Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tidak seperti yang di bayangkan


__ADS_3

Qania tengah bersiap di dalam kamarnya karena sudah janjian dengan Arkana akan menghabiskan malam terakhir mereka di kota ini dengan berjalan-jalan. Besok pagi mereka harus kembali lagi ke rumah mereka dan mengadakan acara pertunangan secara resmi.


"Apakah aku sudah cantik?" tanya Qania pada pantulan dirinya di cermin sambil memperhatikan riasannya yang tipis dan terkesan natural itu.


Sebuah panggilan masuk di ponselnya mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur dimana ia meletakkan ponselnya. Dengan antusias ia berjalan dan meraih ponselnya, ya benar saja panggilan tersebut berasal dari sang pujaan hati. Segera mungkin ia menjawab panggilan tersebut dan berjalan lagi ke arah meja rias dan mendudukkan dirinya di atas bangku yang tadi ia duduki.


"Hallo" sapa Qania degdegan.


"Hallo sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Arkana dari seberang saluran.


"Iya sudah" jawab Qania pelan sambil mengamati pantulan wajahnya di cermin.


"Baiklah, aku akan segera kesana" ucap Arkana sambil merapikan setelannya di depan cermin setelah memutus panggilan tersebut.


"Kenapa aku selalu degdegan dan berkeringat dingin meskipun hanya menjawab telepon darinya, arghh memalukan" Qania mengoceh sendiri di depan cermin.


Tak lama setelahnya Arkana datang dan mengetuk pintu kamar Qania, dengan cepat Qania berjalan untuk membukakan pintu kamar tersebut. Nampak di depannya Arkana dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau hitam dan celana jeans hitam panjang, serta rambut yang di tata rapih membuat Qania terperangah.


Begitu pula dengan Arkana yang melihat Qania mengenakan dress selutut berwarna hijau dengan lengan seperempat serta tas berwarna hitam dan juga high heels berwarna hitam. Rambutnya di sanggul dan menyisakan anak rambut yang sudah di ikal di bagian depan untuk menemani poni di dahinya.


Keduanya saling menatap kagum, hingga papa Qania datang mengagetkan kedua insan yang sedang berbicara lewat tatapan mata keduanya itu.


"Ehemmm, disini serasa panas ya" ledek papa Qania.


"Iya" jawab keduanya masih fokus saling menatap.


"Wah KUA nih tujuannya kalau sudah begini" sambung papanya yang terus menggoda kedua remaja yang masih berada di dunia yang hanya milik mereka berdua itu.


"Eh.." Qania tersadar lalu mengalihkan pandangannya.


"Ih papaaaa" teriak Qania.


"Eh om, hehe" Arkana terlihat canggung kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maaf ya kalau sudah mengganggu kalian, saya permisi dulu tuan dan nyonya. Hahaha" tawa papa Qania lepas sambil berjalan meninggalkan anak dan calon menantunya itu.

__ADS_1


"Ih kamu sih, aku kan jadi malu sama papa" gerutu Qania.


"Emang cuma aku gitu yang salah, emang kamu nggak ngelihatin aku juga tadi. Sampai nggak berkedip gitu" sanggah Arkana, ia tidak mau disalahkan sendiri.


"Ihh ngeselin" ketus Qania.


"Ya sudah sayang, ayo kita pergi" ucap Arkana mengalihkan, karena ia tahu jika berdebat dengan sang kekasih pasti akan panjang kali lebar kali tinggi, dan pasti ia yang akhirnya harus mengaku salah.


Qania mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Arkana sambil berpegangan tangan. Keduanya berjalan menuju parkiran, mereka akan pergi berkeliling kota dengan mengendarai mobil Arkana.


Suasana kota tersebut sangat indah pada malam hari, jalanan tidak macet dan juga banyak kumpulan remaja yang sedang duduk di depan rumah mereka sambil bermain gitar dan menyanyi. Sungguh berbeda dengan situasi kota mereka yang penduduknya sibuk dengan urusan masing-masing, dan kalau pun ada yang nongkrong pasti di kafe atau warung kopi.


"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Arkana namun tatapannya masih fokus ke depan.


