
Qania sudah duduk di teras untuk menunggu kedatangan Raka, sementara yang ditunggu tengah mengalami kemacetan karena ada kerumunan di depan jalan yang sedang ia lalui, padahal kurang dari lima menit lagi seharusnya ia sudah sampai di tempat Qania.
Sambil terus menggerutu, Raka berusaha memajukan motornya tetapi dengan kedua kakinya karena ia sudah mematikan mesin motornya sedari tadi.
“Huh lama banget sih. Emang di depan ada apa?” gerutunya.
Raka pun kini sudah berada di dekat sumber kemacetan tersebut setelah menyelip diantara banyaknya mobil dan ia bersyukur karena ia menggunakan motor sehingga ia bisa dengan mudah berada di depan dengan menyelip diantara mobil-mobil itu.
“Ini sedang ribut karena masalah besar atau sekedar cari sensai doang” ejek Raka namun hanya dia sendirilah yang mendengar ucapannya tersebut.
Nampak di depan Raka ada seorang pria dengan setelah jas ala pengusaha dan dua orang pengendara sepeda motor yang sepertinya adalah jambret. Raka seolah terbawa suasana menyaksikan adegan adu jotos secara langsung seperti di film-film dan orang-orang disekitar mereka hanya menonton tanpa niat melerai.
Kedua jambret tersebut akhirnya terkulai lemas dan pria tersenut langsung menarik dengan kasar tas wanita yang berada di tangan jambret tersebut. Pria itu pun berjalan mendekati seorang wanita paruh baya yang tampak sedang menangis.
Dengan tersenyum wanita itu meraih tasnya dan mengucapkan terima kasih. Hal tersebut masih terus berada dalam pantauan Raka yang dalam hati cukup merasa kagum dengan kebaikan pria berjas hitam tersebut.
Namun begitu pria tersebut berbalik dan hendak masuk ke mobilnya, Raka dibuat tercengang bahkan mulutnya terbuka lebar dengan mata yang terbelalak.
“A..Ar..kann..naa” gagapnya.
Raka masih mematung ditempat ia menyaksikan mobil itu melaju pergi sampai suara bising klakson mengejutkannya.
“Iya..iya, gue maju” sungutnya.
Raka pun akhirnya mengendarai motornya kembali sambil mengingat wajah pria berjas tadi.
“Sumpah tuh orang mirip banget sama Arkana. Apa Qania udah lihat orang itu? Bisa gawat kalau emang benar Qania sudah bertemu dengannya. Tapi, jika dia Arkana kan nggak mungkin Qania ngajak gue jalan. Atau jangan-jangan Qania ngajakin gue ketemuan Cuma buat ngasih tahu gue kalau dia udah ketemu sama Arkana. Arghhh gimana dong, cinta gue aja belum bersambut masa harus kandas lagi”,.
Tanpa terasa motor Raka sudah masuk ke halaman rumah nek Nilam, Qania menggelengkan kepalanya melihat Raka yang tengah berbicara sendiri di atas motor. Hampir saja Raka menabrak pohon mangga kalau Qania tidak memperingatinya.
“Raka awaaasss” teriak Qania yang membuat Raka sadar dan dengan cepat menarik rem motornya.
Raka mengelus dadanya dan bersyukur karena tidak jadi mencium tanah air. Ia pun melepas helmnya ketika Qania sudah berada di sampingnya.
“Sedang melamunkan apa, hemm?” tanya Qania dengan menyilang kedua tangannya di atas dada.
Raka menyengir, ia pun turun dari motor dan mengajak Qania untuk duduk di kursi teras saja.
“Arkana” tidak sengaja Raka mengucapkan itu ketika ia menatap Qania yang sudah duduk di kursi di sebelahnya.
“Arkana?” beo Qania.
“Eh?” Raka tersentak ketika melihat ekspresi Qania dengan sebelah sudut alis Qania terangkat dan wajah Qania terlihat bingung.
“Apa kau melihat Arkana? Ruhnya ada disini? Disebelah mana? Kau bisa melihat makhluk ghaib?” tanya Qania beruntun membuat Raka terbengang terlebih lagi dengan sikap Qania yang tak henti melihat kesegala arah.
