
Qania berjalan ke rumah kostnya bersama Raka sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan akibat diguyur jus oleh Marsya tadi.
Air matanya terus saja menggenangi pipinya, ia tidak bersuara sama sekali begitu pun dengan Raka, ia sama sekali tidak mengeluarkan suara karena ia pun bingung ingin berkata apa pada Qania.
Memberi nasihat pun belum tentu akan diterima oleh Qania yang sedang hancur seperti ini. Alhasil Raka hanya berjalan disamping Qania sambil sesekali melirik wanita pemilik hatinya itu.
Keduanya pun sudah sampai di depan rumah nek Nilam dan berhenti di teras rumah tersebut.
“Qan”,.
“Raka”,.
Keduanya bertatapan karena secara bersamaan mereka saling memanggil nama.
“Ka, makasih kamu udah menemani aku. Aku sungguh malu padamu karena menyaksikan kejadian tadi”,.
Qania menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
“Apa iya Ka aku ini wanita menjijikan dan gila? Apa seburuk itu diriku hingga pria itu mengatakan tidak Sudi disentuh olehku? Apa aku..”,.
Raka membawa Qania yang sedang menumpahkan keluh kesahnya itu kedalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh Qania yang terus berguncang karena menangis.
Raka membelai lembut punggung Qania, dalam hati Raka ia begitu merasa terpukul melihat keadaan menyedihkan Qania. Raka juga merasa geram dengan sikap Tristan kepada Qania tadi terlebih pada wanita yang mengaku tunangan Tristan yaitu Marsya.
“Aku begitu bodoh Ka, aku tidak bisa membedakan mana Arkanaku dan mana orang lain yang berwajah sama dengannya saja. Aku sungguh naif mengira dia adalah Arkana yang sedang tersesat dan hilang ingatan saja. Aku juga sempat mengira dia sedang mengerjai ku. Tapi tidak Ka, tidak dengan kata-kata kasarnya itu. Bukan, dia bukan Arkanaku. Dia bukan suamiku, dia bukan cintaku, hiksss” tangis Qania pecah dalam dekapan Raka.
Tangan Raka yang tadinya sedang mengelus punggung Qania pun mengepal dengan kuat hingga nampak urat-uratnya.
‘Kau akan mendapatkan balasan dariku Tristan Anggara. Beraninya kau membuat Qaniaku menangis seperti ini',.
“Qan, bagiku kamu adalah perempuan hebat, cantik, cerdas dan sempurna di mataku dan di mata Arkana. Jangan pikirkan ucapan unfaedah dari pria sombong itu. Wajahnya saja yang teduh seperti Arkana, tapi mulut dan sikapnya sungguh menjijikan. Kamu cantik, kamu baik dan kamu salah satu definisi dari kata sempurna untukku Qan, jangan bersedih. Dia yang harusnya bersedih karena sudah menyakitimu” hibur Raka yang memang mengatakan apa pendapatnya tentang Qania.
“Kau terlalu memuji Ka, aku bisa terbang nanti” kekeh Qania.
Raka ikut terkekeh. Inilah yang paling disukai Raka dari Qania, ia mampu mengubah moodnya dengan cepat dan bisa menghibur dirinya sendiri.
“Tidak apalah, sedikit berbohong demi menghibur seseorang nggak salah juga kan” kekeh Raka.
“Isshh jadi mujinya tadi itu bohongan doang nih” Qania mengangkat sebelah alisnya menatap Raka setelah ia melepaskan pelukannya.
“Menurut Lo?” balas Raka.
“Ihh Raka nyebelin” Qania memasang wajah cemberut membuat Raka semakin gemas sehingga ia menarik hidung mancung Qania.
“Aww, sakit Ka” ringis Qania yang kini hidungnya sudah memerah.
Raka mengusap hidung Qania dengan lembut sambil menatap mata Qania. Senyuman manis tersungging di bibir Raka kala melihat wajah Qania yang sedang merona merah itu.
‘Pelan-pelan saja Raka, pelan-pelan saja kau mencuri hatinya. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Biarkan dia membuka hatinya sedikit demi sedikit untukmu. Bukankah kupu-kupu itu tidak perlu di kejar, dia akan datang sendiri ketika dia yakin bahwa tempat yang akan ia hinggapi memanglah tepat untuknya',.
“Melamun apa hayoo?” kejut Qania.
“Eh.. enggak kok. Oh ya Qan, Lo nggak mau ganti baju dulu apa? Nggak dingin Lo?” alih Raka.
“Eh iya ya. Ya udah aku ganti baju dulu deh” ucap Qania yang baru sadar bahwa bajunya basah.
“Gue pulang aja atau tetap disini?” tanya Raka yang dalam hati terus berdoa agar Qania memohonnya.
‘Please bilang gue disini aja, please',.
