
“Undangan udah, cincin udah dan baju pun udah. Kita makan dulu yuk, aku udah lapar banget, Cuma sarapan doang dan sekarang udah jam empat sore” rengek Qania.
“Ya sudah, ayo kita cari makan. Seperti biasa kan?” Tanya Arkana yang menoleh ke belakang karena saat ini keduanya sudah berada di atas motor.
Qania hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya, kemudian Arkana langsung melajukan motornya menuju warung makan yang tentu saja ada menu ayam bakarnya.
“Mbak ayam bakarnya dua, nasinya dua dan minumannya air putih dua sama jus alpukat dua” ucap Arkana memesan makanan sementara Qania sudah menunggu di meja pojok dekat jendela sambil mengutak-atik ponselnya.
“Baik, silahkan menunggu” jawabnya.
Arkana berjalan ke arah Qania, namun matanya menangkap sosok yang sedari tadi menatapnya. Ia melirik seseorang yang juga duduk di pojokan dengan mengenakan kacamata hitam.
“Sepertinya gue pernah lihat tuh orang” gumam Arkana.
“Sayang ngapain bengong di situ?” panggil Qania.
“Nggak sayang” jawab Arkana kembali berjalan ke arah Qania.
“Kamu lagi chat sama siapa sayang?” Tanya Arkana yang baru saja duduk di depan Qania.
“Sama Elin sayang” jawab Qania masih menatap ponselnya.
“Oh iya sayang aku mau nanya nih, Elin udah tahu belum soal Fandy yang celakain Tosan sama yang nusuk Ghaisan?” Tanya Arkana.
Qania melepas ponselnya dan meletakkannya di atas meja, “belum sayang, aku bingung gimana mau bilang ke Elin” kemudian Qania menghembuskan napas perlahan.
“Silahkan mas, mbak” ucap pelayan yang mengantarkan makanan tersebut.
“Terima kasih” ucap Qania kemudian pelayan tersebut berlalu.
“Jadi gimana solusinya sayang? Suatu saat nanti juga pasti akan ketahuan, dan Ghaisan masih menyimpan rekaman pengakuan Fandy malam itu” Arkana kembali mengingat kejadian malam ulang tahun Elin. “Ah sebaiknya kita makan dulu sayang, aku bawaannya kesal kalau keingat kejadian malam itu” Arkana mengepalkan kedua tangannya.
“Hmm, iya sayang. Mari makaan” ajak Qania antusias.
….
“Gimana persiapan yang ditugaskan pada kalian berdua?” Tanya Alisha saat ketiganya berkumpul di ruang tamu.
“Udah beres ma” jawab Qania dan diangguki oleh Arkana.
“Berarti besok kan hari kamis ya, sebaiknya besok kita sebarin undangan” lanjut Alisha.
“Benar tante, aku bakalan minta bantuan sama teman-teman buat nganterin undangan” sahut Arkana.
“Jadi semua aman nih?” Tanya Alisha memastikan.
“Aman” jawab keduanya serempak membuat Alisha terkekeh.
“Ya sudah Qan, tan, aku pamit dulu ya. Mau istirahat sekalian mau ngumpulin teman-teman buat bagi tugas” pamit Arkana.
“Iya, kamu hati-hati ya. Aku juga mau istirahat, pegal seharian urus ini itu” kata Qania.
“Iya Ka, kamu hati-hati ya nak di jalan. Salamin sama papa” sambung Alisha.
“Tentu, aku pamit ya Qan, tan” ucap Arkana kemudian berdiri dan menyalami Alisha.
Setelah berpamitan, Arkana langsung melajukan motornya ke arah kafe. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah, karena pasti teman-temannya sedang berada di kafe miliknya yang kini dikelola oleh Rizal dan Fero.
__ADS_1
Saat di perjalanan Arkana merasa ada yang mengikutinya, sehingga ia mempercepat laju motornya.
“Siapa dia?” pikir Arkana.
Arkana melambatkan motornya, ia juga penasaran apakah orang tersebut memang mengikutinya atau hanya perasaannya.
Karena melamun, Arkana tak melihat seekor kucing di depan motornya. Seorang gadis kecil berteriak sehingga Arkana tersadar dari lamunannya dan berusaha mengerem motornya namun sialnya rem motornya tiba-tiba saja tidak bisa digunakan.
“Sial” umpat Arkana.
Ia yang berusaha menghindari kucing dan gadis kecil tersebut langsung membelokkan motornya hingga menabrak sebatang pohon. Arkana terlempar dari motornya namun kondisinya baik-baik saja. Ia segera bangun dan melepas helmnya, di sana ada darah yang mengalir dari pelipisnya.
“Tadi gue nganterin Qania motor gue masih aman-aman saja. Tapi sekarang…? Pasti ada yang merusak rem motor gue, sial” Arkana berusaha berpikir siapa yang sudah menyabotase motornya.
