
Qania POV
Dulu, aku begitu bersemangat pulang untuk menemui anakku, Arqasa. Juga tak sabar untuk menemuinya di tempat peristirahatan terakhirnya dan membagi semua keluh kesahku. Menceritakan kisahku dan juga memantapkan hatiku bahwa hanya akan ada namanya yang berada di dalam makam itulah pemiliknya.
Aku bahkan lebih banyak menghabiskan waktuku untuk mengunjunginya walau tanpa sekalipun mendapat sambutan hangat. Tentu saja, dia tidak mungkin melakukan itu. Dulu sekali, aku tersedu-sedu, meraung-raung memintanya untuk kembali padaku dan mengatakan aku hanya bermimpi dan semua baik-baik saja.
Dulu, setiap kali pulang tujuanku adalah untuk menyapanya. Mengucapkan kata cinta yang memang sampai detik ini masih miliknya. Aku tak pernah berniat membagi hati ini untuk yang lainnya.
Tapi hari ini, aku pulang dengan keadaan yang tak lagi sama. Tak seperti dulu aku yang tak sabar untuk mengunjunginya. Hari ini bahkan aku hanya sibuk membersihkan kamar Arkanaku. Kamar dimana ada banyak gambar diriku serta gambar kami berdua dan juga buah cinta kami, Arqasa. Kamar yang menjadi saksi kesucian cinta kami dan juga saksi dimana kami sama-sama menjadi pasangan halal suami istri yang sesungguhnya.
Membayangkannya membuatku tak kuasa menarik bibir ini untuk melengkung. Sangat manis. Aku bahkan tak mampu melupakan setiap detik kebersamaan kami. Bahkan aku tak pernah membayangkan akan ada kejadian itu. Kejadian yang begitu jahat memisahkan kami. Ingin ku benci dunia ini dan Sang Pencipta, namun aku tahu semua sudah garis takdir dan aku hanya hamba yang akan menjalankannya, entah aku mampu menghadapi ujian dari-Nya atau aku malah gagal.
Aku bahkan merasa hampa ketika tahu yang ada di balik makam itu bukanlah Arkanaku. Rasa bahagia itu tentu saja ada mengingat masih ada peluang jika Arkanaku itu masih hidup namun karena aku telah terbiasa berbagi kisahku dan mencurahkan segala isi hatiku disana maka rasanya kali ini benar-benar berbeda.
Aku menoleh pada ponselku yang berdering. Ku kerutkan keningku karena itu adalah panggilan video dari Tristan. Kulirik jam, sekarang sudah pukul sembilan dan itu artinya satu jam lagi Arqasa pulang sekolah dan aku akan menjemputnya. Baiklah aku mengobrol saja dulu dengannya sedikit lima sepuluh menit.
"Assalamu'alaikum sayang," ucapnya dengan wajahnya yang dihiasi senyuman sementara aku hanya mengangkat sebelah alisku saja.
"Kalau orang salam wajib hukumnya dijawab," ucapnya lagi sembari terkekeh, aku bisa melihat dari tempat ia duduk sepertinya bukan di rumah sakit.
"Wa'alaikum salam," jawabku singkat.
"Singkat padat jelas," ucapnya dibarengi tawa dan aku hanya memasang wajah datar.
Dia mulai bercerita tentang perkembangan Marsya yang mungkin akan pulang dalam dua atau tiga hari lagi dan aku hanya menjawab dengan kata 'hm, ya, yup, tidak, he'e, hu'u' dan kata-kata singkat lainnya yang membuatnya kesal karena ia sudah begitu panjang lebar bercerita namun justru aku hanya sekata doang.
"Kamu marah?" Tristan bertanya begitu padaku namun aku tak menjawab.
Marah? Aku sama sekali tidak marah. Hanya saja berbicara dengan pria yang bukan Arkanaku itu di kamar kami adalah sesuatu yang tidak ingin aku lakukan jika tidak terpaksa. Hatiku terus berkata bahwa aku khianat meskipun pria itu bisa jadi adalah Arkanaku, Arkana Wijaya.
"Enggak, aku cuma mau jadi pendengar yang baik doang kok," jawabku beralasan.
