Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Program Kerja Kedua


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, hari ini adalah hari senin dimana menjadi hari awal program kerja kedua mahasiswa KKN di dusun Suka Asrih di sekolah dasar. Mereka nampak sudah bersiap-siap karena jadwal mereka pada pukul delapan pagi.


Qania, Elin dan Manda bertugas untuk menjadi guru bantu sementara selama sebulan di sekolah itu, dan tentu saja pelajaran matematika dan sains di tugaskan kepada Qania sementara Manda dan Elin mengajar bahasa inggris. Witno akan membantu pelajaran IPS sementara yang lainnya akan membenahi gedung sekolah.


Tidak seperti program kerja pembangunan masjid yang mereka tempuh dengan berjalan kaki, kali ini mereka mengendarai motor menuju ke sekolah dasar tersebut dengan tiga kardus yang berisi buku pelajaran dan alat tulis menulis yang akan mereka bagikan.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit mereka sudah sampai di sekolah dasar tersebut dan Abdi bersama Qania masuk ke ruang kepala sekolah untuk melaporkan kagiatan mereka yang di mulai hari ini.


“Terima kasih karena rekan-rekan mahasiswa sekalian sudah peduli dan prihatin terhadap sekolah kami, suatu kesyukuran bagi kami pihak sekolah jika kalian bersedia membenahi ruang kelas sekolah dan membantu proses belajar mengajar di sekolah kami” ucap pak Zaenal, kepala sekolah dengan sangat ramah dan raut wajah yang terlihat begitu bahagia.


“Kami yang harusnya berterima kasih karena bapak sudah mengizinkan kami melakukan program kerja guna menyelesaikan program KKN kami” ucap Abdi dengan ramah.


“Oh iya pak, kami juga membawa beberapa buku pelajaran dan juga alat tulis menulis untuk dibagikan kepada seluruh siwa. Kami juga akan memantau minat baca para murid dan jika memang persentasi minat baca diatas lima puluh persen maka kami akan membangun taman baca dan juga akan menambah buku-buku lagi pak” tambah Qania.


“Alhamdulillah, saya sebagai kepala sekolah sangat berterima kasih seklai. Sebenarnya murid-murid di SD ini sangat gemar membaca hanya saja buku di sekolah ini sangat kurang”cerita pak kepala sekolah.


“Kalau begitu apakah kami bisa memulai melakukan proses berbenah ruang kelas pak? Tapi untuk hari ini kami hanya akan mengantarkan materialnya saja dan kami juga kalau bisa di berikan satu ruangan untuk penyimpanan” Tanya Abdi.


“Tentu saja, silahkan kalian mengaturnya. Saya juga sudah membahas ini dengan para guru minggu lalu sewaktu nak Qania datang bersama nak Abdi kesini dan mereka sangat senang dan setuju sekali” jawab pak Zaenal.


“Terima kasih pak, hari ini kami akan membagikan alat tulis dan buku dulu, besok empat orang dari kami akan mengajar dan sisanya akan mulai merenovasi pak” ujar Abdi.


“Baik, silahkan saya akan mengantar kalian” ucap pak Zaenal lalu berdiri diikuti oleh Qania dan Abdi.


Sementara di luar ruangan teman-teman mereka tengah menunggu dan begitu tiga orang itu keluar mereka pun langsung mengikuti.


Para siswa nampak sangat antusias begitu mereka memasuki satu per satu kelas untuk membagikan buku dan alat tulis. Tidak ada yang salig berebut, mereka dengan senang menanti giliran mereka di bagikan.


Hal tersebut tak luput dari tangkapan kamera milik Qania yang diambil alih sepenuhnya oleh Prayoga karena Qania tidak ingin sekali pun ketinggalan momen ini, ia sangat menikmati kebersamaannya dengan anak-anak dan juga menikmati raut bahagia para murid sekolah tersebut.


*


*


Di tempat kerja, Juna tidak hentinya memarahi para pekerja meski pun mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Denis hanya bisa menghela napas melihat sahabatnya yang semakin diluar kendali itu. Ia sudah beberapa kali menegur Juna agar kebih professional namun hasilnya ia malah mendapat bogeman dari Juna.