Saat Arkana tengah melamun, teriakkan gadis kecil tersebut mengagetkannya.
“Kakak awaaaasss…”
Arkana yang terkejut langsung melihat sebuah balok sedang melayang ke arahnya, dengan cepat ia pun menghindar.
“Brengsek, siapa yang main kucing-kucingan gini sama gue” maki Arkana yang sudah geram.
Mata Arkana yang terus mengawasi tanpa sengaja melirik ke arah motor sport berwarna hijau dengan pengendara yang wajahnya tertutup helm langsung berlalu dengan kecepatan tinggi.
“Sial, sepertinya dia yang sudah ngelakuin ini semua. Siapa dia?” pikir Arkana.
“Gue nggak bisa pakai motor buat jalan, gue harus menghubungi Rizal" ucap Arkana lalu mengekuarkan ponsel dari sakunya
Sementara Rizal yang sedang berbincang bersama Fero dan Ifan langsung menoleh ke ponselnya yang berada di atas meja.
“Cepat angkat” kata Fero.
“Hallo Ka, ada apa?” Tanya Rizal.
“Jemput gue di jalan xxx sekarang”.
“Emang lo ngapain di sana?”.
“Tadi ada yang nyabotase motor gue dan juga mau nyerang gue”.
“Siapa?”.
“Nggak tahu, sebaiknya lo jemput gue dulu nanti kita bahas di kafe”.
“Oke lo tunggu di sana”.
Arkana tidak menjawab lagi, ia segera memutuskan panggilan tersebut. Sementara Fero dan Ifan kini penasaran dengan pembicaraan Arkana dan Rizal.
“Arka kenapa Zal?” Tanya Ifan.
“Rem motornya blong, ada yang nyerang dia. Gue jemput dia dulu baru kita bahas. Lo jagain kafe” ucap Rizal terburu-buru lalu keluar dari kafe.
……
__ADS_1
“Siapa kira-kira yang nyerang lo dan nyabotase motor lo?” pikir Fero saat mereka sudah berkumpul di kafe.
“Gue nggak tahu siapa, tapi tadi waktu gue nganterin Qania motor gue baik-baik saja” cerita Arkana.
“Lo nggak curiga sama seseorang?” Tanya Ifan.
“Hmm. Kalau Ghaisan bisa jadi salah satu pelakunya, tapi nggak mungkin. Dia itu tentara dan nggak mungkin ngelakuin hal licik seperti ini” Arkana menepis pikirannya.
“Bisa aja” sahut Fero.
“Nggak, gue tahu siapa Ghaisan” sanggah Arkana.
“Emang tadi satpamnya Qania nggak ada?” Tanya Rizal.
“Tadi pak Roni lagi bantuin bi Eti di dapur” jawab Arkana.
“Nggak ada orang lain yang lo curigain lagi?” Tanya Rizal.
Arkana terus berpikir sampai akhirnya ia teringat sesuatu.
“Ah tadi gue lihat motor sport warna hijau di dekat gue dan dia juga yang lemparin gue pakai balok, dia pakai helm warna hitam ada stikernya gue ingat. Dan tadi gue juga, aaaakkkkhh” Arkana berteriak frustasi membuat pengunjung kafe menatap ke arah mereka.
“Lo kenapa Ka? Ada yang sakit?” Tanya Ifan cemas.
“Nggak, gue baru ingat tadi motor itu ada di warung makan yang gue singgahin bareng Qania dan di sana juga ada orang yang duduk di dekat gue sama Qania dan orang itu seperti ngawasin kita” cerita Arkana sambil mengingat-ingat.
“Lo yakin Ka?” Tanya Fero.
“Gue yakin, soalnya tadi gue markir motor pas di sebelah motor itu” jawab Arkana.
“Kita akan selidiki ini” sahut Rizal.
“Tapi sebelumnya gue datang ke sini mau minta tolong sama kalian bertiga dan sama anak-anak yang lain juga” kata Arkana setelah merasa tenang.
“Pasti kita tolongin kok, emang lo butuh bantuan apa dari kita?” jawab Rizal.
“Besok bisa nggak kalian nganterin undangan pertunangan gue sama Qania?” Tanya Arkana.
“Tentu saja bisa” jawab ketiganya serempak.
“Hahaha kompak banget lo pada” Arkana tertawa.
“Ya gue mah setuju dan senang banget kalau lo jadinya sama Qania, daripada sama nenek sihir atau si cabe itu” ucap Fero.
“Sama, gue juga sependapat sama lo Ro” sambung Ifan.
“Apalagi gue, oh iya selamat ya Ka” ucap Rizal.
“Thanks brother, kalian yang terbaik” ucap Arkana terharu.
“Tentu” jawab ketiganya kemudian mereka tertawa.
Namun dalam hati Arkana masih tetap penasaran dan terus memikirkan siapa yang sudah berniat mencelakainya tadi.
“Apakah dia?” pikir Arkana.
__ADS_1
…....