
Setelah seminggu drama nilai di kampus itu, saat ini Qania tersenyum puas karena semua mata kuliahnya dapat nilai memuaskan tanpa nilai C. Ia beranjak dari tempat tidurnya, seperti biasa liburan adalah waktu bermalas-malasan baginya. Tadi setelah sarapan ia kembali ke kamar dan bermain dengan ponselnya di atas tempat tidur sambil rebahan. Saat ini pukul sebelas ia baru ingin mandi, karena Arkana mengajaknya keluar untuk jalan-jalan.
Setelah mandi, Qania yang masih memakai jubah mandinya langsung mengambil ponselnya di atas tempat tidur dan menghubungi Arkana.
📱📞...My Beloved
“Sayang dimana?” Tanya Qania begitu Arkana menjawab panggilannya.
“Udah di jalan sayang, aku bawa mobil nggak apa-apa kan?” Tanya Arkana.
“Emang ada masalah kalau bawa mobil?” Qania balik bertanya, ia duduk di atas tempat tidurnya saat ini.
“Nggak sih, kan kamu biasanya lebih suka naik motor biar bisa meluk aku. Kalau di mobil kamu jadi nggak bisa meluk aku deh” jawab Arkana dengan pedenya.
“Apa kamu bilang hahh?” teriak Qania mulai kesal, ia semakin kesal karena mendengar tawa dari seberang saluran.
“Reseeeeee” teriak Qania kesal.
“Sarapan pagi sayang, aku kan belum buat kamu kesal. Sekarang udah kesal dan aku udah kenyang” ucap Arkana yang bukan membujuk malah menambah kekesalan Qania.
“Oke, nggak usah datang. Kita nggak jadi jalan” ucap Qania kemudian memutus panggilan itu sepihak.
“Arkana sialan, selalu saja buat aku kesal pagi-pagi. Eh ralat, ini udah masuk siang hari” ucap Qania kesal.
Drtt..drttt..
đź’ŚMy Beloved
“Aku udah di depan, kita ke pantai. Aku juga udah izin dan aku tunggu kamu di mobil sekarang”
...…....
Qania kembali tersenyum saat membaca pesan dari Arkana tersebut.
“Emang paket komplit, ngeselin dan nyenengin di saat yang bersamaan” gumam Qania kemudian berdiri untuk mengganti pakaiannya.
#Pantai
“Mama sama papa kemana?” Tanya Qania saat duduk di dalam mobil Arkana.
__ADS_1
“Demi apapun tunangan gue cantik banget dengan dandanan kali ini. Mana tu poni yang biasa nutupin di salah satu tempat favorit aku?” Arkana berdecak kagum saat Qania masuk dengan penampilan agak berbeda, maklum beberapa hari mereka tidak bertemu karena Arkana mulai sibuk mempelajari urusah perusahaan.
“Thanks, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku tadi” ucap Qania mengalihkan karena sudah merasa malu dipuji Arkana.
“Oh mereka lagi pergi kondangan katanya, tapi baliknya ntar malam” jawab Arkana yang sudah mulai menyetir dan mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Qania.
“Oh iya, aku lupa” gumam Qania.
Hampir satu jam mereka menyusuri jalan raya hingga mereka memasuki kawasan pantai, membuat Qania tersenyum senang.
“Ets.. nggak usah dibukain, aku bisa buka sendiri. Kayak nggak punya tangan aja” ucap Qania saat keduanya baru saja akan turun dari mobil.
“Kan biar romantic sayang” rengek Arkana.
“Romantis apaan. Yang ada kesannya itu aku nggak bisa pake tangan aku hanya buat buka pintu. Dan juga aku nggak mau ngelihat kamu kayak supir aku. Ayo lah sayang, buka pintu mobil itu adalah hal yang gampang, seperti ini..” ucap Qania panjang lebar kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar lebih dulu meninggalkan Arkana yang terpana dengan ucapan Qania tadi.
Saat Arkana menatap ke depan, ia melihat Qania sudah berjalan duluan menuju pantai.
“Ahh gadisku itu memang nakal” ucap Arkana kemudian bergegas keluar dari mobilnya, tak lupa ia menguncinya terlebih dahulu.
Arkana akhirnya menyamakan langkahnya dengan Qania yang sedang bermain dengan air laut di bibir pantai itu.
“Siapa suruh bengong di mobil” jawab Qania acuh.
“Bujuk kek sayang” rengek Arkana.
“Tau ah, gelap” ucap Qania sterus berjalan menyusuri bibir pantai, kakinya bermain ombak kecil itu.
