
Waktu berjalan seakan begitu lamban, Qania yang sedang rebahan namun tak bisa tidur pun terus memikirkan Tristan dan Raka. Ia saat ini dirundung dilema antara memilih Raka dan juga Tristan. Kalau saja ia tidak membuka peluang untuk keduanya maka hal ini tidak akan jadi seperti ini.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Saat ini yang harus Qania lakukan adalah mencari cara agar olahan bubur tersebut dapat dinikmati dengan baik dan bisa diterima oleh semuanya.
"Kalau aku milih Raka, aku nggak akan nyakitin hati wanita lain namun aku menyakiti diriku sendiri karena harus berpura-pura menerima perasaannya. Tapi-- jika aku memilih Tristan, bagaimana dengan Marsya?"
"Tapi ada benarnya juga kata Tristan, aku terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain. Lebih baik aku fokus menata perasaanku daripada sibuk memikirkan perasaan orang lain dan menyakiti diriku sendiri."
Qania menghela napas, sambil memandangi langit-langit kamarnya pikirannya sibuk berkelana.
"Astagfirullah! Aku ini kenapa sampai jadi seperti ini. Aku tuh harusnya fokus sama kuliah supaya bisa cepat pulang. Ingat Qania, kau datang ke kota ini hanya untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman. Ingat Arqasa yang sedang menahan diri karena merindukanmu. Sedangkal ini kah cintamu pada Arkana Wijaya sampai setiap hari kau malah menggalaukan pria lain selain suamimu. Arkana setia sampai mati kepadamu, masa kamu baru ditinggal beberapa tahun sudah mulai menyukai pria lain. Sadar Qania, sadar. Kembalilah pada niat awalmu. Kau harus menolak keduanya dan fokuslah pada masa depanmu dan anakmu. Iya, aku harus melakukan ini."
"Tristan hanyalah seorang pria yang datang dengan wujud Arkana dan sedikit sikap Arkana melekat padanya. Tapi bukan berarti dia adalah Arkana. Tuhan hanya sedang mengujiku lewat Tristan dan Raka. Ya, aku pasti hanya sedang diuji karena hidup tidak selamanya tentang kebahagiaan dan berjalan datar tanpa hambatan. Ya, aku harus mengambil langkah ini, harus. Kembalikan semuanya pada posisi awal dan juga pada tempatnya."
"Malam nanti akan jadi malam penentuan semuanya. Maafkan aku, tapi duniaku bukan tentang kalian berdua. Aku pernah menolak banyak pria karena aku hanya ingin fokus membangun duniaku bersama Arqasa dan kenanganku bersama Arkana, bukan seperti sekarang ini. Sepertinya aku sudah salah mengambil jalan. Jalanku yang begitu lurus tiba-tiba saja berbelok dan aku tidak menyadarinya. Maafkan Mami Arqasa, Mami khilaf Nak," lirih Qania.
Qania meneteskan air matanya, tiba-tiba saja rasa rindu pada anaknya mendera jiwa dan ia pun memutuskan untuk melakukan panggilan video.
Qania tersenyum saat melihat wajah putranya yang baru bangun tidur.
"Anak Mami baru bangun, Nak?" tanya Qania.
"Iya, Mi. Tadi aku capek dari sekolah," curhatnya.
"Gimana sekolahnya?"
"Biasa aja Mi. Malas aku sama anak-anak di kelas yang pada manja dan nggak bisa apa-apa. Udah tahu nggak bisa nulis sama baca, eh masih aja sekolah. Ngabisin duit," cerita Arqasa sambil mengumpati teman sekelasnya.
"Ya karena mereka nggak bisa tulis sama baca makanya mereka sekolah sayang," kekeh Qania.
"Ya tapi manjanya itu lho Mi, nggak banget deh. Bu guru sampai harus berulangkali ngajarinnya," gerutu Arqasa.
__ADS_1
"Emang anak Mami ini pintar di sekolah?" goda Qania.
"Jangan ditanya lagi Mi. Aku ini anaknya Qania Salsabila, ya masa aku bodoh sih. Malu-maluin kakek, masa cucunya Bupati nggak pintar. Ntar orang-orang bilangnya cucu pengacara hebat kok nggak bisa baca tulis. Kan nggak keren Mi," celotehnya membuat Qania tertawa sampai menguarkan air mata.
"Kamu ini, baru empat tahun udah kayak gini. Gimana besarnya nanti," ucap Qania berdecak atas sikap anaknya.
