
Arkana membelah jalan yang cukup ramai karena hari sudah menjelang malam, ia bergegas menemui Qania meskipun hatinya masih kesal. Sepanjang jalan ia hanya fokus menyetir motornya tanpa memikirkan apapun untuk diucapkan saat bertemu kekasihnya.
Arkana sampai di rumah Qania, ternyata disana Qania sudah menunggunya di teras rumah. Saat Arkana baru saja mematikan mesin motornya Qania langsung berjalan menuju ke arahnya.
“Yuk pergi, nggak usah masuk. Tadi aku sudah pamitan sama mama papa” ajak Qania yang langsung naik ke atas motor Arkana.
Tanpa menjawab Arkana langsung mengikuti permintaan Qania. Di perjalanan Arkana sama sekali tidak mengeluarkan satu kata pun, hal tersebut membuat Qania merasa gelisah sebab biasanya Arkana selalu mengajaknya ngobrol meskipun dia sedang menyetir dan selalu berlaku romantis saat diatas motor.
Tanpa ragu Qania melingkarkan kedua tangannya di perut Arkana dengan erat, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kiri Arkana.
“Aku merindukanmu” bisik Qania.
Arkana tidak merespon ucapan Qania, namun Qania tidak kehabisan akal, sehingga ia dengan nekad berdiri diatas motor yang sedang melaju itu.
“AKU CINTA ARKANA WIJAYA, QANIA SAYANG ARKANA WIJAYA SELAMANYA” teriak Qania membuat Arkana secara tiba-tiba menghentikan motornya.
Qania yang masih berdiri langsung memeluk erat leher Arkana karena kaget. Setelah Qania kembali duduk, Arkana masih dengan diamnya kembali melajukan motornya. Qania kehabisan akal, lembut sampai nekad pun tidak bisa merubah suasana tegang keduanya.
Namun tanpa Qania sadari di depan sana Arkana tersenyum penuh kemenangan, ia ingin menguji sampai dimana keseriusan Qania dan ia mendapatkan jawabannya.
“Aku juga cinta dan sayang kamu Qania” batin Arkana.
Setelah lama mengendarai motornya, Arkana menghentikan motornya di parkiran penginapan yang lokasinya di pinggir pantai. Namun Qania yang sedari tadi larut dalam pikirannya tidak mengetahui kemana Arkana membawanya bahkan ia tidak sadar kalau mereka sudah berhenti. Arkana yang menyadari diamnya Qania kemudian turun dan membuka helmnya.
“Masih betah duduk disitu?” tanya Arkana.
“Hah?” tanya Qania yang kembali ke alam sadarnya.
“Aku sudah dari tadi berhenti dan kamu masih duduk disitu?” tanya Arkana.
“Oh kita sudah sampai di kafe?” tanya Qania dengan polosnya kemudian turun dan melihat sekelilingnya.
“Tapi ini bukan di kafe?” tanya Qania bingung saat melihat tempat itu.
“Aku ingin bicara berdua denganmu, ayo masuk dan kita selesaikan di dalam” ajak Arkana kemudian menarik tangan Qania masuk ke penginapan tersebut.
“Kita dimana?” tanya Qania saat sudah masuk ke penginapan yang tadi di sewa Arkana.
“Kamu lihat sendiri kita ada dimana” jawab Arkana.
__ADS_1
“Mau ngapain kita ke sini?” tanya Qania gugup.
“Membuktikan cinta” jawab Arkana kemudian menarik Qania duduk di atas tempat tidur.
“Maksud kamu apa?” tanya Qania semakin takut, ia teringat kembali akan Fandy yang dulu meminta pembuktian cintanya.
“Ya menurut kamu bagaimana caranya membuktikan cinta” tanya Arkana sambil membelai rambut Qania.
“Ya dengan pernikahan dan kesetiaan” jawab Qania gugup.
“Ya ya ya, lalu?” Arkana menyelipkan rambut Qania ke telinganya, kemudian ia menyandarkan dagunya ke bahu Qania.
“Ya seperti itu” jawab Qania gemetar.
Arkana menghembuskan napasnya di leher Qania, membuat Qania merinding. Perlahan Arkana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Qania, sambil menciumi leher Qania.
“Mari kita habiskan malam ini untuk membuktikan cinta kita” ucap Arkana.
Qania semakin gugup, Arkana kini memegang dagunya dan mengarahkan wajahnya untuk saling berhadapan. Tanpa menunggu persetujuan dari Qania, Arkana langsung saja mengecup bibir Qania dan ********** dengan buas seperti orang kelaparan. Qania yang awalnya gugup dan takut kini turut merasakan sensasi yang diciptakan oleh Arkana, sehingga ia ikut terbuai dalam ciuman panas mereka.
