
Hallo semua ...
Maaf ya, dua hari kemarin nggak up. Jadi tuh kemarin aku ujian Seminar Hasil jadi sibuk dan fokus ke ujian. In Sya Allah minggu depan aku ujian Skripsi, doain ya kawan-kawan ... 🤲🤲🤲
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
Setelah menunaikan ibadah subuh, Qania langsung kembali ke alam impinya. sementara Lala, gadis itu saat ini tengah sibuk dengan segala peralatan masak-memasak.
"Beberapa jam lagi kak Qania bakalakan berangkat KKN dan pasti saat dia bangun nanti perutnya terasa lapar. Aku harus memasak makanan yang enak buat kakak. Aku tahu uang kak Qania itu banyak dan dia bisa singgah di warung makan. Tapi tetap aja sebagai adik yang baik aku harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk kakak terbaikku itu," ucap Lala bermonolog sambil memotong beberapa bumbu masakan.
"Kamu tahu La, kamu itu beruntung dan sepertinya Tuhan begitu memberkatimu dengan mempertemukanmu dengan kak Qania. Hah rasanya aku nggak bakalan ada di posisi seperti ini jika kak Qania nggak ada di kehidupanku. Kak Qania bagai malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantu kehidupanku. Kalau nggak ada dia dan aku nggak lulus masuk kuliah di fakultas Hukum, pasti sekarang aku masih jadi pelayan di kafe milik boss sombong si Tristan Anggara. Hih aku nggak nyangka kalau boss itu orangnya jahat," Lala terus mengoceh sambil menyelesaikan bahan-bahan masakannya.
Sambil terus mengoceh ia pun memasak beberapa menu masakan dengan begitu bersemangat.
Di dalam kamar, Qania mulai mengerjapkan matanya. Hidungnya mengendus aroma yang membuat perutnya merasa keroncongan.
"Hmmm ... siapa yang masak nih?" Qania perlahan bangun dari tempat tidurnya.
qania pun berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. setelah mengeringkan dengan handuk kecil, ia pun bergegas ke dapur.
"Wah Lala masak apa nih?" Tanya Qania sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya.
"Eh ini Kak, aku mau buatin sarapan untuk kakak. Kakak pasti lapar, kan?" Ucap Lala sambil menata hasil masakannya di atas meja.
Qania menarik kursi kemudian duduk untuk bersiap menikmati masakan Lala yang baunya begitu menggugah selera.
"Ih, Kakak mandi dulu baru makan," tegur Lala.
"Kakak udah lapar banget La, bentar ajah deh mandinya. Lagian cacing di perut Kakak udah pada demo minta di kasih sembako," ujar Qania membuat Lala tertawa.
"Ada-ada sih, ya udah ayo makan," ucap Lala masih merasa lucu dan ia pun mengambikan piring untuk Qania.
"Makasih, berasa jadi nyonya gue di perlakuin kayak gini. Hihihi," ucap Qania cekikikan setelah menerima piring dari Lala.
"Kembali kasih, Kak. Ayo kita makan," ucap Lala.
Keduanya pun mulai makan dengan mulut yang mengunyah namun tidak ketinggalan celotehan mereka yang meskipun mulut mereka terisi penuh dengan makanan mereka masih bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Hah ... kenyang aku," ucap Qania bersandar di kursi.
"Alhamdulillah, Kak," kritik Lala.
"Lah, kan doa setelah makan ada Alhamdulillahnya," protes Qania.
"Emang Kakak udah baca doa setelah makan?" Selidik Lala.
"Ya iyalah La. Tapi dalam hati doang, jadi kamu nggak dengar," jawab Qania.
"Pantas," gumam Lala.
"Ya udah Kakak mau mandi dulu, makasih ya La untuk sarapannya," ucap Qania tersenyum tulus kemudian ia beranjak pergi dari dapur.
Lala pun membereskan sisa makanan mereka beserta peralatan makan yang tadi mereka gunakan.
"Harusnya yang makasih tuh aku Kak, bukan kamu," ucap Lala sambil mencuci peralatan makan dan itu juga tidak di dengar oleh Qania.
__ADS_1
Di dalam kamar, setelah bersiap Qania memutuskan untuk menghubungi orang tuanya dulu untuk berpamitan sebelum berangkat KKN. Ia hanya menelepon saja, tidak melakukan panggilan video seperti biasanya.
