Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Amarah Fadly


__ADS_3

Sementara di tempat lain, di depan rumah yang memiliki halaman yang luas dan ada gazebo di depannya, pengendara motor sport tersebut membuka helmnya.


“Sial, gue gagal lagi” maki Fandy.


Ya, dia Fandy yang masih saja ingin mencelakai Arkana dan ingin memisahkannya dengan Qania. Apalagi setelah dia mendengar acara pertunangan Qania, ia semakin geram dan berambisi untuk menyingkirkan Arkana.


Tadi dia mengikuti Qania dan Arkana diam-diam, saat dia melihat Arkana dan Qania masuk ke rumah dan di sana juga tidak ada satpam, ia langsung meluruskan niatnya dan merusak rem motor Arkana. Setelahnya ia menuju ke taman yang pastinya Arkana akan lewat di sana. Dan benar saja, setelah ia melihat Arkana lewat ia segera mengikutinya lagi.


“Sedikit lagi, aghh kalau tidak ada gadis kecil itu pasti kepalanya sudah pecah” gerutu Fandy.


Fandy melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, ya rumah itu adalah rumah milik tantenya yang dulunya hampir dia gunakan untuk melecehkan Qania. Ia melangkah masuk ke kamar itu dan saat ia membuka pintu tiba-tiba saja…


Bughhhh….


“Arghhh..” Fandy meringis, bibirnya mengeluarkan darah.


“Maju lo sini” teriak Fadly yang sudah tersulut emosi.


“Lo kenapa hah, tiba-tiba nyerang gue. Sadar lo?” bentak Fandy yang mendekat ke arah Fadly dan Jerry yang masih duduk di atas ranjang kamar itu.


“Gue nggak nyangka lo sepicik ini Fan, gue malu” bentak Fadly.


“Maksud lo apa hah?” Fandy balik membentak.


Namun Fadly diam, ia mencoba menenangkan pikirannya sambil beberapa kali menghembuskan napas panjang.


“Jer dia kenapa?” tanya Fandy pada Jerry yang hanya diam saja.


“Gue nggak mau ikut campur, ini urusan kalian berdua. Gue keluar dulu” jawab Jerry yang kemudian pergi sambil menyenggol bahu Fandy.


“Apaan sih lo” maki Fandy pada Jerry namun Jerry terus saja melangkah pergi.


Fandy berjalan melewati Fadly yang masih berdiri di dekat pintu, ia malah duduk di atas tempat tidur itu.


“Coba lo jelasin ke gue kenapa lo tiba-tiba nyerang gue. Ini pertama kalinya lo mukul gue” ucap Fandy sambil menatap Fadly yang masih memunggunginya.


“Tosan, Ghaisan, Qania, Arkana” ucap Fadly masih belum berbalik.

__ADS_1


“Kenapa dengan mereka hah?” tanya Fandy santai namun ada rasa gugup yang ia coba tutupi.


“Kenapa lo bilang?” Fadly berbaik dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Fandy.


“Lo kenapa sih?” tanya Fandy semakin gugup.


“Harus gue yang jelasin atau lo yang ngakuin?” geram Fadly.


“Gue beneran nggak ngerti” elak Fandy.


“Harus gue yang ngejelasin ke elo soal lo yang coba nyelakai Arkana tapi malah Tosan yang jadi korban hingga meninggal? Harus gue yang jelasin bagaimana lo mencoba mengadu domba Ghaisan dan Arkana? Harus gue yang jelasin soal lo yang menyekap Qania di toilet rumah Elin? Dan harus gue ulangi perkataan lo di depan tadi yang hampir nyelakain Arkana lagi, haaahhh?” bentak Fadly dengan geram sambil mengepalkan kedua tangannya, urat-urat tangannya terlihat dan tangannya begitu pucat saking marahnya pada saudara kembarnya ini.


“Gue beneran nggak ngerti maksud lo” elak Fandy namun memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan untuk menatap Fadly.


“Lo benar-benar ya..” Fadly meremas rambutnya, ingin rasanya ia menghajar habis-habisan orang di depannya ini kalau saja ia tak mengingatnya sebagai kakaknya.


“Lo mau ngakuin atau rekaman yang di kasih Ghaisan ke gue akan gue kasih ke mama papa?” ancam Fadly yang sudah kehabisan cara.


“Ma..maksud lo?” tanya Fandy gelagapan.


“Ngaku nggak lo?” ancam Fadly.


“Bangsat” Fadly memotong perkataan Fandy. “Apapun alasannya nggak pantas lo bertindak sejauh ini, lo udah kriminal” lirih Fadly mulai menyandarkan punggungnya di tembok, ia benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi kakaknya yang sudah kelewatan batas.