“Oh enggak kok Qan, gue Cuma nggak sengaja nyebut namanya begitu melihat wajah lo yang panik tadi. Makanya gue jadi keingat kalau orang yang meneriaki gue tadi adalah istri pembalap di kabupaten kita” kilah Raka.
__ADS_1
‘Huhh hampir saja gue kecoplosan dan ceritain masalah orang yang tadi gue lihat. Tapi sepertinya Qania belum melihat orang itu berarti gue masih aman. Dan ya, semoga Qania percaya deh sama alasan gue tadi’,.
Qania menatap lekat manik Raka, kemudian ia menggulum senyum karena teringat akan Arkana yang begitu mahir dalam mengendarai motor serta bagaimana ia melakukan balapan itu semasa mengidam Arqasa.
“Hemm, nggak ada yang lecet?” Qania mulai menelisik ke bagian tubuh Raka yang bisa ia lihat.
“Tenang, nggak ada kok Qan, hehe” kekeh Raka.
“Oke, yuk kita jalan” ajak Qania.
“Mau kemana Qan?” tanya Raka.
“Udah ikut aja, kita ke kafe di depan kampusku dan kita jalan kaki aja” jawab Qania yang sudah berdiri lebih dulu.
Dengan masih mode bingung Raka hanya mengikuti langkah Qania.
‘Ini mah emang jalan-jalan beneran nggak pakai kendaraan. Apa Qania berniat buat bikin gue semakin nyaman dan jatuh cinta ke dia terus dia nolak gue mentah-mentah lagi. Arghhh’,.
Keduanya pun berjalan beriringan namun tidak saling bergandengan tangan karena Raka pun tahu batasannya. Keduanya hanya mengobrol dan membahas keseharian mereka selama berada di kampung orang ini.
Keduanya pun kini sudah berada di halaman kafe yang Qania maksud. Qania berhenti dan menatap lama kafe tersebut. Sejak kejadian tidak mengenakkan hatinya waktu itu hanya karena ia memainkan piano pemilik kafe tersebut ia sampai harus menanggung kekesalan dan malu.
‘Oh ya ampun, kenapa aku datang ke kafe ini? Kafe ini kan milik pria angkuh yang wajahnya begitu membuatku rindu. Bagaimana jika ia berada di dalam?” gumam Qania dalam hati.
‘Hm, tapi gimana kalau aku mengajak Raka masuk dan biar dia menilai sendiri bagaimana kafe ini begitu sama dengan kafe milik Arkana. Hmm, ya begitu lebih baik’,.
Keduanya pun mengambil tempat agak pojokan di dekat tempat penyanyi yang biasanya menghibur pengunjung kafe. Raka pun memanggil pelayan dan memesan menu makanannya begitu pun dengan Qania.
‘Huh, kok aku gugup ya. Aku ingin agar si Tristan Anggara itu ada disini dan aku akan memancingnya dengan bermain piano itu’,.
“Kok bengong Qan?” tanya Raka yang terus memandangi wajah Qania.
“Eh enggak kok Ka. Oh iya aku sudah beberapa kali masuk ke kafe ini dan aku terus terheran-heran dengan penataan kafe ini” ucap Qania mulai mengarah pada tujuannya untuk mendapatkan pendapat Raka.
“Kok gitu? Emang apa yang bikin kamu terheran-heran?” tanya Raka.
“Ka, coba kamu lihat deh desain dan penataan kafe ini. Kamu ingat nggak kafe ini mirip dengan kafe dimana gitu?” pancing Qania.
Raka pun menoleh ke segala arah sambil berpikir dan ia pun memang merasakan familiar dengan kafe ini tapi entah dimana.
“Kamu benar Qan, kafe ini seperti familiar tapi aku lupa dimana ya?” ucap Raka masih terus mengingat.
Qania menggulum senyum, itu berarti ini semua bukan hanya perasaannya semata melainkan memang kafe ini mirip dengan kafe milik suaminya yang sekarang menjadi miliknya bersama putranya.
Sambil Raka masih terus berusaha mengingat, pesanan mereka makan dan Qania mengajaknya makan. Keduanya makan dalam hening karena Raka terus berusaha berpikir sebab baginya pertanyaan Qania itu memanglah harus ia jawab agar Qania merasa senang ia tidak mengabaikan pertanyaan tersebut.