Sementara itu, di kediaman sang bupati, bapak Zafran Sanjaya beserta anggta keluarganya tengah sarapan pagi. Nampak Alisha tengah menuangkan makanan ke dalam piring cucu tampan kesayangannya itu.
"Makan yang banyak ya, biar cepat gede," ucap Alisha setelah meletakkan piring di depan Arqasa.
"Iya Nek, makasih," jawab Arqasa.
Zafran tersenyum melihat cucunya yang pandai mengucapkan terima kasih meskipun selama ini kelakuan bocah itu sungguh sering mengesalkan namun ia tidak pernah melupakan kata terima kasih dan maaf. Itu yang ia pesan kepada cucunya.
Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu jam untuk mengantar Arqasa ke sekolah PAUD.
Ponsel Zafran yang berada di atas meja berdering, menampilkan nama penelepon yang tidak lain adalah anak perempuannya yang sedang berada jauh darinya.
"Assalamu'alaikum, Pa."
"Wa'alaikum salam, Nak. Tumben nelepon pagi-pagi," balas Zafan.
"Qania Pa?" Tanya Alisha.
"Iya Ma," jawab Zafran.
"Kek, Mami ya?" Tanya Arqasa.
"Iya, Nak. Mau ngobrol sama Mami?"Tanya Zafran.
"Mau, Kek."
Zafran pun memberikan ponselnya pada Arqasa yang duduk di sampingnya sudah dengan mengenakan seragam sekolahnya.
"Hallo Mi," sapa Arqasa.
"Mami lagi ngapain?"
"Mami lagi ngobrol sama anak Mami yang tampan dan imut ini. Kalau anak Mami lagi ngapain?" Tanya Qania sambil menyandarkan punggungnya di dinding tempat tidurnya.
"Aku lagi nungguin jam berangkat ke sekolah Mi. Mami mau berangkat KKN, ya?"
"Iya sayang, doain ya biar Mami selamat sampai di tempat KKN nanti."
"Pasti Mi. Oh iya, aku mau nyiapin buku dulu di kamar Mi, nggak lama lagi mau berangkat ke sekolah," pamit Arqasa.
"Iya Nak."
"Anaknya udah pergi tuh sama neneknya," ucap Zafran yang sudah kembali memegang ponselnya.
"Hehehe ... Oh iya Pa, ada yang aku mau tanyain," ucap Qania terdengar ragu-ragu.
"Bertanya saja, tidak ada yang melarang," ucap Zafran lalu tertawa.
Qania mengerucutkan bibirnya, sudah bukan hal baru jika sang Papa membuatnya kesal. Sebenarnya itu adalah pesan Arkana kepada sang Papa dulu sebelum mereka menikah dan Zafran yang tidak tahu kalau itu adalah keinginan terakhir Arkana hanya mengiyakan saja saat menantunya memintanya untuk membuat Qania kesal saat ia tidak berada di sampingnya.
"Papa ngeselin deh," ucap Qania berpura-pura merajuk.
"Kamu sih, kalau mau nanya ya nanya aja."
__ADS_1
"Hmm ... ngomong sama orang hebat mah gitu, meskipun kita benar mereka tetap saja bisa menjatuhkan dan menyalahkan kita," sindir Qania dan ia hanya mendapatkan tawa besar dari sang Papa.
"Benar sekali sayang."
Qania mendengus. "Pa, aku tuh mau ngomong serius."
"Iya, pasti Papa dengerin," ucap Zafran dengan nada serius.
"Gini Pa, jadi ada teman aku nih dari dulu banget dia udah suka sama aku. Aku udah nolak dia Pa, tapi dianya selalu datang dan datang lagi. Dia bersikukuh untuk bisa mendapat balasan dariku Pa. Aku harus gimana? Aku nggak mau ngecewain kalian apalagi papa Setya. Aku juga nggak mau Arqasa mendapat Ayah tiri dan aku pun belum bisa melupakan Arkana Pa. Di dalam hati dan pikiranku hanya ada satu pria Pa, hanya Arkana saja," ucap Qania panjang lebar.
Zafran menghela napas, ia memikirkan pertanyaan sang anak yang semakin lama semakin kritis saja pemikirannya. Benar pasti rasa kecewa itu ada di hati Setya jika tahu Qania menggantikan anaknya. Tapi sebagai seorang Ayah, Zafran pun tidak ingin anaknya selamanya menjanda. Apalagi Qania itu masih sangat muda, perjalanannya masih panjang dan ia membutuhkan sosok pria yang akan melindungi dan membimbingnya hingga tua nanti.
