
Di dalam mobil Tristan dan Qania saling diam. Tristan merasa bersalah karena tadi sudah seenaknya menicumi pipi Qania. Ia juga bingung kenapa Qania tidak langsung marah dan sekarang ia pun semakin resah karena Qania tak kunjung bicara. Bagi Tristan, ia lebih senang mendengar umpatan Qania daripada didiamkan seperti ini, sangat meresahkan.
Beda halnya dengan Tristan yang sedang khawatir Qania marah padanya, wanita itu justru berdiam diri bukan karena marah. Ia sedang memikirkan misinya nanti. Ia terus saja teringat akan adik dari Bu Maharani yang ketika disebutkan namanya tadi langsung membuat dunia Qania berputar.
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur. Dan untuk kali ini, aku yakin akan memenangkan semuanya. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Aku pun sadar bahwa kesedihanku ini adalah ujian dari Tuhan. Dulu, Dia terlalu membuatku bahagia hingga lupa bahwa kehidupan tak selamanya hanya tentang bahagia saja. Aku terbuai hingga melupakan sebuah fakta bahwa bahagia dan sedih adalah satu paket. Jika kita merasa bahagia maka harus siap juga akan merasa sedih dan kecewa. Sama seperti pertemuan yang sepaket dengan perpisahan. Kehidupan dan kematian. Juga Arkana, Arkanaku yang merupakan paket komplit dari Tuhan. Aku terlalu terlena dengan semua itu hingga aku tidak siap pada saat hari dimana Arkana ninggalin aku. Huhh … baiklah Qania, mari kita jemput kebahagiaanmu.
Qania sibuk dengan pikirannya dan Tristan sibuk menerka apa yang ada di pikiran Qania. Tanpa sadar Tristan mengumpat dan itu membuat Qania menoleh padanya.
“Kau kenapa?” tanya Qania datar sambil menoleh kepada Tristan.
“Kau yang kenapa Qania? Kau marah padaku?” Tristan balik bertanya.
“Marah? Untuk apa?”
“Ya aku tidak tahu. Kau dari tadi diam saja, makanya aku mengira kau sedang marah. Aku hanya sedang mengumpati diriku yang selalu membuatmu marah,” ucap Tristan.
“Tidak, aku tidak sedang marah padamu. Fokus saja menyetirnya, Syaquile sudah di jalan menuju bandara. Antarkan aku ke sana saja,” ucap Qania kemudian kembali menoleh ke depan.
“Huhhh, syukurlah jika tidak marah. Baik tuan putri, mari kita ke bandara,” ucap Tristan senang, bagaimana tidak senang kalau ternyata apa yang ia pikirkan tidak lah benar adanya. Qania-nya tidak marah kepadanya.
Sepanjang jalan Tristan terus bersenandung, ia terlampau bahagia. Hari ini semua tak seperti yang ia bayangkan. Hanya pikirannya saja sejak semalam yang meracuni harinya sehingga ia begitu ketakutan.
Tak lama kemudian mobil Tristan sudah memasuki area bandara, Qania pun turun dan disusul oleh Tristan.
“Tidak perlu mengantarku ke dalam. Kamu pulang saja,” ucap Qania mencegah Tristan yang akan ikut masuk.
“Ya ampun, nganterin doang nggak boleh,” keluh Tristan.
“Pulang atau ….”
“Ya, ya, ya. Ancam saja terus,” dengus Tristan.
Qania tersenyum mendengarnya, ia merasa lucu saja melihat wajah Tristan itu. Tanpa aba-aba Qania langsung menghambur memeluk Tristan dengan erat. Tristan terkejut, namun sesaat kemudian ia tersenyum senang dan membalas pelukan Qania.
“Rindukan aku,” lirih Qania, tiba-tiba saja ia mengucapkan kata-kata itu.
“Pasti. Jaga diri baik-baik selagi aku tidak bersamamu. Ingat, hanya aku lah yang akan berdiri disampingmu. Tidak akan ada pria lain. Meskipun kau menolak akan aku paksa. Bersembunyi saja sejauh yang kau bisa, aku pasti akan tetap menemukanmu,” ucap Tristan kemudian ia menciuimi puncak kepala Qania.
