
Arkana menatap wajahnya di cermin yang ada di dalam kamar mandi. Entah ia harus marah ataukah tertawa. Sudah seminggu ini ia menjadi relawan untuk Qania. Ia rela wajahnya dihiasi makeup setiap harinya. Bahkan tak jarang ia tidak berangkat ke hotel atau pun ke kafe karena Qania yang selalu ingin memintanya untuk menjadi relawan.
“Hahh ... bisa hancur reputasi gue kalau anak-anak motor sampai tahu ketuanya tiap hari dandan gini. Mana muka gue udah kayak badut gini. Huhh, demi istri tercinta ini mah,” gerutu Arkana kemudian ia membasuh wajahnya.
“Untung hanya di rumah saja. Bisa gawat kan kalau Qania datang ke kafe lalu minta aku buat di dandanin. Apalagi sampai ke hotel. Langsung, seketika hancur reputasi gue. Dan gue berdoa semoga Qania nggak pajang foto-foto gue di sosmed. Mau taruh dimana muka gue,” imbuhnya.
Arkana pun keluar dari kamar mandi. Satu hal lagi yang ia syukuri, setelah Qania mendandani wajahnya maka istrinya itu langsung pergi untuk bersenang-senang ke salon atau belanja di mall.
“Bukan hal yang bisa gue anggap wajar nih. Qania sebenarnya kenapa sih? Udah seminggu lho ini gue dibuat kayak badut gini. Mana biasanya kalau aku ledekin dia kesal, eh ini malah nangis sampai-sampai gue di kira KDRT sama bokap. Nggak, ini nggak bisa dibiarin. Gue harus ke rumah Papa Zafran, gue harus aduin keanehan Qania ini,” ucap Arkana kemudian ia merapihkan penampilannya dan keluar menuju ke mobilnya.
Arkana terlebih dulu menjemput Arqasa di sekolah sesuai permintaan sang anak. Sudah sebulan ini ia bertugas mengantar jemput anaknya. Alasannya hanya satu ‘Biar teman-teman tahu kalau Ar punya Daddy yang tampan dan mirip sama Ar’.
Alasan itu tentu saja langsung disetujui oleh Arkana. Ternyata anak sama bapak sama-sama narsis, itulah yang dikeluhkan Qania. Apalagi para wali murid di sekolah Ar rata-rata mengidolakan Arkana yang akhirnya Qania ketahui bahwa suaminya itu memiliki gelar ‘Hot Daddy’.
Qania pernah marah bahkan merajuk pada Arkana. Namun saat Arkana tidak mengantar Arqasa, yang ada justru bocah itu yang balik merajuk tak ingin sekolah lagi. Alhasil, Qania pun memilih mengalah.
“Selamat pagi menjelang siang Daddynya Ar,” sapa seorang ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang.
Arkana yang sedang duduk di kap depan mobilnya itu pun menoleh dan membalas sapaan ibu-ibu yang berumur sekitar 35 tahun itu.
Tak lama kemudian ibu-ibu yang lain pun berdatangan hanya untuk menegur sapa Arkana.
Seperti biasa, Arkana hanya menjawab sapaan mereka dan hanya sesekali menyahut jika ditanya. Arkana pernah protes pada Arqasa karena tidak enak pada Qania yang selalu merajuk dan kadang-kadang ia memergoki istrinya itu bersedih ketika melihat chat di grup WhatsApp sekolah Arqasa.
“Ar, biar Daddy nunggu di dalam mobil aja. Kenapa harus duduk di depan mobil sih? Kasihan Mami kamu, dia sedih kalau Daddy jadi bahan gosip orang tua temanmu,” ucap Arkana kala itu.
“Dad, Ar hanya ingin lihat teman-teman muji Daddy. Ar senang setiap kali mereka berkata kalau Daddynya Ar itu sangat tampan. Ar cuma mau pamer aja, mau ngasih lihat kalau stok pria tampan di kota kita itu hanya ada dua. Daddy sama Arqasa,” jawab Arqasa kala itu.
Dan seperti biasa, pria narsis yang memang suka memuji ketampanannya itu pun langsung setuju dengan keinginan Ar dan melupakan bahwa ada hati yang meradang karena ulah mereka.
“Hallo Dad, yuk pulang,” ajak Arqasa yang baru saja muncul dari gerbang sekolah.
“Let’s go.”