“Hah cinta membuatmu gila Juna. Tapi gue jadi nggak yakin kalau lo beneran cinta sama Qania, sepertinya ini hanya obsesi, hah” Denis sangat frustasi melihat kelakuan Juna yang tidak berhenti sedari tadi memprotes ini itu.


Para pekerja hanya bisa pasrah karena mereka tengah mengais rejeki dari proyek tersebut, apalah daya mereka hanya seorang buruh yang bekerja untuk sesuap nasi.


“Brengsek, brengsek, brengsek” umpat Juna saat dirinya tengah menjauh dari lokasi proyek.


“Bro lo harus kendaliin emosi lo, ini nggak bagus untuk pelaksanaan proyek kita” tegur Denis yang berjalan mendekati Juna.


“Gue udah usahain tapi gue selalu kepikiran, ah sial” gerutu Juna.


“Lo harus sadar man, lo itu bukannya jatuh cinta sama si Qania tapi lo itu Cuma terobsesi sama dia yang selalu nolak elo. Lo hanya merasa tertantang, kalau emang lo beneran cinta ya elo perjuangin atau lo mundur terhormat dong, nggak kayak gini malu-maluin tahu nggak” bentak Denis yang sudah tidak tahan lagi memendam kekesalannya.


“Lo kenapa bentak gue hah?” Juna balik membentak.


“Gue bentak lo supaya lo itu sadar, sadar Jun” teriak Denis.


Juna hanya bisa diam, ia menjadi teringat bagaimana sedari tadi ia terus memarahi para pekerja yang bahkan tidak melakukan kesalahan.


“Kemana perginya sifat professional gue yang selalu dipuji-puji itu Nis?” lirih Juna, tubuhnya lunglai hingga ia jatuh terduduk di atas pasir pantai.


“Lo harus bisa kontrrol emosi lo Juna, gue sebagai sahabat lo hanya bisa mengingatkan karena semuanya tergantung elo” hibur Denis sambil meletakkan tangannya di atas bahu Juna mencoba menyalurkan semangat.


“Gue sadar gue udah kelewat batas” ucapnya.


“Sebaiknya elo minta maaf kepada para pekerja supaya elo nggak ngerasa canggung” saran Denis.


“Ya, ayo temani gue”,.


Juna berdiri dan berjalan bersama Denis menuju ke proyek pembangunan tersebut, ia mengumpulkan para pekerja dan meminta maaf atas kekhilafannya yang tidak bisa mengontrol emosinya dan malah menjadikan para pekerja sebagai sasaran kemarahannya.


Para pekerja yang sudah lama ikut dengannya itu memakluminya karena baru kali ini Juna marah-marah tidak jelas dan kehilangan kendali seperti itu kepada mereka.


*


*


“Pa, papa tahu nggak kemarin waktu Arka di dusun nyamperin Qania, ada cowok di depan Arka nembak Qania loh” ceritanya saat mereka tengah berkumpul untuk makan siang di rumah Qania.


“Oh ya?” Tanya Alisha sangat terkejut.


“Terus?” Tanya Zafran antusias.

__ADS_1


“Ya Qania nolak lah, secara calon suaminya tampan gini” jawab Arkana memuji dirinya sendiri.


“PD amat lo” cibir Setya.


“Hahaha, anak mantu gue tuh, emang harus PD tingkat tinggi” seru Zafran membuat Arkana membusungkan dadanya.


“Bagus papa mertua, kita sehati” timpal Arkana.


“Gimana kalau kalian berdua aja yang nikah, kan sehati” ceplos Alisha membuat semuanya memandang ke arahnya.


“Oh nooooo” pekik keduanya membuat Alisha dan Setya tertawa.


“Tapi pa, ma, masalahnya cowok itu adalah saingan kita” cerita Arkana.


“Siapa?” Tanya ketiganya kompak.


“Cie, kompak banget sih” ledek Arkana.


“Serius dong Ka, jangan bikin papa penasaran” gerutu Setya.


“Arjuna Wilanata” ucap Arkana dingin.


“Arjuna Wilanata? Saudara Daren Winalata?” pekik Setya.


Arkana mengangguk, membuat ketiga orang tua itu saling menatap dan merasa waspada.


“Arka udah dengar dari teman-teman Qania kalau dia setiap hari nyamperin Qania dan Qania selalu cuekin dia tapi emang dasar muka tembok, ditolak berkali-kali malah nggak kapok” celetuk Arkana.


