
Papa Setya meradang melihat bagaimana Qania diperlakukan oleh Pak Handoko dalam video tersebut. Kedua tangannya terkepal kuat serta wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan. Sangat marah, itulah yang dirasakan oleh Papa Setya saat ini.
Ia melirik Qania yang sudah terlelap sementara Syaquile baru saja kembali dari mengantar Lala. Papa Setya langsung memperlihatkan video tersebut kepada Syaquile.
Ekspresi yang sama ditampilkan oleh Syaquile. Semarah-marahnya papa Setya, Syaquile lebih lagi. Matanya memerah menahan emosi yang memuncak. Jika saja Papa Setya tidak menahannya, malam ini juga Syaquile ingin mendatangi lelaki di video tersebut dan menghajarnya hingga kehabisan napas.
“Harusnya Julius dan Kak Raka membunuhnya,” ucap geram Syaquile.
“Itu baru permulaan Syaq, kita akan membuatnya menyesal karena berani menyentuh berlian kita. Anggap saja yang mereka lakukan padanya adalah pemanasan,” ucap Papa Setya dengan suara yang begitu dingin, seringai jahat muncul di bibirnya.
Berani menyentuh keluarga Setya Wijaya berarti berani menghadapi kehancuran, batin Papa Setya.
“Om sudah mengirimkan videonya ke Papa?” tanya Syaquile.
“Ya, baru saja.”
Di tempat berbeda, Papa Zafran sangat berang melihat video yang dikirim oleh papa Setya padanya. Segala bentuk umpatan khas orang Sulawesi keluar dari mulutnya yang selalu berkata bijak itu. Ia pun langsung menelepon Papa Setya.
“Awas saja jika kau membiarkan orang itu hidup tenang. Aku akan menarik Qania darimu dan juga Arqasa! Aku ingin melihat kehebatanmu yang selalu dielu-elukan masyarakat itu. Qaniaku terlalu berharga untuk mendapatkan perlakuan seperti itu. Awas saja kau!”
Papa Setya berdecak begitu panggilan terputus. Ia menatap Syaquile yang hanya mengangkat kedua bahunya.
Tanpa memberikan Papa Setya kesempatan bicara Papa Zafran langsung memutus panggilannya.
“Kau dengar sendiri bukan, bupati kita sudah mengancamku. Om jadi semakin tertantang kalau begini,” ucap Papa Setya dengan seringainya.
“Aku akan menjadi penonton terbaik Om,” ucap Syaquile yang juga turut menyeringai.
“Oh ya, Lala gimana?” tanya Papa Setya. Sebagai seorang pengacara, ia sudah sangat banyak menghadapi kasus kecil hingga kasus besar. Ia yakin Lala akan terkena imbasnya juga jika mereka tahu Lala adalah teman serumah dengan Qania.
“Aman Om. Kakak menyuruh Lala nginap di hotel di depan rumah sakit,” jawab Syaquile.
“Oh, Qania sudah pandai membaca situasi rupanya,” puji Papa Setya.
“Kan calon pengacara hebat, Om,” timpal Syaquile kemudian keduanya sama-sama terkekeh.
“Kau sebaiknya tidur saja. Om ingin mempersiapkan dokumen untuk kasus ini. Besok pagi Om akan ke kantor polisi dan menuntut balik. Kau yang akan menjaga Qania,” ucap Papa Setya mengeluarkan laptop dari tasnya. Semua persiapan untuk perkara hukum ia telah sediakan sebelum berangkat.
“Baik Om.”
. . .
Malam itu juga anak buah Pak Handoko menerobos masuk ke kontrakan Qania. Mereka mencari ke setiap sudut namun sama sekali tidak menemukan apapun. Seluruh ruangan dibuat berantakan kemudian mereka segera melapor.
“Hallo bos, barang yang Anda cari tidak ada di tempat ini,” ucapnya.
“Sial! Rupanya dia tidak segampang yang aku pikirkan. Ya sudah memang tidak ada disana. Dia sudah mengamankannya. Pergi saja dari sana.”
Setelah melapor mereka pun meninggalkan kontrakan Qania tanpa menutup kembali pintunya karena dibuka dengan paksa maka pintu tersebut rusak. Tetangga kontrakan tak berani mendekat karena melihat banyak pria berbadan kekar dan mereka juga sudah tahu kalau Qania dan Lala tidak berada disana jadi mereka sedikit merasa lega.
Keputusan Qania memang sangat tepat dengan menyuruh Lala menginap di hotel.
