Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Internasional Class


__ADS_3

Pak Erlangga menatap bergantian dua orang yang sedang duduk di depannya itu. Ia masih menunggu keduanya untuk berbicara setelah beberapa menit datang dan dipersilahkan untuk duduk tetapi keduanya belum mengucapkan apapun sampai saat ini. Ia juga bingung siapa lelaki yang bersama Qania ini karena sepertinya ia tidak pernah melihatnya di fakultasnya.


"Bicaralah, saya yakin kalian datang ke ruangan saya tidak untuk menjadi pajangan di depan mata saya, kan?" sindir pak Erlangga.


"Hahh" Syaquile menghembuskan napasnya sebelum memulai pembicaraan.


"Sebelumnya saya mohon maaf jika ikut campur dalam masalah internal kampus ini Pak. Pertama perkenalkan dulu saya Syaquile adik kandung dari Qania Salsabila. Saya datang kesini untuk mengajukan protes atas apa yang saya lihat tadi dimana teman-teman sekelas kakak saya membully dirinya dan bahkan kalau saya tidak datang tepat waktu mungkin saat ini wajah kakak saya sudah terkenal sebagai seorang pelakor" Syaquile menjeda ucapannya sejenak.


"Sebenarnya saya ingin mengajukan gugutan atas tindakan pembullyan tersebut namun kakak saya tidak mengizinkan saya melakukan hal tersebut padahal kami memiliki seorang pengacara hebat yang pastinya tidak akan kalah jika sampai kasus ini masuk ke pengadilan" ucap Syaquile setengah emosi.


"Pembullyan?" tanya pak Erlangga sambil menatap Qania yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ya, mereka membully kakak saya dan dengan kurang ajarnya mereka ingin memviralkan kakak saya di media sosial sebagai seorang pelakor. Saya sebagai adiknya sangat tidak terima" sahut Syaquile ketus.


"Apppaa? Siapa yang berani melakukan hal itu kepada Qania?" pekik pak Erlangga kemudian menatap lekat kepada Syaquile.


"Jawab Kak, jangan hanya diam saja" sentak Syaquile.


"Hmm, biasa Pak, Rosa dan kawan-kawannya" sahut Qania malas.


"Lagi? Mereka masih membully kamu?" tanya pak Erlangga yang kini merasa kepalanya pusing.


"Ya begitu lah pak, mereka kan emang kayak gitu. Mereka nggak bakalan jera juga dan itu juga sebenarnya karena tadi bapak mengacuhkan Rosa yang bertanya kenapa saya nggak di hukum" jawab Qania.


"Lah kok jadi bapak yang kamu salah kan Qania? "tanya Pak Erlangga bingung.


"Lah emang benar kok Pak" sungut Qania.


"Hukum? Untuk apa kakak dihukum?" tanya Syaquile penasaran.


"Ada masalah kakak yang dikira pelakor itu. Nanti kakak ceritain deh" jawab Qania sambil menimbang- nimbang apa yang harus ia katakan nanti kepada Syaquile.


"Ya udah nanti aja. Sekarang kembali ke protes saya sebagai adik dari Qania Salsabila. Saya Syaquile Sanjaya meminta bapak untuk memindahkan kakak saya ke kelas Internasional. Saya rasa kakak saya memiliki kriteria yang pas untuk masuk ke kelas tersebut. Saya tidak ingin pembullyan itu terjadi lagi, dan jika berada di Internasional Class, tidak akan terjadi pembullyan karena semua penghuninya adalah orang yang serius belajar bukan hanya datang untuk pamer fashion doang" ucap Syaquile panjang lebar.

__ADS_1


Pak Erlangga mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, kemudian ia menghela nafas panjang.


"Internasional Class ya, boleh juga. Qania juga sangat layak masuk ke kelas itu" ucapnya.


"Tapi Pak, saya tidak ingin terlalu serius" sanggah Qania.


"Jangan membantah kak atau aku lapor ke Papa dan om Setya mau?" ancam Syaquile.


Qania menghembuskan napas berat, lagi-lagi sang adik mengancamnya seperti itu.


"Ya sudah terserah kalian saya" sahut Qania pasrah.