Qania melepaskan pelukan hangat itu. Pelukan yang membuatnya tiba-tiba dilanda rindu yang begitu besar pada sosok yang wajahnya sama dengan pria yang tengah dipeluknya ini.
“Maka dari itu tugasmu hanya satu, membujuk Tuhan.”
“Tentu saja akan kulakukan di setiap saat. Akan aku tikung di sepertiga malam. Hati-hati saja, jangan marah kalau tidurmu tak nyenyak. Karena aku akan terus membujuk Tuhan di malam hari, hehe.”
“Akan ku bantu,” ucap Qania kemudian bergegas pergi meninggalkan Tristan yang sedang terbengang karena sebelum pergi Qania sempat mencium pipi kanannya.
Tristan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil senyam-senyum memegangi pipinya yang dicium oleh Qania.
“Kenapa hari ini dia begitu manis? Rasanya aku ingin pulang saja ke rumahnya. Apa aku pesan tiket saja agar bisa ikut Qania ya? Rasanya aku tidak ingin jauh-jauh darinya,” gumam Tristan yang kini hanya bisa menatap punggung Qania yang semakin menjauh.
.... . ....
__ADS_1
Qania mengerjapkan matanya karena merasa tidurnya terusik. Ia melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul empat pagi.
“Apa sekarang kau sedang berusaha membujuk Tuhan?” gumam Qania sambil tersenyum, ia ingn tertawa mengingat wajah Tristan tapi melihat anaknya yang sedang nyenyak dalam tidurnya itu membuatnya mengurungkan niat untuk tertawa.
Qania membelai wajah Arqasa yang tak bisa ia tampik begitu mirip dengan Arkana. Jika ia sedang berada dengan anaknya maka ia kembali terpikir bahwa ia tidak memerlukan pria lain untuk menjadi pendampingnya dan menggantikan Arkana. Wajah anaknya ini terus saja membuatnya teringat akan Arkana dan merasa bahwa Arkana tidak benar-benar meninggalkannya karena Qania bisa melihat wajahnya melalui Arqasa.
Qania merasa menjadi lemah sekaligus kuat jika sedang menatap wajah polos anaknya. Ia mejadi lemah akan perasaannya untuk pria lain karena menurutnya Arkananya memang tidak bisa disentuh tapi ada Arqasa yang menggantikannya. Ia pun merasa menjadi kuat karena tiap bersama anaknya Qania terus meyakinkan dirinya bahwa ia mampu melawan dunia untuk sang anak meskipun tanpa pendamping. Arqasa, dia adalah alasan mengapa Qania begitu plin-plan dengan perasaannya. Namun Qania tidak menyalahkan anaknya itu karena disini ia lah yang memiliki pikiran bahwa jika ia menikah lagi maka anaknya akan kehilangan kasih sayang, padahal mungkin itu hanya perasaannya saja.
“Andai kamu disini Ka, kita pasti akan tidur bertiga. Anak kita pasti akan bahagia jika memiliki orang tua lengkap seperti teman-temannya. Aku juga ingin melihat anakku bermanja padamu. Dia masih terlalu kecil untuk beracting seolah dia adalah pria dewasa yang tugasnya adalah melindungiku. Aku sakit Ka, tiap kali melihat anakku yang sok tegar mengatakan bahwa ia baik-baik saja tanpamu. Tapi aku tahu diam-diam anakku itu menangis merindukanmu, Ka. Kau tega sekali membiarkan anakku begini. Awas saja nanti, aku akan menuntutmu,” ucap Qania sambil terkekeh pelan namun ada air yang mengalir di pipinya.
“Bukan hanya aku Ka, bukan hanya aku yang tersiksa tanpamu. Banyak, sangat banyak yang tersiksa karena ulahmu pergi seperti ini. Dasar pembalap sialan!” maki Qania dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
Qania mengelus rambut Arqasa, anaknya itu tak terusik sama sekali membuat Qania semakin gemas saja.
“Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dulu kamu masih di dalam kandungan Mami dan waktu Mami belum menyadari kehadiranmu justru Daddy yang udah tahu kalau kamu ada. Tapi sayang dia nggak menemani kamu sampai sebesar ini Nak. Maafkan Daddy ya, semua ini bukan salahnya. Salahkan saja om takdir yang udah buat kita jadi begini,” ucap Qania lirih.
