Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Jatuh Sejatuh-jatuhnya


__ADS_3

Tristan mengetuk ujung jarinya di atas meja, ia masih terus memikirkan masalah proyek itu. Bibirnya melengkung saat wajah wanita yang ia sebut gila itu melintas di benaknya. Entah sadar atau tidak, tapi senyumannya itu sungguh mematikan setiap wanita yang melihatnya. Bahkan ia pun belum pernah tersenyum seperti itu kepada Marsya.


Ia sebenarnya bukan memikirkan uang yang dikorupsi oleh Meldi, akan tetapi ia sedang menyusun rencana agar Qania mau menolongnya, dengan begitu ia bisa mendekati dan memiliki waktu khusus dengan wanita yang sedang ia kagumi itu meskipun hanya sekedar untuk membahas pekerjaan semata. Ia hanya sedang menyusun rencana untuk semua itu.


"Tidak sabar ingin menjeratnya. Kau tunggu saja Qania, kau pasti akan jatuh cinta kepadaku. Siapa yang berani menolak pesona seorang Tristan Anggara. Tidak ada satupun, termasuk dirimu Qania, wanita angkuh yang sudah menggetarkan hatiku. Aku bersumpah aku yang akan menggantikan posisi suamimu itu. Tunggu dan lihatlah bagaimana aku membuatmu tergila-gila kepadaku," tekad Tristan sambil tersenyum menyeringai.


Ia terdiam dengan seribu rencana yang tengah ia susun di dalam benaknya. Namun tiba-tiba saja ia tersentak kaget.


"Ada apa dengan diriku? Mengapa aku tiba-tiba saja menginginkan wanita gila itu? Ini tidak benar. Apa yang kau pikirkan Tristan? Bagaimana bisa kau memiliki niat untuk menjerat Qania ke dalam cintamu? Kau sudah gila Tristan. Ingat ada Marsya dan sebentar lagi kalian akan bertunangan."


Tak lama setelah beradu argumen dengan dirinya sendiri, pintu ruangan tersebut dibuka oleh seseorang. Tristan menoleh ke arah pintu dengan sebelah sudut alisnya terangkat.


"Siapa yang bera ...."


"Maaf aku mengganggu waktumu Tris," ucap Marsha setelah menutup kembali pintu ruangan tersebut.


"Lain kali ketuk pintu dulu Sya, aku terkejut waktu kamu tiba-tiba membuka pintunya," ucap Tristan datar.


"Maaf," cicit Marsya sambil berjalan ke arah meja kerja Tristan.


"Ada apa Sya?" Tanya Tristan begitu Marsya duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya.


"Memangnya harus ada apa-apanya ya baru aku bisa mengunjungimu?" Tanya Marsya menyindir.


"Ya nggak juga sih. Tapi kan biasanya ngasih kabar dulu," kilah Tristan.


"Kan sekarang aku udah tahu kamu dimana kalau sedang nggak kerja. Jadi aku langsung datang kesini. Aku juga merindukanmu, Tris," ujar Marsya.


Tristan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Marsya. Entahlah, tapi hatinya menolak kehadiran Marsya di dekatnya saat ini. Ia hanya ingin berdiam diri sambil berkhayal di dalam ruangannya ini.


"Kenapa kau diam saja? Tidak membalas ungkapan rinduku, bahkan kau tidak menyuguhkan minuman untukku," tanya Marsya berpura-pura merajuk.

__ADS_1


"Jangan berlebihan Sya. Kalau kau ingin makan dan minum kau tinggal pesan ke depan dan minta mereka mengantar kemari," tegas Tristan.


"Tris, kau bosan denganku?" Tanya Marsya dengan mata berkaca-kaca.


"Bosan? Apa maksudmu Sya? Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Tristan.


"Kau berubah Tris, bahkan selama kita bersama kau tidak pernah bersikap dingin dan cuek seperti ini padaku. Kau sudah bosan padaku atau kau sedang bermain api dengan wanita lain, Tris?" Tanya Marsya mulai menangis.


"Aku, aku menyukai wanita lain?" Tanya Tristan menunjuk dirinya sendiri.


Marsya mengangguk mengiyakan ucapan Tristan.