"Yang pasti lebih cerdas dari hari ini. Lihat saja nanti, aku pasti akan buat Mami bangga. Makanya, Mami cepatlah kulaihnya dan pulang. Aku sangat merindukan Mami, aku ingin tinggal berdua saja dengan Mami," ungkapnya lirih.
Hati Qania seakan remuk mendengar keinginan sang anak.
Tinggal berdua? Itu tandanya anakku memang tidak menginginkan ada orang lain dalam hidup kami. Baiklah Nak, sesuai keinginanmu. Lagi pula tujuan hidup Mami hanya untukmu, Nak. Terima kasih sudah membuka pikiran Mami, batin Qania.
"In sya Allah Mami pulang tahun depan, enam bulan lagi paling cepat. Doain Mami ya, Nak. Supaya Mami sehat terus dan kuliahnya lancar, biar bisa cepat pulang dan meluk kamu," lirih Qania.
"Janji ya Mi. Aku menunggu Mami," lirihnya.
Sambil mengusap air matanya, Qania menganggukkan kepalanya. Dalam hati ia begitu merasa bersalah karena sudah berbelok dari tujuan awalnya dan kini malah fokus memikirkan dua orang pria yang seharusnya tidak ada dalam alur ceritanya.
"Hore ... Sampai ketemu dua hari lagi ya Mamiku sayang, I love you," ucap Arqasa begitu riang.
"I love you too, Arqasa Wijaya," balas Qania lirih.
Melihat anaknya sesenang itu membuat air mata haru lolos dari kedua netranya. Sesederhana ini kebahagiaan ibu dan anak itu. Pertemuan lah sumber kebahagiaan mereka dan jaraklah yang menghabat kebahagiaan itu.
"Udah dulu ya, Mi. Aku mau mandi dulu, udah jam empat sore juga. Aku mau main ke taman sama Nenek setelah itu," ucap Arqasa.
"Padahal Mami masih kangen, Nak," rengek Qania.
"Hehehe ... sabar Mi, dua hari lagi kok," hibur Arqasa.
Qania memasang wajah cemberut, rasanya ia tidak ingin menyudahi perbincangannya dengan sang anak. Ia begitu senang mendengar celotehan anaknya yang sudah ia lewatkan tumbuh kembangnya.
__ADS_1
"Da ... saaaayyang Mami," ucap Arqasa melambai.
Qania tersenyum, ia pun membalas ucapan sang anak.
Qania menghela napas berat begitu panggilan video berakhir. Ia menjadi semakin merasa bersalah pada sang anak.
"Maafin Mami, Ar. Mami udah melakukan kesalahan. Mami janji bakalan nyelesaiin masalah ini. Maafin Mami ya, Ar," lirih Qania.
"Nanti malam kami bertiga akan bertemu. Hahh ... aku harus menyusun rencana untuk menyelesaikan semua masalah ini. Semoga semesta mendukungku," gumam Qania.
.... . ....
Qania tengah bersiap untuk pergi ke restoran tempat dimana ia dan Raka janjian. Tentu saja ia akan berangkat bersama Tristan.
"Kenapa semakin lama sikap Tristan itu semakin mirip dengan Arkana?" gumam Qania sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Aku ingin meyakini, tapi sulit. Awal pertemuan iya aku akui dia begitu arogan sama seperti Arkana yang dulu pertama kali kutemui. Tapi semakin kesini dia semakin terlihat jelas seperti Arkanaku. Tapi, jika memang dia Arkanaku, kenapa dia tidak mengingat tentangku atau sedikit saja kenangan yang tersimpan di memorinya. Dan bahkan dia sudah bersama Marsya lebih dari sepuluh tahun, dia nggak mungkin Arkana. Ya, dia hanyalah Tristan Anggara yang kebetulan berwajah sama dengan Arkanaku. Sadarlah Qania, kau hanya sedang terbawa suasana dengannya."
Qania pun berdiri dan memilih untuk menunggu kedatangan Tristan di ruang tamu. Ia sudah bertekad bahwa malam ini ia akan memberikan kenangan manis pada kedua pria itu sebelum ia benar-benar menghilang dari hidup kedua pria yang sudah lama menginginkannya.
.... . ....
Maaf up-nya dikit banget ya. Aku lagi fokus mau ujian Skripsi, hihihi.
Tapi aku usahain up tiap hari walau hanya satu episode saja.
Maaf ya.
Dan terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...
__ADS_1