Mengingat tentang nasib kehidupannya membuat Qania kembali teringat akan adik dari bu Maharani. “Angga ya. Baiklah, aku akan berusaha membantumu melanjutkan apa yang sudah kau perjuangkan. Aku yang akan membuat perjuanganmu tidak sia-sia. Berterima kasihlah kepadaku, Angga.”
Bergelut dengan pikirannya sendiri membuat Qania tidak merasakan waktu sudah berlalu hampir satu jam karena kini kumandang adzan subuh sudah terdengar. Qania saja terkejut saat melihat anaknya sudah duduk bersandar di sampingnya.
“Assalamu’alaikum Ar. Kenapa sudah bangun Nak?” tanya Qania.
Arqasa masih mengumpulkan kesadarannya sebelum menjawab pertanyaan Mami-nya. “Udah subuh Mi, Ar harus siap-siap mau ikut kakek ke Masjid. Ar kan anak laki-laki. Dan anak laki-laki itu shalatnya di Masjid. Oke Mi, Ar mau siap-siap,” ucap Arqasa kemudian turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Qanai dibuat speechless oleh anaknya sendiri. Ia sangat yakin bahwa dirinya belum pernah mengajarkan kata-kata itu kepada anaknya. Namun ada rasa bangga yang begitu besar hinggap di hati Qania pada anaknya itu.
“Ar emang tahu gimana caranya ambil air wudhu?” tanya Qania sambil merapihkan pakaian Arqasa.
“Tahu Mi. Kakek yang ngajarin,” jawab Arqasa.
Qania hanya menjawab dengan senyuman manis kemudian ia menggandeng tangan Arqasa keluar dari kamar. Benar saja, disana sudah ada kakek Zafran yang menunggunya.
“Ayo Kek,” ajak Arqasa yang kemudian melepaskan tangan Qania.
“Yuk,” balas Zafran.
“Mi, kami ke masjid dulu. Mami shalatnya di rumah aja karena Mami perempuan,” ucap Arqasa membuat Qania tertawa.
“Iya sayang,” jawab Qania.
Arqasa dan Zafran pun pergi ke masjid sementara Qania kembali ke kamarnya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba.
.... . . ....
Marsya kembali memperhatikan penampilannya di depan cermin. Beberapa menit yang lalu Tristan menghubunginya dan mereka akan pergi ke mall untuk membeli keperluan yang akan mereka bawa ke LN. Sebenarnya rencana awal itu adalah besok, namun Tristan mengatakan jika ia tidak bisa jika menunggu besok karena ia harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
Marsya tentu saja tidak menolak. Ia sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersama Tristan apalagi untuk jalan-jalan berdua. Sudah sangat jarang bahkan bisa dihitung berapa kali mereka pergi berdua dalam sebulan. Kadang pun sebulan mereka tak pernah jalan berdua.
__ADS_1
“Sangat cantik,” puji Marsya untuk dirinya sendiri.
Marsya pun keluar dari kamarnya dan langsung menuruni anak tangga. Ia memutuskan untuk menunggu Tristan di lantai bawah bersama para karyawan butiknya. Saat ia menuruni anak tangga beberapa pasang mata memperhatikannya tanpa berkedip. Baik itu karyawannya maupun pengunjung butiknya. Memanglah benar paras Marsya Alvindo begitu cantik sehingga membuat orang akan terdiam hanya untuk menatapnya.
“Ris, aku mau keluar mungkin lama. Titip butik ya, tolong layani para pelanggan dengan baik,” ucap Marsya kepada Risna, asistennya.
“Baik Mbak, hati-hati,” sahut Risna.
Marsya mengangguk kemudian ia menyapa beberapa pelanggannya sebelum keluar menemui Tristan yang sudah menunggunya di dalam mobil.
“Udah siap?” tanya Tristan dengan senyumannya begitu Marsya sudah duduk di sampingnya.
“Tentu,” jawab Marsya bersemangat.
“Baiklah, mari kita pergi.”