"Jangan berpikiran seperti itu Sya. Aku nggak ada ya bosan sama kamu. Dan tuduhanmy barusan, apa kau sudah gila menuduhku bermain api dengan wanita lain. Aku ini sedang sibuk bekerja dan sedang ada masalah, tapi kau datang dengan membawa tuduhan kepadaku," sentak Tristan.


Marsya terkejut dengan suara lantang Tristan, ia cukup takut menghadapi amarah Tristan kali ini.


"Masalah apa yang sedang kau alami, Tris? Kau itu pebisnis hebat dan tidak mungkin kau mengalami masalah besar," ucap Marsya mengalihkan tuduhannya.


"Apaa? Siapa yang berani melakukan itu?" Pekik Marsya.


"Aku masih belum tahu, tapi aku sedang menyelidikinya" jawab Tristan enggan memberitahukan semuanya pada Marsya.


"Apa aku harus melaporkan ini kepada Papa', Tris?" Tanya Marsya geram.


"Tidak perlu, Sya. Ini adalah pekerjaanku, biarkan aku yang menyelesaikannya," tolak Tristan.


"Tapi Tris ...."


"Percaya padaku, Sya. Kau sudah tahu bukan seperti apa sepak terjang seorang Tristan Anggara?"


Marsya tersenyum. "Aku pasti akan mendoakan semoga masalahmu cepat selesai, Tris."

__ADS_1


"Makasih Sya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pesan di luar. Maaf aku belum bisa nemenin kamu makan karena harus mengurus masalah ini," ucap Tristan lembut.


Marsya tersenyum, hatinya lega karena Tristan bukan berpaling darinya melainkan ada masalah yang menurut Marsya pun cukup mengkhawatirkan.


"Aku mau pulang aja Tris, aku juga baru pulang tadi dari butik. Kamu jangan begadang dan jangan maksa kerja ya, Tris. Aku pulang dulu, I love you."


Tristan tersenyum manis, ia berdiri kemudian mengantarkan Marsya sampai ke mobilnya. Setelah Marsya pergi, ia pun kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil.


Tristan melajukan mobilnya hingga ia terjebak macet. Ia mengumpat karena tadi tidak sempat makan dan saat ini perutnya sudah sangat kelaparan.


"Sial!"


Dalam kekesalannya, tiba-tiba saja wajah Qania yang sedang membantunya tadi siang melintas di pikirannya. Ia tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.


Hilang sudah kekesalannya akibat macet, kini ia sedang asyik dengan lamunannya. Melamunkan wanita yang dulu sangat ia benci dan selalu ia permalukan jika bertemu. Namun saat ini wajah wanita itu justru membuatnya senyam-senyum sendiri.


"Gue suka sama dia. Ya, sepertinya gue suka sama Qania."


"Lantas bagaimana dengan Marsya? Apa yang terjadi dengan diriku sebenarnya? Kenapa dengan mudah berpaling dari Marsya yang sudah lama bersamaku? Apa aku tidak mencintai Marsya? Tapi itu nggak mungkin karena kami sudah menjalin hubungan sangat lama. Apa aku hanya sedang bosan pada Marsya sehingga melampiaskan pada Qania. Tapi nggak mungkin, karena perasaan ini berbeda saat gue bersama Marsya."


"Hah gue bingung, sumpah."


"Ingat Tris, Lo udah sama Marsya. Ada hati yang harus Lo jaga. Dan ingat, kadang yang baru itu hanya kesenangan sesaat, bisa saja Lo hanya sedang terbawa suasana baru. Jangan lupakan Marsya, dia yang sudah bersama Lo sejak dulu sebelum ada Qania."


"Sadar Tris, Lo hanya sedang kagum saja sama Qania karena dia adalah tipe wanitamu. Dia cerdas dan tegas. Kuat dan pandai membalikkan keadaan, juga sedikit angkuh. Jangan lupakan wajah cantik dan baby face itu. Bibir ranumnya serta senyum manisnya. Semua itu adalah tipe gue dan gue nggak bisa ngelak lagi. Dan jika saja kami memiliki hubungan baik, gue berani jamin kalau gue bakalan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama Lo, Qania."


Tristan tersenyum kemudian kesal lalu nampak bingung lagi. Ia tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan dan ia pun tidak menemukan solusi untuk masalah hatinya saat ini.


Hingga akhirnya ia terbebas dari kemacetan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke rumahnya sebab ia sudah sangat kelaparan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2