Sepeninggalan Ayah dan anak itu, ibu-ibu tadi langsung mencari anak mereka. Arkana dan Arqasa pun melaju menuju ke rumah kediaman sang Bupati.
. . .
“Assalamu’alaikum Ma,” ucap Arkana kemudian menyalimi tangan ibu mertuanya.
“Assalamu’alaikum Nek,” ucap Arqasa mengikuti.
“Wa’alaikum salam. Ayo langsung makan aja sayang,” ucap Mama Alisha.
Arkana dan Arqasa memang langsung masuk menuju ke ruang makan dimana Mama Alisha sedang menyiapkan makanan bersama Bi Eti.
Pasangan Ayah dan anak itu pun langsung menikmati makan siang mereka yang diambilkan oleh Mama Alisha.
Setelah makan, Arqasa ke kamar Maminya untuk berganti pakaian sementara Arkana bersama Mama Alisha duduk di ruang keluarga.
“Ma, ada yang Arka pengen omongin. Soal Qania, Ma,” ucap Arkana tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Qania? Memang kenapa dengan Qania, Ka? Sudah hampir dua bulan lho kalian bersama, kenapa dengan Qania? Dia buat ulah?” tanya Mama Alisha kaget.
“Hahh ... bukan cuma buat ulah Ma. Tapi lebih parah dari itu,” jawab Arkana dengan raut wajah lesu.
“Iya apa Ka? Jangan bikin Mama khawatir,” desak Alisha.
Arkana pun menceritakan tentang kebiasaan baru Qania yang suka mendandani wajahnya. Qania yang mudah menangis dan lain-lainnya.
Mama Alisha menanggapi dengan raut wajah kadang mengkerut kadang pula tertawa. Arkana semakin pusing dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mama ih, Arka lagi curhat ini. Malah diketawain, jahat,” ucap Arkana cemberut.
“Hahaha, maaf Ka. Abisnya lucu sih. Hmm, kalau menurut Mama, coba kamu periksa deh. Bisa jadi Qania tengah mengandung alias hamil. Menurut Mama bawa ke dokter dulu,” saran Mama Alisha.
Arkana terkejut mendengar penuturan Mama Alisha. Ia pun kembali mengingat kapan Qania terakhir kali menstruasi.
Arkana menepuk jidatnya. Bagaimana bisa dia tidak peka padahal dulu saja waktu Qania hamil Arqasa ia begitu peka.
“Ma, makasih Ma. Aku akan menjemput Qania dan membawanya ke rumah sakit. Titip Ar ya Ma,” ucap Arkana terburu-buru.
“Iya. Lekas beri tahu Maka kalau positif ya Ka,” ucap Mama Alisha.
“Pasti Ma.”
Arkana pun berpamitan dan langsung menuju ke salon dimana Qania sedang melakukan perawatan.
Qania dibuat kaget dengan kedatangan Arkana yang mendadak dan langsung masuk ke ruangan dimana ia sedang melakukan pijat.
“Aku ingin menjemputmu. Apa masih lama?” tanya Arkana balik.
Qania tersenyum, hatinya terasa begitu bahagia melihat Arkana datang menjemputnya.
“Mbak udah dulu ya. Aku udah dijemput. Besok lagi aja,” ucap Qania yang langsung menyudahi aktivitasnya.
Petugas itu pun mengangguk lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan sepasang suami istri.
“Sayang aku ganti baju dulu. Tunggu ya,” ucap Qania.
Arkana pun tak sabar untuk segera membawa Qania ke rumah sakit. Begitu Qania keluar dengan pakaian lengkap, ia langsung menarik lembut pergelangan tangan Qania dan membawanya keluar. Membukakan pintu mobil lalu mengecup puncak kepala istrinya dan memutar arah menuju ke kursi kemudi.
“Kita mau kemana sayang?” tanya Qania saat Arkana sudah melajukan mobilnya.
“Ke rumah sakit sayang,” jawab Arkana sekilas melirik Qania kemudian ia kembali fokus menyetir. Ia bahkan sangat berhati-hati karena takut Qania dan calon buah hatinya kenapa-napa.
“Hah? Siapa yang sakit sayang?” pekik Qania.
“Kamu.”
“Aku? Aku nggak sakit. Tapi emang sih, akhir-akhir ini aku merasa cepat lelah,” ucap Qania yang membuat Arkana tersenyum penuh makna.