Di rumah sakit Pak Handoko dibuat tidak bisa tenang memikirkan dokumennya.
“Hancur sudah, hancur! Jadi apa yang Qania bilang dia adalah kesialan yang selama ini aku hindari itu benar! Brengsek! Harusnya aku menyelidiki latar belakangnya lebih dulu. Sial! Urusan tidak akan mudah ditangan Setya Wijaya,” gerutu Pak Handoko.
“Alvin pasti akan terkena serangan jantung mendadak jika tahu dokumen itu hilang. Ditambah lagi anaknya tertembak. Kita dalam masalah besar Alvin,” gumam Pak Handoko.
Pagi menjelang, Papa Setya baru tertidur pukul tiga pagi dan bangun lagi saat sholat subuh dan kembali tertidur. Sementara Syaquile memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi mencari sarapan untuknya dan Papa Setya. Untung saja semalam ia sempat mengambil motor Qania di kontrakan sehingga ia memiliki kendaraan untuk kesana-kemari.
Sekembalinya Syaquile dengan membawa makanan di kedua tangannya, Papa Setya pun sudah rapih dan juga ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa keadaan Qania.
“Sangat baik. Satu dua hari lagi sudah bisa pulang. Pemulihan yang sangat cepat,” ucap dokter Pedro.
“Terima kasih Dok, saya memang harus cepat pulih. Anak saya menanti di kampung halaman,” ucap Qania membuat dokter Pedro tersentak.
“Ah sudah menikah?” tanyanya.
“Ya. Itu papa mertua saya,” jawab Qania.
“Oh begitu. Kalau begitu kamu harus cepat sembuh, banyak-banyak beristirahat. Saya permisi,” ucap dokter Pedro kemudian pergi bersama perawat yang menemaninya.
“Cie, yang cepat banget pulihnya,” ledek Syaquile padahal ia pun sangat senang mendengar berita tersebut.
__ADS_1
“Iya dong, aku tuh mau cepat-cepat sembuh biar bisa nyusun skripsi dan cepat pulang,” ucap Qania.
“Bagus dong, hehe,” kekeh papa Setya.
“Om udah rapih, mau kemana?” tanya Syaquile sambil meletakkan sarapan mereka di atas meja. “Kakak dapat sarapan dari rumah sakit kan?”
“Iya, bentar lagi pasti dianterin,” jawab Qania.
“Om mau ke kantor polisi, mau menuntut balik,” jawab papa Setya.
“Oh kalau gitu sarapan dulu, Om,” ajak Syaquile.
Papa Setya pun sarapan bersama Syaquile. Sementara Qania duduk bersandar memegang ponselnya. Ia dibuat terkejut dengan ratusan panggilan tak terjawab dari Tristan. Qania meringis pelan saat ia membaca pesan Tristan dan pria itu langsung saja menghubunginya.
Qania sangat ingin bicara namun ia ragu karena masih ada Papa Setya. Qania pun memutuskan untuk kembali menyimpan ponselnya. Ia akan menelepon lagi setelah papa Setya pergi.
Sarapan Qania datang bersamaan dengan Syaquile dan papa Setya yang sudah menyelesaikan sarapan mereka. Papa Setya berpamitan untuk pergi dengan menggunakan mobil dari pak Erlangga. Syaquile pun langsung sigap untuk menyuapi sang kakak.
Lagi, saat Qania tengah mengunyah makanannya ponselnya kembali menampilkan panggilan dari Tristan meskipun tidak berdering tapi Syaquile yang melihat arah pandang sang kakak ikutan menoleh.
“Angkat aja kak, om Setya kan udah pergi,” ucap Syaquile. “Loud speaker juga,” imbuhnya.
Qania pun menurut.
“Ya ampun Qania kamu dari mana aja? Dari kemarin aku teleponin kamu. Kenapa baru diangkat sekarang hah? Kamu tahu nggak aku itu kalut banget. Marsya tertembak dan kamu yang nggak ada kabar. Aku tuh butuh kamu disaat-saat seperti ini.” Tristan bernapas lega karena Qania menjawab panggilannya namun juga langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
“Marsya tertembak?” tanya Qania.
“Ya. Saat kami akan kembali dan baru sampai di bandara Marsya terkena peluru nyasar.”
“Emang kamu dimana?” tanya Syaquile.
Tristan mengernyit. Suara familiar tapi ia lupa.
“Qan kamu lagi sama siapa?” tanya Tristan.