“Gue kayak gini karena Qania, gue nggak mau dia dimiliki orang lain” teriak Fandy geram.


“Hahaha, lo lucu ya. Dulu Qania begitu sayang sama lo dan lo sia-siain. Dan sekarang lo mati-matian buat dapetin dia lagi, hahaha gila lo” Fadly tertawa mengejek kebodohan Fandy.


“Iya emang gue udah gila, gue nggak suka Qania bersama orang lain. Kalau gue nggak bisa dapetin dia maka yang lainnya juga nggak akan bisa” tegas Fandy sambil menyeringai.


“Gue malu punya saudara macam lo” ungkap Fadly.


“Ya sudah nggak usah ngakuin gue saudara, mending lo pergi saja dari sini” usirnya.


“Harusnya lo bersyukur, Ghaisan, Qania dan Arkana nggak ngelaporin lo ke polisi bahkan Elin dan orang tuanya nggak tahu sama sekali siapa pelaku penusukan Ghaisan. Kalau nggak ingat kesehatan mama dan papa yang sudah lanjut usia itu, gue bakalan laporin kelakuan lo kepada mereka” ucap Fadly dengan berteriak, kemudian ia keluar membanting pintu dengan keras membuat Fandy sedikit terkejut.


Setelah kepergian Fadly, Fandy diam membisu sambil memikirkan perkataan Fadly barusan.

__ADS_1


Sementara di luar Jerry sudah menanti Fadly, mereka akan membahas mengenai kelakuan Fandy, di gazebo tepatnya mereka saat ini.


“Lo emang tahu darimana kalau Fandy dalang dari semua ini?” tanya Jerry penasaran.


“Ghaisan, dia yang memberitahu gue” jawab Fadly datar.


“Ghaisan siapa? Kenapa dia ngasih tahu elo?” Jerry memang belum mengetahui Ghaisan, ia hanya tahu kalau Fadly tadi ingin meluruskan masalah Fandy dan kekasih Qania.


“Sepupu Elin, dia yang ditusuk sama Fandy” ucapnya datar.


“Hah? Terus gimana sama Elin dan keluarganya? Gimana dengan hubungan elo sama Elin?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Jerry yang sangat terkejut.


“Dia datangin gue, kita janjian katanya mau bicarain hal penting….


Di taman dekat rumah Elin saat itu….


“Jadi ada hal apa yang membuat kak Ghaisan mengajak saya bertemu disini?” tanya Fadly saat keduanya sudah duduk di bangku taman.


“Kamu dengar sendiri rekaman ini, saya akan kirim ke ponsel kamu” katanya.


Fadly mendengarkan rekaman tersebut yang membuat raut wajahnya berubah menjadi marah namun ada rasa malu disana.


“Kamu tenang saja, Elin dan mama papa nggak tahu soal ini. Saya beserta Qania dan pacarnya sepakat buat nutupin ini dari mereka karena Qania tidak mau jika hubungan kamu dan Elin terkena dampaknya dan saya sebagai kakak Elin juga tidak ingin adik saya bersedih. Mereka percaya jika yang menyerang saya adalah musuh dari pekerjaan saya sebagai abdi negara, jadi sekarang tugas kamu untuk mengawasi saudara kamu itu. Jangan sampai apa yang sudah kami tutupi akan terbuka oleh kelakuannya, cegah dia untuk melakukan hal yang gila lagi. Kamu tahu kan kemana dampaknya jika dia melakukan hal gila yang akan membuat semuanya terbuka” cerita Ghaisan panjang lebar.


“Saya malu, dan terima kasih untuk kalian semua. Saya tidak tahu harus bagaimana membalas kepada kalian” lirih Fadly, namun dalam hati ia begitu geram atas perilaku Fandy.


“Tidak perlu malu, lakukanlah tugas kamu sebagai saudaranya. Saya akan pergi tugas, saya titip Elin padamu dan juga saya berharap kamu bisa mengurus saudaramu” ucap Ghaisan tersenyum tipis.


“Saya janji akan melakukannya” ucap Fadly.


“Saya permisi, saya yakin kamu bisa” ucap Ghaisan kemudian menepuk bahu Fadly lalu pergi meninggalkannya.


Saat ini di gazebo rumah tante Fandy dan Fadly…


“Gila, benar-benar gila. Gue nggak nyangka dia senekad itu” Jerry menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hmm, bantuin gue ngawasin Fandy, Jer” pinta Fadly yang hampir tak terdengar oleh Jerry.

__ADS_1


“Pasti” jawabnya sambil menepuk bahu Fadly memberikan semangat.


.............


__ADS_2