“Qan, bukan Cuma kafenya, tapi makanannya juga gue sangat familiar” pekik Raka begitu mengunyah makanannya.
__ADS_1
Qania tersenyum namun enggan bicara, ia hanya menikmati makanannya.
Entahlah tiba-tiba saja senyuman manis Qania itu membuat Raka teringat akan Arkana karena hanya kepada Arkana Qania akan tersenyum semanis itu.
Plakk…
Raka menepuk keras jidatnya membuat Qania menghentikan makannya karena terkejut dengan tingkah Raka.
“Ya ampun Qan gue udah ingat. Kafe ini sama persis dengan kafe milik Arkana dan rasa makanannya pun sama persis” pekik Raka.
Qania mengangguk pasti dan itu membuat Raka semakin merasa tidak percaya.
‘Bahkan bukan hanya kafe dan makanannya saja Ka, pemiliknya pun sama’ batin Qania.
‘Ya ampun apa memang pria yang tadi gue lihat itu memang Arkana dan ini kafenya jadi Qania mengajak gue makan disini. Tapi kalau emang iya, kenapa Qania belum cerita juga? Apa dia menunggu makanan kami habis baru akan mulai bercerita? Menurut gue sangat mustahil memiliki kafe dengan desain dan cita rasa makanan yang sama dengan kafe lain apalagi letak kafenya berbeda. Mungkin ada sih, tapi tidak akan sama persis juga. Dan jika benar dia Arkana, maka gue memang harus mundur teratur mulai sekarang’ Raka berdebat sendiri dengan hati dan pikirannya.
“Raka” panggil Qania setelah menghabiskan makanannya.
Deggg…
Raka langsung merasa gugup karena Qania memanggilnya. Dalam hati ia terus berkata bahwa saat ini Qania pasti akan mengatakan tentang Arkana.
“I..iya Qan?” Raka nampak sangat gugup dan lebih tepatnya ia sedang takut.
“Aku pernah makan disini dan dipermalukan juga di kafe ini” ucap Qania namun dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya.
‘Dipermalukan? Maksud Qania apa? Dia nggak bahas soal Arkana rupanya. Kalau kayak gitu gue aman dong ya’ Raka dibuat bingung sekaligus sedikit lega oleh Qania.
“Maksud lo gimana Qan, siapa yang udah mempermalukan elo?” selidik Raka, ada rasa geram di hatinya mendengar ucapan Qania tentang ia yang dipermalukan itu.
“Secara nggak langsung itu pemilik kafe ini tapi dia mewakilkan pada manegernya. Masa aku Cuma mainin pianonya dua kali aku diusir. Katanya dilarang keras menyentuh pianonya dan hanya pemilik kafe ini yang boleh mainin. Lah terus buat apa ada piano itu disini? Penghias ruangan atau apa coba?” curhat Qania.
“Haha nggak masuk akal banget sih Qan, mungkin pemiliknya lagi seah knsi kali” celetuk Raka yang juga merasa hal tersebut sangat aneh.
“Ya gitu deh. Bahkan si maneger sampai memohon ke aku katanya dia bakalan dipecat kalau aku nggak pergi dari kafe ini” lanjut Qania sambil teringat bagaimana maneger kafe itu menegurnya dan memintanya untuk tidak menyentuh piano tersebut.
“Gila Qan, masa sampai segitunya. Ya ampun pelit amat atau emang dia anti disentuh orang lain termasuk barang-barangnya” nyinyir Raka.
“Aku nggak tahu. Tapi aku mau mainin piano itu dan kalau pemiliknya ada dan nanti marah ke aku, kamu bakalan belain aku nggak?” tanya Qania dengan nada bicara dibuat sebegitu manja mungkin.
“Tentu” jawab Raka pasti.
“Oke, makasih Ka. Aku mau mainin piano ini dulu” ucap Qania kemudian berdiri dan berjalan kearah piano tersebut.
‘Mari kita lihat apakah Tristan Anggara yang sudah mencuri wajah suamiku itu ada disini atau tidak’ Qania menyeringai sambil mendekati piano tersebut.
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 💕💕💕