“Emang pesona anak gue” puji Zafran membuat Alisha menyikut lengannya.


“Kita pasti dalam pengawasannya saat ini kalau sampai ia dendam, Arjuna itu orangnya nekad dan pantang menyerah” tukas Setya.


“Lah terus gimana? Masa iya kita nyuruh Qania buat nerima cintanya” Alisha menjadi kesal begitu tahu bagaimana seseorang yang bernama Arjuna itu.


“Ya nggak bisa dong ma” protes Arkana membuat mereka tergelak.


“Ya udah kalau gitu bebasin noh saudaranya biar Qania aman” ujar Zafran.


“Lah kalau dia di bebasin mereka jadi semakin kuat dong buat ngelawan kita. Meski pun kita memakai perjanjian hitam di atas putih, orang nekad kan nggak ada yang tahu” ucap Setya dengan serius.


“Terus gimana dong?” Tanya Zafran mulai gelisah memikirkan Qania.


“Papa tenang aja, Arka udah minta teman-teman Qania buat ngawasin Qania” ucapnya.


‘Kalian tenang aja, disana ada Raka yang pasti melindugi Qania. Entah mengapa gue merasa seyakin ini’,.


“Semoga saja mereka menjaga Qania dengan baik, hah” desah Alisha.


“Apa kita melakukan kunjungan aja kesana?” usul Setya.


“Rencana sih dua minggu lagi aku bakalan kesana buat nganterin buku, tapi tunggu konfirmasi dari Qania dulu” sahut Arkana.


“Nggak usah nunggu konfirmasi, kamu lupa papa mertua kamu ini ketua DPRD, papa bakalan berkunjung buat bawain sembako dan buku pelajaran serta alat tulis” ucap Zafran.


“Dih yang mau nyalonin jadi bupati, pendekatan gitu” cibir Setya.


“Ya hitung-hitung gitu deh, sambil menyelam minum air, hehe” kekeh Zafran.


“Gubrak” ucap ketiganya.


 


*


*


 


Keesokan harinya, Qania dan teman-temannya yang bertugas untuk mengajar pun mulai melakukan tugasnya dengan baik. Para murid begitu antusias memperhatikan Qania yang tengah serius mengajar matematika di kelas tiga. Raka yang tidak sengaja melintas di depan ruangan tersenyum tersenyum menatap Qania yang terlihat sangat mempesona saat menjelaskan di papan tulis.


“Fix gue jatuh cinta” gumamnya kemudian pergi menuju ruangan yang akan di renovasi terlebih dahulu.


Begitu pun dengan Elin yang mengajar di kelas dua dan Manda di kelas satu, mereka sedikit kesulitan mengajar bahasa inggris karena murid-murid mereka baru pertama kali mengenal kosa kata dalam bahasa inggris sehingga membuat keduanya ingin menyerah.


“Hah, baru juga ngajar di SD gue udah kesulitan kayak gini, gimana nanti turun PPL nih. Baru anak SD nih, nanti gue bakalan turun PPL di SMP, wah sumpah gue harus melatih kesabaran terlebih dahulu” keluh Manda yang tengah duduk di kursi guru sambil memperhatikan para murid yang tengah menyalin apa yang ia tulis di papan tulis.


“Ya ampun pacar gue, emang muka elo tuh nggak ada cocok-cocoknya jadi guru” gumam Banyu yang tidak sengaja melihat Manda tengah menghela napas frustasi.

__ADS_1


Tak jauh beda dengan Elin yang memang tidak berminat jadi guru itu, ia sama sekali tidak memiliki jiwa pendidik sehingga ia membiarkan saja para murid berkeliaran dan bermain sesuka hati mereka.


“Kan gue bilang juga apa, anak SD itu emang kebanyakan main. Mereka belum dewasa karena masih anak-anak, gue suka lihat mereka bermain di kelas, kayak gue dulu” ucap Elin cekikikan.


“Bu guru, bahasa inggrisnya aku cinta kamu apa ya?”,.


“I love you” jawab Elin namun fokusnya pada para murid yang tengah bermain itu.


“I love you too”,.


Elin memalingkan wajahnya mencoba melihat siapa yang tengah mengerjainya itu.