Syaquile dan pak Erlangga menyeringai setelah mendengar jawaban Qania.


"Tapi di semester berikutnya karena sebulan lagi sudah memasuki masa ujian final" ucap pak Erlangga.


"Iya pak" jawab , Qania dan Syaquile bersamaan.


Setelah sedikit mengobrol, kakak beradik itu pun pamit undur diri dari ruangan pak Erlangga.


..............


“Kak?” Panggil Syaquile.


“Kami tidak sengaja bertemu di dalam pesawat waktu kakak akan kembali ke kota ini lagi. Dan kakak juga baru tahu waktu itu kalau Raka sudah setahun lebih dulu kuliah di kota ini namun di universitas yang berbeda dengan kakak” ucap Qania membuat Syaquile terbengang sesaat.


Qania tersenyum melihat ekspresi lucu sang adik.


“So good. Bisa ya baca pikiran orang” ucap Syaquile sedikit cemberut.


“Ya kalau pikirkan kamu bisa saja kakak tebak. Sangat nampak dari wajahmu itu” kekekh Qania dan itu membuat Syaquile semakin cemberut.


“Ya udah deh aku mau pamit ke penginapanku. Teman-teman udah pada nyariin” pamit Syaquile.

__ADS_1


“Nggak nginap disini aja dek?” Tanya Qania yang sebenarnya masih rindu kepada adiknya itu.


Waktu libur semester adiknya itu tidak pulang karena sibuk menjadi asisten dosen di kampusnya dan setelah hampir setahun lamanya barulah mereka kembali bertemu.


“Gimana ya kak, teman-teman aku gimana?” Syaquile pun menjadi bingung.


“Apa sih kamu dek, ya tinggal ngomong aja kalau mau nginap sama kakak. Mereka juga udah bukan anak kecil lagi. Gitu aja dipusingin” gerutu Qania.


“Ya nggak segampang itu juga kak mau bilang kayak gitu. Kita itu anak teknik jadi solid banget” tandas Syaquile.


Qania melipat kedua tangannya di atas dada dengan sebelah alisnya terangkat.


“Kakak juga anak teknik, kakak ingatin kalau kamu lupa” ketus Qania.


“Eh iya ya” seru Syaquile dengan polosnya.


“Ya udah deh aku mau balik dulu, lagian ini masih sore sekalian aku pamit ke mereka mau nginap bareng kakak. Oh iya mau dibawain makanan apa?” ucap Syaquile memenuhi keinginan sang kakak.


“Nggak usah, ntar kita makan malam di luar aja” tolak Qania halus, kemudian ia tersenyum misterius yang dilihat oleh Syaquile namun ia tidak memusingkan hal tersebut.


“Ya udah aku balik dulu kak, nanti aku datang setelah magrib” ucap Syaquile kemudian berdiri dan memeluk Qania yang juga ikut berdiri.


Qania menemani Syaquile sampai ke motornya yang ia sewa selama ia berada di kota ini. Qania melambai begitu Syaquile membunyikan klakson motornya.


Qania pun kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


Tadi saat Qania dan Syaquile keluar dari area kampus, tak sengaja berpapasan dengan Raka yang juga berniat untuk menemui Qania untuk menjemputnya.


Raka dan Syaquile sempat saling menatap lama sebelum akhirnya Qania mengajak keduanya untuk segera kembali ke kostnya.


Raka dan Syaquile pun sempat bermain game bersama sebelum akhirnya Raka pamit pulang karena ada mata kuliah. Syaquile sebenarnya ingin bertanya kepada Raka namun ia lebih ingin mendapatkan jawaban pasti dari kakaknya mengenai keberadaan Raka bersama sang kakak.


Dan akhirnya Syaquile puas dengan jawaban Qania yang ia dapatkan tadi. Ia membawa motornya dengan kecepatan sedang sambil menikmati suasana kota tersebut.

__ADS_1


"Aku nggak tahu kakak itu suka sama kak Raka atau nggak. Aku senang dengan kak Raka, tapi entah mengapa aku masih nggak rela kalau kakak gantiin kak Arkana",.


.................


__ADS_2