
“Lepass… lepaskan saya, tolooong….” Tangis seorang gadis yang umurnya sekita lima belas tahun.
“Diam jal*ng, menurutlah dan kau tidak akan merasakan sakit” bentak seorang pria bertubuh besar dengan kulit hitam dan wajah sangar, umurnya sekitar limah puluh lima tahun.
“Ampun juragan, tolong jangan bawa anak kami, kami pasti akan melunasi hutang. Tolong juragan” ibu gadis itu menangis dan bersujud di kaki pria yang bernama Niko.
“Hahaha, membayar katamu? Sudah berapa bulan itu saja yang kau sampaikan padaku tapi mana buktinya, dasar tidak tahu malu” hardik Niko.
“Ampuni kami juragan, anak kami masih kecil jangan bawa dia. Biar saja saya yang menggantikannya” ibu gadis itu memeluk betis juragan Niko.
“Yang benar saja kau wanita tua, siapa yang sudi menyentuh kulitmu yang kusam dan keriput itu. Menyingkirlah!” juragan Niko menghentakkan kakinya hingga ibu itu terlempar dan tersungkur di tanah.
“Ibu tolong Melia bu, Melia takut, hikss” tangis gadis itu yang bernama Melia.
“Kau urus gadis manis ini, bawa dia ke mobil dan saya akan mengurus ibu tuanya itu sekaligus calon mertuaku” ucapnya menyuruh anak buahnya yang berjumlah dua orang.
Dengan cepat kedua anak buah juragan Niko itu menyeret paksa Melia hingga masuk ke mobil jeep mereka.
“Bu tolong Melia bu, hikssss” Melia ketakutan saat dimasukkan ke dalam mobil itu.
“Kau wanita tua jangan coba-coba mengusik ketenanganku dan ku peringatkan kau jangan mencari putrimu lagi” ucap juragan Niko kemudian melemparkan seikat uang pada ibu Melia yang menangis sambil duduk di tanah.
Baru saja mobil jeep itu pergi, Ghaisan datang menghampiri ibu Melia.
“Bu Jum kenapa duduk di tanah dan kenapa ibu menangis” tanya Ghaisan sambil membantu bu Jum untuk berdiri.
“Mayor, juragan Niko sudah membawa Melia pergi, hikksss” tangis bu Jum pecah saat menjawab pertanyaan Ghaisan.
“Appaaa bu! Jadi mobil jeep yang baru saja pergi itu adalah mobil yang membawa Melia pergi?” tanya Ghaisan panik.
“Benar mayor Yudis, tolong Melia mayor, ibu mohon” isaknya.
“Baik bu, saya ambil dulu sepeda motor saya” ucap Ghaisan buru-buru ke teras rumah bu Jum untuk mengambil motornya.
“Hati-hati mayor Yudis” lirih bu Jum.
Ghaisan mengangguk dan langsung melajukan motornya.
Ghaisan sangat menyayangi bu Jum karena ia adalah warga yang tinggal di ujung kampung, tempatnya dan teman-teman tentara angkatan darat biasa menitipkan motor.
Bu Jum juga biasa membantu memasak makanan untuk para tentara yang berjaga di hutan di kampung itu. Sehingga ia sangat disayangi oleh abdi negara yang bertugas di kampungnya.
Ghaisan hampir menyamai posisi mobil jeep itu, samar-samar ia mendengar jeritan Melia yang kemungkinan sedang dilecehkan oleh Juragan Niko.
“Sialan, beraninya tentara itu mengejar kita” umpat juragan Niko.
“Haruskan saya menyerangnya juragan?” tanya anak buahnya yang duduk di sebelah kursi kemudi.
“Serempet motornya” perintah juragan Niko.
“Baik juragan” jawab anak buahnya yang sedang mengemudi.
Seakan bisa membaca situasi, Ghaisan melajukan motornya dengan kencang saat hampir diserempet oleh mobil itu.
Ghaisan ingin menghalangi mobil itu namun jalanan begitu sempit apalagi mereka akan mendaki.
Ghaisan yang tengah berpikir cara untuk menghadang mobil tersebut tak sadar kalau mobil itu baru saja melewatinya.
“Sial” umpat Ghaisan.
Ghaisan melihat ada sedikit cela di sebelah kiri sehingga ia segera melajukan motornya. Karena merasa ada peluang, Ghaisan langsung menancap gas dan benar saja ia berhasil menghadang mobil tersebut.
Ciiittttt……..
Anak buah juragan Niko menginjak rem secara mendadak membuat kepala juragan Niko yang dari tadi berusaha mencium Melia terbentur di kursi kemudi.