Satu hal yang tidak Raka sadari, ia memang berbicara dalam hati namun wajah penuh permohonannya sangat nampak dan itu membuat Qania menggulum senyum. Timbul niat untuk mengerjai Raka.
__ADS_1
“Kamu pulang saja deh” jawab Qania menahan tawanya begitu melihat Raka menghela napas dan wajahnya pun sudah terlihat kecewa.
“Ya udah deh, gue pulang dulu ya” pamit Raka lemas.
“Iya, kamu hati-hati. Lagian udah sore juga, nanti malam kamu datang lagi, aku pingin jalan-jalan cari kuliner” ucap Qania menahan senyumannya.
“Iya.. eh.. nanti malam gue datang lagi? Lo mau jalan Qan? Gue nggak salah dengarkan?” tanya Raka setelah menyadari ucapan Qania tadi.
Qania tersenyum kemudian mengangguk.
“Ya sudah sekarang gue balik ntar gue datang lagi jam tujuh” ucap Raka bersemangat.
“Iya, kamu hati-hati” ucap Qania.
Raka mengangguk pasti. Pastilah ia akan berhati-hati karena ia ingin menikmati waktunya bersama Qania dan tentu saja ia akan terus berusaha untuk mendapatkan cinta dari wanita di hadapannya ini.
Setelah Raka meninggalkan halaman rumah nek Nilam, Qania pun masuk dan wajah bahagianya tadi tiba-tiba saja berubah datar tanpa ekspresi.
...........
... ...
Setelah Raka dan Qania meninggalkan kafe, Tristan masih mengepalkan kedua tangannya sambil menatap pintu kafenya yang tadi dilalui oleh Qania dan Raka.
Marsya yang sedang dikuasai oleh amarah pun beralih menatap Tristan yang masih membisu itu.
“Tris, kamu kenapa bisa disini? Apa ini kafe milikmu?” tanya Marsya penuh selidik.
Mendengar suara lembut yang sangat ia kenal itu membuat Tristan menoleh.
“Jangan menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan Tris” tanda Marsya.
“Mari kita masuk ke dalam” ajak Tristan yang sudah mengerti nada bicara dan tatapan Marsya kepadanya.
Tristan mengajak Marsya kedalam ruang kerjanya dan Marsya pun mengikutinya dengan segudang pertanyaan dalam benaknya.
Keduanya pun duduk berdekatan di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Nampak Tristan sedang berpikir bagaimana caranya memberitahukan kepada Marsya tentang kafe ini.
“Kamu mau minum apa Sya?” tanya Tristan basa-basi mencoba untuk mengulur waktu.
“Triss...” Marysa menatap kesal pada Tristan.
“Hmm, iya iya ini kafe milikku” ucap Tristan akhirnya mengaku.
“Sejak kapan?” tanya Marsya dingin.
“Baru setahun lebih” jawab Tristan.
“Bukannya kamu punya beberapa restoran dan kafe yang aku percayakan kepadamu dan juga usahamu sendiri. Kenapa kamu tidak memberitahu kepadaku tentang kafe yang satu ini? Apa karena Qania?” tanya Marsya yang suaranya terdengar mulai parau karena ia sedang menahan tangisnya yang akan pecah.
“Jangan sangkut paut kan semua ini dengan wanita gila itu Marsya. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Bukankah katamu tadi dia adalah temanmu” sentak Tristan yang kembali kesal begitu Marysa mengungkit tentang wanita yang sudah membuatnya kesal itu.
“Dia bukan lagi temanku setelah aku tahu kalau ternyata dia ingin merebut kamu dariku Tris” teriak Marsya.
“Tidak akan ada yang merebutku dari kamu Marsya” ucap Tristan sambil merangkul Marsya yang sudah menangis.
Tristan mendekap tubuh Marsya, Marsya pun menumpahkan tangisnya di dada Tristan.
“Aku sangat takut kamu meninggalkanku lagi Tris. Cukup sekali aku kehilanganmu dan aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Aku lebih baik mati jika harus kehilangan kamu Tris” ucap Marsya dalam tangisnya.
__ADS_1
“Marsyaaa” bentak Tristan.
Marsya tersentak kemudian ia melepaskan pelukannya dan langsung menatap wajah Tristan yang terlihat marah.
“Ke..kenapa kau membentakku Tris?” tanya Marsya.
“Sekali lagi kau ucapkan kata seperti itu aku akan benar-benar meninggalkanmu Sya. Tolong jangan mengatakannya lagi, aku tidak suka” ucap Tristan lirih.
Marsya menumpahkan lagi air matanya dan menghambur ke pelukan Tristan. Pria itu pun membalas pelukan Marsya dan mengusap-usap punggung Marsya lembut.