“Gelap dimananya sayang, terang gini?” Tanya Arkana dengan dongkol, ia bahkan melihat ke atas.
Qania yang melihat itu tak bisa menahan tawanya, ia merasa kekasihnya memang paket komplit, bad boy dan polosnya kadang datang bersamaan.
“Sayang..” panggil Arkana saat mereka berdua tengah menyusuri pantai sambil berpegangan tangan.
“Hmmm..”
“Panas sayang, pakai topi nih” ucap Arkana yang entah ia mendapatkan topi pantai itu dari mana.
“Aku lapar, makan yuk” ajak Qania.
__ADS_1
“Sama sayang, yuk cari makan” Arkana menarik tangan Qania dengan lembut, keduanya Nampak sangat serasi.
Sementara itu di sisi lain pantai itu.
“Lagi dan lagi gue harus melihat keduanya bermesraan, sial” siapa lagi kalau bukan Fandy, namun ia tidak bisa mendekat karena ada Fadly bersamanya yang juga melihat ke arah Qania dan Arkana sedari tadi.
“Ingat sama janji lo Fan” ucap Fadly sambil menepuk bahu Fandy.
“Gue tahu dan gue nggak bakalan lupa” jawabnya ketus.
“Syukur deh” ucap Fadly, “meskipun sejujurnya gue ragu” batinnya.
Waktu terus berputar, tak terasa siang yang teramat panas itu kini berganti jingga karena hari mulai senja. Qania dan Arkana yang masih setia bermain air di pantai dengan pakaian yang sudah basah itu terlihat sangat bahagia.
“Mungkin gue yang salah pernah lepasin dia, dan akhirnya gue tinggal jadi penonton kebahagiaannya” ucap Fandy dengan sendu.
“Sabar Fan, pasti ada yang lebih baik dari dia” hibur Fadly.
“Yuk balik” ajak Jerry yang sudah memakai jaketnya.
“Semenit lagi, gue mau lihat dia tuk terakhir kali sebelum gue meninggalkan kota ini” pinta Fandy yang tatapannya tak lepas dari Qania.
“Oke, lima menit” ucap Fadly membuat Fandy tersenyum senang.
“Gue nggak tahu bakalan sesakit ini saat ngelihat lo sama orang lain sedang berbahagia Qan. Gue juga dulu sayang banget sama lo bahkan sangat. Hanya saja gue salah langkah saat godaan yang datang waktu itu dan kondisi lo yang sangat sibuk sehingga kadang anggurin gue gitu aja membuat semua yang datang ke gue langsung gue tanggapin. Maafin gue yang kemarin Qan, gue harap lo bahagia sama dia. Dan kalau pun suatu saat lo nggak bahagia sama dia, cari gue Qan. Lo bakalan gue jadiin wanita terbahagia di dunia” batin Fandy menatap nanar kea rah dua orang yang sedang bermain air laut itu, keduanya terlihat sangat bahagia dan itu membuat Fandy sangat terluka.
“Udah puas?” Tanya Fadly.
“Yuk balik” ajak Fandy sambil mengenakan jaketnya.
“Lo sabar aja, kalau dia emang jodohnya sama elo, dia pasti bakalan balik ke elo” hibur Fadly saat mereka berjalan ke arah mereka memarkirkan motor mereka.
“Aamiin” ucap Fandy tersenyum sendu.
Ketiganya pergi meninggalkan pantai itu, dengan perasaan Fandy yang sangat patah namun tidak bisa berbuat apapun karena ia sudah berjanji pada Fadly akan menjauhi Qania, agar dia tidak memberitahukan pada orang tua mereka tentang perilakunya yang hampir membunuh orang itu. Ya, orang tua menjadi alasan Fandy menghentikannya karena ia sangat menyayangi sang mama yang sudah tua dan sangat baik hati itu.
“Jauh di lubuk hati gue, lo yang terbaik Qan. Selama ini gue nggak pernah lupa sama lo meskipun gue udah beberapa kali berhubungan dengan gadis lain setelah putus sama lo. Gue memang bodoh karena gue nyari pelampiasaan saat lo menolak permintaan bejad gue waktu itu. Gue nyesel Qan, tapi gue bisa apa. Semoga lo selalu bahagia. Gue Fandy, akan selalu sayang dan cinta sama lo. Gue pergi Qan, gue relain lo bahagia sama dia. Tapi gue bakalan datang lagi membawa lo pergi saat gue tahu lo nggak bahagia sama dia” Fandy menatap lekat Qania, sebelum ia meninggalkannya.
“Selamat tinggal Qania Salsabila” gumamnya kemudian menarik gas motornya.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...