"Oh gitu. Emm, aku mau siap-siap sholat subuh dulu. Tadi aku kebangun karena merindukanmu," ucap Tristan yang membuatku sedikit tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan lama-lama berbicara denganku, nanti tunanganmu curiga," ucap sarkas Qania.
"Ya ampun sayang, aku nggak di kamar rawatnya. Aku di mushollah ini," ucap Tristan.
"Oh," jawabku singkat dan hanya membulatkan mulutku.
"Aku tutup dulu ya, Assalamu'alaikum calon makmum," ucapnya manis seperti Arkana.
"Wa'alaikum salam."
Aku menghela napas lega. Menatap ponsel yang sudah menampilkan wallpaper hpku dan kembali merasa hampa.
Kadang aku merasa Tristan itu adalah Arkanaku namun kadang juga aku merasa dia memang adalah Tristan. Aku kadang begitu merasa cinta padanya namun dilain hal aku pun merasa hambar dengannya. Terkadang aku merasa dia begitu dekat di hatiku namun tak jarang aku merasa dia begitu asing untukku.
Aku bingung dengan hatiku dan pikiranku ini. Tapi aku yakin ini memang sudah diatur oleh Sang Maha membolak-balikkan hati. Demi apapun aku begitu kesal pada perasaanku sendiri. Aku begitu labil dan tak seperti diriku yang dulu. Yang mampu mengontrol diri, konsisten dan tak tersentuh. Namun ini, aku begitu kekanak-kanakan.
Aku turun dari tempat tidur dan mengambil tasku untuk segera menuju ke sekolah Arqasa. Jarak dari sini menuju ke sekolahnya sekitar dua puluh menit dan saat ini masih tiga puluh menit sebelum jam pulang sekolah. Biarlah tak apa menunggunya daripada menunggu yang tidak pasti seperti Tristan Anggara itu.
"Eh aku mikir apa sih, aneh banget," gumamku dengan memukul pelan kepala ini.
Sebelum aku menutup pintu, kulirik dulu gambar besar diriku yang bertuliskan 'Malaikat Tak Bersayap' dan aku melempar senyum namun bukan untuk wajahku itu melainkan pada pria yang meletakkannya disana. Satu hal yang aku yakini dengan sangat bahwa Arkana sangat mencintaiku.
Melintasi area pemakaman aku iseng mendekat ke sana dan hanya melirik dari kaca mobil yang kuturunkan. Rupanya benar, makamnya sudah tak ada dan yang tersisa hanya garis polisi saja. Aku tersenyum getir kemudian menutup kembali kaca jendela mobil dan bergegas menuju ke sekolah Arqasa.
"Aku yakin rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang aku harapkan. Ia adalah perencana dan perancang terbaik dan aku memasrahkan semuanya pada-Nya," ucapku kemudian menyeka air mata ini dan menggantinya dengan senyuman.
Qania POV end ....
Qania memarkirkan mobilnya di dekat gerbang sekolah Arqasa kemudian keluar dan menyapa penjaga sekolahnya. Begitu ia sampai rupanya para siswa pun sudah berhamburan pulang bersama orang tua mereka. Aku tersenyum melihat Arqasa keluar dengan wajah angkuhnya dan tak menyapa siapapun yang menyapanya.
"Ar jadi pendiam Bu seminggu ini," ucap Pak Urip penjaga sekolah TK itu.
"Kok bisa Pak?" tanya Qania yang heran, ia tahu anaknya sedikit angkuh namun ia tak pendiam juga.
"Entahlah Bu, kasihan teman-temannya yang menyapa namun Ar abaikan. Diajak main pun dia tak mau," ucap Pak Urip lagi.
"Hmm, nanti saya tanyakan pada anak saya Pak. Terima kasih untuk infonya, kalau Bapak nggak ngasih tahu saya juga nggak bakal tahu. Saya baru semalam sampai dan belum sempat mengobrol banyak dengannya," ucap Qania sedikit cemas. Ia pun memikirkan kenapa anaknya itu menjadi seperti itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum , Mi," ucap Arqasa kemudian mencium punggung tangan Maminya.