"Sekarang Papa tanya, kamu suka atau ada perasaan lebih nggak sama teman kamu itu?" Tanya Zafran.
"Ya aku nggak tahu Pa, untuk sekarang mungkin belum. Tapi siapa yang akan tahu kalau nanti aku bakalan luluh. Siapa sih yang nggak akan luluh kalau terus diberikan perhatian dan kasih sayang. Apalagi melihat kegigihannya, aku rasa aku pasti akan luluh juga nanti," jawab Qania rasional.
"Hmm ... Papa membenarkan ucapanmu yang barusan. Sebagai seorang Ayah, Papa tentu mendukung segala keputusan yang akan kau ambil Nak. Papa tidak punya keinginan yang lain selain melihat anak-anak Papa hidup bahagia."
"Memang benar rasa kecewa akan dirasakan oleh mertuamu itu. Tapi Papa yakin dia bisa mengerti dan memang kami pernah membahas itu dengannya sebelum ini. Dari penuturannya dia sama sekali tidak melarangmu untuk menjalin hubungan lagi, tapi sorot matanya terlihat jelas kalau dia tidaklah sepenuhnya ikhlas melepasmu."
"Tapi Nak, kau itu masih sangat muda dan perjalananmu masih sangat panjang. Tidak seharusnya kau menutup diri dan hatimu karena ingin setia kepada suamimu. Kau lihat anakmu, siapa yang akan melindunginya dari kekejaman dunia jika dia tidak memiliki seorang ayah? Dan kau, siapa yang akan menjadi tempat bersandarmu saat kau lelah dan terpuruk? Mungkin sekarang masih ada Mama dan Papa serta adikmu, tapi Mama dan Papa sudah tua dan adikmu pun pasti akan menikah dan memiliki tanggung jawab lain dan yakin saja kau pasti akan merasa tidak enak jika masuk kedalam rumah tangga adikmu."
"Kau harus berpikir ke depan Nak, jangan terus melihat ke belakang. Pikirkan dirimu dan anakmu, Arkanamu sudah tiada dan tidak akan pernah kembali lagi. Dia sudah tenang di alam sana tapi kau sampai saat ini masih terus terbelenggu. Jangan tahan hatimu Nak. Suatu saat nanti kau juga pasti akan mengerti bahwa setiap manusia itu membutuhkan manusia yang lainnya. Tuhan menciptakan manusia itu berpasang-pasangan dan mungkin jodoh Arkana itu adalah kamu. Tapi jodohmu bukanlah dia Nak. Pikirkan ucapan Papa, semua demi kebailkanmu. Cobalah," ucap Setya panjang lebar dan Qania dengan sabar mendengarkannya.
"Mungkin apa yang Papa katakan ada benarnya. Aku akan mencoba untuk memikirkan semuanya Pa, makasih untuk nasihatnya. Aku merasa tenang sekali, aku sayang Papa," ucap Qania diiringi air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan sungkan membagi bebanmu dan juga perasaanmu pada Papa. Papa akan dengan senang hati menerima keluh kesahmu, Nak. Jangan pernah menganggap kami tidak peduli, bahkan kepedulian kami lebih dari yang kau pikirkan. Ingat perkataan Papa ini," ucap Zafran.
"Iya Pa, pasti. Maaf jika selama ini Qania selalu menyimpan sendiri beban dan masalah Qania. Qania hanya tidak ingin membuat Mama dan Papa kepikiran," lirih Qania.
"Tidak akan," tandas Zafran.
"Iya Pa. Oh iya, Qania mau bersiap dulu. Salam sama Mama dan Arqasa ya Pa. Nanti kalau Qania udah mau berangkat, Qania akan menghubungi Papa," ucap Qania setelah melirik jam di dindingnya.
"Iya sayang, kamu hati-hati," pesan Zafran dengan nada begitu lembut membuat hati Qania terasa hangat.
"Iya Pa, sekali lagi makasih," ucap Qania dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Iya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam Pa."
Setelah panggilan terputus, Qania pun langsung menyiapkan tas dan sedikit memoles wajahnya yang sudah basah karena air mata.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
Kuy berteman dengan akuuhh ...
IG : Vvillya
FB : Vicka Villya Ramadhani
Telegram : 0823 5054 5747
__ADS_1
salam manis dari akuuhh hehehehe ...