“Makanya aku mau bawa kamu chek up biar kita bisa tahu kamu sakit atau enggak,” sahut Arkana.
“Tapi kok dadakan?” tanya Qania bingung.
__ADS_1
“Nggak kok sayang, aku sebenarnya emang pengen kamu buat kontrol ke dokter. Aku perhatikan akhir-akhir ini wajahmu pucat kalau nggak pakai makeup,” jawab Arkana berkilah.
“Masa sih?” Qania pun langsung melirik wajahnya di cermin mobil.
“Ya mana kelihatan kalau sekarang kamu lagi pakai makeup,” ucap Arkana.
Qania hanya cengengesan.
Tak lama kemudian mereka pun sampai. Arkana membantunya turun dari mobil. Jika dulu saat berpacaran Qania akan menolak dan mengatakan jika ia masih memiliki dua tangan hanya untuk membuka pintu mobil, maka lain dengan kali ini. Ia sangat bahagia dan bahkan langsung mengecup kilat pipi Arkana.
Arkana tersenyum senang, dalam hati ia bertekad akan terus membukakan pintu mobil untuk Qania agar mendapat ciuman darinya.
“Istriku sangat manis,” ucap Arkana.
“Tentu saja,” balas Qania dengan wajah yang sudah merona malu.
Arkana menggandeng tangan Qania memasuki gedung rumah sakit, kemudian ia bertanya pada suster yang berjaga. Setelah mendapat informasinya ia pun langsung membawa Qania menemui dokter.
Qania tak memperhatikan apa yang dilakukan Arkana, ia terus saja tersenyum merasa terlalu bahagia hingga ia tak sadar mereka sudah memasuki ruangan dan Qania tidak membaca nama ruangan tersebut.
“Selamat siang Dok, saya kesini membawa istri saya, namanya Qania Dok. Tolong diperiksa ya Dok,” ucap Arkana dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dokter berhijab dengan usia sekitar empat puluh menjelang lima puluh tahun itu pun tersenyum.
“Baik. Nyonya Qania silahkan ikut saya,” ajak dokter tersebut dan Qania hanya menurut saja saat dokter menyuruhnya berbaring di atas brankar.
Dokter itu menaruh gel di perut Qania lalu ia melakukan USG.
“Seperti yang Bapak lihat di monitor, itu adalah janin dalam rahim nyonya Qania,” ucap dokter tersebut menjelaskan.
Qania dan Arkana saling berpandangan dengan ekspresi berbeda-beda. Jika Arkana terkejut diiringi dengan kebahagiaan, maka Qania terkejut karena mengetahui dirinya kini tengah mengandung.
“Sa-saya hamil Dok?” tanya Qania memastikan.
“Iya nyonya, selamat untuk kehamilan Anda. Usia kandungannya sekitar enam Minggu,” jawab dokter tersebut.
Qania menatap hari pada Arkana yang juga tengah menatap penuh binar padanya.
“Ka, aku hamil Ka. Aku hamil. Ar bakalan punya adik bayi,” ucap Qania bahagia, ia meneteskan air mata bahagia.
“Iya sayang. Kamu hamil dan Arqasa akan memiliki adik. Aku janji dikehamilan kedua ini aku bakalan jadi Daddy yang siap siaga buat jagain kamu. Tuhan memberikan kita kesempatan lagi sayang,” ucap Arkana penuh haru. Ia teringat bagaimana dulu ia tiada bersama Qania saat istrinya itu mengandung Arqasa. Ia begitu bersyukur Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk merasakan menjadi seorang suami siaga saat istrinya hamil, mengidam hingga melahirkan.
Qania pun turun dari brankar dan kembali duduk bersama Arkana berhadapan dengan dokter.
“Ini ada resep vitamin untuk nyonya Qania. Karena baru tri semester pertama, saya sarankan untuk jangan terlalu lelah, jangan sampai stress dan kalau bisa jangan terlalu sering berhubungan intim.”
Dokter tersebut memberikan wejangan pada Qania dan Arkana. Arkana banyak bertanya pada dokter tersebut karena ia ingin memastikan istri dan calon bayinya itu tidak akan kenapa-kenapa.
“Baik Dok, terima kasih untuk waktunya. Kami permisi dulu,” ucap Arkana.
Dokter itu hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman manis.
__ADS_1