekali doang dimainin” tambah Lala.


Hati Qania tersentuh ingin mendekati piano itu, mengabaikan Lala yang terus memanggilnya.


“Piano ini sungguh kasihan, dia piano yang kesepian karena tidak ada yang memainkannya. Hah, aku ingin mengajakmu bermain malam ini” gumam Qania kemudian menarik bangku yang ada di bawah piano itu dan langsung membukanya, meletakkan jari-jari lentiknya di atas piano itu.


Lala sudah tidak bisa menahan Qania yang sudah mulai memainkan piano tersebut. Kafe yang sangat ramai dengan kalangan remaja itu pun langsung mengalihkan pandangan mereka pada Qania.


Ku pejamkan mata ini, mencoba tuk melupakan


Mencoba tuk melupakan


Segala kenangan indah tentang dirimu


Tentang mimpiku


Semakin aku mencoba


Bayangmu semakin nyata


Merasuk hingga ke jiwa


Tuhan tolonglah diriku


 


...Entah di mana dirimu berada...


...Hampa terasa hidupku tanpa dirimu...


...Apakah di sana kau rindukan aku...


...Seperti diriku yang selalu merindukanmu...


...Selalu merindukanmu...


 


Tak bisa aku ingkari


Engkaulah satu satunya


Yang bisa membuat jiwaku


Namun kini kau menghilang


Bagaikan ditelan bumi


Tak pernah kah kau sadari


Arti cintamu untukku


 


...Entah di mana dirimu berada...


...Hampa terasa hidupku tanpa dirimu...


...Apakah di sana kau rindukan aku...


...Seperti diriku yang selalu merindukanmu...


...Selalu merindukamu...


...Entah di mana dirimu berada...


...Hampa terasa hidupku tanpa dirimu...


...Apakah di sana kau rindukan aku...


...Seperti diriku yang selalu merindukanmu...


...Selalu merindukanmu...


 


Elin tak bisa membendung air matanya mendengar suara merdu Qania menyanyikan lagu berjudul Hampa milik Ari Lasso. Jika saja ia tidak mengetahui kisah Qania maka ia akan bertepuk tangan ria karena suara Qania sangat bagus ditambah lagi dengan pengahayatannya.


Lala sadar betul bahwa lagu yang tengah dinyanyikan Qania dengan penuh penjiwaan itu adalah perwakilan dari isi hatinya saat ini. Lala hanya bisa menangis dalam diam memperhatikan Qania dari tempat duduknya.


Sementara itu di dalam ruang pemilik kafe….


“Siapa yang sudah memainkan piano milikku? Siapa yang mengizinkannya? Tapi suaranya sangat merdu dan dia adalah seorang wanita. Sebaiknya kau melihat keluar untuk menegurnya karena sudah lancang memainkan piano kesayanganku” ucap pria yang memakai setelan jas itu.


Baru saja ia akan berjalan keluar, ponselnya yang berada di atas meja berdering. Ia tersenyum setelah membaca siapa yang meneleponnya.


“Hallo Marsya, ada apa hm?”,.


“Sayang kau dimana? Nggak ingat kita ada janji mau makan malam? Ini sudah lewat waktu makan malam lo”,.


“Oh iya Marsya, aku lupa maaf ya”,.


“Tristaan aku ini kekasihmu masa manggil Marsya terus. Kamu lagi dimana sih? Kok aku dengar seperti ada suara piano?”,.


“Oh, ini aku lagi di restoran lagi meeting sama klien tapi udah kok. Aku jemput kamu sekarang ya”,.

__ADS_1


“Oke Tris sayang, cepat”,.


“Iya, aku matiin kamu siap-siap aku sepuluh menit lagi nyampe. Bye”,.


Tut.. tut..tut..


“Ya ampun kenapa gue sampai melupakan Marsya. Hmm, kali ini kau selamat” ucapnya kemudia bergegas keluar dari ruangannya melewati pintu samping ia meninggalkan kafenya karena mobilnya berada di halaman samping kiri kafe.


Qania yang baru saja selesai memainkan piano itu pun bergegas menghampiri Lala yang sudah dibanjiri air mata. Qania tersenyum lembut kepada Lala dan langsung mengahapus air matanya.


“Hei adikku sayang, kenapa menangis hm?” tanya Qania lembut menatap sendu pada Lala.


“Aku hanya terharu dengan lagumu kak” jawab Lala lirih.


“Ayo pulang. Oh iya kita singgah dulu ke minimarket yang nggak jauh dari sini buat beli camilan. Mau nggak?”,.


“Tentu mau, ayo kak” jawab Lala bersemangat.


Saat mereka berjalan keluar, Qania banyak mendapat sapaan dari pengunjung kafe.


“Wah mbak suaranya sangat merdu, lain kali menyanyi lagi ya”,.


“Terima kasih mbak, suara mbak sangat menenangkan jiwa”,.


“Besok datang lagi ya mbak, mana cantik lagi. Kalau dia tiap hari nyanyi disini gue tiap hari datang juga kesini”,.


Dan masih banyak lagi yang memuji Qania namun Qania hanya mengangguk tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


 


*


 


Lala memilih untuk tidur di kamar Qania malam ini setelah mereka puas berbelanja makanan ringan dan minuman untuk memenuhi kulkas dan lemari penyimpanan makanan di rumah nek Nilam. Keduanya saat ini sedang berbaring dan Qania baru saja selesai melakukan panggilan video dengan keluarganya untuk melepas rindu pada Arqasa yang mana rasa rindu Qania sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lala sendiri sedang sibuk membaca novel di ponselnya.