Aku pikir dia akan memuji penampilanku, huuhh. Padahal aku sudah berdandan seperti ini untuk menarik perhatiannya. Dasar batu es, es balok. Untung aku sayang kamu Tris.
Marsya mengoceh dalam hati. Bukannya Tristan tidak bisa melihat bahwa saat ini Marsya memang cantik, namun ia enggan untuk memujinya. Karena bagi Tristan definisi cantik itu adalah Qania Salsabila.
Sepanjang perjalanan Marsya terus mengoceh dan sesekali Tristan menanggapinya. Tristan hanya menjawab sekenanya, kadang ya, kadang tidak atau satu dua kata untuk menjawab pertanyaan Marsya. Tak seperti bersama Qania, ia tidak kehabisan kata-kata meskipun Qania yang lebih banyak diamnya. Jika bersama Qania, ada saja topik yang ia jadikan bahan cerita untuk bisa berlama-lama bersama Qania.
Mobil Tristan berhenti di parkiran mall. Ia dan Marsya turun sambil bergandengan tangan. Tidak bisa menolak. Di mata dunia mereka adalah pasangan yang baru beberapa hari yang lalu bertunangan. Tentu saja Tristan tak ingin membuat Marsya merasa malu atau berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya meskipun memang Tristan sudah bertindak yang tidak-tidak di belakangnya. Semuanya demi satu hal, menjaga citra Qania.
“Tris, kamu atau aku yang belanja lebih dulu?” tanya Marsya saat mereka sudah berada di dalam mall.
“Gimana kalau keperluan kamu. Biasanya wanita itu banyak keperluannya. Kalau aku ya nggak banyak lah,” jawab Tristan membuat Marsya terkekeh.
“Sweet banget sih. Ya udah kita kesana.” Marsya menarik tangan Tristan memasuki satu toko yang menyediakan pakaian.
Tristan hanya mengikut saja. Ia pun kadang dibuat bingung oleh Marsya. Bukannya dia memiliki butik dengan pakaian terbaik, kenapa masih saja berburu pakaian di mall. Namun Tristan tak mau ambil pusing. Ia akan menemaninya dan tak akan protes apapun. Beda dengan Qania yang selalu saja berbeda pandangan dengannya dan mereka acap kali berselisih. Namun dari perselisihan tersebut membuat Tristan semakin ingin terus dan terus berada di dekat Qania.
“Aku jadi merindukannya,” gumam Tristan.
Tentu saja disana tidak ada Marsya yang mendengar karena ia tengah sibuk memilih pakaian. Tristan hanya menunggu dari bangku yang disediakan di toko tersebut.
Sesekali Marsya mengangkat pakaian yang ingin ia pilih ke arah Tristan dan Tristan hanya menanggapinya dengan anggukan atau senyuman. Marsya tentu nampak bahagia karena Tristan mengiyakan saja segala keinginannya tanpa protes. Baginya Tristan sangat manis karena tak mempermasalahkan segala hal yang disuka Marsya. Ya sayangnya ia tidak tahu kalau sebenarnya Tristan hanya malas saja menanggapinya dan memilih mengiyakan saja. Dengan kata lain iyakan saja biar cepat, itulah yang ada di benak Tristan.
“Aku lelah,” keluh Marsya saat ia turun dari mobil
“Lihat Tris, bahkan ini sudah hampir magrib. Wah kita menghabiskan berjam-jam lamanya di mall dan hanya membawa beberapa belanjaan. Lihat dirimu, kau saja hanya belanja dua barang,” oceh Marsya sambil melirik belanjaannya yang kini berada di tangannya.
“Tak masalah. Aku mengerti kok. Lagian disana kita bisa belanja lagi jika ini kurang,” jawab Tristan sekenanya. Ia pun sudah sangat lelah dan ingin segera pulang.
“Tris makan dulu?” tanya Marsya.
“Aku harus pulang Sya. Kamu nggak lihat ini sudah magrib,” tolak Tristan halus. “Kamu sebaiknya masuk.”
Meskipun kecewa tapi Marsya tahu Tristan akan pulang untuk melaksanakan waktu Magrib. Ia pun mengangguk dan Tristan langsung masuk kembali ke dalam mobil dan dengan cepat ia meninggalkan pekarangan rumah Marsya.
__ADS_1