"Wa'alaikum salam sayang. Yuk pulang. Kami duluan ya Pak. Assalamu'alaikum," ucap Qania dengan ramah.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Urip.
Qania dan Arqasa sudah berada di dalam mobil, ia perhatikan memang Arqasa jadi pendiam.
"Ar mau makan di luar nggak sama Mami?" tanya Qania membuka pembicaraan.
"Boleh Mi. Dimana pun asal sama Mami," ucapnya lirih.
Qania merasa tertohok mendengarnya. Seperti sebuah isyarat bahwa anaknya tak baik-baik saja. Ada hal yang membuatnya seperti terlihat sedih.
Qania hanya mengangguk, tak berniat untuk bertanya lagi. Nanti saja ketika mereka sudah makan dan Ar merasa lebih tenang, pikir Qania.
Qania pun membawa Arqasa menuju ke kafe mereka yang berada di dekat taman. Fero menyambut mereka dengan senang dan Qania pun meminta agar makanan mereka di antar ke ruangan saja karena ia ingin berbicara dengan Arqasa.
Makanan sudah tersaji. Qania berinisiatif untuk menyuapi Arqasa karena biasanya ia menolak dengan alasan sudah besar. Namun kali ini berbeda, dengan cepat ia menyambar makanan tersebut dari sendok dan menyantapnya dengan senang. Semakin membuat Qania merasa ada yang aneh dengan sang anak.
Qania pun semakin semangat menyantap makanannya dan menyuapi Arqasa hingga tak terasa makanan dan minuman mereka tak bersisa lagi.
"Nah, sekarang udah kenyang. Mami boleh nanya nggak sama Ar?" tanya Qania hati-hati.
"Silahkan Mi," ucap Arqasa menatap sang Mami.
"Mami perhatiin Ar sekarang aneh. Pendiam dan juga kurang semangat. Mami juga lihat Ar seperti sedih, ada apa?" tanya Qania pelan dan penuh kelembutan.
Arqasa diam, namun beberapa saat kemudian ia menghambur memeluk Maminya.
"Mi, Ar takut Mami ninggalin Ar. Mami nggak usah balik lagi kesana. Ar mau Mami disini aja sama Ar. Jangan kesana lagi. Ar mau berdua dengan Mami, Ar rindu sama Mami. Ar udah nggak sanggup nahan rindu sama Mami. Hiks. Mami tolong disini aja sama Ar ya Mi. Temani Ar. Ar udah nggak punya Daddy dan cuma punya Mami. Ar mau sama Mami, bareng-bareng Mami setiap hari. Ar kesepian Mi, hikss," tangis Arqasa pecah bersamaan dengan Qania yang juga tak bisa menahan tangisannya.
Akhirnya ia mengetahui isi hati anaknya selama ini. Dalam hati ia berjanji akan segera menyelesaikan kuliahnya dan kembali mengurus anaknya. Ia juga menyalahkan dirinya kenapa harus memilih kuliah lagi dan meninggalkan anaknya. Ia pun sama, merasakan rindu dan kesepian namun tidak ia utarakan.
"Ar, Mami janji akan segera menyelesaikan kuliah Maki. Dua Minggu lagi Maminja janji akan segera selesai. Ar yang sabar ya Nak. Mami nggak lama kok. Mami usahain biar cepat selesai. Mami juga rindu sama Ar, Mami kesepian. Mami janji Ar, Mami akan segera bersama-sama dengan Ar, setiap hari, setiap jam setiap waktu bareng-bareng dengan Ar. Mami hanya minta Ar bersabar ya, nggak sampai sebulan kok Nak. Kita akan kembali bersama. Mami sayaang banget sama Ar, maafin Mami ya Nak," ucap Qania dengan deraian air mata, ia semakin mengeratkan pelukannya ditubuh kecil sang anak.
Arqasa hanya terus menganggukkan kepalanya sambil tersedu-sedu dalam tangisnya. Ia pun tak ingin memberitahukan bahwa sebenarnya ia pun membenci Tristan yang sudah ia anggap sebagai Daddynya.
__ADS_1
Mi, Ar hanya mau Mami. Nggak apa-apa kalau Daddy nggak ada. Yang penting ada Mami bersama Ar, itu sudah cukup.