“Jadilah milikku seutuhnya malam ini sayang” ucap Arkana setelah melepaskan ciuman mereka.
Qania tidak merespon karena sentuhan-sentuhan Arkana saat mereka berciuman tadi membuatnya kehilangan fokus dan tidak dapat mengontrol dirinya.
Qania yang masih mengalungkan kedua tangannya di leher Arkana mengangguk dengan tatapan sayup, menampakkan bahwa saat ia napsu birahi tengah merasukinya.
Dengan tersenyum penuh kemenangan Arkana menatap ke arah Qania, kemudian ia memeluk erat tubuh kekasihnya tersebut begitu lama. Merasa Arkana memeluk tubuhnya dengan erat, Qania menjadi sesak dan ia kembali tersadar.
“Arkana kau menyakitiku” ucap Qania sambil mengatur napas.
“Oh maaf” jawab Arkana kemudian melepaskan pelukannya.
“Iya” jawab Qania singkat namun dalam hati ia bertanya mengapa Arkana tidak melakukan itu padanya padahal ia tadi sudah siap jika harus menyerahkan kesuciannya.
“Mari kita pulang” ajak Arkana sambil merapikan rambut Qania.
“ Hah?” Qania tersentak mendengar ajakan Arkana.
“Kita bukan muhrim, nggak mungkin tidur berdua disini” ucap Arkana sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Tapi..?”.
“Tadi itu hanya pemanasan doang. Nanti setelah menikah baru aku akan memakanmu dan takkan memberimu ampun di malam pertama” ucap Arkana kemudian berdiri.
Qania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa malu karena sudah berpikiran yang bukan-bukan terhadap kekasihnya.
“Atau kamu mau kita melakukannya sekarang?” goda Arkana yang melihat Qania masih duduk melamun.
“Eh jangan, mari kita pulang” dengan cepat Qania berdiri dan menggandeng tangan Arkana.
Dalam perjalanan keluar penginapan, Qania terus menyandarkan kepalanya di lengan Arkana sambil tersenyum bahagia.
“Terima kasih, dan entah aku pun tidak tahu dengan kata apa lagi yang bisa mewakili untuk mengatakan perasaan cinta dan sayangku padamu” ucap Qania masih terus tersenyum.
“Jangan menggodaku” ledek Arkana kemudian mengacak rambut Qania.
“Bagaimana kalau aku memang menggodamu? Tidakkah kamu ingin melakukannya denganku?” pancing Qania.
“Sudahlah, sekarang naik atau aku akan melakukannya” perintah Arkana saat mereka sudah sampai di motor.
“Mari kita melakukannya” ajak Qania sambil mengedipkan sebelah matanya.
Arkana berbalik menghadap Qania, dengan kuat ia memegangi kedua lengan Qania dan menatapnya lekat.
“Dengarkan aku, cinta itu suci begitupun dengan cintaku padamu. Aku tidak ingin menodai kesucian cintaku dengan merenggut kehormatanmu. Kau tahu, aku bahkan bisa melakukan itu padamu sedari dulu, tapi aku ini pria yang mencintaimu dengan tulus dan karena itu aku pun menjagamu dan takkan merusak tubuhmu hanya karena napsu sesaat. Dengarkan aku Qania Salsabila, meskipun kamu mengujiku dan dan menggodaku aku tidak akan tergoda dan aku akan menahan hasratku padamu, karena aku mencintaimu. Dengar, aku cinta kamu” ucap Arkana penuh ketegasan.
Air mata Qania jatuh dengan sendirinya saat mendengar pernyataan dari Arkana, dengan cepat ia langsung memeluk erat tubuh Arkana dan menangis.
“Jangan menangis sayang, nanti aku dikira menyakitimu” ucap Arkana sambil mengelus punggung Qania.
Namun Qania semakin menangis, ia semakin mengeratkan pelukannya.
“Sudah, ayo kita pulang. Aku akan mengajakmu makan ayam bakar” bujuk Arkana.
Entah sihir apa, mendengar kata ayam bakar Qania langsung menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya sambil menghapus sisa-sisa air matanya di wajahnya. Arkana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya itu, namun hatinya tertawa geli karena tingkah konyol kesayangannya itu.
“Ayo” ajak Qania bersemangat.
Arkana langsung naik ke motornya dan Qania pun naik sambil mengeratkan pelukannya diatas motor.
__ADS_1
“Terima kasih ya Allah, Engkau memberikanku seorang pria yang mencintaiku dengan tulus” batin Qania.
Mereka kini tengah di perjalanan kembali ke kota dan tentunya mencari warung makan ayam bakar.