“Brengsek, kau mau membunuhku!” makinya.
“Maaf juragan tapi mayor Yudis sedang berjalan kearah kita” ucapnya gugup.
__ADS_1
Ghaisan berjalan dengan langkah besar dan langsung mengetuk kaca pintu mobil itu. Dengan gugup kedua anak buah juragan Niko keluar namun mereka langsung memasang wajah berani.
“Mayor Yudis, ada apa anda menghentikan perjalanan kami?” tanya Otoy berusaha tersenyum.
“Berikan Melia padaku” ucap Ghaisan tanpa basa-basi.
“Itu bukan urusan anda mayor, sebaiknya anda menyingkir dari sini dan biarkan kami pergi” hardik Sunu.
“Berikan secara baik-baik atau saya terpaksa harus memaksa kalian” ancam Ghaisan.
“Langkahi dulu mayat kami” ucap Otoy dan Sunu yang langsung menyerang Ghaisan.
Bughh…
Plak…
Bughh…
Plak…..
Perkelahian tidak dapat dihindari karena mereka mengabaikan permintaan Ghaisan untuk menyerahkan Melia padanya secara baik-baik.
Kedua anak buah juragan Niko terkulai lemas dengan wajah babak belur. Kekuatan mereka yang hanya sebagai preman kampung tidak bisa menandingi seorang tentara dengan pangkat mayor yang bahkan sudah puluhan kali menantang maut di medan perang atau di perbatasan untuk melumpuhkan penyusup.
Ghaisan menyeringai saat mendengar erangan kesakitan dari kedua anak buah juragan Niko. Ia pun segera berjalan kearah mobil dan mengetuk kaca pintu mobil dengan kuat.
Ingin rasanya ia menghancurkan kaca mobil tersebut jika saja ia tidak ingat ada Melia di dalam yang mungkin akan terkena serpihan kaca.
Juraga Niko yang sudah melihat kedua anak buahnya terkulai lemas dan babak belur mau tidak mau keluar dan ingin meminta pengampunan dari Ghaisan.
“Maafkan saya mayor Yudis, tapi saya sudah membeli gadis ini dari ibunya. Ibunya tidak bisa membayar hutangnya maka sebagai gantinya anaknya akan menjadi istri ke empat saya” ucap juragan Niko dengan senyuman lebarnya padahal dalam hati ia tidak berhenti mengumpati Ghaisan.
“Berikan Melia pada saya jika kau tidak ingin sama seperti kedua anak buahmu” ucap Ghaisan dingin.
“Tap….”,.
Bughhh….
Ghaisan langsung membuka kembali pintu mobil itu dan membantu Melia keluar.
Ghaisan dan Melia sudah berada di atas motor, ia bermaksud untuk membawa Melia langsung ke kantor polisi di desa seberang untuk melaporkan kasus ini.
Sementara juragan Niko yang pura-pura pingsan langsung berdiri dan masuk ke mobilnya.
Ia mengemudikan dengan cepat mobil tersebut untuk mengejar Ghaisan dan meninggalkan kedua anak buahnya yang sedari tadi berteriak memanggilnya.
Saat sudah berada di puncak pendakian, dengan cepat mobil juragan Niko menyerempet motor Ghaisan. Ghaisan yang mendapat serangan mendadak tak bisa menahan saat motornya terseret ke pembatas jalan dan akhirnya masuk ke jurang.
Juragan Niko tertawa terbahak-bahak karena ia berhasil melenyapkan Ghaisan yang selalu ikut campur urusannya dengan keluarga bu Jum.
🌻
🌻
“Meliaaaaaa….” Teriak Ghaisan tersadar dari tidurnya.
Kebetulan suster Syifa yang sedang berjalan kearah kamar Ghaisan dengan membawa makan siang untuknya langsung terperanjat mendengar teriakan Ghaisan. Suster Syifa pun buru-buru masuk ke ruangan Ghaisan.
“Mayor kau kenapa?” tanya suster Syifa panik dan langsung meletakkan nampan di atas nakas.
“Saya hanya mimpi sus” jawab Ghaisan dengan napas yang memburu.
Suster Syifa langsung memberikan air minum kepada Ghaisan dan langsung diteguk habis olehnya. Sementara suster Syifa yang melihay keriang di wajah Ghaisan langsung mengambil tisu dan mengelapnya.
Deg…
Mata kedua bertemu saat Ghaisan hendak menghentikan suster Syifa dengan memegang tangannya. Keduanya pun langsung memutus pandangan mereka dan berusah menormalkan kembali irama jantung mereka.