“Aku akan selalu untukmu Sya. Kamu tidak usah pikirkan perkataan gadis gila itu. Aku bahkan tidak mengenalnya. Mungkin dia hanya ingin mendapatkan uangku dengan mendekatiku dan membawa cerita sedih. Dia pikir aku akan tergoda dan tersentuh akan ceritanya itu, tapi itu tidak akan mungkin” Tristan menjeda ucapannya.
“Aku menyayangimu Marsya Alvindo” ucap Tristan sambil mengusap rambut Marsya sayang.
“Hikss, aku juga sangat menyayangimu Tris. Aku begitu takut kehilanganmu makanya aku jadi seperti ini. Maafin aku sudah berkata seperti itu. Tapi aku juga akan melakukan apa yang aku ucapkan tadi jika sampai hal itu terjadi. Kamu harus ingat itu Tris, aku nggak pernah main-main dengan ucapanku” ucap Marsya sambil menatap lekat Tristan yang juga sedang menatap Marsya.
Tristan tersenyum, kemudian ia melepas pelukannya dan memegangi kedua bahu Marsya.
“Aku tahu dan aku tidak akan membuatmu melakukan itu” ucap Tristan meyakinkan Marsya.
Senyuman terbit di bibir Marsya, ia sangat lega setelah mendengar ucapan Tristan.
“Makasih Tris, aku harap kau menepati ucapanmu itu” ucap Marsya dengan senyuman yang masih terus memperindah wajahnya.
Tristan mengangguk kemudian membawa Marsya ke dalam pelukannya.
Marsya menghapus air matanya kemudian menampilkan senyum terbaiknya. Tristan juga turut memperlihatkan ekspresi yang sama.
“Oh ya sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi loh” ucap Marsya mengalihkan pembicaraan mereka.
“Pertanyaan yang mana, hemm?” Tristan mengangkat sebelah sudut alisnya.
"Pertanyaan tentang kafe ini" ucap Marsya ragu-ragu.
Tristan diam sejenak menatap Marsya, kemudian ia mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Marsya tersebut.
"Sebenarnya waktu itu kafe ini bukan milikku sayang, ada seseorang yang tidak sengaja bertemu denganku dalam keadaan kacau karena dikejar-kejar rentenir. Wajahnya babak belur mungkin karena dipukuli. Dan setelah aku bertanya, ternyata dia memiliki hutang yang banyak. Awal aku membeli kafe ini, ini bukanlah kafe melainkan warung makan kecil",.
Tristan menjeda ucapannya sambil mengingat awal mula pertemuannya dengan pria paruh baya yang wajahnya babak belur sedang berlari di jalanan dan hampir ia tabrak waktu itu.
"Namanya pak Rafli, dia meminjam uang untuk biaya pengobatan anaknya akan tetapi ia tidak bisa membayar karena ia tidak berjualan selama menunggui anaknya yang sakit. Waktu itu kami tidak sengaja bertemu, akhirnya aku membayar hutangnya dan dia menyerahkan warung makannya kepadaku yang akhirnya aku jadikan kafe ini" lanjut Tristan.
Mata Marsya berbinar-binar, ia semakin mengagumi sosok tunangannya ini. Ia yang awalnya curiga akhirnya bisa bernapas lega dengan jawaban memuaskan yang diberikan oleh Tristan.
"Sayang, kenapa kau manis sekali sih" ucap Marsya dengan suara yang dibuat seimut mungkin.
Tristan tidak menanggapinya, ia hanya mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangannya itu.
'Entahlah, tapi dari semua kafe dan resto yang aku kelola bersama Marsya semuanya mulai dari desain hingga tata letak itu sama. Hanya kafe ini yang berbeda, dan aku juga tidak tahu kenapa aku merubahnya seperti ini',.
"Tapi aku suka dengan kafe ini, menarik dan menunya pun berbeda dengan yang ada di kafe-kafe milik kita" ucap Marsya kemudian menghembuskan napasnya mencoba menetralkan perasaannya yang tadi sempat tegang.
"Hmm. Oh ya, kau kenapa bisa disini?" tanya Tristan yang teringat akan kedatangan Marsya ke kafenya ini.
"Oh hehe, tadi aku lewat saja di daerah ini. Di tengah perjalanan aku lapar dan aku mampir ke kafe ini. Sudah lama sih aku pingin datang ke kafe ini karena banyak teman-temanku yang menceritakan tentang kafe ini, tapi baru kali ini aku datang dan ya baru saja aku menikmati makananku eh harus ada kejadian tadi" cerita Marsya yang kembali menunjukkan wajah kesalnya.
Tristan mengusap puncak kepala Marsya membuat gadis itu menoleh kepadanya. Tristan tersenyum hangat yang akhirnya membuat Marsya melupakan kekesalannya dan langsung membalas senyuman Tristan tersebut.
...💮❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️💮...
Terima Kasih sudah membaca 💕💕💕
__ADS_1