“Yoga?” pekiknya.


“Iya bu guru, I love you too” ledeknya kemudian berlari meninggalkan Elin yang tengah kesal itu.


“I love you Prayoga” gumam Elin.


“Whaaaaattt?” pekiknya ketika tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


Sementara Witno, ia dengan gaya coolnya tengah mengajar IPS di kelas empat. Ia bahkan tak sungkan-sungkan berjalan mendekati para murid untuk menjelaskan materinya. Ia tersenyum kikuk saat siswi yang cukup cantik dan juga dengan gaya centilnya bertanya kepadanya.


“Pak guru” panggil Cila.


“Iya Cila, ada yang ingin kamu tanyakan?” Tanya Witno berjalan menghampiri Cila.


“Pak guru udah punya pacar belum? Boleh minta nomor hpnya?” Tanya Cila dengan centil dan manja.


Witno tersipu malu mendapat pertanyaan seperti itu dari anak SD, namun ketika Cila kembali memanggilnya ia langsung tersadar dari lamunannya.


“Kamu ini masih kecil udah nanya kayak gitu. Dan juga buat apa minta nomor bapak kalau disini nggak ada sinyal” jawab Witno menutupi rasa malunya.


“Oh iya ya pak, Cila lupa” ucap murid tersebut cekikikan.


‘Kok gue terkesan kayak pedofil ya?’ batin Witno, ia bergidik ngeri membayangkan dirinya yang tiba-tiba tertarik dengan murid SD.


‘Amit-amit deh’,.


Sementara yang lainnya saat ini tengah serius membenahi ruang kelas enam, dan murid kelas enam akan belajar di waktu siang bergantian dengan murid kelas satu begitu pun dengan murid kelas lima yang bergantian dengan murid kelas dua.


Mereka nampak antusias merenovasi ruang kelas tersebut, dan membagi kelas dimana Baron, Ikhlas dan Banyu memperbaiki kelas enam sementara Raka, Abdi dan Prayoga memperbaiki kelas Lima. Setelah istirahat Witno akan bergabung dengan kelompok Baron bersama Elin dan Manda bersama Qania bergabung di kelompok Abdi.


“Gue harap kita nggak lama nih membangun ruang kelas mereka supaya sisa hari KKN bisa buat santai” ucap Raka yang tengah memperbaiki genteng kelas lima.


“Sama bro, gue juga pengen istirahat dan menikmati suasana kampung ini sebelum pulang. Biar ada kenang-kenangan gitu” timpal Prayoga yang tengah mengopor genteng dari Raka.


“Jadi rencananya kita ganti pakai atap seng aja nih sekolah. Gue takut kalau gempa dan masih pakai genteng bisa-bisa bahaya buat keselamatan para murid. Terlebih lagi kalau bocor” ucap Abdi yang sedang membantu Raka melepaskan satu per satu genteng tersebut.


“Kita bantuin apa nih?” Tanya Qania yang baru datang dari mengajar.


“Bantu doa dan semangatin gue Salsabila” teriak Raka membuat Qania memutar bola matanya jengah.


“Woi Raka, gue udah rekam nih ucapan lo. Ntar kalau Arkana datang bakalan gue kasih” teriak Manda mengerjai Raka.


“Woii jangan dong” pinta Raka dan..


Bruaakkk…


Deggg…


Raka terjatuh saat menuruni tangga dan menimpa Qania, posisi mereka saat ini Qania berada di bawah tubuh Raka. Untuk sesaat keduanya saling bertatapan hingga Abdi berdehem membuat keduanya tersadar.


“Hehehe sorry Qan” ucap Raka cekikikan kemudian bergegas berdiri.


Qania menjadi salah tingkah karena mendapat posisi sangat intim bersama Raka, kemudian Manda membantunya berdiri.


“Elo sih Man” kesal Raka.


“Ekhmmm” Abdi berdehem sangat keras membuat mereka gelagapan dan langsung bergegas melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan.


“Dasar” umpat Abdi kemudian kembali melepaskan genteng-genteng tersebut.


‘Ya ampun gue bahagia, sumpah’ histeris Raka dalam hati, ia kembali mengingat posisinya dengan Qania begitu intim tadi membuatnya senyam-senyum sendiri.


 


...****...

__ADS_1


__ADS_2