“La, tadi kan kakak udah ceritain tentang diri kakak. Sekarang giliranmu” ucap Qania mengejutkan Lala.


“Aku hanya gadis malang kak” ucap Lala sembari meletakkan hpnya di sebelah bantalnya.


“Ceritakan saja” bujuk Qania namun ia memasang senyum sejuta watt agar Lala mau berbagi cerita dengannya.


“Aku dulunya punya mama dan papa dan kami hidup sederhana saja kak. Papaku seorang buruh pabrik sementara mamaku hanya ibu rumah tangga. Namun sayang papaku meninggal karena kecelakaan kerja, awalnya dia sakit-sakitan sehingga kami harus merelakan rumah untuk di jual agar bisa melunasi biaya berobat papa. Namun Tuhan lebih sayang pada papa kak”,.


“Setelah papa meninggal dan rumah kami terjual, mama mengajakku untuk pindah ke sebuah kontrakan dengan sisa uang penjualan rumah kami. Mama awalnya bekerja sebagai buruh cuci untuk membantu kelangsungan hidup kami berdua dan saat itu aku duduk di kelas dua SMP”,.


“Namun sayang saat mama akan berangkat untuk mencuci baju majikannya, ia disambar motor dan pelakunya melarikan diri. Mama sempat dibawa ke puskesmas terdekat namun saat aku datang mama sudah dalam keadaan sekarat dan hanya berpesan agar aku bisa bertahan hidup dan melanjutkan sekolahku untuk membuat mama dan papaku bangga”,.


“Aku nggak tahu kak kenapa nasibku semalang ini, aku bahkan diusir dari kontrakan karena tidak punya uang untuk makan. Tapi untung saja di dekat kontrakan itu ada panti asuhan yang pemiliknya sangat ramah, ia mengajakku tinggal disana dan menyekolahkanku menggunakan yayasan panti asuhan sehingga sampai lulus SMA aku mendapatkan fasilitas serta sekolah gratis”,.


“Selama aku bersekolah SMA aku bekerja paruh waktu di warung makan di dekat sekolahku untuk mengumpulkan uang kuliahku. Dan saat aku lulus SMA aku memutuskan untuk keluar dari panti dan bekerja di kafe milik boss Tristan Anggara serta menyewa kamar di rumah nek Nilam ini dengan pengahsilanku di kafe sebanyak satu juta lima ratus perbulan”,.


“Hmm sampai akhirnya kita bertemu dan kakak menyuruhku berhenti bekerja dengan menjamin keuanganku. Apakah itu tidak membuatku dinilai sebagai gadis matre kak?”,.


Qania tersentuh mendengar cerita kehidupan Lala hingga ia meneteskan air mata namun yang bercerita terlihat sangat santai.


“Kak jawab dong” ucap Lala mengerucutkan bibirnya.


“Hah, oh tentu saja tidak. Aku juga punya alasan menyekolahkanmu dengan gratis dan memberimu uang jajan” jawab Qania.


“Alasan? Alasan apa kak?” tanya Lala cemas, “kakak nggak bakal jual aku ke luar Negara kan untuk menjadi budak?” tanya Lala memicingkan mata.


“Haha tentu tidak. Aku sebenarnya ingin kuliah di jurusan Ekonomi juga tapi nggak mungkin ngambil dua jurusan. Alasanku memasukkanmu ke Fakultas Ekonomi adalah agar aku bisa belajar darimu dan juga kau harus memberikanku info jika ada seminar tentang bisnis, ekonomi dan manajemen. Pokonya yang berbau Ekonomi, karena aku akan menghadirinya untuk menambah ilmuku” ucap Qania menjelaskan agar Lala tidak salah paham.


“Wah kakak sangat cerdas, ini namanya sambil menyelam minum air” puji Lala membuat Qania terkekeh.


“Jangan lupa ya, itu harus” tegas Qania lagi.


“Pasti kak, tapi mengenai UKT dan uang jajan yang kakak berikan?” tanya Lala kemudian menggigit bibir bawahnya.


“Itu, anggap saja itu DP kamu sebelum kamu bekerja di perusahaanku nanti” jawab Qania menyeringai.


“Maksud kakak?” tanya Lala benar-benar tidak mengerti.


“Maksud kakak, nanti kalau kamu lulus dan jadi sarjana kamu harus bekerja di perusahaanku atau di kafeku dan boleh juga di hotelku. Kamu mau kan?”,.


Lala terbelalak kaget membuat Qania heran dengan ekspresinya.


“Kakak nggak bercanda kan kak?” tanya Lala masih syok.


“Nggak lah, emang kenapa kamu? Nggak mau?” tanya Qania bingung.


“Mau, sangat mau kak. Terima kasih untuk kebaikanmu kak, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa” ucap Lala diiringi air mata.


“Cukup dengan rajin belajar dan cepat sarjana” jawab Qania kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi Lala.


“Pasti kak” ucap Lala bersemangat kemudian memeluk Qania dari samping.


“Sekarang tidurlah, besok kita akan ke kampus untuk mengurus KRS kita” ucap Qania membalas pelukan Lala.


“Iya kak” sahut Lala kemudian melepaskan pelukannya lalu meluruskan badannya.


Perlahan-lahan keduanya mulai memejamkan mata. Qania tentu saja dengan headset di telinganya untuk mendengar suara Arkana.


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗


Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊


🥀Cari author di social media


_Fb : Vicka Villya Ramadhani


_IG : Vivillya


 

__ADS_1


 


__ADS_2