“Aku, Syaquile,” jawab Syaquile.
“Oh adik ipar. Aku di negara I, harusnya akan sampai hari ini tapi—“
“Ngapain disana?” potong Syaquile yang mulai kesal dan paham jika Tristan disana bersama Marsya.
“Menemani Marsya mengurus pekerjaannya, nggak macam-macam kok, hehe,” jawab Tristan merasa keki.
“Dek jangan kayak gitu,” bela Qania.
Tristan terkejut bukan main mendengar penuturan Syaquile. Dalam hati ia bertanya-tanya penyebab calon adik iparnya itu mendadak menentangnya.
“Udah lah Kak, nggak usah belain dia. Jelas dia salah,” sanggah Syaquile kemudian merampas ponsel Qania dan ia pun berdiri sedikit menjauh.
“Tapi Dek, awww ....” Qania meringis karena selang bagian punggungnya yang terkena cambukan masih terasa sakit namun ia memaksa bangun untuk meraih ponselnya yang kini berada ditangan Syaquile.
Tristan yang mendengar Qania meringis semakin yakin bahwa disana tidak baik-baik saja.
“Qania kamu kenapa sayang?” tanya Tristan semakin gelisah.
“Udahlah Kak, nggak usah belain dia. Mending kakak duduk diam disana. Lukanya belum pulih. Jangan coba-coba belain dia. Meskipun dia mirip dengan kak Arka atau dia memang kak Arka tetap aja dia salah. Dimana dia saat kakak dalam bahaya kayak kemarin hah? Dimana dia saat kakak sekarat? Bahkan kakak itu kemarin udah dinyatakan meninggal lho kak, meninggal! Tapi apa? Dia dimana? Dia bersama wanita lain Kak. Awas aja kalau kakak masih berhubungan dengannya!” tukas Syaquile kemudian segera mematikan sambungan teleponnya. Ia memang sengaja memperdengarkan pada Tristan tentang keadaan Qania.
Sementara Tristan yang mendengar ucapan Syaquile tentang Qania yang dinyatakan meninggal langsung jatuh lunglai di lantai. Air matanya menetes dengan sendirinya membayangkan Qanianya kemarin dinyatakan meninggal.
“Gue memang salah. Gue nggak pantas buat Qania. Gue nggak ada disaat tersulitnya dan mungkin pada saat itu Qania butuhin gue. Gue pecundang! Gue nggak guna!”
Tristan menangis sejadi-jadinya di depan ruangan Marsya. Untung saja tidak ada yang melintas di sekitar ruangan itu.
“Gue harus pulang!”
Tristan pun memutuskan untuk berpamitan dengan Tante Bendelina yang sedang menjaga Marsya di dalam ruang rawatnya.
“Tan, aku harus kembali ke Indonesia,” ucap Tristan.
“Tapi Marsya gimana Nak? Tunggu Kak Alvin dulu ya,” ucap Tante Bendelina.
Tristan pun menurut. Ia harus menunda kepulangannya. Lagi pula jadwal keberangkatan pun nanti pukul sembilan pagi dan sekarang masih dini hari.
Tristan pun ikut duduk bersama Tante Bendelina di sofa sambil sesekali melirik Marsya yang belum sadarkan diri. Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah tuan Alvindo dengan langkah besar mendekati brankar dimana Marsya terbaring lemah.
“Ya Tuhan Marsya, apa yang terjadi denganmu Nak, hiks.”
Isakan tuan Alvindo membuat Tristan dan Tante Bendelina mendekatinya yang tengah duduk menggenggam tangan Marsya.
__ADS_1
Detik itu juga Marsya perlahan-lahan membuka matanya. Cahaya silau ia dapati saat pertama kali matanya terbuka. Ia samar-samar mendengar suara isakan dan ia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Pa ....”
Suara Marsya hampir tak terdengar, mungkin karena tubuhnya masih begitu lemah dan baru saja sadarkan diri.
“Iya Nak, ini Papa,” ucap tuan Alvindo sambil menciumi punggung tangan Marsya.
“Haus.”
Secepatnya Tante Bendelina bertindak memberikan Marsya air minum. Namun hanya sedikit saja yang mampu Marsya teguk.
“Tris, maafin aku. Harusnya aku nurut apa kata kamu. Maafin aku Tris, aku minta maaf,” lirih Marsya.
“Sttt ... nggak usah diingat lagi Sya. Aku udah maafin kamu. Kamu istirahat aja ya. Tubuhmu masih begitu lemah dan butuh banyak istirahat,” ucap Tristan lega karena akhirnya Marsya sadar juga.