"Emm aku ingin makan ayam bakar" jawab Qania sambil membayangkan nikmatnya makanan tersebut.


"Baik lah, kita akan mencari restoran terdekat" jawab Arkana sambil tersenyum.


"Aku mau di pinggir jalan saja, rasanya lebih nikmat dan tentu saja murah meriah" ucap Qania sambil tersenyum saat mengatakan murah meriah itu.


Arkana menghentikan mobilnya di depan warung makan ayam bakar yang ada di pinggir jalan dan di dekat warung tersebut ternyata ada pantai.


"Waw tempatnya sangat indah" ucap Qania terkagum.


"Yuk turun" ajak Arkana.


Saat keduanya turun, mata Qania tidak berhenti melihat pemandangan di sekitarnya, ternyata Arkana membawanya ke pantai yang indah dimana ada banyak orang disana yang sedang menikmati malam mereka.


Setelah memesan ayam bakar, Arkana mengajak Qania untuk duduk di tenda sambil menunggu pesanan mereka.


"Sayang setelah ini kita jalan ke pantai ya" pinta Qania.


"Tentu" jawab Arkana.


Pesanan mereka kini sudah datang, dengan cepat Qania berusaha menghabiskan makanannya karena ia tidak sabar ingin bermain di pantai bersama Arkana.

__ADS_1


"Pelan-pelan dong sayang, nggak ada yang akan merebut makananmu" tegur Arkana yang melihat Qania makan tanpa jeda.


Qania tidak mendengarkan perkataan Arkana, ia justru semakin semangat menyantap makanannya itu. Arkana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang kekasih makan seperti kesetanan itu. Dalam hati ia juga tertawa dengan tingkah Qania.


Saat sedang asyik makan, seorang pria datang dan tanpa meminta izin langsung ikut bergabung bersama Qania dan Arkana, membuat keduanya menoleh.


"Kamu" ucap Qania dan Arkana bersamaan.


"Gue gabung ya, soalnya sudah penuh dan nggak ada tempat tersisa buat gue" ucap Fandy cuek saja dan memulai acara makannya.


Arkana mengepalkan tangannya karena ia tidak suka dengan kehadiran Fandy, begitu pula dengan Qania yang seolah kehilangan selera makannya.


Setelah makan Fandy langsung pergi untuk membayar, dan juga membayarkan makanan Arkana dan Qania. Saat mengetahuinya Arkana bertambah kesal.


"Lo nggak perlu repot buat bayar makanan kami" kesal Arkana.


"Santai bro, anggap aja sebagai ucapan terima kasih atas tumpangan kalian tadi di meja makan" jawab Fandy santai.


Arkana berusaha meredam emosinya saat Qania menggenggam tangannya.


"Yuk ke pantai" ajak Qania berusaha mengalihkan suasana.


Arkana mengangguk dan berjalan beriringan bersama Qania dengan hati yang masih kesal namun tidak ia tunjukkan pada Qania, padahal Qania pun tahu saat ini sang kekasih pasti merasa kesal.


"Tunggu, gue ikuuutt.." teriak Fandy kemudian berlari dan mengambil posisi ditengah Qania dan Arkana membuat Arkana hampir terjatuh.


Rasanya ia ingin melayangkan satu tinjunya ke wajah pengacau ini, namun tatapan Qania seolah memintanya untuk bersabar sehingga ia hanya bisa menarik napas panjang.


"Tunggu saja bagianmu setelah ini" batin Arkana.


Suasana yang tadinya romantis berubah menjadi membosankan bahkan menyebalkan bagi Arkana dan Qania karena Fandy terus saja mengikuti mereka dan kadang-kadang menyela pembicaraan mereka.


Arkana yang merasa sudah kehabisan rasa sabar, langsung menarik Qania untuk kembali ke mobil dan pulang. Tidak ada kesan terakhir romantis seperti yang keduanya bayangkan dan rencanakan.


Sementara Fandy tersenyum penuh kemenangan saat menatap punggung keduanya yang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Ini baru awal, tunggu saja yang selanjutnya" ucap Fandy sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.


__ADS_2