“Maaf mayor, apakah anda tidak lapar?” tanya Syifa mengalihkan.
__ADS_1
“Sebenarnya saya lapar sus, hanya saja saya tidak bisa memegang sendok apalagi menyuapi diri saya sendiri” jawab Ghaisan canggung.
“Maka itulah gunanya saya disini mayor, saya yang akan mengurus mayor sampai tangan mayor bisa memegang sendok” jawab Syifa berusaha melempar candaan.
Ghaisan tersenyum dan mengangguk, Syifa pun langsung mengambil bubur dan mulai menyuapi Ghaisan dengan telaten.
Bagi Syifa pekerjaan menyuapi pasien sudah biasa tapi tidak dengan Ghaisan yang tidak pernah mendapatkan perlakuan manis dari seorang perempuan kecuali mama dan tantenya yaitu mamanya Elin yang sudah ia anggap mama kandungnya itu.
“Wah mayor benar-benar lapar rupanya, saya sangat senang mayor menghabiskan bubur ini” ucap Syifa senang sambil mengelap bibir Ghaisan.
Deg…
Jantung Ghaisan kembali berirama tidak teratur saat mendapat perlakuan lebih dari seorang gadis yang padahal ia tahu memang gadis itu hanya melakukan pekerjaannya.
Syifa tersipu saat mendapati Ghaisan tengah menatapnya tanpa berkedip.
“Ma..mayor waktunya minum obat” ucap Syifa gugup.
Ghaisan tersadar dari lamunannya dan langsung mengangguk tanpa ia sadari Syifa tersenyum melihat rona di wajahnya.
Syifa memberikan obat dan membantu meminumkannya dengan telaten.
“Saya sudah selesai mayor, jika butuh sesuatu tekanlah tombol itu dan saya akan datang. Tapi waktu jaga saya tidak tetap mayor, kadang siang kadang malam. Jadi jika bukan saya maka ada teman saya Sabri yang akan menggantikan saya.
“Iya sus, terima kasih” ucap Ghaisan sembari tersenyum manis.
“Iya mayor, kalau begitu saya permisi” pamit Syifa.
Baru saja Syifa melangkah dua langkah, Ghaisan kembali memanggilnya.
”Suster, boleh saya bertanya?” ucap Ghaisan dengan wajah yang serius.
Syifa berbalik dan mengangguk.
“Maag sus apa teman saya yang kecelakaan dan masuk jurang bersama saya itu selamat?” tanya Ghaisan was-was.
“Maksud mayor adik Melia?” tanya Syifa hati-hati.
“Iya sus, adik saya itu selamat atau bagaimana?” tanya Ghaisan, ia berharap akan mendapat kabar baik.
“Maaf mayor, adik anda tidak selamat saat di bawa ke rumah sakit ini. Dia kehabisan darah saat dalam perjalanan kesini karena tempat kecelakaan anda sangat jauh dari sini” jawab Syifa lirih.
Air mata Ghaisan menetes saat mendengar jawaban suster Syifa namun ia segera menguatkan hatinya dan berjanji akan mengurus bu Jum saat ia keluar dari rumah sakit.
“Oh begitu ya sus. Lalu apakah bu Jum sudah tahu itu?” selidik Ghaisan.
“Emmm itu…” suster Syifa nampak gugup.
“Itu apa sus?” tanya Ghaisan mulai resah.
“Emmm bu Jum ibunya adik Melia juga meninggal setelah mendapat kabar dari kami bahwa Melia meninggal. Ia mendapat serangan jantung dan langsung meninggal saat itu juga” tutur suster Syifa gugup.
Lagi, hati Ghaisan hancur. Ia gagal melindungi keluarga barunya itu.
Suster Syifa yang melihat kesedihan di wajah Ghaisan langsung memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah mayor ingin saya temani disini? Mungkin mayor ingin bercerita atau mengeluarkan keluh kesah mayor?” tanya Syifa hati-hati.
“Bisakah kau menemani saya disini?” pinta Ghaisan lirih.
Suster Syifa menghembuskan napas perlahan kemudian mendekati Ghaisan. Ia duduk di bangku dan mulai mengajak Ghaisan bercerita.
Ghaisan menceritakan kisah hidupnya hingga pertemuannya dengan keluarga bu Jum.
Merasa Ghaisan terus saja bersedih, Syifa langsung bercerita tentang kisah lucunya yang membuat keduanya tertawa.
‘Entah lah, tapi saya merasa aneh karena bisa dengan mudahnya berbagi cerita dengan suster ini’ batin Ghaisan.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...