Marsya hanya tersenyum tipis kemudian dia beralih menatap papanya. “Pa, jangan marah ke Tristan ya, aku yang salah. Aku nggak nurut waktu dia minta aku jangan jauh-jauh darinya dan aku justru tidak meminta izin pergi bersama teman-temanku,” ucap Marsya.
“Iya sayang, Papa nggak bakal marahin Tristan kok. Kamu istirahat ya,” ucap tuan Alvindo kemudian mengusap-usap kepala Marsya sayang.
Tak lama kemudian Marsya tertidur kembali setelah mengucapkan terima kasih kepada Tante Bendelina karena sudah datang untuk menjaganya. Tante Bendelina pun kembali ke sofa dan tidur disana.
“Om, tadi pak Handoko menelepon saya dan meminta Om untuk segera meneleponnya setelah Om sampai disini,” ucap Tristan. Saat ini Tristan berdiri di samping tuan Alvindo yang duduk sambil mengelus-elus rambut Marsya.
Tuan Alvindo melirik Tristan, “Ada apa ya? Tumben dia mencariku. Apa masalah pekerjaan?” tanya tuan Alvindo bingung.
“Mungkin Om,” jawab Tristan.
Tuan Alvindo pun memutuskan untuk menghubungi pak Handoko.
“Kita dalam bahaya Alvin!”
Tuan Alvindo langsung terdiam saat panggilannya tersambung tapi justru langsung kalimat itu yang diucapkan pak Handoko.
“Maksudmu apa?”
“Dokumen itu, dokumen itu dicuri!”
“Dokumen? Dokumen yang mana?”
“Halaah, dokumen lima tahun yang lalu. Tentang kejahatan kita berdua. Tentang kasus pencucian uang itu, brengsek!”
“A-appaa?!!”
“Dan kau tahu siapa yang mencurinya? Itu adalah menantu Setya Wijaya. Pengacara hebat dari Celebes.”
Tuan Alvindo tak mampu berkata apa-apa lagi, tubuhnya luruh ke lantai. Ia merasa tulang belulang yang ada ditubuhnya seketika menghilang.
“Kenapa setelah sekian lama baru ada yang mencuri dokumen itu,” gumam tuan Alvindo.
. . .
“Selamat pagi,” sapa papa Setya begitu ia sampai di kantor polisi.
“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Silahkan duduk,” ucap polisi tersebut.
“Oh ya, saya pengacara untuk dua orang yang semalam ditangkap atas permintaan Pak Handoko,” ucap papa Setya.
“Julius dan Raka?”
“Ya. Saya memiliki bukti alasan mereka melakukan hal tersebut,” ucap Papa Setya kemudian menyodorkan ponselnya kepada polisi tersebut.
Polisi itu menerima ponsel papa Setya dan mulai menonton videonya. Ekspresinya berubah-ubah namun Papa Setya hanya menatap datar orang tersebut. Setelah selesai menonton video tersebut polisi itu mengembalikan ponsel Papa Setya.
“Kedua tahanan tersebut bisa dibebaskan dengan syarat. Di dalam video ini jelas terbukti mereka menghajar Pak Handoko meskipun membela wanita ini. Mungkin saja Pak Handoko sudah dijebak oleh wanita yang ada di dalam video ini da—“
Brakkk ....
“Berani sekali kau berbicara buruk tentang anakku di depanku? Kau mau saya tuntut balik hah?” bentak Papa Setya geram.
Polisi tersebut ketar-ketir, dengan cepat ia meminta maaf.
“Lain kali jangan sembarangan berucap. Saya ini seorang pengacara, saya bisa menuntut Anda dengan ucapan Anda tersebut. Anak saya sampai bertemu maut karena kekerasan yang dia alami dan Anda menuduhnya seperti itu,” sungut papa Setya yang semakin membuat polisi tersebut menunduk.
“Saya ingin mengajukan tuntutan balik untuk Pak Handoko dan juga ingin meminta kedua anak tersebut dibebaskan. Sekarang!”
__ADS_1
“Ba-baik Pak.”
Polisi tersebut langsung melakukan perintah papa Setya dengan membuatkan surat penangkapan untuk pak Handoko dan juga surat pembebasan untuk Julius dan Raka. Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang duduk sendirian di sudut ruangan sedang memperhatikan mereka. Sebuah seringai terbit di bibirnya.