Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Patah Hati


__ADS_3

Setelah Qania dan Arkana pergi dari warung makan tersebut, sepasang mata terus menatap tanpa berkedip kearah mereka. Mata yang terlihat penuh luka, bahkan yang awalnya sangat berselera untuk makan kini hanya mengaduk-aduk makanannya dan sesekali menyesap minumannya. Pikirannya menerawang jauh ke awal pertemuan yang tak terduga itu. Ya, Ghaisan kini di rundung duka karena patah hati.


“Bisakah aku memintamu untuk tidak bertunangan dengannya Qania?” batinnya pilu.


Ghaisan kembali menatap makanannya yang hampir dingin itu, ia perlahan mulai menyuapi ke mulutnya sedikit demi sedikit. Meresapi tiap suapan yang entah mengapa berubah menjadi begitu pahit dan menyakitkan.


“Ternyata patah hati rasanya sesakit ini, bahkan sebelum berjuang” gumamnya yang kemudian meninggalkan warung makan tersebut.


Ghaisan berjalan kaki menuju rumahnya yang memang tidaklah begitu jauh dari warung makan tersebut. Ia memperlambat langkahnya sambil mengenang awal pertemuannya.


“Dia suami saya”..


“Sayang bangun”..


“Lah istrinya nggak dihitung mas?”..


“Dia Ghaisan, suami Qania ma”..


Penggalan kenangan itu membuat Ghaisan tersenyum sepanjang jalan, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat entah darimana ia seperti mendengar suara Arkana.


“Kami akan bertunangan”..


Hatinya kembali terluka, lagi-lagi ia kembali merasakan patah hati. Namun kali ini ia terluka sebelum bergerak.


“Ternyata bertepuk sebelah tangan” lirihnya yang kemudian kembali berjalan.


 


__


 


“Sayang kamu kok gitu sih” ucap Qania sambil memanyunkan bibirnya.


“Gitu gimana?” tanya Arkana yang sibuk memilih kartu undangan.


“Ya tadi tuh sama Ghaisan, kamu nggak lihat gimana ekspresinya waktu kamu bilang kita akan tunangan?” cerita Qania.


“Loh emangnya ada apa dengan Ghaisan hah? Kamu nggak suka aku bilang ke dia. Atau jangan-jangan kamu ada perasaan ya sama dia?” tandas Arkana dengan menatap Qania bagai elang yang tengah menatap mangsanya.


“Ya nggak gitu, kan kasihan dianya” elak Qania.


“Dimana letak kasihannya hah? Dia kan tahu kita berpacaran” kata Arkana sambil melepaskan kartu undangan dan menaruhnya kembali ke meja.

__ADS_1


“Kamu jawab jujur deh, kamu ada rasa sama dia?” tanya Arkana sambil menatap Qania intens.


“Kamu ngomong apa sih, aku jelas-jelas Cuma cinta sama kamu. Nggak ada yang lain” jawab Qania dengan nada kesal.


“Lalu kenapa memikirkan perasaannya?” tanya Arkana menahan amarahnya.


“Karena aku berpikir bahwa tadi kamu memang sengaja membuatnya patah hati” jawab Qania.


“Kalau ia memangnya kenapa?” tantang Arkana.


“Tuh kan benar dugaanku” ketus Qania.


“Udah deh Qania, kalau kamu setengah hati mau tunangan sama aku demi si Ghaisan itu, mending kita batalin aja acaranya” ucap Arkana yang kemudian berdiri dan meninggalkan tempat percetakan tersebut.


“Arkanaaa” teriak Qania yang ikut mengejar Arkana yang berjalan dengan langkah besar.


Arkana seakan tuli, namun ia tidak sebegitu kejamnya hingga meninggalkan Qania dan pulang sendirian. Ia menunggu di atas motor hingga Qania naik. Selanjutnya ia langsung melajukan motornya tanpa bicara sepatah kata pun hingga sampai di rumah Qania.


Qania turun dari motor Arkana dan langsung berjalan kearah samping Arkana.


“Arkana aku...” belum sempat Qania meneruskan kata-katanya, Arkana langsung memotongnya.


“Aku mau pulang, aku lelah. Sebaiknya kamu pikirkan lagi rencana pertunangan kita, jika di hatimu masih memikirkan pria lain” ucap Arkana kemudian membelokkan motonya dan pergi meninggalkan Qania yang mematung menatap kepergiannya.


“Apakah Qania memiliki perasaan terhadap pria lain?” pikir Ghaisan yang tak sengaja mendengar ucapan Arkana tadi.


 


__


 


Ghaisan tengah sibuk merapikan pakaiannya ke dalam tas yang akan ia bawa malam nanti kembali ke tempatnya bertugas. Biasanya ia sangat bersemangat, namun kali ini ia merasa begitu lemas hanya untuk menaruh beberapa lembar pakaiannya ke dalam tas yang tidak begitu besar itu.


Sebuah panggilan telepon membuyarkan lamunan Ghaisan.


“Selamat sore komandan” sapa Ghaisan.


“Selamat sore. Apakah kamu sudah menyelesaikan urusanmu disana?” tanya sang komandan.


“Sudah komandan, saat ini saya sedang mempersiapkan keberangkatan nanti malam” jawab Ghaisan bersemangat.


“Bagus kalau begitu. Dan apakah benar sekarang keadaanmu sudah baik-baik saja setelah dari rumah sakit?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Baik komandan” jawab Ghaisan.


“Bagus kalau begitu. Kami menunggumu disini” ujarnya.


“Siap komandan” jawab Ghaisan dengan tegas.


“Baiklah, selamat sore” ucapnya.


“Selamat sore” balas Ghaisan.


*


*


Qania menangis di dalam kamarnya, ia tidak habis pikir mengapa Arkana berkata seperti itu padanya.


“Kenapa cemburunya begitu berlebihan” teriak Qania.


Teriakan Qania membuat sang mama yang baru saja ingin menemuinya malah terkejut karena sang putri sepertinya tengah menangis. Tanpa permisi ia langsung masuk ke kamar Qania yang tidak di kunci itu.


“Hei ada apa denganmu?” tanya Alisha saat duduk di samping Qania.


“Mama, hiksss. Arkana jahat ma” keluh Qania.


“Arkana jahat kenapa sayang? Apa yang dia lakukan padamu?” tanya Alisha panik.


Qania menceritakan kejadiannya saat bertemu Ghaisan di warung makan sampai perdebatannya tadi di halaman rumah.


“Hmm, dia sangat mencintaimu dan juga sangat cemburuan. Itu juga kurang baik dalam hubungan” ucap Alisha setelah mendengar cerita Qania.


“Qania harus apa ma? Qania juga lelah jika harus meminta maaf terus kepadanya hanya karena hal sepele dan karena sikapnya yang begitu cemburuan” kesal Qania.


“Biarkan saja dia” jawab mamanya yang malah membuat Qania menatapnya heran.


“Kenapa kamu menatap mama seperti itu?” tanya mamanya.


“Mengapa mama menyuruhku membiarkannya? Apakah mama tidak memikirkan pertunangan kami sebentar lagi?” tanya Qania heran.


“Biar mama yang akan mengurus semua ini. Kamu diam dan tenangkanlah pikiranmu. Ada mama yang akan membantumu” ungkap mamanya sambil membelai rambut putrinya itu.


“Uh mama memang yang terbaik” Qania memeluk erat tubuh sang ibu dan langsung dibalas oleh mamanya dengan penuh kehangatan.


 

__ADS_1


______


__ADS_2